Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Imam As-Syafi’i Sebut Dua Figur yang Merusak Masyarakat Beragama

Imam As-Syafi’i Sebut Dua Figur yang Merusak Masyarakat Beragama
Imam As-Syafi’i menyebut ulama yang fasik dan tidak tahu malu sebagai musibah bagi masyarakat. Tetapi yang lebih berbahaya dari ulama yang fasik, kata Imam As-Syafi’I, adalah orang bodoh yang saleh. (Ilsutrasi: via sothebys.com)
Imam As-Syafi’i menyebut ulama yang fasik dan tidak tahu malu sebagai musibah bagi masyarakat. Tetapi yang lebih berbahaya dari ulama yang fasik, kata Imam As-Syafi’I, adalah orang bodoh yang saleh. (Ilsutrasi: via sothebys.com)

Imam As-Syafi’i mengamati fenomena keagamaan di masyarakat yang mengarah pada bahaya. Menurut Imam As-Syafi’i, masyarakat berada pada jurang bahaya ketika menjadikan ulama yang fasik dan orang bodoh yang saleh sebagai imam besar mereka.


Bagi Imam As-Syafi’i, seburuk-buruk imam panutan masyarakat adalah ulama yang fasik dan orang bodoh yang saleh karena keduanya tidak akan membimbing dan mendidik masyarakat ke arah kemaslahatan baik duniawi maupun ukhrawi.


Imam As-Syafi’i menyebut ulama yang fasik dan tidak tahu malu sebagai musibah bagi masyarakat. Tetapi yang lebih berbahaya dari ulama yang fasik, kata Imam As-Syafi’I, adalah orang bodoh yang saleh. Mau dibawa ke mana masyarakat ketika menjadikan orang bodoh meski saleh dan zuhud sebagai imam dan panutan?


Imam As-Syafi’i menyebut kedua panutan masyarakat yang merusak itu dalam syairnya berikut ini:


فساد كبير عالم متهتك * وأكبر منه جاهل متنسك

هما فتنة في العالمين عظيمة * لمن بهما في دينه يتمسك


Artinya, “Kerusakan besar (dilakukan oleh) ulama yang tidak tahu malu*lebih merusak dari itu (dilakukan oleh) orang bodoh yang zuhud//Dua orang ini menjadi musibah besar di dunia*bagi mereka yang menjadikan panutan keduanya dalam beragama,” (Diwan Al-Imam As-Syafi’i, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M], halaman 86).


Masyarakat umumnya akan mencontoh ulama yang menjadi imam dan panutannya. Kalau dapat ulama yang baik, masyarakat akan beruntung. Tetapi jika menjadikan ulama yang melewati batas dan tidak tahu malu, masyarakat sendiri yang merugi.


Yang lebih fatal dari ulama yang fasik dan tidak tahu malu ketika masyarakat menjadikan orang-orang bodoh sebagai imam dan panutan beragama mereka hanya karena melihat kesalehan dan kezuhudan orang-orang bodoh.


Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menjelaskan lebih lanjut terkait mafsadat orang-orang bodoh yang dijadikan panutan, imam, atau diulamakan. Pasalnya sederhana, orang-orang bodoh yang diulamakan itu tidak tahu juga apakah yang mereka lakukan berada di jalan ketaatan atau kesesatan. Mereka berjalan di kegelapan, lalu dijadikan ustadz, dai, muballigh, atau ulama.


والجاهل واقع في ترك الطاعات وفعل المعاصى شاء أم أبى فإنه لا يدري أي شيء الطاعة التي أمره الله بفعلها ولا أي شيء المعصية التي نهاه الله عن ارتكابها ولا يخرج من ظلمات الجهل إلا بنور العلم


Artinya, “Orang bodoh jatuh ke dalam pengabaian taat dan perbuatan maksiat dengan kemauan atau ketidakmauannya, tanpa ia ketahui mana perbuatan taat yang diperintah Allah untuk dilakukan dan mana maksiat yang dilarang Allah. Seseorang tidak akan keluar dari kegelapan kebodohan kecuali dengan cahaya ilmu,” (Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Risalatul Mudzakarah, Hamisy Syarah Ad-Dakwatut Tammah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun], halaman 72).


Adapun orang-orang bodoh itu sebenarnya lebih banyak membawa mafsadat bagi kehidupan beragama sebagaimana keterangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani:


من عبد الله على جهل كان ما أفسده أكثر مما أصلحه


Artinya, “Orang yang menyembah Allah dalam kebodohan lebih sering membawa mafsadat daripada membawa kemaslahatan,” (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], halaman 288).


Kalau jelas lebih sering dan lebih banyak membawa mafsadat, bagaimana bisa masyarakat menjadikan orang-orang bodoh itu sebagai ustadz, ulama, atau panutan mereka? Padahal agama telah memiliki panduan yang dikawal oleh para penjaga ilmu yang telaten dan mumpuni. Imam Syafi'i ingin mengatakan, panutan agama harus berilmu dan berakhlak. Ilmu saja tidak cukup. Kesalehan saja kurang, apalagi hanya semata pakaian atau ucapan berbahasa Arab belaka. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Posisi Bawah | Youtube NU Online