Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Ketika Sayidina Umar dan Ali Dihadapkan pada Takdir

Ketika Sayidina Umar dan Ali Dihadapkan pada Takdir
Bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. (Ilustrasi: NU Online)
Bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. (Ilustrasi: NU Online)

Manusia kerap berpikir bahwa takdir merupakan ketentuan mutlak yang tidak bisa dihindari maupun diubah. Padahal dalam takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, manusia masih bisa dihadapkan pada pilihan-pilihan takdir.


Muhammad Quraish Shihan dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menggambarkan bahwa api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin. Itu takdir Tuhan -manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk.

 

Baca juga: Respons Abu Bakar ketika Diajak Menyembah Berhala

Baca juga: Pesan Sayidina Umar yang Menggugah Perjuangan Para Kiai


Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya ilham atau petunjuk Ilahi. Quraish Shihab mengungkapkan salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah: "Wahai Allah, jangan Engkau biarkan aku sendiri (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."


Ketika di Syam (sekarang wilayah Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Khalifah Umar bin Khattab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya.


Kita semua juga dapat merenungi kisah yang pernah terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Di mana pada zaman pemerintahan beliau pernah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerusalem, Palestina.


Muhammad Husein Haekal dalam Umar bin Khattab menjelaskan, kala itu wabah menyebar hingga ke Syam (Suriah) bahkan ke Irak. Diperkirakan kejadian wabah ini terjadi pada akhir 17 Hijriah dan memicu kepanikan massal saat itu. Sayidina Umar dan pasukannya disarankan untuk berbalik.

 

Baca juga: Pekerjaan-pekerjaan yang Pernah Digeluti Nabi Muhammad

 


Namun, salah seorang sahabat mengatakan, apakah lantas dia sebagai pemimpin lari dari takdir Allah? Umar menanggapi bahwa dirinya dan pasukannya lari dari takdir Allah yang satu (buruk) ke takdir Allah yang lain (baik).


Seketika, sahabat Abdurrahman bin ‘Auf memperkuat Khalifah Umar mengenai sabda Nabi Muhammad SAW yang pernah mengatakan:

 

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian-kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim).


Demikian juga ketika Sayidina Ali bin Abi Thalib sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas.


Jawaban Ali bin Thalib seperti yang diungkap Quraish Shihab (2000), sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar. Rubuhnya tembok dan berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

 

Baca juga: Saat Muawiyah ‘Mempolitisasi’ Doa Rasulullah


Bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir.


Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih? Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugerahkan-Nya. Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir yang baik maupun buruk.


Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian merupakan sikap tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW, "...dan kamu harus percaya kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.”


Dengan demikian, jelas bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

BNI Mobile