Home Khutbah Bahtsul Masail Ubudiyah Sirah Nabawiyah Tafsir Hikmah Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Jenazah Tasawuf/Akhlak Doa Haji, Umrah & Qurban Tafsir Mimpi Shalawat/Wirid Ilmu Hadits

Saat Jibril 'Mengoperasi' Nabi Muhammad Hidup-hidup

Saat Jibril 'Mengoperasi' Nabi Muhammad Hidup-hidup
Ilustrasi Nabi Muhammad SAW. (Foto: NU Online)
Ilustrasi Nabi Muhammad SAW. (Foto: NU Online)

Seperti anak-anak pada umumnya, di perkampungan Bani Sa’ad, Nabi Muhammad kecil juga menikmati masa kanak-kanak dengan bermain bersama teman-teman seusianya. Di tengah asyiknya bermain, tiba-tiba Jibril mendekap putra Aminah itu dan membedah dadanya. Spontan, ia pucat pasi. Teman-temannya pun terbirit melihat kejadian ganjil dan menakutkan itu. “Muhammad telah dibunuh!” teriak mereka.


Sebagai seorang utusan Allah Swt, Nabi Muhammad saw selalu dijaga dari sifat-sifat buruk. Seperti hasud, dendam, marah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sejak kecil Rasulullah Saw. sudah dijaga dari potensi-potensi yang mengarah pada keburukan. Salah satu bentuk penjagaan yang Allah perlihatkan dalam gambaran zahir adalah ketika hati Nabi dibedah oleh malaikat Jibril, lalu dicuci dengan air zam-zam yang terdapat dalam sebuah bejana emas.


Kala itu Nabi Muhammad masih dalam asuhan Halimah as-Sa’diyah. Nabi tumbuh sehat di perkampungan Bani Sa’ad itu. Selayaknya anak kecil pada umumnya, Nabi Muhammad pun bermain, lari-lari dan melakukan aktifitas lazimnya anak seusianya. Suatu hari, saat Nabi Muhammad kecil sedang asyik bermain dengan anak-anak Bani Sa’ad lainnya, tiba-tiba turun Malaikat Jibril dan mendekap Rasulullah saw yang pada saat itu masih sangat polos.


Jibril membaringkan Rasulullah di atas tanah dan mengoperasi dada beliau. Jibril mengeluarkan jantung Rasulullah dan membuang segumpal darah yang terdapat di dalamnya. “Ini adalah bagian dari syaitan!” tutur Jibril. Maksud ‘bagian dari syaitan’ di sini adalah sesuatu yang berpotensi mengajak pada keburukan; hasud, dendam, pemarah dan lain sebagainya.


Jantung Nabi yang baru dikeluarkan itu kemudian Jibril cuci dengan air zam-zam yang terdapat di sebuah bejana dari emas. Kemudian Jibril memperbaikinya dan mengembalikan jantung tersebut ke posisi semula. Spontan, teman-teman Nabi yang melihat ini panik dan mengira Nabi Muhammad telah dibunuh. Mereka lari terbirit dan dengan segera melaporkan kejadian ini pada Ibunda Halimah. “Muhammad telah dibunuh!” lapor mereka.


Halimah panik dan langsung menghampiri Rasulullah. Ia peluk Nabi Muhammad erat-erat, khawatir terjadi apa-apa. Wajah Nabi Muhammad tampak ketakutan dan pucat pasi. Setelah kejadian ganjil itu, Halimah memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibu kandungnya, Aminah. Halimah takut terjadi apa-apa terhadap Rasulullah kecil.


Peristiwa ini merupakan bagian dari Irhash, tanda-tanda kenabian sebelum diutus menjadi nabi. Jika sudah diutus namanya Mu’jizat.


Hikmah dan Pelajaran


1) Gambaran Zahir Kesucian Sang Nabi


Apa yang dialami Nabi saw saat masih kecil itu merupakan bentuk penyucian diri sang Nabi dari sifat-sifat tercela. Segumpal darah merupakan penentu arah tingkah laku seorang manusia. Jika segumpal darah itu baik, maka baiklah semua tingkah lakunya. Sebaliknya, jika segumpal darah itu buruk, akan menjalar ke anggota tubuh yang lain dan tingkah lakunya menjadi buruk.


Peristiwa itu merupakan bentuk visualisasi pembersian diri pada Nabi Muhammad saw dari sifat-sifat tercela dalam bentuk simbol, yaitu penyucian jantung Nabi. Dengan ditampakkan dalam wujud zahir (materialistik) ini, akan lebih mudah ditangkap oleh manusia. Demikianlah penjelasan Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fikih Sirah (hlm. 73).


Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (juz 7, hal 205) dan Muhammad Abu Syahbah dalam Difa’ Anissunnah wa Raddi Subahil Mustaasyriqin Walkitab al-Mu’ashirin (hal 90), menjelaskan bahwa, pembelahan dada Rasulullah dialaminya sebanyak tiga kali.


Pertama, terjadi saat Rasulullah Saw. masih kecil, sehingga tumbuhlah ia sebagai sosok yang sempurna akhlaknya dan terjaga dari godaan syaitan. Kedua, terjadi saat sebelum diutus menjadi nabi untuk menambah kemuliaannya, sehingga bisa menerima wahyu dengan hati yang kuat dan dengan kesucian yang sempurna. Ketiga, terjadi saat beliau handak mi’raj (naik) ke langit sebagai bentuk persiapan menghadap Allah Swt.


2) Menanamkan rasa kasih sayang pada diri Nabi


Nabi Muhammad saw diutus sebagai Nabi pembawa rahmat bagi semesta alam. Hatinya dipenuhi cinta dan kasih pada seluruh ciptaan Allah Swt. Dengan dibuangnya bagian dari syaitan dalam hati Nabi, maka tidak ada yang mampu mencederai kasih sayangnya oleh pengaruh bisikan syaitan dalam hatinya.


Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki al-Hasani dalam al-Insan al-Kamil (hlm. 35) menjelaskan bahwa, Hati Baginda Nabi Saw. dipenuhi dengan rahmat (kasih sayang). Bahkan, sumber dari kasih sayang itu sendiri. Sebagaimana dalam al-Qurana dijelaskan, “Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Ambiya [21]: 7).


Kasih sayang ini merupakan kasih sayang yang menyeluruh dan sempurna. Karena merupakan kasih sayang (rahmat) Allah yang maha luas. Allah keluarkan syaitan dan sekutu-sekutunya dari hati Nabi saw supaya tidak menciderai kasih sayang sang Nabi. Sehingga tidak ada ruang bagi syaitan. Inilah maksud daripada dikeluarkan bagian dari syaitan dari hati Rasulullah Saw. Sehingga syaitan tidak mendapat ruang untuk mencederai kerahmatan Nabi saw.


3) Meneguhkan Keyakinan Rasullullah


Kekuatan mental sangat dibutuhkan bagi seorang pendakwah, terutama seorang Nabi Muhammad yang kelak akan menghadapi hambatan dakwah sangat berat. Saat Nabi dibedah, ia melihat langsung bagaimana proses pembedahan itu. Pada mulanya khawaitir akan terjadi apa-apa dengan dirinya. Tapi, Nabi ternyata tidak merasakan sakit sedikit pun.


Saat itu Nabi yakin, bahwa tak perlu lagi takut kepada selain Allah. Pembedahan yang menakutkan itu pun nyatanya tidak apa-apa jika memang Allah menghendaki. Muhamad saw tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan pemberani. Bahkan ikut memimpin dan berperang melawan musuh-musuh Allah.


Imad as-Syirbini dalam Raddu Syubuhat Haula ‘Ishmatinnabi (juz 1, hal 111) menjelaskan bahwa, hikmah pembelahan dada Nabi Muhammad saw -meski tanpa dibedah pun hatinya dipenuhi dengan keimanan dan kebijaksanaan- adalah untuk menambah keyakinan dalam dirinya. Karena Nabi melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana saat perutnya dibedah dan tanpa ada bekas luka sedikit pun.


Hal itu mengokohkan keyakinannya untuk tidak takut dengan hal-hal yang mengancam bahaya (pembedahan yang semestinya membahayakan saja tidak mampu melukainya). Dengan demikian, maka tertanamlah dalam diri Nabi untuk tidak takut kecuali hanya kepada Allah Swt. Rasulullah pun menjadi sosok yang pemberani dan memiliki ucapan serta budi yang luhur.


4) Memperkuat Kema’shuman Rasulullah


Sebagai utusan Allah yang membawa misi dakwah, Nabi Muhammad saw harus dibekali ‘power’ agar bisa lebih diterima oleh umatnya. Dengan adanya pembedahan dada yang membuang potensi-potensi keburukan dalam diri Nabi, hal ini akan memperkuat bahwa Rasulullah terjamin keluhuran akhlaknya. Tidak mungkin lagi berbuat maksiat (ma’shum). Kepercayaan umat pun semakin kuat.


Al-Baqi dalam Nadham ad-Durar (juz 3, hal 327) menjelaskan bahwa, dalam diri Muhammad saw telah dibuang bagian dari syaitan (potensi pendorong keburukan -pent.), yaitu dengan dibuangnya segumpal daging hitam dari jantungnya saat malaikat Jibril membedah dada dan mencuci jantungnya. “Ini adalah bagian dari syaitan dalam dirimu,” kata Jibril. Ucapan Jibril itu menegaskan akan kema’shuman Nabi, sehingga mudah diterima oleh umatnya.


Senada dengan al-Baqi, as-Syirbini dalam Raddu Syubuhat Haula ‘Ishmatinnabi (1/107) menjelaskan bahwa, ini menjadi bukti Nabi Muhammad saw terjaga dari hal-hal yang menggoyahkan hati, akidah, dan pribadi Nabi sejak beliau masih kecil.


Muhamad Abror, Pengasuh Madrasah Baca Kitab, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya