Sanad Kajian Tafsir Al-Jalalain pada NU Online

Sanad Kajian Tafsir Al-Jalalain pada NU Online
“Ngaji kamu bukan ngaji sunnah. Kiai dan ustadz-ustadz NU bukan ustadz sunnah, tapi ustadz bid’ah”, demikian propaganda yang disebarkan untuk meracuni kalangan awam untuk menjauhkan diri dari sumber keilmuan Islam yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Ngaji kamu bukan ngaji sunnah. Kiai dan ustadz-ustadz NU bukan ustadz sunnah, tapi ustadz bid’ah”, demikian propaganda yang disebarkan untuk meracuni kalangan awam untuk menjauhkan diri dari sumber keilmuan Islam yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dinamika pemahaman keislaman di Nusantara terus berlangsung. Berbagai propaganda terus dilancarkan untuk menjauhkan masyarakat dari para kiai dan guru yang jelas rekam jejak belajarnya. Mereka yang berpuluh-puluh tahun fokus studi Islam di pesantren-pesantren Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, macam Cipasung, Kempek, Langitan, Lirboyo, Ploso, Sarang, Sidogiri, Tegalrejo dan semisalnya.


Bila ada orang yang mengaji kepada para Kiai, Ustadz dan guru-guru Nahdlatul Ulama (NU), maka diklaim sebagai mengaji kepada guru yang bukan sunnah. “Ngaji kamu bukan ngaji sunnah. Kiai dan ustadz-ustadz NU bukan ustadz sunnah, tapi ustadz bid’ah”, demikian propaganda yang disebarkan untuk meracuni kalangan awam untuk menjauhkan diri dari sumber keilmuan Islam yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.


Bahkan KH Bahauddin Nur Salim atau yang populer dipanggil Gus Baha pun, sebagai pakar tafsir Indonesia yang mendapat pengakuan dan apresiasi dari para ulama, masuk dalam cap bukan ustadzz sunnah. Na’udzubillah


Lalu benarkah para Kiai, Ajengan, Ustadz, Gus dan para generasi penerus pesantren-pesantren NU itu tidak mempunyai sanad seperti yang keras dipropagandakan?


Berkaitan hal itu, sangat perlu kiranya khalayak luas mengetahui bahwa para Kiai, Ajengan, Ustadz, Gus dan para generasi penerus pesantren-pesantren NU merupakan sumber keilmuan Islam yang benar-benar fokus dan kosentrasi, bahkan sepanjang hidupnya diwakafkan untuk belajar dan mengajarkan agama Islam dengan sanad (struktur geneologi), cara dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Dari merekalah hendaknya kalangan awam mengambil dan belajar agama seiring, ayat Al-Quran:


قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (الأحقاف: 4


Artinya, “Katakanlah (Muhammad): ‘Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kalian sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi, atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang yang benar.” (Al-Ahqaf: 4)


Merujuk penafsiran al-Imam Abu al-Laits Nashr bin Muhammad Ibrahim as-Samarqandi (333-373 H), maksud frasa “atsaaratin min ‘ilmin” adalah riwayat yang mereka riwayatkan dari para nabi dan ulama.  Sementara lebih lugas pakar hadits generasi tabiin al-Imam Muhammad bin Ka’b al-Qarzhi (40-108 H) menegaskan: “Maksudnya adalah isnad (sanad).” (Abu Laits Nashr bin Muhammad Ibrahim as-Samarqandi al-Faqih al-Hanafi, Bahr al-‘Ulum/Tafsir as-Samarqandi, [Bairut: Dar al-Fikr, tth.], tahqiq: Mahmud Mathraji, juz III, halaman 270) dan Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Bairut:Mu’assasah ar-Risalah, 1427 H/2006 M], juz IX, halaman 180).


Sementara al-Imam Muslim setelah membuat Bab Bayan Anna al-Isnad min ad-Din atau Keterangan tentang ‘Sungguh Isnad Termasuk Bagian Agama’ dalam Kitab Shahih Muslim meriwayatkan:


عَبْدُ اللهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ: اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ. رواه مسلم


Artinya: “Abdullah bin al-Mubarak berkata: ‘Sanad merupakan bagian dari agama. Andaikan tidak ada sanad, niscaya siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya’.” (Riwayat Muslim). (Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim pada Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, [Bairut: Mu’assasah ar-Risalah, 1427  H/2006 M], juz I, halalaman 87).


Sebagai misal, berikut penulis tampilkan satu sanad Kitab Tafsir Al-Jalalain, kitab tafsir karya al-Imam Jalaluddin al-Mahalli (791-864 H/1389-1459 M) dan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849-991 H/1445-1505 M), yang diajarkan di hampir seluruh pesantren di Nusantara sejak dahulu hingga sekarang, dan sejak 24 Sya’ban 1441 H/14 April 2020 M tiap malam jam 19.14 WIB kecuali Kamis dan Jumat, penulis gunakan sebagai referensi utama dalam kajian tafsir di Fanpage Facebook NU Online atas kerja bareng NU Online dan Aswaja Muda sampai sekarang.


1. Penulis: Ahmad Muntaha AM, mengaji tafsir kepada:


2. (1) KH. Ubaidillah Faqih bin KH Abdulloh Faqih Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur, (2) KH. Ahmad Idris Marzuqi, (3) KH. Kafa Bihi Mahrus, (4) KH. Ahmad Reza Zahid dan (5) Ustadz Khozinul Minan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur. Di antaranya mereka mendapat sanad Tafsir Jalalain dari:  


3. (1) Syekh Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Indonesiyyi al-Makki (1335-1410 H) pakar hadits dan sanad pada masanya asal Padang yang tinggal di Makkah dan masyhur dengan julukan Musnid ad-Dunya (pakar sanad dunia), dan (2) KH Mahrus Ali Lirboyo Kediri (1906-1985 M), dari:


4. (1) Syekh Muhammad Isa ayah Syekh Muhammad Yasin, (2) Syekh Mahmud pamannya, (3) Syekh Shadaqah bin al-Hajj Abu Bakar al-Midani, (4) Syekh Abdul Wasi’ bin Yahya al-Wasi’i, (5) Syekh Abdul Karim bin Ahmad al-Khatib al-Minangkabawi, Minangkabau Sumatra. Kelima-limanya dari orang tua Syekh Abdul Karim yang disebut terakhir:


5. Syekh Ahmad bin Abdul Latif al-Khatib al-Minangkabawi al-Makki (1860-1916 M), dari:


6. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Banten Jawa Barat (1230-1413 H/1813-1897 M), dari: 


7. Syekh Abdusshamad ibn Abdirrahman al-Falimbani, Palembang Sumatra Selatan (1116-1203 H/1704-1789 M), dari:


8. Syekh ‘Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far al-Falimbani al-Madiny, Palembang Sumatra Selatan, dari pamannya:


9. Syekh Thayyib bin Ja’far al-Falimbani, Palembang Sumatra Selatan, dari ayahnya:


10. Syekh Ja’far bin Muhammad bin Badruddin al-Falimbani, Palembang Sumatra Selatan, dari:


11. Syekh as-Syamsu Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili, dari:


12. Syekh Salim bin Muhammad as-Sanhuri, dari


13. Syekh Muhammad bin Abdurrahman al-‘Alqami, dari penulis Tafsir Jalalain:


14. Al-Imam al-Hafizh Jalauddin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhammad ibn Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi as-Syafi’i (849-991 H/1445-1505 M) dan al-Imam al-Faqih Jalauddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibrahim al-Mahalli as-Syafi’i (791-864 H/1389-1459 M).


Selain itu Syekh Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Indonesiyyi al-Makki (1335-1410 H) juga meriwayatkan Kitab Tafsir Al-Jalalain dari:

4. (1) Syekh al-Mu’ammar bin as-Sayyid Ali bin Ali al-Habasyi al-Madini, (2) Syekh al-Muqri’ Ahmad bin Abdullah al-Makhlalati as-Syami al-Makki, (3) Syekh al-Muqri’ Ibrahim bin Musa al-Khazami at-Tukruri (Tukulor/Haalpulaar, Senegal sekarang) al-Makki, (4) as-Syekh ad-Da’i ilallah as-Sayyid Ali bin Abdurrahman al-Habasyi al-Kuwaitani. Semuanya dari: 


5. Syekh Abdul Ghani bin Shabh bin Ismail al-Bimawi, Bima Nusa Tenggara Barat (w. 1270/1853 M), dari:


6. Syekh al-Hafizh al-Qadhi Musa bin Ibrahim bin Mahmud al-Malaki al-Malaysiyi, Malaysia, yang populer dengan julukan Ibn Khatib Malaka, dari:


7. As-Sayyid ‘Alawi bin Ahmad ibn Hasan al-Haddad, dari ayahnya:


8. As-Sayyid Ahmad bin Hasan al-Haddad, dari ayahnya:


9. As-Sayyid al-Imam Hasan bin al-Qutb Abdullah ‘Alawi al-Haddad, dari:


10. Syekh as-Shafi Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi al-Madini, Madinah (1583-1661 M), dari:


11. Syekh Abdurrahman bin Abdul Qadir bin Fahd al-Makki, Makkah, dari pamannya:


12. Syekh Jarullah ibn Abdul Aziz bin Fahd al-Makki, Makkah, dari:


13. Qadhi al-Qudhat Syekh Burhanuddin Ibrahim bin Abu Syarifah, dari


14. Al-Imam al-Hafizh Jalauddin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhammad ibn Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi as-Syafi’i (849-991 H/1445-1505 M) dan al-Imam al-Faqih Jalauddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibrahim al-Mahalli as-Syafi’i (791-864 H/1389-1459 M). (Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, ‘al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid ‘ala Ma Asnadahu as-Syaikh al-Mukarram Abdulloh Kafa Bihi Mahrus, Kediri: Ma’had HM Lirboyo, 2010), halaman 46-47.


Berdasarkan dua jalur sanad tersebut sebagai santri, sanad Tafsir Al-Jalalain Penulis sampai penulisnya yaitu al-Imam Jalaluddin al-Mahalli dan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi berada dalam urutan sanad ke-14. Tradisi sanad keilmuan ini dapat dibandingkan dan disandingkan dengan sanad-sanad lain dari pesantren-pesantren NU yang ada.


Dari sini menjadi semakin jelas, bahwa sanad Tafsir Al-Jalalain sebagai referensi utama yang penulis gunakan dalam Kajian Tafsir di NU Online benar adanya. Apalagi sanad para Kiai NU lainnya yang bersumber dari pengajaran tafsir di pesantren-pesantren NU.


Sebagaimana Penulis, mereka mempunyai sanad yang jelas baik di bidang Al-Quran, tafsir, hadits, fikih, bahasa dan gramatika Arab, dan bidang atau disiplin keilmuan syariat lainnya. Semuanya lengkap untuk masing-masing kitab dan rapi by name masing guru lintas generasi sampai penulisnya. Kalau Al-Quran dan hadits juga sampai kepada Nabi Muhammad SAW.  


Karenanya, mantaplah dengan sanad keilmuan para kiai dan ulama NU dan tidak mudah terjebak dalam jargon-jargon kajian sunnah, ustadz sunnah dan semisalnya yang justru menjerumuskan khalayak luas dalam ajaran Islam yang justru kontraproduktif dengan upaya pelestarian Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah dan terus dikembangkan oleh para kiai dan ulama NU dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wallahul musta’an.


Penulis: Ustadz Ahmad Muntaha AM

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile