IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Rabu 19 Maret 2014 3:0 WIB
Share:
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?<>

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

 

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

وعبارة ق ل على المحلي وتجوز كتابته لا قراءته بغير العربية وللمكتوب حكم المصحف في الحمل والمس انتهت اهـ 

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

 

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

 Wallaahu Alamu bishshawab

 

Maftuhan

Share:
Selasa 18 Maret 2014 3:3 WIB
Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah?
Bagaimana Kalau Lupa Semalam Mimpi Basah?

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ada yang ingin saya tanyakan pak ustadz. Apabila seorang lelaki yang sudah baligh pada malam harinya mengalami mimpi basah ketika tidur, namun ketika bangun pagi dia tidak tahu kalau malamnya mengalami mimpi basah, dan dia langsung saja mengambil wudlu untuk melaksanakan shalat subuh. Kemudian ketika siang hari dia baru tahu kalau malamnya mengalami mimpi basah karena ada bekas di celana atau sarungnya, apakah shalat subuhnya sah atau perlu diqadha? Dan jika harus diqadha, kapan waktunya? Demikian pertanyaan saya.<>

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kholil Lurrohman Blora, Jawa Tengah

 

Jawaban:

Wa’alaikum salam  warahmatullah wa barakatuh.

Sdr Kholil yang terhormat,

Kasus  yang anda sampaikan ini sering terjadi dan dialami oleh masyarakat, mengingat mimpi basah merupakan salah satu tanda akil baligh seseorang. Dengan status akil baligh, ketentuan-ketentuan hukum yang bersifat syar’i akan berlaku pada dirinya termasuk dalam hal ini adalah kewajiban shalat fardlu (lima waktu).

Diantara syarat-syarat shalat adalah suci dari hadats kecil dan hadats besar sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab fiqih, dengan demikian shalat yang dilakukan dalam keadaan belum/tidak suci dari hadas kecil maupun besar hukumnya tidak sah. Adapun mengenai qadha shalat subuh sebagaimana pertanyaan saudara maka secara otomatis diharuskan, mengingat adanya syarat shalat yang belum terpenuhi meskipun si pelaku baru mengetahuinya setelah menjalankan shalat. Hal ini tentunya sebagai bentuk kehati-hatian dari kita. Adapun rujukan yang kami gunakan mengacu pada kitab Bughyah al-Mustarsyidin bab syarat-syarat shalat. Dalam kitab tersebut dinyatakan:

صلى صلاة وأخل ببعض أركانها أو شروطها ثم علم الفساد لزمه قضاؤه

Artinya: seseorang telah melakukan shalat dan terdapat rukun-rukun atau sayarat-syarat yang tidak terpenuhi kemudian ia mengetahuinya, maka ia harus mengqadhanya.

Adapun mengenai waktu qadhanya dianjurkan sesegera mungkin setelah mengetahui bahwa shalat yang dilakukan tidak terpenuhi salah satu syarat atau rukunnya, terntunya setelah kita mandi besar, karena menunda-nunda perbuatan baik akan mengurangi keberkahan waktu yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. 

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang peduli dan  memelihara shalat kita dengan memenuhi syarat-syarat maupun rukun-rukun yang terdapat didalamnya. Amin.  

Maftuhan

Selasa 11 Maret 2014 13:30 WIB
Memperkenalkan Rubrik Baru “Bahtsul Masail”
Memperkenalkan Rubrik Baru “Bahtsul Masail”

Pengantar Redaksi

Sebagai bagian dari peningkatan layanan kepada warga nahdliyin khususnya, dan kaum muslimin di Indonesia pada umumnya, mulai pertengahan Maret 2014 ini, NU Online membuka rubrik baru bertitel “Bahtsul Masail”. Rubrik ini akan melayani pembaca yang ingin bertanya seputar masalah keagamaan atau masa'il diniyyah.<>

Rubrik “Bahtsul Masail” ini akan melengkapi beberapa rubrik keislaman yang sudah ada seperti Ubudiyah, Syari’ah, Khotbah, Hikmah, Taushiyah dan Buletin Jum’at. Berbeda dengan Ubudiyah dan Syariah, artikel dalam rubrik Bahtsul Masail tidak berupa paparan tematik, melainkan berupa pertanyaan dan jawaban yang disertai dalil-dalil atau maroji’.

Silakan kirimkan pertanyaan Anda ke email redaksi kami redaksi@nu.or.id. Tuliskan judul pertanyaan Anda pada subyek surat setelah kata “Bahtsul Masail”. Misalnya “Bahtsul Masail: Bolehkan Jama’-Qashar Shalat Karena Macet?” Lalu silakan melengkapi pertanyaan Anda dengan deskripsi soal atau latar belakang masalah yang jelas pada kolom surat yang ada.

Pertanyaan harap dikirimkan beserta data diri singkat beserta alamat lengkap dan nomor kontak. Data diri tersebut tidak akan dibublikasikan.

Agar pembahasan pertanyaan terfokus dan lebih lengkap, silakan kirimkan satu pertanyaan saja atau dua-tiga pertanyaan yang masih dalam satu sub bahasan. Adapun pertanyaan lainnya bisa dikirimkan pada kesempatan berikutnya, atau mungkin sudah ditanyakan oleh yang lain.

Pertanyaan yang dikirimkan bisa berupa persoalan ibadah, mu’amalat atau soal transaksi dan interaksi antar masyarakat sehari-hari, munakahat atau nikah dan seluk beluknya sampai soal menyiapkan pendidikan anak, perceraian, dan kewarisan, serta soal jinayat atau pidana dalam konteks hukum Indonesia, dan soal siyasah atau politik dalam konteks NKRI.

Rubrik “Bahtsul Masail” ini akan diasuh oleh beberapa ustadz muda atau santri senior, antara lain Mahbub Ma’afi, Sarmidi Husna, Maftuhan, Ulil Hadrawi dan Alhafiz Kurniawan. Sebagian besar jawaban akan merujuk kepada hasil-hasil keputusan bahtsul masail NU dan beberapa pondok pesantren.

Semoga rubrik baru ini bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran dari pembaca akan selalu kami harapkan untuk penyempurnaan layanan NU Online. Wassalam.  (Tim Redaksi)