Home Khutbah Bahtsul Masail Ubudiyah Sirah Nabawiyah Tafsir Hikmah Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Jenazah Tasawuf/Akhlak Doa Haji, Umrah & Qurban Tafsir Mimpi Shalawat/Wirid Ilmu Hadits

Belajar Memuliakan Ilmu dari para Ulama

Belajar Memuliakan Ilmu dari para Ulama
Pada dasarnya cahaya kepahaman serta berkah ilmu bersumber dari Allah. (Ilustrasi: NU Online/Dok. PP Sirojuth Tolibin Brabo)
Pada dasarnya cahaya kepahaman serta berkah ilmu bersumber dari Allah. (Ilustrasi: NU Online/Dok. PP Sirojuth Tolibin Brabo)

Sejak zaman dahulu guru-guru kita, khususnya para kiai di pesantren, mengajarkan agar menjaga adab dalam mengajar. Sejak di pesantren para santri diajarkan untuk menempatkan kitab-kitab tafsir Al-Qur’an di urutan teratas dari tumpukan kitab. Disusul kitab-kitab hadits, kemudian kitab-kitab fan ilmu lainnya di bawahnya lagi. Mereka juga diajarkan membawa kitab kuning dengan cara yang baik. Hal ini semata-mata untuk menjaga adab kita kepada tulisan ayat Al-Qur’an, hadits Nabi, serta ilmu yang ada di dalam lembaran-lembarannya.

 

Selain itu, guru-guru di pesantren juga mengajarkan untuk selalu dalam keadaan suci ketika belajar maupun mengajar. Terkadang hal inilah yang kurang kita perhatikan dengan seksama. Padahal, belajar ataupun mengajar dalam keadaan suci dapat membantu kita dalam memahami kitab kuning yang kita kaji. Karena, pada dasarnya cahaya kepahaman serta berkah ilmu bersumber dari Allah. Terkadang justru sebab adab yang baik dalam mencari ilmulah yang dapat mengantarkan seorang santri meraih keberkahan ilmu dari Allah.

 

Dr. Muhammad Ibrahim Al-‘Asymawi, seorang pakar ilmu hadits di Universitas al-Azhar, pernah menceritakan pengalamannya mencari ilmu saat masih usia remaja. Beliau memiliki guru bernama Syekh al-Khathib yang mengajarkan hadits Nabi di Madrasah al-Ahmadi. Syekh al-Khathib selalu berada dalam keadaan suci ketika mengajar hadits Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengagungan kepada sabda Baginda Nabi yang diajarkan kepada murid-muridnya. Uniknya, beliau selalu merasakan kesulitan dalam menerangkan hadits ketika terdapat muridnya yang hadir dalam keadaan hadats besar.

 

Pernah suatu ketika Syekh al-Khathib menulis panjang lebar mengenai hadits Nabi di papan tulis. Anehnya, sewaktu Syekh al-Khathib hendak menerangkan tulisan di papan tulis lidahnya terasa kelu untuk berucap. Syekh al-Khathib pun merasa ada yang salah ketika itu. Berkali-kali beliau keluar dari kelas karena merasakan keanehan tersebut. Beliau pun mondar-mandir karena kebingungan setiap masuk ke dalam kelas untuk menerangkan selalu saja ada yang mengganjal di hatinya. Murid-murid Syekh al-Khathib pun merasa gusar: ada apa gerangan di balik kegundahan hati sang guru?

 

Setelah beberapa waktu kemudian, Syekh al-Khathib menghampiri salah satu muridnya. Dengan lemah lembut, Syekh al-Khathib menegur muridnya, “Wahai anakku, engkau telah mengahalangiku dari cahaya ilmu Nabi hari ini, keluarlah dari kelas ini! Jangan khawatir aku akan tetap menulis namamu dalam daftar hadir pelajaran hari ini.”

 

Maka, sang murid pun keluar dari kelas diikuti keheranan seluruh murid dalam ruangan tersebut. Dan Syekh al-Khathib memulai pelajaran hadits Nabi di hari itu dengan sangat lancar. Seolah-olah tidak ada kesulitan sedikit pun dalam mengajar di hari itu. Setelah diusut oleh murid-murid Syekh al-Khathib ternyata sang murid yang diperintahkan keluar dari kelas di hari itu sedang junub (hadats besar) dan ia tidak sempat mandi besar sebelumnya. Cerita ini termaktub dalam kitab Min al-Mawaqif al-Khalidah li ‘Ulama al-Azhar al-Syarif karya Ahmad Rabi’ Ahmad as-Sayyid (2017: 585).

 

Kisah ini mengingatkan kita dengan kisah Imam asy-Syafi’i saat belajar ilmu hadits di rumah Imam Malik. Saat muridnya itu datang, Imam Malik pun terlebih dahulu mandi, bersuci, mencukur kumis, memakai minyak wangi, serta memakai pakaian yang bagus sebelum membacakan hadits Nabi. Hal ini ditunjukkan sebagai pengagungan terhadap hadits Nabi yang akan ia baca.

 

Kisah ini juga mengingatkan penulis dengan suatu kisah nyata yang penulis alami. Pernah suatu ketika Dr. Ahmad Thaha Rayyan berpesan kepada kami agar memakai adab yang baik ketika mengaji kitab Shahih Bukhari kepada beliau. Hal ini dikarenakan, pernah suatu ketika ada seorang yang shalih yang berpesan kepada Dr. Ahmad Thaha Rayyan, “Wahai Syekh, aku tadi melihat Rasulullah ﷺ hadir dan duduk di dalam pengajianmu hingga selesai.” Mendengar hal tersebut meneteslah air mata Dr. Ahmad Thaha Rayyan. Beliau merasa sangat bahagia karena pengajiannya diperhatikan langsung oleh Baginda Nabi. Dan semenjak itu beliau sangat bersemangat mengajar kitab Shahih Bukhari terlepas dari kesehatannya yang semakin menurun.

 

Hadir di majelis ilmu dengan adab yang baik akan memberikan manfaat dan keberkahan kepada kita semua. Meskipun kita tidak paham dan hafal dengan ilmu yang diajarkan, setidaknya ada tujuh faedah yang akan kita dapatkan.

 

يقال من انتهى إلى العالم وجلس معه ولا يقدر على أن يحفظ العلم فله سبع كرامات. أولها ينال فضل المتعلمين. والثاني ما دام جالسا عنده كان محبوسا عن الذنوب والخطاء. والثالث إذا خرج من منزله تنزل عليه الرحمة. والرابع إذا جلس عنده فتنزل عليه الرحمة فتصيب ببركتهم. والخامس ما دام مستمعا تكتب له الحسنة. والسادس تحف عليهم الملائكة بأجنحتها رضا وهو فيهم. والسابع كل قدم يرفعه ويضعه يكون كفارة للذنوب ورفعا للدرجات له وزيادة في الحسنات.

 

“Diceritakan, barang siapa yang mendatangi seorang ulama dan duduk mengaji kepadanya—meski tidak dapat memahami ilmu yang disampaikan—setidaknya ia telah mendapatkan tujuh faedah, yaitu (1) ia mendapatkan keutamaan orang yang belajar. (2) Selama masih duduk bersama ulama, ia akan tercegah melakukan dosa dan kesalahan. (3) Ketika ia keluar dari rumahnya (untuk berangkat mencari ilmu) maka rahmat diturunkan untuknya. (4) Ketika ia duduk dengan ulama maka rahmat turun kepada ulama tersebut dan ia mendapatkan berkahnya. (5) Selama ia mendengarkan ilmu maka ditulis baginya kebaikan. (6) Malaikat mengepakkan sayapnya di atas majelis ilmu tersebut karena ridha dengan ilmu yang diajarkan. (7) Setiap langkah kaki yang ia angkat dan ia letakkan dihitung penghapus dosa dan pengangkat derajat serta tambahan kebaikan baginya” (Abu Laits Nashr bin Muhammad as-Samarkandi, Tanbih al-Ghafilin bi Ahadits Sayyidil Anbiya’ wal Mursalin [Beirut: Dar Ibnu Katsir, 2000], hal. 440).

 

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo

Terkait

Hikmah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya