Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Redaksi NU Online, belakangan ini publik mulai ramai mengucapkan selamat hari raya Idul Adha. Meski tidak seramai hari raya Idul Fitri, publik mulai ramai mengirimkan ucapan selamat Idul Adha sebagai bentuk syukur dan bahagia mereka. Bagaimana keterangan agama terkait masalah ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb. (Faisal/Magelang)


Jawaban

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pada prinsipnya, ucapan selamat hari raya Idul Adha atau tahniah dalam bahasa Arab merupakan salah satu bentuk ekspresi kebahagiaan seseorang.


Berbagi ucapan selamat semacam itu merupakan bagian dari kesempurnaan perasaan bahagia karena kebahagiaan menjadi kurang sempurna jika dirasakan sendiri.


Pengucapan selamat hari raya Idul Adha diangkat dalam kajian fiqih. Pengucapan selamat hari raya Idul Adha, bahkan waktu pengucapannya, dibahas sejumlah ulama Mazhab Syafi’i.


والتهنئة بالعيد سنة ويدخل وقتها في عيد الفطر بمغرب ليلته وفي الأضحى بصبح عرفة كالتكبير وبالعام والشهر


Artinya, “Ucapan selamat (tahniah) hari raya ‘Id, pergantian tahun, dan pergantian bulan dianjurkan. Waktu tahniah untuk hari raya Idul Fitri berawal pada maghrib hari raya (malam takbiran). Sementara waktu tahniah untuk hari raya Idul Adha berawal pada Subuh hari Arafah seperti kesunahan takbir.” (Lihat Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin, Buysral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 2012 M/1433-1434 H], Juz II, halaman 352).


Menurut keterangan di atas, kita mendapat keterangan bahwa waktu pengucapan selamat hari raya Idul Adha berawal dari waktu Subuh hari Arafah (Subuh 9 Dzulhijjah). Tetapi secara umum, pengucapan selamat hari raya Idul Adha dianjurkan sebagaimana keterangan pada kitab Hasyiyatul Jamal yang juga bermazhab Syafi’i berikut ini:


وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ وَالتَّهْنِئَةُ بِالْأَعْيَادِ وَالشُّهُورِ وَالْأَعْوَامِ مُسْتَحَبَّةٌ


Artinya, “Ungkapan Al-Birmawi, ‘Ucapan selamat hari raya ‘Id, pergantian bulan, dan pergantian tahun dianjurkan.” (Lihat Sulaiman bin Umar Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal).


Dari dua keterangan ini, kita mendapatkan keterangan bahwa ucapan selamat hari raya Idul Adha yang beredar di media sosial belakangan ini sejalan dengan pandangan mazhab Syafi’i terkait syiar Islam, tahadduts bin ni’mah, atau izharus surur atau ekspresi kebahagiaan.


Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.


Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.


(Alhafiz Kurniawan)

BNI Mobile