Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Saat Muawiyah ‘Mempolitisasi’ Doa Rasulullah

Saat Muawiyah ‘Mempolitisasi’ Doa Rasulullah
Ilustrasi Rasulullah Muhammad SAW. (NU Online)
Ilustrasi Rasulullah Muhammad SAW. (NU Online)

Ketika Muawiyah bin Abi Sufyan menggantikan Khalifah Ali bin Abi Thalib (w. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu'bah, dan menanyakan doa yang dibaca Nabi Muhammad usai shalat.


"Apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai shalat?" Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah:


"Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu.” (HR Bukhari)


Mengutip Abdul Halim Mahmud, mantan Imam Besar Al-Azhar Mesir, dalam al-Tafkir al-Falsafi fi al-Islam, Profesor Muhammad Quraish Shihab mencatat, doa tersebut dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun.


Kebijakan mempopulerkan doa ini pada masa Dinasti Umayyah dinilai oleh banyak pakar sebagai bertujuan politis. Karena dengan doa itu, para penguasa Dinasti Umayyah melegitimasi kesewenang-wenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah.

 
Tentu saja, pandangan tersebut tidak diterima oleh kebanyakan ulama. Ada yang demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir).


Dalam penjelasannya, Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu? Bukankah Allah sendiri menegaskan,


"Siapa yang hendak beriman silakan beriman, siapa yang hendak kufur silakan juga kufur." (QS Al-Kahf [18]: 29).


Masing-masing bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri-sendiri. Namun demikian, pandangan ini juga disanggah. Ini mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Maha Kuasa? Bukankah, "Allah menciptakan kamu dan apa yang  kamu lakukan." (QS Al-Shaffat [37]: 96).


Tidakkah ayat ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka berargumentasi. Selanjutnya bukankah Al-Qur’an menegaskan bahwa, "Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua." (QS Al-Insan [76]: 30).


Demikian sedikit dari banyak perdebatan yang tak kunjung habis di antara para teolog. Masing-masing menjadikan Al-Quran sebagai pegangannya, seperti banyak orang yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka.


Kemudian didukung oleh penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam berbagai bidang, meluas lah paham takdir dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya.


Yang jelas, Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat utama beliau, tidak pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para teolog itu.


Mereka sepenuhnya yakin tentang takdir Allah yang menyentuh semua makhluk termasuk manusia, tetapi sedikit pun keyakinan ini tidak menghalangi mereka menyingsingkan lengan baju, berjuang, dan kalau kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada Allah.


Sikap Nabi dan para sahabat tersebut lahir, karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat demi ayat, atau sepotong-sepotong terlepas dari konteksnya, tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.


*) Disunting dari buku “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat” (Muhammad Quraish Shihab, 2000)


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

BNI Mobile