Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Keislaman Sahabat Anshar dan Kesabaran Dakwah Rasulullah

Keislaman Sahabat Anshar dan Kesabaran Dakwah Rasulullah
Keislaman Sahabat Anshar dan Kesabaran Dakwah Rasulullah
Keislaman Sahabat Anshar dan Kesabaran Dakwah Rasulullah

Islam menjadi agama yang sangat besar, disegani, dan sangat pesat perkembangannya tidak lepas dari perjuangan Rasulullah saw yang sangat sabar, tabah dan penuh keistiqamahan. Tak henti-hentinya beliau menyerukan ajaran Islam yang santun, ramah dan penuh dengan kesopanan kepada masyarakatnya. Meskipun pada awalnya upayanya tidak membuahkan hasil yang signifikan, namun semangatnya tetap menggelora, tidak berkurang sedikit pun.


Dakwah yang diajarkan Rasulullah saw tidak hanya mengandalkan kesopanan dan kebijakan.  Rasulullah saw juga menyampaikan dakwah dengan kecerdasan. Hal itu terlihat dalam dakwahnya yang dilakukan bertepatan dengan momentum perkumpulan masyarakat Arab dan sekitarnya, bahkan seluruh pelosok negeri, yaitu musim haji. Setiap musim haji Rasulullah saw memperkenalkan diri kepada orang-orang yang datang ke Masjidil Haram dari berbagai suku yang berbeda-beda. Beliau membacakan Al-Qur’an dan mengajak mereka mengesakan Allah swt. Hanya saja, tidak seorang pun menyambut ajakannya.


Ketika menyampaikan risalah kenabian, tak sesekali Rasulullah saw memberikan iming-iming imbalan surga bagi yang mau menerima ajaran yang dibawanya dan neraka bagi yang menolaknya. Namun apa yang disampaikan Rasulullah saw kepada masyarakat jahiliyah hanya dianggap sekadar berita usang. Tak ada satu orang pun yang menerima ajakannya.

 

Meski ajakan dakwahnya sering dihiraukan dan dicampakkan oleh masyarakat Arab saat itu, semangat dan ketabahan Rasulullah saw sama sekali tidak berkurang. Ia selalu berusaha dan berdoa dengan penuh istiqamah agar dakwah yang dibawanya bisa diterima oleh masyarakat. Penolakan masyarakat terhadap dakwahnya tidak lantas membuat dirinya menyerah dan berhenti untuk menyampaikan kebenaran ajaran Islam.


Penentangan Abu Lahab 
Di sisi yang lain, Abu Lahab yang terus mengawasi gerak-gerik Rasulullah saw juga berusaha untuk meyakinkan masyarakat Arab agar tidak menerima dakwahnya. Setiap kali bertemu dengan masyarakat Arab, Abu Lahab mengatakan: “Jangan turuti kata-katanya, karena ia murtad dan pembohong!”


Abu Lahab selaku tokoh yang berpengaruh mendapatkan respon positif dari masyarakat Arab. Hoax dan ujaran kebenciannya kepada Rasulullah saw membuat banyak orang menolak dakwah Islam secara kasar. Bahkan tak hanya sesekali masyarakat Arab menyakiti Rasulullah saw ketika menyampaikan dakwahnya.


Keislaman Sahabat Anshar 
Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam kitab Sirah-nya menyebutkan, pada tahun ke-11 kenabian, Rasulullah saw memberikan tawaran kepada berbagai suku untuk membela dan melindunginya, sebagaimana yang beliau lakukan setiap tahun. Ketika berada di Aqabah (antara Mina dan Makkah, tempat melempar jumrah Aqabah), Rasulullah saw bertemu sekelompok orang dari suku Khazraj yang dikehendaki kebaikan oleh Allah dengan masuk Islam. 


Rasulullah bertanya, “Siapa kalian?”


Mereka menjawab, “Kami orang Khazraj.”


“Apakah kalian sekutu kaum Yahudi?” tanya Rasulullah kembali.


“Ya”, jawab mereka.


“Maukah kalian duduk dan berbincang?” pinta Rasulullah


Iya, kami mau”, pungkas mereka.


Setelah mereka duduk, Rasulullah saw mengajak mereka menyembah kepada Allah, masuk Islam, dan membacakan Al-Quran kepada mereka.


Menurut Al-Buthi, salah satu faktor yang memengaruhi suku Khazraj sehingga berkenan menerima Islam adalah kedekatannya dengan kaum Yahudi. Sudah diketahui bahwa kaum Yahudi adalah Ahli Kitab yang dikenal sebagai kelompok yang berilmu. Apabila terjadi pertentangan atau peperangan antara Yahudi dan pribumi Madinah, orang Yahudi kerap mengancamnya dengan mengatakan: 

 

“Sekarang akan muncul seorang nabi, setelah sekian lama tidak ada nabi yang diutus. Kami akan mengikutinya. Bersama nabi itu kami akan menumpas kalian, seperti ditumpasnya kaum Ad dan Iram!”


Tatkala Rasulullah saw berbicara dan mengajak mereka masuk Islam, mereka saling berpandangan, lalu berkata: “Ketahuilah, demi Allah, inilah nabi yang kerap disebutkan kaum Yahudi untuk mengancam kita. Jangan sampai mereka mendahului kita dalam mengikutinya.”


Mereka pun menyambut ajakan Rasulullah saw untuk masuk Islam dan berkata:

 

“Kaum kami adalah kaum yang kerap bermusuhan dan berbuat buruk satu sama lain. Semoga Allah mempersatukan mereka melalui dirimu. Kami akan menemui mereka dan mengajak mereka untuk mengikutimu. Kami juga akan memberikan tawaran kepada mereka agama yang telah kami terima ini. Jika Allah mempersatukan mereka di bawah kepimpinanmu, maka tidak ada orang yang lebih perkasa daripada Engkau!”


Kemudian mereka pulang dan berjanji kepada Rasulullah saw untuk bertemu lagi pada musim haji berikutnya. (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sîratin Nabawiyyah, [Bairut, Darul Fikr: 2013], halaman 130-131).


Peristiwa keislaman suku Khazraj pun tersebar di Madinah. Kemudian banyak masyarakat Arab dan Madinah yang masuk Islam. Pada musim haji berikutnya, 12 laki-laki kota Madinah mendatangi Rasulullah saw di Aqabah. Inilah Baiat Aqabah Pertama. Menurut cattan Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, peserta Baiat Aqabah pertama saat itu antara lain adalah As‘ad bin Zurarah, Rafi’ bin Malik, Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Al-Haitsam bin At-Tihan. (Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîqul Makhtûm, [Qatar, Wazâratul Auqâf, 2007], halaman 147).


Pada momentum itu, Rasulullah saw bersabda:

 

تَعَالَوْا بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا، وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ، وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ، وَلَا تَعْصُونِي فِي مَعْرُوفٍ. فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ. وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ بِهِ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ لَهُ كَفَّارَةٌ. وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللهُ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ، إِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ وَإِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ. (رواه البخاري)

 

Artinya, “Kemarilah kalian berbaiat kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakangmu, dan tidak membangkang perintahku dalam kebaikan. Barangsiapa memenuhi baiatnya maka pahalanya akan diberikan oleh Allah. Barangsiapa melanggar sesuatu dari baiatnya lalu dihukum di dunia, maka hukuman itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa melanggar sesuatu dari baiatnya lantas Allah menutupi aibnya, maka urusannya terserah kepada Allah, apakah mengazabnya ataukah memaafkaannya.” (HR al-Bukhari).

 

Setelah itu mereka berbaiat kepada Rasulullah saw untuk berjanji mengikuti semua perintahnya.

 

Dari peristiwa baiat yang dilakukan masyarakat Madinah ini diambil pelajaran, dakwah yang dilakukan Rasulullah saw tidak sebatas mengajari dua kalimat syahadat kemudian membiarkan mereka melafalkannya berulang-ulang, sementara mereka tetap melakukan kezaliman, penyimpangan, dan berbuat kerusakan. Memang benar, seseorang disebut Muslim setelah mempercayai dua kalimat syahadat, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan memercayai segala kewajiban. Namun, perilaku yang didasari kepercayaan pada keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad saw merupakan kunci untuk membangun komunitas manusia, mewujudkan segala aturan dan prinsipnya, serta menjadikan keputusan hukum dalam segala urusan sebagai wewenang Allah semata. Iman pada keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad saw harus disempurnakan dengan iman pada keputusan Allah dan keharusan mengikuti syariat serta aturan-Nya.


Sebelum kaum Khazraj pulang ke Madinah, Rasulullah saw menugaskan sahabat Mush‘ab bin Umair ra untuk pergi bersama mereka guna membacakan Al-Quran dan membantu mereka memahami Islam secara lebih dalam. Karena tugas inilah, Mush‘ab bin Umair dijuluki Muqri’-ul Madînah (Pembaca Al-Quran bagi Penduduk Madinah). (Al-Buthi, al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 131).


Keislaman masyarakat Madinah yang kemudian dikenal dengan sahabat Anshar tidak hanya tentang mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka memadukan ketetapan hati dan pengucapan lisan, kemudian berbaiat secara lebih detail kepada Rasulullah saw. Dengan begitu, mereka siap mewarnai perilaku mereka dengan ajaran Islam, berpegang teguh pada aturan, akhlak, dan semua prinsip Islam. Rasulullah saw menerima baiat mereka untuk tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang mereka, serta tidak mengingkari Rasulullah saw dalam segala kepatutan yang ia perintahkan.


Hikmah 
Menurut Syekh Al-Buthi, ada pelajaran penting yang perlu diperhatikan pada kisah di atas. Yaitu bagaimana awal mula perkembangan dakwah Rasulullah saw setelah sekian tahun dari kenabiannya. Kesabaran dan kerja keras telah membuahkan hasil. Ladang dakwah mulai tumbuh subur dan memberikan hasil yang mengembirakan.


Namun perlu diperhatikan dan dijadikan pelajaran,  sebelum terwujud hasil yang mengembirakan ini, kesabaran Rasulullah saw sangat besar dalam menghadapi semua kesulitan dan penderitaan. Rasulullah saw tidak hanya berdakwah kepada kaumnya, Quraisy, yang tidak pernah berhenti menimpakan derita dan siksaan kepadanya, namun pada setiap musim haji beliau juga terjun menemui berbagai suku yang datang dari luar Makkah, dari segala penjuru daerah. Tak henti-hentinya Rasulullah saw mondar-mandir ke sana kemari melakukan semua itu tanpa seorang pun menyambut seruannya.


11 tahun Rasulullah saw berjuang menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan yang sangat berat tanpa mengenal istirahat dan ketenangan. Setiap saat kaum Quraisy terus mencari peluang untuk menyakiti bahkan membunuhnya. Namun, semua itu tidak mengurangi tekadnya dan tidak pula melemahkan semangat juangnya.

 

11 tahun Rasulullah saw menderita keterasingan di tengah kaumnya sendiri dan di antara suku-suku sekitar Makkah. Namun, beliau tidak berputus asa. Semua itu tidak mempengaruhi tekadnya dan tidak mengurangi kedekatannya kepada Allah. Rasulullah saw selalu bersabar. Semua itu merupakan “harga” dan “jalan” bagi tumbuh kembangnya Islam ke seluruh penjuru bumi.

 

Tanpa kesabaran, dan jerih payah, sebenarnya mudah bagi Allah untuk menciptakan masyarakat Islam. Namun, inilah sunnatullah yang berlaku pada hamba-Nya. Dia menghendaki agar penghambaan kepada-Nya terwujud dalam diri Rasulullah saw secara suka rela, didorong dengan tekad dan perjuangan sendiri. (Al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 132).


Sunnatullah, Pengajar di Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop, Bangkalan.
 

Posisi Bawah | Youtube NU Online