Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Mush’ab bin Umair, Tokoh di Balik Keislaman Penduduk Kota Madinah

Mush’ab bin Umair, Tokoh di Balik Keislaman Penduduk Kota Madinah
Cara berdakwah Mush’ab bin ‘Umair ke penduduk Madinah menunjukkan bahwa Islam disebar dengan lembut.
Cara berdakwah Mush’ab bin ‘Umair ke penduduk Madinah menunjukkan bahwa Islam disebar dengan lembut.

Kota Madinah merupakan kota yang digunakan Baginda Nabi Muhammad sebagai pusat kepemimpinan umat Islam sekaligus kota yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Dari kota inilah kita mengenal bahwa perbedaan agama penduduk suatu daerah tidak menyurutkan semangat perdamaian, serta kesatuan mempertahankan kota kelahiran dari berbagai serangan musuh.

 

Kita tentu harus melihat kembali sejarah asal-usul mengapa kota ini begitu mudah menerima Islam sebagai bagian dari peradaban mereka, padahal Islam tidak lahir dari rahimnya. Islam datang dari kota lain bernama Makkah. Sebagaimana kita ketahui, mayoritas penduduk kota Madinah telah memeluk Islam meskipun saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum menginjakkan kakinya untuk berdakwah di kota Madinah.

 

Perlu kiranya kita melihat kehebatan dakwah seorang sahabat Nabi, Mush’ab bin ‘Umair. Dialah orang diutus langsung Rasulullah untuk berangkat ke kota Madinah (saat itu bernama Yatsrib) jauh sebelum Rasulullah diperintahkan hijrah ke sana. Tokoh ini berwajah rupawan, berpostur tegap, serta memiliki sikap yang lemah lembut. Ia rela meninggalkan seluruh harta dan perniagaannya di kota Makkah demi tugas mulia untuk berdakwah di kota Madinah.

 

Mulanya, ia berdakwah kepada banyak kalangan budak, pekerja, serta rakyat miskin di kota Madinah. Mereka masuk Islam karena tertarik dengan sikap Islam yang menyejajarkan setiap manusia sebagai entitas yang setara di hadapan Allah tanpa memandang dari latar belakang mana mereka berasal.

 

Suatu ketika Mush’ab bin ‘Umair berangkat untuk berdakwah ke perkampungan Bani Abdul Asyhal, sebuah kabilah besar di kota Madinah. Tidak lupa ia berangkat bersama As’ad bin Zurarah, seorang Muslim yang masih memiliki hubungan kerabat dekat dengan Sa’ad bin Mu’adz, tokoh pembesar dari kabilah Bani Asyhal. Menurut para pakar sejarah, Sa’ad bin Mu’adz masih terhitung putra bibi dari ayah As’ad bin Zurarah.

 

Ketika itu, Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair adalah dua pembesar dari kabilah Bani Asyhal yang sama-sama memeluk agama leluhur mereka. Merasa tidak enak karena masih memiliki hubungan saudara dengan As’ad bin Zurarah, maka Sa’ad bin Mu’adz mempersilakan Usaid bin Hudhair untuk menemui Mush’ab bin ‘Umair dan As’ad bin Zurarah terlebih dahulu. Usaid bin Hudhair pun segera bergegas menemui kedua duta Islam kita ini dengan membawa tombak yang siap dihunuskan kepada keduanya.

 

As’ad bin Zurarah pun datang dengan segenap sumpah serapahnya seraya berkata, “Apakah kalian datang ke sini dari jauh hanya untuk membodohi orang-orang lemah kami? Menyingkirlah dari sini kalau kalian masih sayang nyawa kalian!”

 

Dengan penuh ketenangan, Mush’ab bin ‘Umair menjawab, “Maukah engkau duduk untuk mendengarkan ajaran yang kami serukan, sekiranya engkau rela dengan ajaran kami niscaya engkau dapat menerimanya dan sekiranya engkau benci dengan ajaran kami niscaya engkau dapat meninggalkannya.”

 

Usaid bin Hudhair seraya mengikat tombaknya menjawab, “Baiklah, aku akan duduk di sini mendengarkan penjelasan kalian.” Maka, shahabat Mush’ab pun menjelaskan ajaran Islam dengan lemah lembut serta memperdengarkan suara indah lantunan ayat suci Al-Qur’an.

 

Senyum yang berseri-seri pun tergurat dalam wajah Usaid bin Hudhair. Kemudian, Usaid bin Hudhair mengatakan, “Sungguh indah ajaran kalian, lantas bagaimana cara kalian masuk ke dalam agama yang indah ini?”

 

Mush’ab bin ‘Umair menjawab, “Mandilah, bersihkan badan dan pakaianmu kemudian bacalah dua kalimat syahadat serta dirikanlah shalat.” Maka, Usaid bin Hudhair pun melakukan apa yang diperintahkan dan menjalankan dua rakaat shalat. Kemudian, Usaid bin Hudhair mengatakan “Sungguh di kota ini ada seorang tokoh (Sa’ad bin Mu’adz) yang seandainya ia beriman maka berimanlah seluruh kaum dan pengikutnya dan aku akan memanggilnya sekarang agar bertemu dengan kalian berdua.”

 

Usaid bin Hudhair pun berlalu dengan membawa tombak kesayangannya untuk menemui kaumnya. Melihat wajah Usaid bin Hudhair yang berseri-seri, kaumnya serta Sa’ad bin Mua’dz merasa kebingungan. Memuncaklah amarah Sa’ad bin Mu’adz, ia merasa bahwa ajaran yang dibawa Mush’ab bin ‘Umair membawa segenap sihir untuk menundukkan hati kaumnya. Sa’ad bin Mu’adz pun bergegas seraya membawa tombaknya, “Sungguh aku lebih tangguh untuk membunuh keduanya daripada Usaid bin Hudhair”.

 

Sa’ad bin Mu’adz pun menghampiri Mush’ab bin ‘Umair dan As’ad bin Zurarah dengan segenap kemurkaan, “Keparat kau As’ad bin Zurarah seandainya kita tidak memiliki hubungan kekerabatan niscaya sejak dahulu sudah kutusukkan tombak ini ke kepalamu. Apakah kamu ingin mengepung kabilah kami dengan ajaran yang kami benci?”

 

Dengan penuh ketenangan, Mush’ab bin ‘Umair mengatakan, “Maukah engkau duduk untuk mendengarkan ajaran yang kami serukan? Sekiranya engkau rela dengan ajaran kami niscaya engkau dapat menerimanya dan sekiranya engkau benci dengan ajaran kami niscaya kami akan menyembunyikan ajaran kami darimu?”

 

Sa’ad bin Mu’adz seraya mengikat tombaknya menjawab, “Baiklah, aku akan duduk di sini mendengarkan penjelasan kalian.” Maka, Mush’ab pun menjelaskan ajaran Islam dengan lemah lembut serta memperdengarkan suara indah lantunan ayat suci Al-Qur’an.

 

Senyum yang berseri-seri pun tergurat dalam wajah Sa’ad bin Mu’adz. Kemudian, Sa’ad bin Mu’adz mengatakan, “Sungguh indah ajaran kalian, lantas bagaimana cara kalian masuk ke dalam agama yang indah ini?”

 

Mush’ab bin ‘Umair menjawab, “Mandilah, bersihkan badan dan pakaianmu kemudian bacalah dua kalimat syahadat serta dirikanlah shalat.” Maka, Sa’ad bin Mu’adz pun melakukan apa yang diperintahkan dan menjalankan dua rakaat shalat.

 

Kemudian, Sa’ad bin Mu’adz pun bergegas mendatangi kaumnya seraya membawa tombak kesayangannya. Melihat wajah Sa’ad bin Mu’adz yang berseri-seri, kaumnya semakin merasa kebingungan karena dua tokoh panutan mereka berubah sebegitu cepatnya terhadap ajaran yang diserukan shahabat Mush’ab bin ‘Umair.

 

Tak perlu menunggu terlalu lama, Sa’ad bin Mu’adz mengumpulkan seluruh keluarga kabilah Bani Asyhal. Ia berkata, “Wahai kaum Bani Asyhal, bagaimana kedudukanku di mata kalian?”

 

Segenap keluarga kabilah Bani Asyhal menjawab, “Sungguh engkau wahai Sa’ad bin Mu’adz adalah pemimpin kami, panutan kami, dan engkau adalah tokoh yang paling baik pendapatnya serta paling agung derajatnya diantara kami.”

 

Dengan wajah sangat bangga, Sa’ad bin Mu’adz mengatakan, “Mulai sekarang haram bagiku berhubungan dengan kalian sampai kalian seluruhnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Maka semenjak itu, berbondong-bondong keluarga kabilah Bani Asyhal seluruhnya masuk agama Islam dengan damai tanpa ada sedikit pun darah yang menetas karenanya dan semenjak itu agama Islam semakin banyak dipeluk oleh mayoritas penduduk kota Madinah.

 

Dari kisah ini kita mengenal Islam yang damai, yang tidak disyiarkan lewat pedang dan pertumpahan darah, telah dimulai dengan contoh masuk Islamnya penduduk kota Madinah. Keimanan tulus yang ditunjukkan penduduk kota Madinah adalah hasil dari dakwah shahabat Mush’ab bin ‘Umair yang begitu indah dan lembut sebagaimana yang juga kita temui dari sosok-sosok Wali Songo saat berdakwah di bumi rakyat Nusantara.

 

Kerja keras Mush’ab bin ‘Umair ini kelak berbuah gegap gempitanya penduduk kota Madinah menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penyambutan dirayakan dengan penuh haru ketika para perempuan dari kabilah Bani Najjar mendendangkan syair yang terkenal hingga sekarang, “Thala’al Badru ‘Alaina min Tsaniyyat al-Wada’ (Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita dari lembah Wada’)”.

 

Demikian kisah singkat perjuangan Mush’ab bin ‘Umair pada masa-masa awal Islam, yang sarikan dari kitab As-Sirah An-Nabawiyyah karya Abu Muhammad Abdul Malik Ibnu Hisyam (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2007, vol. 1, hal. 435-436).

 

 

Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo


 

BNI Mobile