Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Ketika Imam Abu Hanifah Disuruh Bertakwa oleh Seseorang

Ketika Imam Abu Hanifah Disuruh Bertakwa oleh Seseorang
Imam Abu Hanifah adalah ulama besar, pendiri mazhab hanafi, salah satu dari empat mazhab fiqih yang paling masyhur. (Ilustrasi: IlmFeed.com)
Imam Abu Hanifah adalah ulama besar, pendiri mazhab hanafi, salah satu dari empat mazhab fiqih yang paling masyhur. (Ilustrasi: IlmFeed.com)

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubalâ’, Imam al-Dzahabi mencatat sebuah peristiwa saat Imam Abu Hanifah disuruh bertakwa oleh seseorang. Berikut riwayatnya:


وعن زيد بن كميت سمع رجلا يقول لأبي حنيفة: اتق الله. فانتفض واصفرّ وأطرق. وقال: جزاك الله خيرا, ما أحوج الناس كل وقت إلى من يقول لهم مثل هذا.


Dari Zaid bin Kumait, ia mendengar seseorang berkata kepada (Imam) Abu Hanifah: “Bertakwalah kepada Allah.”


(Mendengar itu), (Imam Abu Hanifah) gemetar, (wajahnya) pucat pasi, dan (kepalanya) menunduk. Kemudian ia berkata: 


“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Betapa manusia sangat membutuhkan seseorang yang berkata seperti ini kepada mereka setiap saat” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1982, juz 6, h. 400).


****

Imam Abu Hanifah bukan orang sembarangan. Ia seorang ulama besar. Keilmuan dan akhlaknya begitu termasyhur. Menghabiskan hampir seluruh usianya untuk belajar dan mengajar. Meski demikian, peristiwa dalam kisah di atas masih bisa terjadi, bahkan pada ulama besar seperti Imam Abu Hanifah. Mari kita urai perlahan-lahan.


Daya tarik utama kisah di atas adalah respon Imam Abu Hanifah terhadap ucapan tersebut. Ketika mendengar kalimat, “bertakwalah kepada Allah”, sekujur tubuhnya terpengaruh. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi, dan pandangannya menunduk. Menariknya, semua itu terjadi bukan karena amarah dan ketersinggungan, tapi karena ia benar-benar merasakannya, atau lebih tepatnya, ia benar-benar menganggap ucapan tersebut sebagai nasihat.


Respons semacam inilah yang perlu kita teladani. Sebab, tidak jarang dari kita, akan tersinggung dan marah saat di hadapkan pada situasi semacam ini. Padahal, jika kita berpikir jernih, amarah dan ketersinggungan adalah bentuk kesombongan diri sekaligus self-proclaimed (proklamasi diri) bahwa kita sudah benar dan bertakwa. Seakan-akan kita mengatakan, “kami tak butuh wasiat takwamu, karena kami sudah banyak amal dan bertakwa.”

 

 

Memang, ada kalanya nasihat yang datang dengan kasar, atau berasal dari sudut pandang penghakiman, meninggalkan luka bagi yang mendengar. Tentu, dalam batas tertentu, itu hal yang wajar. Namun, alangkah baiknya jika kita mulai berpikir jernih dalam menanggapinya, apalagi jika yang disampaikan adalah wasiat takwa. Dalam hal ini, kisah di atas menjadi penting untuk dipelajari.


Kita tahu, Imam Abu Hanifah adalah ulama besar yang tak perlu diragukan keilmuannya. Ia adalah pendiri mazhab hanafi, salah satu dari empat mazhab fiqih yang paling masyhur. Menurut banyak riwayat, Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak tujuh ribu kali, dan hampir tidak pernah tidur malam karena sibuk beribadah. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalâ’, juz 6, h. 399-401). 


Meski demikian, ia masih merasa tidak cukup bertakwa, dan menerima ucapan orang tersebut dengan rasa syukur yang tinggi. Ia berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Betapa manusia sangat membutuhkan seseorang yang berkata seperti ini kepada mereka setiap saat.” 


Imam Abu Hanifah menekankan bahwa manusia sangat membutuhkan seseorang yang bisa berkata seperti itu. Salah satu tujuannya, mungkin, agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan seperti Iblis. Kesombongan yang melahirkan hasud, dan tidak terima jika ada yang lebih baik darinya. Dalam kasus Iblis adalah Nabi Adam. Bisa jadi, apa yang menimpa Iblis karena dia tak pernah mengalami kejadian yang dialami Imam Abu Hanifah. Saling menasihati sesama makhluk.


Penting bagi kita untuk meneladani Imam Abu Hanifah. Dengan menganggap semua yang datang adalah masukan dan nasihat, meskipun datang dengan kasar. Ketika hardikan datang, misalnya, “dasar orang munafik”, kita harus akui bahwa di setiap diri manusia ada kemunafikan. Tak terkecuali dengan diri kita. Maka, kita perlu meraba diri kita untuk menemukannya, dan berusaha memperbaikinya. 


Begitu pun jika ada nasihat, “bertaubatlah, wahai pendosa.” Tentu, kita juga tidak bisa pungkiri ada dosa di diri kita, dan di diri siapa pun dari kita, kecuali para nabi. Karena itu, daripada disibukkan dengan amarah, lebih baik kita mengikuti jejak Imam Abu Hanifah, yang ketika mendengar sesuatu, ia selalu mencari dan melihat ke dalam dirinya terlebih dahulu, sebelum mencari dan melihat ke diri orang selainnya.


Dengan demikian, cara pandang kita terhadap kebaikan harus jernih. Fokusnya hanya pada isi atau kebaikan itu tersendiri. Jangan biarkan amarah mengintervensi; jangan biarkan ketersinggungan mengganggu. Cukup fokus pada kebenarannya saja, seperti yang dilakukan Imam Abu Hanifah. Misal pun ia menerima ucapan, “bertakwalah kepada Allah”, dengan kasar, ia tetap akan gemetar dan menunduk, serta berterima kasih kepada yang mengucapkannya. Karena ia melihat pada sisi “kebenaran” dari ucapan tersebut.


Namun, alangkah baiknya jika sebuah nasihat disampaikan dengan cara yang “ma’ruf”, karena tidak banyak orang yang bisa seperti Imam Abu Hanifah. Lagi pula, nasihat yang disampaikan dengan cara baik pun terkadang tidak meninggalkan pengaruh berarti, apalagi yang disampaikan dengan kasar. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.


Wallahu a’lam bish-shawwab....
 

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

BNI Mobile