IMG-LOGO
Shalat

Sahkan Shalat Tahiyatul Masjid di Halaman atau Teras Masjid?

Selasa 25 Juni 2019 22:30 WIB
Share:
Sahkan Shalat Tahiyatul Masjid di Halaman atau Teras Masjid?

Shalat sunnah Tahiyatul Masjid adalah shalat sunah dua rakaat yang dikerjakan sesaat setelah kita memasuki masjid.Ketika seseorang telah memasuki masjid, maka alangkah baiknya jangan duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat yang disebut dengan shalat sunnah tahiyatul masjid.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

Jika salah satu dari kalian telah memasuki masjid, maka janganlah ia duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat.

Tujuan dari pelaksanaan shalat dua rakaat ini adalah untuk menghormati masjid, karena pada dasarnya masjid memiliki kehormatan dan kedudukan mulia yang senantiasa harus dijaga bagi setiap orang muslim yang memasukinya.

Masalah yang muncul adalah ketika seseorang menjalankan shalat sunnah tahiyatul masjid di halaman atau di teras masjid, sedangkan hadits di atas menjelaskan ketika seseorang telah memasuki masjid, bukan ketika telah sampai di halaman masjid atau teras masjid. Bagaimanakan hukumnya shalat sunnah tahiyatul masjid di halaman atau teras masjid?

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari memberi penjelasan tentang yang dimaksud Rahbatul Masjid (Halaman Masjid) sebagai bangunan yang berada didepan masjid dan tidak terpisah dengan masjid, maka bangunan tersebut masih dikategorikan masjid, diperbolehkan seseorang melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid di tempat tersebut, sebagaimana melaksanakan i'tikaf dan yang lain

.هي بناء يكون أمام المسجد غير منفصل عنه هذه رحبة المسجد

Rahbatul Masjid (halaman masjid) adalah bangunan yang berada di depan masjid dan tidak terpisah dengan masjid.

Apa bila bangunan tersebut terpisah dengan masjid maka tidak dikategorikan sebagai masjid, atau secara umum bangunan itu tidak sebagai masjid, sebagaimana dalam kitab Qurratul Aain Fatawa Isma'il Zain

,وإن لم تكن ملحقة به في ذلك بأن كانت للإرتفاق التابع للمسجد فليس لها حينئذ حكم المسجد

Jika bangunan tersebut terpisah dari masjid, atau hanya bersanding dengan masjid, maka tidaklah dihukumi sebagai masjid.

Dengan demikian hendaklah melaksanakan shalat sunah didalam masjid karena hal tersebut lebih utama, meskipun hanya shalat sunah tetapi memiliki faedah yang banyak dan luar biasa.

(Pen. Fuad H. Basya/ Red. Ulil H.)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Jumat, 04 Oktober 2013 pukul 09:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Share:
Selasa 25 Juni 2019 23:30 WIB
Apakah Shalat Batal jika Ada Lubang Kecil pada Sarung atau Celana?
Apakah Shalat Batal jika Ada Lubang Kecil pada Sarung atau Celana?

Kewajiban menutup aurat dalam shalat bagi laki-laki adalah dari pusar sampai ke lutut, sedangkan untuk perempuan adalah semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Bagi laki-laki kebiasaan yang berlaku adalah memakai sarung, celana atau penutup yang lain, dengan ketentuan bisa menutupi aurat. Apabila syarat menutup aurat tidak terpenuhi shalatnya tidak sah. Maka pakaian yang dipakai seseorang misalnya sarung atau celana harus bisa menutupi aurat dalam shalat.

Ada hal yang mengakibatkan shalatnya seseorang tidak sah karena terdapat lubang kecil pada sarung atau celana, sebenarnya tidak ada ukuran pasti seberapa besar lubang pada pakaian yang bisa mengakibatkan tidak terpenuhinya salah satu syarat sahnya shalat yaitu menutup aurat. Hanya saja terdapat keterangan bahwa jika melalui lubang tersebut tampak terlihat kulit dari anggota badan maka shalatnya tidak sah. Sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu’ karya Imam Nawawi,

وَيَجِبُ سَتْرُ الْعَوْرَةِ بِمَا لَا يَصِفُ لَوْنَ الْبَشَرَةِ

Diwajibkan menutup aurat sehingga kulit anggota badan tidak tampak terlihat

Dalam hal ini tidak terdapat ukuran seberapa besar lubang tersebut, akan tetapi tergantung dengan terlihatnya kulit, maka jika lubang tersebut kecil dan tidak terlihat kulit seseorang maka dianggap sah.

يَجِبُ السَّتْرُ بِمَا يَحُولُ بَيْنَ النَّاظِرِ وَلَوْنِ الْبَشَرَة

Wajib menutup aurat dengan standar bisa menghalangi pandangan orang yang melihat pada warna kulit

Jika ada seseorang yang melihat lubang kecil pada sarung orang lain dan tampak terlihat warna kulit orang tersebut maka itulah ukuran yang bisa membatalkan shalat, dengan ketentuan pandangan orang normal, bukan dengan standar pandangan orang yang sedang sakit atau penyebab yang lain. (Pen. Fuad H/Red Ulil H)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 25 Desember 2013 pukul 07:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Selasa 25 Juni 2019 21:30 WIB
Tidak Sunnah Membaca Bismillah Sebelum Shalat
Tidak Sunnah Membaca Bismillah Sebelum Shalat

Para ulama’ fiqih telah mendefinisikan shalat sebagai pekerjaan yang dimulai dengan takbiratul ihram (Allahu akbar) dan diakhiri dengan salam (Assalamu’alaikum warahmatullah), dengan berbagai syarat dan rukun yang telah ditentukan.Namun demikian, sering kali kita dengar seseorang melafadkan ta’awwudz (A’udzu Billaahi Minasy Syaithaanirrajim)  atau Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebelum mendirikan shalat. Apakah hal itu termasuk dalam kategori sunnah?

Sebenarnya tidak disunahkan membaca Ta’awwudz atau Basmalah ketika hendak melaksanakan shalat, karena syara’ telah menetapkan bahwa shalat itu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, Dalam Kitab Fatawa Isma’il Zain disebutkan

فإن الشارع جعل لها مبدأ وهو تكبيرة الإحرام فلا تسن البسملة قبلها


Syari’at telah menetapkan takbiratul ihram sebagai pembuka shalat, maka tidak disunahkan membaca bismillah sebelumnya. 

Lalu bagaimanakah dengan hadits Nabi tentang setiap pekerjaan yang tidak diawali dengan membaca basmalah adalah sia-sia? 

كل أمر ذي بال لايبدأ فيه بسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر


Setiap pekerjaan yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah, maka sia-sialah pekerjaan tersebut.

Disini bisa dikasih catatan, bahwa pekerjaan yang telah ditentukan oleh Syara’ seperti shalat adalah diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, maka tidak disunahkan membaca Ta’awwudz atau Basmalah sebelumnya. Meskipun demikian, hal ini tidak lantas bisa diartikan sebagai larangan membaca bismillah dan ta'awudz sebelum shalat. karena tidak ada syariat yang melarang membaca basmallah sebelum shalat.

oleh karena itu, bagi mereka yang telah terbiasa membaca basmallah atau ta'awwudz sebelum shalat, hendaknya memahami betul bahwa basmaallah ataupun ta'awudz itu tidak termasuk dalam rukun shalat.

Pen. Fuad H Basya/Red. Ulil H


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 11 September 2013 pukul 09:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Selasa 25 Juni 2019 20:30 WIB
Penggunaan Mukena yang Membatalkan Shalat
Penggunaan Mukena yang Membatalkan Shalat

Aurat perempuan (yang harus tertutup) dalam shalat adalah semua anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah. Sedangkan ketika bersujud wajah yaitu bagian dahi harus menempel ke tanah dalam pandangan Mazhab Syafi'i.

Dalam tradisi masyarakat kita, mukena menjadi busana mayoritas yang dipakai perempuan ketika shalat. Baik mukena terusan yang bersambung dari atas hingga bawah (tidak terpotong), maupun mukena potongan yang terbagi atasan dan bawahan, sama-sama memiliki kekurangan, yaitu terutama pada bagian lengan dan telapak tangan.

Bisa jadi lengan yang terlalu panjang ataupun ruang telapak tangan yang terlalu lebar, menutupi telapak tangan yang sunnahnya menempel terbuka pada lantai (alas shalat semisal sajadah) ketika bersujud. Demikian juga dengan bagian muka. Terkadang asesoris yang berlebihan dalam mukena yang terpasang di bagian muka, menghalangi jidat menempel di alas shalat ketika sujud. Sungguh yang demikian ini dapat menyebabkan shalat tidak sah

Oleh karena itu, hendaklah bagi perempuan untuk berhati-hati memakai mukena, dikarenakan jika sampai ada bagian dari mukena yang menutupi bagian muka (jidat) ketika bersujud, maka sujudnya dianggap tidak sah dan secara otomatis shalatnya pun tidak sah, karena sujud adalah bagian dari rukun shalat.

Imam Taqiyuddin Asy-Syafi’i dalam Kifayatul Akhyar memberi penjelasan mengenai masalah tersebut,

فَلَو سجد على جَبينه أَو أَنفه لم يكف أَو عمَامَته لم يكف أَو على شدّ على كَتفيهِ أَو على كمه لم يكف فِي كل ذَلِك إِن تحرّك بحركته

Artinya, Ketika seseorang bersujud dengan dahi dan hidung tidak menempel ke tanah (alas shalat) maka tidak sah, atau bersujud diatas serban (yang merupkan bagian dari busana) maupun lengan baju yang sedang ia pakai .juga dianggap tidak sah, karena kesemuanya itu menempel dengan badan.

Dengan artian apa saja yang sedang dipakai seseorang dalam shalat seperti mukena, serban, peci dan lain-lain yang menghalangi dahi menempel ke alas shalat ketika bersujud maka tidak sah.

Sedangkan untuk sajadah dan serban yang sengaja digunakan sebagai alas sujud maka tidaklah mengapa, karena tidak termasuk sesuatu yang ia pakai yang tidak mengikuti gerakan dalam shalat sebagai mukena. (Pen. Fuad H. Basya/Red. Ulil H.)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 30 Oktober 2013 pukul 09:57. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.