IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Peletakan Hajar Aswad

Jumat 5 Oktober 2012 5:3 WIB
Share:
Kisah Peletakan Hajar Aswad

Semasa Rasulullah Muhammad SAW belum diangkat sebagai Rasul bagi seluruh alam, Beliau telah terkenal sebagai seorang yang sangat jujur, berlatarbelakang keluarga terhormat dan memiliki kelebihan mampu meredam pertikaian antar suku (kampung). Sehingga beberapa kali Muhammad muda dipercayai memberikan keputusan-keputusan krusial menyangkut kepentingan bersama.<>

Salah satu contoh paling populer tentang keberhasilan Nabi SAW menyelesaikan sengketa di antara kaumnya sebelum Beliau dimusuhi karena menyebarkan ajaran Islam adalah ketika terjadi peristiwa renovasi Ka’bah. 

Kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil mengundang orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad.

Mereka mulai berselisih pendapat, Siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling ingin mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri. 

Hingga akhirnya Muhammad, Suami Khadijah ini mengajukan usul, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke tempat pembangunan (renovasi) maka dialah yang berhak atas kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujuinya, mereka yakin ini adalah jalan terbaik bagi mereka.

Keesokan harinya, ternyata yang datang paling pagi, paling awal adalah Muhammad sendiri, maka Beliaulah yang berhak meletakkan hajar aswad sebagai tanda peresmian Ka’bah kembali. Namun Rupanya Muhammad bukanlah seorang yang egois. Ia kemudian membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut. Demikian tersebut dalam kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin. (A. Khoirul Anam)

Share:
Selasa 25 September 2012 14:5 WIB
Hikayat Mualaf Fresh
Hikayat Mualaf Fresh

Oleh: Isfandiari

 

Temanku Jeffrey, turunan Cina-Manado. Baru lalu ia  bikin kejutan besar di lingkungan gaulnya: JJ begitu ia disapa, ikhlas memeluk Islam hingga dapat predikat mualaf fresh.  Sebagai muslim keturunan dan teman dekatnya, saya penasaran setengah mati, kok bisa-kok mau? Bukan apa-apa, JJ punya gaya hidup yang jauh dari ‘rasa’ muslim dilihat dari kacamata awam. Ia intelek (bukan berarti muslim nggak intelek lo!),  lihai bergaul dengan gadis-gadis cantik, bertampang bagai bintang Mandarin, langganan dugem, sangat konsumtif, realis sejati dan berdaya rasional minta ampun. Lha…, ada angin apa ujug-ujug bershahadat secara takzim, di mesjid dekat rumahnya sambil berurai air mata… alhamdulillah, saya jadi saksi peristiwa ajaib ini.<>

Rasa girang dan syukur saya dikalahkan rasa penasaran. Tarohlah ia dari golongan lempeng, hidup tak banyak gejolak ekstravagansa, jenis manusia tertib dan sejenisnya, keinginan jadi mualaf tak mengejutkan. Tapi JJ lain. Ia bergelimang kehidupan gemerlap, musik menghentak, mobil ceper, miras mahal dan selaksa surga dunia lainnya. Kalau saja dianggap tobat, ia tak perlu menjadi ‘bersih’ dengan shock therapy dibentak manusia berperan malaikat Mungkar dan Nangkir di kuburan palsu,  tiang gantungan, pecut sampai jadi berlagak bak mayat dikafani segala. “Maaf, membuat orang tobat dengan cara itu, terus terang saja menggelikan. Orang ingin mencintai Allah kok ditakut-takuti !” katanya sambil terkekeh.  Ia mengaku kagum pada idealisma Rabi’ah Al Adawiyyah, cewek Basra (801 M) soal cinta mistik, penyerahan diri total pada ‘kekasih’ –nya Allah lewat puisi mahabah berisi kecintaan sejati.”Itulah cara terindah mendekatkan diri,” kata sahabat saya ini.

Di rumah  mewahnya ia berbagi pengalaman. “You tahu kenapa aku tertarik sama kamu punya agama?” katanya dalam. Ia mengaku kagum pada kedalaman Islam dan nafsu keilmuan para ulama. Ia menyakini AL-Quran sebagai pijakan berbagai bidang: politik, fisika, ekonomi sampai etika gaul. Fisika tentang kepastian hukum alam, ada dalam surat Al Qamar 49:Susungguhnya kami menciptakan sesuatu menurut ukuran. Ditambah penguat lain di  surat seperti Az Zariyat (47), As Sajdah (11-13), Fatir (14), AT Talaq (12) dan banyak lagi.”Semuanya seperti guidance temuan-temuan ahli fisika ternama tentang Galaksi, teori dentuman besar (Big Bang) tentang materi dan banyak lagi,” semangatnya. “Pantas saja Ibnu Sina bisa membuat buku Al Magest tentang astronomi, Muhammad Bin Musa, perintis ilmu pasti. Atau Jabir bin Hayyam, bapak ilmu kimia, fisikawan Al Hazen alias Ibnu Haitam dan banyak lagi,” cocor JJ  sambil  ngasih bonus data: Paus Silvester II (999-1003) yang bernama asli Gerbert Of Auvergne, penyelidik angka-angka arab dan memperkenalkan angka nol pengganti angka Romawi di Eropa adalah lulusan perguruan tinggi Islam Qairawan di Afrika Utara. Universitas itu ada  di bawah kekuasaan Daulah Al-Muwahhidun.

Sosial kemasyarakatan juga disasar JJ. “Hebat sekali ya Nuruddin Ar Raniri, ulama Aceh abad 17 itu!” Saya bingung karena nggak kenal. “Selain penyebar bahasa Melayu di Asia Tenggara ia juga penulis produktif bidang perbandingan agama, filsafat, akidah sejarah juga mistik,” katanya serius. Sekilas ia juga menganalisa sepak terjang ulama besar, KH Hasyim Ashari, Ali Ma’soem sampai ulama yang juga sastrawan H. Mahbub Djunaidi.

Menjelang subuh kami habiskan tak terasa. Di penghujung malam itu, otak saya lelah ‘melouding’ data dari dirinya. Pengalaman intelektualnya menjadi mualaf membuat saya iri kepadanya. Sepanjang hidup menjadi muslim, saya mengalami kekeringan data dan merasa jalan di tempat. Akh, seperti membaca kegundahan saya, ia  mengeluh. ”Sayang…sayang! Info ikhwal  kecanggihan Islam harus diburu melalui literature mahal di perpustakaan dan buku-buku. Sharing data yang dalam belum maksimal dilakoni mubalig pada umat. Mau contoh? Saya keliling-keliling mencari ilmu lewat kutbah Jum'at. Yang didapat: retorika repetitif, kadang mengulang-ulang itu-itu saja. Diskripsi soal hukuman neraka kalau Anda menyimpang atau sebaliknya iming-iming nikmatnya surga jika berjalan sesuai aturan. Makin gawat, kadang bernada marah-marah, menyalahkan kaum lain apalagi agama lain soal kemunduran internal yang dialami masyarakat Islam. Humanisme seringkali kalah oleh rasa menjadi pemilik kebenaran. Kok harus begitu? Apa tak ada materi dan jalan lain?” katanya tinggi.

Saya lihat api Islam membara dalam dirinya. Ia seperti ingin menjadi aternatif, pasukan pembaharu sebagai penyegar suasana sumpek yang sering dirasakan. Saya seperti menaruh harapan besar pada dirinya.  Saya gambarkan

ia sedang mengisi bahan bakar yang cukup untuk turun gunung. Ia bagai anak panah yang belum mau lepas dari busurnya roh pembaharu. Saya yakin, ia  akan menjadi barisan potensial bersama saya dan teman-teman lainnya.

Tak terasa adzan subuh berkumandang. Kamipun wudlu dan masuk mushola mewah di belakang rumahnya. Iapun mempersilakan saya menadi imam. Ini baru mualaf fresh. Subhanallah…. 


Penulis adalahPemerhati masalah sosial

Jumat 10 Agustus 2012 7:2 WIB
Orang Hebat
Orang Hebat

Seorang laki-laki paruh baya, suatu ketika lewat di depan sebuah masjid. Kebetulan di dalam masjid, sedang dilangsungkan tabligh akbar. Seorang Ustad muda, nampak berada di atas mimbar. Dengan menggebu-gebu, Ia menyampaikan banyak hal, salah satunya tentang tema karomah.<>

”Banyak cerita, para kekasih Allah yang lantaran karomahnya, wali tadi bisa berjalan mengambang diatas air, ada juga yang bisa terbang ke awang-awang, nglempit bumi juga bisa, merekalah orang-orang hebat” tandas Ustadz muda.

Hadirin tampak terpaku mendengar setiap keterangan sang Ustadz. Mereka tak beranjak dari tempat duduknya hingga acara tabligh usai.

Dan setelah sekian menit berlalu, acara di masjid itupun ditutup. Sebelum mengucap salam, Ustadz muda berdoa dan hadirin pun mengamini.

Satu persatu hadirin pun mulai meninggalkan masjid. Berbeda dengan lelaki paruh baya yang sejak tadi berada di teras masjid. Ia bermaksud menunggu keluarnnya Ustad muda untuk sekedar mengajak berbicara.

Usai disalami oleh beberapa hadirin, Ustad muda pun bergegas untuk keluar dari masjid untuk pulang. Tapi tanpa dinyana, baru sampai di teras masjid, langkahnya tertahan oleh sapaan salam.

Assalamu’alaikum Ustadz”

Wa’alaikumussalam, masyaallah Kiai,” ustad muda terkejut. Ia tak menyangka Kiainya di pesantren bisa berada di tempat itu. Ia segera menyalami gurunya.

“Nak, nak,…. seorang yang bisa terbang itu biasa, wong burung saja bisa terbang. Seorang yang bisa berjalan diatas air itu biasa, karena ikan pun bisa melakukannya, bahkan menyelam di air pun ikan bisa. Apalagi seorang bisa nglempit bumi, itu tidaklah hebat, setan musuh orang beriman itu secepat kilat bisa melakukannya,” Sang Kiai langsung berbicara.

Ustad muda, yang ternyata santri pak Kiai ini pun segera mafhum dengan maksud pembicaraan Kiainya. Ia menunduk sadar telah melakukan kesalahan saat berbicara di atas podium tadi.

”Orang hebat di zaman ini, bukanlah orang yang bisa melakukan berbagai hal-hal diluar nalar kebiasaan, tapi orang yang saat memiliki atau bahkan berkelebihan harta, ketika harta itu raib dan hilang tanpa jejak, hatinya tak sedikit pun peduli, dan bahkan berkata “Alhamdulillah”, orang-orang inilah yang layak disandangi orang hebat karena mereka memiliki sifat zuhud,” jelas Pak Kiai. (In’am Al-Fajar).

Jumat 3 Agustus 2012 7:49 WIB
Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah
Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".<>

Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".

"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."

"Wahai Rasulullah, kemudian akupun mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab, "Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."

"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."

Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanya sifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.

Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya. (J. Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)