IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Menikah di Bulan-bulan Tertentu

Ahad 1 Juni 2014 3:3 WIB
Hukum Menikah di Bulan-bulan Tertentu

Assalamu’alaikum. Yth redaksi bahtsul masail NU Online. Saya ingin bertanya, apakah menikah di bulan Dzulhijjah (Apit/Dulkangidah/Dulkaidah) itu terlarang? Mohon dalilnya, baik secara syar'i, maupun tradisi. Terima kasih. (Ega Prasetya Noor)<>

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bapak Ega Prasetya yang dimuliakan Allah, nikah adalah acara sakral. Dengan nikah hal yang awalnya haram menjadi halal. Aqad nikah yang dilakukan di depan wali dan saksi-saksi berlaku tanpa batas waktu sampai ada hal yang menyebabkan aqad itu gugur. Karena nikah terkait dengan kehidupan rumah tangga ke depan dalam waktu yang tak terbatas, maka sebagian masyarakat menentukan waktu pelaksanaan aqad nikah dengan memilih bulan, hari atau tanggal tertentu dengan metode perhitungan dari warisan leluhur atau primbon. Ini dilakukan agar kehidupan rumah tangga kedua mempelai selalu tentram dan penuh kebaikan.

Dalam syari’at Islam, sebenarnya tidak ada larangan menikah di bulan tertentu. Ini dapat kita lihat dalam riwayat tentang pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti ’Aisyah. Pada saat itu, orang-orang menganggap makruh/mendatangkan kesialan jika menikah di bulan Syawal. Untuk menepis kepercayaan mereka Rasulullah SAW menikahi Siti ’Aisyah di bulan Syawwal. Ketika mengomentari hadits yang menerangkan peristiwa tersebut Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarh Al-Nawawi Ala Muslim hal. 209.

وَقَصَدَتْ عَائِشَةُ بِهَذَا الْكَلَامِ رَدَّ مَا كَانَتِ الْجَاهِلِيَّةُ عَلَيْهِ وَمَا يَتَخَيَّلُهُ بَعْضُ الْعَوَامِّ الْيَوْمَ مِنْ كَرَاهَةِ التَّزَوُّجِ وَالتَّزْوِيجِ وَالدُّخُولِ فِي شَوَّالٍ وَهَذَا بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ وَهُوَ مِنْ آثَارِ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَتَطَيَّرُونَ بِذَلِكَ لِمَا فِي اسْمِ شَوَّالٍ مِنَ الْإِشَالَةِ والرفع

Artinya : Siti Aisyah r.a dengan perkataan ini, bermaksud menjawab apa yang terjadi pada masa jahiliyah dan apa yang dibayangkan sebagian orang awam pada saat itu bahwa makruh menikah, menikahkan atau berhubungan suami istri di bulan syawa., ini sebuah kebatilan yang tidak memiliki dasar. Ini adalah peninggalan orang jahiliyah yang menganggap sial bulan tersebut karena kata Syawwal yang diambil dari Isyalah dan Raf̕’i(mengangkat)

Walaupun demikian, orang yang tidak mau melangsungkan pernikahan di bulan tertentu dan memilih waktu yang menurutnya tepat sesuai dengan kebiasaan yang berlaku tidaklah sepenuhnya salah. Selama keyakinannya tentang yang memberi pengaruh baik atau buruk adalah Allah SWT. dan hari, tanggal dan bulan tertentu itu diperlakukan sebagai adat kebiasaan yang diketahui oleh manusia melalui kejadian-kejadian yang berulang(dalam bahasa jawa disebut ilmu titen) yang semuanya itu sebenarnya dijalankan oleh Allah SWT maka sebagian ulama memperbolehkan. Dalam kitab Ghayatu Talkhishi Al-Murad min Fatawi ibn Ziyad, Hamisy Bughyatul Mustarsyidin, hal. 206 disebutkan:

مسألة): إذا سأل رجل آخر: هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أو النقلة؟ فلا يحتاج إلى جواب، لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجراً بليغاً، فلا عبرة بمن يفعله، وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله، ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا، والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندي لا بأس به، وحيث جاء الذم يحمل على من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات،

Artinya : (permasalahan) Jika seorang bertanya kepada orang lain, apakah malam tertentu atau hari tertentu cocok untuk akad nikah atau pindah rumah? Maka tidak perlu dijawab, karena syariat melarang meyakini hal yang demikian itu bahkan sangat menentang orang yang melakukannya. Ibnul Farkah menyebutkan sebuah riwayat dari Imam Syafii bahwa jika ahli nujum berkata dan meyakini bahwa yang mempengaruhi adalah Allah, dan Allah yang menjalankan kebiasaan bahwa terjadi dmeikian di hari demikian sedangkan yang mempengaruhi adalah Allah, maka hal ini menurut saya tidak apa-apa, karena yang dicela apabila meyakini bahwa yang berpengaruh adalah nujum dan makhluk-makhluk.

Kesimpulannya adalah kita harus tetap berkeyakinan bahwa yang menentukan semuanya adalah Allah SWT., sedangkan fenomena-fenomena yang terjadi berulang-ulang yang kemudian menjadi kebiasaan hanyalah data sementara bagi kita untuk menentukan langkah yang harus diambil, dalam hal ini menentukan waktu pernikahan.

Semoga keimanan kita selalu melekat pada diri kita hingga akhir hayat.Aaamiiin….

والله أعلم بالصواب

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya’ Ulumuddin

Share:
Jumat 30 Mei 2014 3:1 WIB
Hukum Membaca Iftitah dan Tahiyat Akhir
Hukum Membaca Iftitah dan Tahiyat Akhir

Assalamualaikum. Saya ingin bertanya, doa iftitah dan doa tahiyat awal akhir menurut jumhur ulama mazhab Syafi’i bagaimana? Terimaksih. Soalnya gerakan sawah (salafi- wahabi) sedang mengembangkan pengaruhnya di tempat saya dan mempersoalkan hal ini. (Ihwan Rosadi, Solo)<> –Red: Harap ditambahkan bacaan iftitah dan tahiyat akhir.

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh

Saudara Ihwan Rosadi yang kami hormati.

Dalam pandangan Madzhab Syafi’i, kesunatan-kesunatan shalat dibedakan menjadi dua: sunnah ab’adh dan haiat.

Kesunatan-kesunatan shalat yang sifatnya ab’adh merekomendasikan (masih disunnatkan) sujud sahwi apabila ditinggalkan baik sengaja maupun lupa seperti membaca qunut ketika selesai i’tidal pada waktu rekaat kedua dalam shalat Subuh dan  rekaat terakhir shalat witir pada tanggal 16 Ramadhan ke atas, atau meninggalkan tahiyat awal. Kedua hal itu (qunut dan tahiyat awal) merupakan sunnah ab’adh dalam shalat.

Sementara sunnah-sunnah haiat tidaklah demikian, artinya apabila kesunatan-kesunatan ini tidak dilakukan (ditinggalkan), tidak dianjurkan (disunatkan)  untuk sujud sahwi. Keterangan  ini dapat dijumpai dalam kitab-kitab fiqih madzhab syafi’i seperti Fath Al-Qarib, Fath al-Mu’in  dan lain-lain.

Saudara penanya yang dirahmati Allah.

Redaksi do’a iftitah cukup banyak diantaranya adalah yang sering diamalkan oleh warga Nahdhiyyin dengan mengacu  kitab al-Adzkar lin-Nawawi

  اللَّهُ أكبرُ كَبِيراً، والحمدُ لِلَّه كَثِيراً، وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيلاً؛ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً مُسْلِماً، وما أنا من المُشْرِكِينَ، إنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبّ العالَمِينَ، لا شَرِيكَ لهُ، وَبِذَلِكَ أمرتُ وأنَا مِنَ المُسْلِمينَ

Selain redaksi diatas, sebenarnya masih ada beberapa redaksi  do’a iftitah  lain yang tidak perlu dipermasalahkan karena mengacu kepada riwayat-riwayat yang jelas sumber dan rujukannya. Sementara untuk redaksi tahiyat awal adalah sebagai berikut:

التَّحِيَّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ لِلَّهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النبي ورحمة ُ الله وبركاته، السلام علينا وعلى عِبادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أشهدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ اللَّه، وأشهد أن محمدٌ رسولُ الله

Itulah redaksi  tasyahud  baik awal maupun akhir  yang dipilih oleh Imam Syafi’i berdasarkan riwayat dari Imam Muslin yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dengan jawaban ini dapat dimengerti bahwa amalan-amalan yang telah dilakukan oleh warga Nahdhiyyin mengacu pada sumber-sumber rujukan yang valid keabsahannya.

Wallahu a’lam. (Maftukhan Sholikhin)

 

Kamis 29 Mei 2014 3:2 WIB
Mengambil Uang Majikan Karena Gaji Tak Sesuai
Mengambil Uang Majikan Karena Gaji Tak Sesuai

السلام عليكم ورحمة الله وبركته

---Saya ingin bertanya tentang seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Dia sudah memenuhi syarat-syarat seorang TKI dan melakukan semacam perjanjian kerja (PK) dengan majikannya sebagaimana diatur oleh pemerintah masing-masing negara termasuk gaji yang sudah ditentukan.<>

Permasalannya, ternyata gaji yang diberikan tidak sesuai dengan PK serta jam kerja yang melebihi di PK. Atas hal itu seorang TKI tersebut berinisiatif mengambil uang majikan tanpa sepengetahuan majikan agar sesuai dengan gaji yang tertera di PK walaupun masih tidak cukup. Bagaimana hukumnya?

Sebelumnya seorang TKI tersebut menandatangani gaji yang tidak sesuai dengan PK dengan perjanjian lain, tetapi itu dilakukan karena dipaksa, agar ia diberangkatkan bekerja di luar negeri. Sekian.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركته

(Ipan Ependi, Sukabumi, Jawa Barat)

 

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh.

Saudara Ipan Ependi yang kami hormati.

Guna menopang hidup, tak jarang seseorang mendermakan dirinya untuk bekerja di negeri orang  meskipun hal ini bukanlah pilihan yang didambakan. Dalam prakteknya, banyak tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang mendapatkan perlakuan tidak semestinya dari  sang majikan bahkan sampai melewati batas-batas kemanusiaan.

Saudara Ipan yang dimuliakan Allah.

Perjanjian yang dilakukan karena adanya tekanan (keterpaksaan) dari salah satu pihak yang bertransaksi hukumnya tidak sah menurut syara’. Jadi yang dianggap sebagai transaksi sebagaimana pertanyaan saudara adalah perjanjian kerja yang ditandatangani tanpa adanya unsur paksaan.

Semetara hukum mengambil uang yang dilakukan oleh TKI ini tidak dapat dikategorikan dalam pencurian yang mempunyai konsekuensi potong tangan (bagi negara yang memberlakukannya), karena ia (TKI) ini mengambil apa yang seharusnya menjadi  haknya. Hal ini merujuk pada kitab al-iqna’ :

وَالْخَامِس كَون السَّارِق (لَا ملك لَهُ فِيهِ) أَي الْمَسْرُوق فَلَا قطع بِسَرِقَة مَاله الَّذِي بيد غَيره وَإِن كَانَ مَرْهُونا أَو مؤجرا

Syarat kelima (diberlakukannya hukum potong tangan) dalam pencurian adalah pencuri tidak mempunyai hak milik atas benda yang dicuri. Oleh karena itu tidak boleh diberlakukan hukum potong tangan bagi orang yang mempunyai hak milik ditangan orang yang dicuri barangnya, meskipun barang tersebut sedang digadaikan atau disewakan.

Permasalahan berikutnya adalah apakah cara TKI tersebut dalam menuntut haknya dengan mengambil tanpa sepengatahuan sang majikan tersebut  dapat dibenarkan oleh syara’?

Komunikasi aktif antara majikan dan TKI tentunya harus dikedepankan dalam menyelesaikan masalah seperti  ini. Kalaupun tidak dapat terealisasi, sang TKI tidak diperkenankan mengambil melebihi apa yang seharusnya haknya.

Jawaban ini kami analogikan dengan  kisah seorang wanita bernama Hindun yang tidak mendapatkan haknya (nafkah) lahir dari suaminya (Abi Sufyan). Lalu ia mengadukan masalahnya ini kepada Rasulullah saw dan menanyakan apakah berdosa mengambil harta suaminya secara diam-diam (tanpa sepengetahuan suami), Rasulullah menjawab: “Ambillah untukmu dan anak-anakmu secukupnya.”

Wallahu a’lam .

(Maftukhan Sholikhin)

Rabu 28 Mei 2014 7:6 WIB
Bacaan Al-Fatihah Imam yang Aneh
Bacaan Al-Fatihah Imam yang Aneh

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum membaca surat Al-Faatihah pada shalat fardlu dengan bacaan yang tidak lazim sebagaimana para ulama Nahdliyin pada umumnya. Di daerah kami ada salah seseorang menjadi imam besar salah satu masjid agung dengan bacaan “ghoiril maghdluba” bukan “ghairil maghdlubi” sebagaimana yang dibaca Imam-imam shalat pada umumnya.<>

Sepengetahuan kami bacaan “ghoril maghdluba” hanya diperbolehkan di luar shalat menurut qaidah ilmu nahwu-shorof. Bagaimanakah hukum shalat dengan bacaan tersebut di atas? Apakah makmum wajib melakukan i'adah setelah mengetahui akan bacaan tersebut di atas ? Wassalamu'alaikum Wr. Wb. (Fakhri Herdiansyah)

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bapak Fakhri Herdiansyah yang kami hormati. Al-Fatihah adalah surat yang menjadi rukun dalam shalat dan selalu ada di setiap rakaat. Bacaan Al-Fatihah di dalam shalat haruslah sesuai dengan kaidah tajwid. Haruslah jelas panjang, pendek, syiddah dan lain-lain.

Dalam bacaan Al-Fatihah tidak boleh ada perubahan kata yang bisa merubah makna seperti An’amta dirubah menjadi An’amtu. Adapun perubahan kata yang tidak berpengaruh pada perubahan makna maka sebagian ulama memperbolehkan. Ini dapat kita lihat dalam kitab I’anatuth Tholibin hal. 140 sebagai berikut:

قوله: يغير المعنى) المراد به نقل الكلمة من معنى إلى معنى آخر، كضم تاء أنعمت أو كسرها، أو نقلها إلى ما ليس له معنى كالدين بالدال بدل الذال

 وخرج به ما لا يغير كالعالمون بدل العالمين، والحمد لله بضم الهاء، ونعبد بفتح الدال وكسر الباء والنون، وكالصراط بضم الصاد، فلا تبطل الصلاة بذلك مع القدرة والعلم والتعمد 

Artinya: (Yang mengubah makna) maksudnya adalah mengubah kata yang menyebabkan perubahan dari makna yang satu ke makna yang lain, seperti membaca dhommah atau kasroh pada ta yang terdapat pada kata "an’amta", atau mengganti kata dengan kata yang tidak memiliki makna seperti "alladiina" menggunakan dal sebagai ganti dari dzal.

 Adapun perubahan yang tidak berpengaruh pada perubahan makna seperti “‘Aalamuun” sebagai ganti dari “‘Aalamiin”, Alhamdulillaahu dengan dhommah pada ha lafadh jalalah, dan “na’budu” menjadi “nibida” dengan “dal” fathah serta kasroh pada “nun” dan “ba’”, “Ash-shirooth” menjadi “Ash-shurooth” dengan dhommah pada “shod”, maka hal yang demikiaan tidak membatalkan sholat walaupun musholli (orang yang shalat)  sebenarnya mampu, tahu dan hal itu disengaja.

Dengan demikian, bacaan sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan di atas tidak menyebabkan sholat itu batal. Kemudian, shalat makmum tentunya tidak batal dan tidak perlu iadah(mengulang shalat).

Namun demikian, kami tetap menyarankan kepada imam terutama jika memimpin jamaah yang diikuti banyak orang dari berbagai tempat agar membaca surat Al-Fatihah atau ayat-ayat yang dibaca setelahnya dengan bacaan atau dengan cara membaca yang umum, agar tidak membingungkan para makmum atau menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat.

Demikian jawaban kami, semoga memberi pencerahan bagi kita semua. Aamiin…

 

والله أعلم بالصواب والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya Ulumuddin