Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 15

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 15
Di akhirat orang-orang munafik yang sedang disiksa di neraka akan dibukakan pintu menuju surga. Mereka bergegas lari menuju pintu tersebut. Tetapi ketika mereka telah dekat, pintu tersebut ditutup sebagaimana Surat Al-Muthaffifin ayat 34.
Di akhirat orang-orang munafik yang sedang disiksa di neraka akan dibukakan pintu menuju surga. Mereka bergegas lari menuju pintu tersebut. Tetapi ketika mereka telah dekat, pintu tersebut ditutup sebagaimana Surat Al-Muthaffifin ayat 34.

Berikut ini adalah kutipan Surat Al-Baqarah ayat 15 dan sejumlah kutipan kitab tafsir tentangnya:


اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ


Allāhu yastahzi’u bihim wa yamudduhum fī thughyānihim ya‘mahūn.


Artinya, “Allah akan (membalas) olok-olokan dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.”


Ragam Tafsir

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 15 ini merupakan jawaban dan balasan atas perlakuan orang munafik. Ibnu Katsir mengutip At-Thabari bahwa Allah akan melakukan olok-olok pada hari kiamat sebagaimana Surat Al-Hadid ayat 13 dan Surat Ali Imran ayat 178.


“Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ (Seruan mereka) Dijawab, ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya.’ Lalu di antara mereka dibuat pagar berpintu yang pada sisi dalamnya terdapat rahmat dan pada sisi luarnya terdapat azab.” (Surat Al-Hadid ayat 13).


“Janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa penanguhan Kami atas mereka lebih baik bagi mereka. Sungguh, Kami menangguhkan mereka hanyalah supaya dosa mereka bertambah-tambah. Untuk mereka azab yang menghinakan.” (Surat Ali Imran ayat 178).


Semua ini dan tindakan lain yang serupa adalah bentuk olok-olok, penghinaan, dan tipu daya Allah terhadap orang-orang munafik. Sedangkan penafsiran lainnya mengatakan bahwa ketika orang-orang munafik itu mempermainkan keimanan dan orang-orang yang beriman, Allah mengabarkan hukum-Nya di dunia untuk mereka, yaitu jaminan harta dan nyawa mereka, sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan hukum Allah di akhirat untuk mereka.


Al-Baghowi dalam tafsirnya, Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil, mengatakan bahwa pengertian “Allah mengolok-olok” adalah Allah membalas mereka dengan balasan olok-olok sebagaimana keterangan pada Surat As-Syura ayat 40.


“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (Surat Asy-Syura ayat 40).


Al-Baghowi mengutip pendapat sahabat Ibnu Abbas RA yang bercerita bahwa di akhirat kelak orang-orang munafik dibukakan pintu surga. Ketika mereka telah mendekat, pintu ditutup dan mereka digiring kembali di neraka.


Ada pula ulama yang menafsirkan ayat ini bahwa di akhirat kelak orang-orang yang beriman diberikan cahaya di mana mereka gunakan cahaya tersebut untuk berjalan di shirat. Tetapi ketika orang-ornag munafik sampai pada cahaya tersebut, Allah membuat penghalang di antara keduanya sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan sebagaimana keterangan Surat Al-Hadid ayat 13.


Al-Hasan Al-Bashri, seperti dikutip Al-Baghowi, mengatakan bahwa Allah menampakkan kemunafikan mereka di hadapan orang-orang yang beriman. Sedangkan kata “yamudduhum” berarti Allah meninggalkan dan membiarkan orang-orang munafik.


Kata “al-madd” (madda yamuddu) dan “al-imdād” (amadda yumiddu) memiliki makna yang sama, yaitu penambahan. Tetapi kata “al-madd” lebih banyak digunakan untuk keburukan sebagaimana Surat Maryam ayat 79.


“Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan Kami benar-benar akan memperpanjang azab untuknya.” (Surat Maryam ayat 79).


Adapun kata “al-imdād” digunakan untuk kebaikan sebagaimana “Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak. (Surat Al-Isra ayat 6) dan  “Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan.” (Surat At-Thur ayat 22).


Kata “Fi tughyānihim” berarti di dalam kesesatan mereka. “Thugyān” asalnya berarti tindakan melewati batas seperti kalimat “thaghāl mā’u” atau air itu telah melewati batas. Sedangkan “Ya'mahūn” berarti bimbang dan bingung dalam kesesatan. (Al-Baghowi).


Al-Baidhawi dalam tafsirnya Asrarut Ta’wil mengatakan bahwa Allah akan membalas olok-olok orang munafik sebagai balasan setimpal. Ayat ini bisa jadi bermakna bahwa dampak negatif olok-olok orang munafik akan berpulang kepada mereka.


Ayat ini dapat juga ditafsirkan bahwa kerendahan dan kehinaan sebagai konsekuensi olok-olok tersebut akan hinggap pada diri mereka. Tetapi dapat juga ayat ini dimaknai bahwa Allah akan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang seharusnya terhadap orang-orang yang mengolok-olok.


Adapun di dunia Allah memperlakukan orang-orang munafik dengan hukum sebagaimana Dia memperlakukan orang-orang muslim. Allah juga mengistidraj mereka dengan membiarkan dan menambah nikmat kepada mereka agar mereka semakin tenggelam dalam kesesatan.


Di akhirat orang-orang munafik yang sedang disiksa di neraka akan dibukakan pintu menuju surga. Mereka bergegas lari menuju pintu tersebut. Tetapi ketika mereka telah dekat, pintu tersebut ditutup sebagaimana Surat Al-Muthaffifin ayat 34, “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.”


Adapun kata “at-thugyān” berarti tindakan melewati batas dalam kedurhakaan dan tindakan berlebihan dalam kekufuran. Kata “at-thugyān” asalnya bermakna melewati batas dari kedudukan atau tempatnya.


Kata “al-‘amah” pada “ya‘mahūn” adalah kebingungan pada mata hati (tidak menemukan tanda-tanda petunjuk) sebagimana kebutaan pada bola mata. Kata “al-‘amah” berarti tahayyur atau kebingungan dalam sebuah masalah sebagaimana kata “ardhun ‘amhā’” atau dataran tanpa menara. (Al-Baidhawi). Wallahu a'lam.


Penulis: Alhafiz Kurniawan

Editor: Abdullah Alawi

BNI Mobile