IMG-LOGO
Hikmah

Serbuan Tiga Anak Panah Ayat al-Qur’an

Ahad 24 Agustus 2014 19:2 WIB
Share:
Serbuan Tiga Anak Panah Ayat al-Qur’an

Bagi yang akrab dengan dunia tasawuf, nama Fudhail bin ‘Iyadl tentu tidaklah asing. Kezuhudan dan pikiran-pikiran asketisnya dikagumi para ulama hingga sekarang. Tapi siapa sangka, tokoh sufi kenamaan ini ternyata menyimpan rekam jejak sebagai penyamun.
<>
Lebih dari sekadar perampok amatiran. Kehadiran Fudhail selalu menyusutkan nyali para kafilah yang dalam perjalanan. Peristiwa ini seperti dikisahkan dalam al-Aqthafud Daniyyah fi Idhlahi Mawa’idhil ‘Ushfuriyyah.

“Ada Fudhail bin ‘Iyadl membawa pedang. Apa yang harus kita lakukan?” kata salah seorang dari rombongan kafilah. Mereka yang terdiri dari tiga kelompok itu panik. Padahal malam itu Fudhail tak berbuat apa-apa selain menyandarkan kepala ke pangkuan pelayannya.

“Biarlah kami memanahnya. Jika kena, kita meneruskan perjalanan. Namun jika tidak, kita kembali,” kata dari kelompok pertama.

Tidak ada busur atau anak panah di sana. Karena senjata yang dimaksud kelompok pertama ini adalah bacaan ayat al-Qur’an:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.

Fudhail menjerit hingga tersungkur. Pelayannya bingung mengira dada tuannya benar-benar tertusuk anak panah. Tidak ditemukan benda asing apapun yang menancap di tubuh Fudhail yang kesakitan tersebut. Ketika sadar Fudhail berujar, “Aku terkena tusukan panah Allah SWT.”

Sejurus kemudian, serbuan “anak panah” lain datang dari kelompok kedua:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu."

Fudhail kembali histeris. Kali ini lebih keras dari yang pertama. Seperti sebelumnya, sang pelayan tak mengerti dengan apa yang dialami tuannya itu. “Hai pelayanku, aku terkena anak panah Allah.”

Baru saja pulih kesadarannya, “anak panah” ketiga kembali meluncur dari kelompok terakhir.

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)."

Fudhail berteriak semakin keras. Setelah sadar, ia berujar kepada pelayannya, “Mari kita pulang. Sungguh aku sangat menyesal dengan perbuatan jahatku selama ini. Hatiku takut luar biasa. Akan kubuang kesalahan tersebut.”

Sejak peristiwa itu, Fudhail lantas berangkat ke Makkah. Saat hendak sampai di Nahrawan, ia berjumpa dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Raja ini bercerita tentang pengalaman mimpinya.

“Ada suara memanggil dengan keras (dalam mimpi itu), ‘Sesungguhnya Fudhail telah takut dan bertekad untuk mengabdi kepada Allah. Temuilah dia’.”

Dengan penuh rasa takjub dan syukur, Fudhail hanya bisa meratap, “Sebab kemuliaan dan keagungan-Mu, Engkau mencintai hambamu ini. Hamba yang telah berlumur dosa dan durhaka kepada-Mu selama empat puluh tahun.”

Demikianlah cara Allah membalikkan kondisi hati dan perilaku Fudhail bin ‘Iyadl. Ketika Dia berkehendak, seorang penjahat puluhan tahun pun sanggup diubahnya dalam waktu singkat menjadi pribadi yang mulia, bahkan melebihi orang-orang pada umumnya. Tak sekadar pencerahan, Fudhail akhirnya juga menerima penghormatan dari seorang khalifah. Kehadiran cahaya hidayah memang menjadi otoritas Tuhan, bukan manusia. (Mahbib)

Share:
Jumat 15 Agustus 2014 13:1 WIB
Sepuluh Keutamaan Ilmu
Sepuluh Keutamaan Ilmu

Suatu ketika, kaum Khawarij mendengar sabda Nabi Muhammad saw. :

انامدينةالعلم و عليّ بابها

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali gerbangnya.”<>

Melihat kenyataan tersebut, mereka tidak mau menerimanya. Lalu berkumpullah para tokoh Khawarij untuk membuktikan hal tersebut.

“Kita tanyakan saja kepada Ali, sepuluh pertanyaan yang sama. Jika dia memberikan alasan yang berbeda, maka benarlah apa yang dikatakan Nabi,” usul seorang tokoh.

Mereka kemudian mendatangi Sayyidina Ali secara bergilir dan melontarkan pertanyaan yang sama : “Lebih utama mana ilmu atau harta?”

Sayyidina Ali pun, selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama: ilmu. Akan tetapi dengan alasan berbeda.

Kepada penanya pertama, ia menjelaskan ilmu warisan para nabi, harta merupakan warisan Qarun, Fir’aun dan lainnya.

“Ilmu menjagamu, sedang harta kamulah yang menjaganya,” terangnya kepada penanya kedua.

“Pemilik ilmu sahabatnya banyak, pemilik harta musuhnya banyak.

“Ilmu akan bertambah jikau kau pergunakan. Harta akan berkurang jika kau gunakan.”:

Kepada orang kelima dijawabnya, ”Pemilik ilmu akan dohormati dan dimuliakan. Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit.

“Harta perlu dijaga dari pencuri, ilmu tidak perlu menjaganya.

“Pemilik harta pada hari Kiamat akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan menadapat syafaat.

“Ketika dibiarkan dalam waktu yang lama harta akan rusak. Sedangkan ilmu tak akan musnah dan lenyap.

“Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati.

“Pemilik harta akan dipanggil Tuan Besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuan. Andaikata kalian hidupkan banyak orang, maka aku akan menjawabnya dengan jawaban berbeda, selagi aku masih hidup,” tegas Sayyidina Ali kepada penanya terakhir.

Dan akhirnya, mereka pun kembali dalam pengakuan Islam.

 

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab al-Mawaidhu al-Ushfuriyyah karya Syeikh Muhammad bin Abu Bakar)

Jumat 8 Agustus 2014 10:1 WIB
Keteladanan Muthi’ah, Pelajaran bagi Sayyidah Fatimah
Keteladanan Muthi’ah, Pelajaran bagi Sayyidah Fatimah

Nabi Muhammad  SAW mempunyai sahabat perempuan bernama Muthi’ah yang sangat taat pada suaminya. Setiap hari, Muthi’ah selalu mematuhi pesan suaminya yang pergi bekerja hingga sore supaya tidak menerima tamu laki-laki.
<>
Melihat ketaatannya pada suami, Nabi Muhammad sangat kagum terhadap sikap Muthi’ah sehari-hari. Seringkali Nabi Muhammad menasehati putrinya Fatimah supaya meniru keteladanan Muthi’ah dalam kehidupan keluarganya.

Suatu hari, Nabi Muhammad berkunjung ke rumah putrinya Fatimah. Nabi Muhammad merasakan sepertinya telah terjadi gesekan antara Fatimah dengan suaminya, Ali Bin Abi Thalib. Sebab, Ali tidak ada di rumah sedang Fatimah kelihatan sedikit murung.

Kemudian Nabi Muhammad mengundang Ali yang sedang menyendiri di masjid untuk mengklarifikasi permasalahan keluarganya. Setelah mendengarkan cerita Ali, Nabi berkesimpulan Fatimah penyebab munculnya permasalahan. Nabi lalu menesahati putrinya supaya sekali-kali berkunjung ke rumah Muthi’ah.

Esok harinya, Fatimah ke rumah Muthi’ah dengan membawa anak kecil  laki-laki berumur tiga tahun. Ketika mengetuk pintu, Muthi’ah bertanya,”siapa itu?

“Saya Fatimah, Muthi’ah,” jawab putri Nabi.

“Sama siapa,?” tanya Muthiah lagi.  Fatimah pun menyahut. “Saya bersama anak kecil laki-laki.”

 Karena ingat pesen suaminya tidak boleh menemui tamu laki-laki, Muthi’ah melarang Fatimah membawa anak kecil tadi. Seketika pula Fatimah memulangkan anak tadi dan kembali lagi ke rumah Muthi’ah.

Ketika masuk rumah Muthi’ah , di depan pintu sudah tersedia meja kursi, sementara  di atas pintu terdapat gantungan pakaian, handuk dan menjalin (rotan). “Kamu kok menyediakan barang-barang itu buat apa?” tanya putri Nabi.

“Semua ini untuk menyambut suamiku pulang kerja. Meja kursi untuk istirahat, handuk untuk membasuh keringat suamiku, gantungan buat menaruh bajunya,” jawab Muthi’ah.

“Lalu, rotan itu buat apa?” ujar Fatimah bertanya lagi.

“Sebagai upaya terakhir, bila suami merasakan kurang terlayani saya dengan baik, supaya rotan ini bisa digunakan untuk mencambuk diriku,” jawab Muthi’ah menjelaskan.

Mendengar jawaban tersebut, spontan Fatimah langsung membalikkan badan lari sambil menangis pulang. Dalam hatinya berpikiran menyesali sambil berucap, “apa mungkin saya bisa seperti Muthi’ah?”.

Di sinilah, Muthi’ah adalah sosok perempuan yang mampu menjadi contoh keteladanan  bagi istri istri yang shalihah. (Qomarul Adib)

 

*) Disarikan dari kisah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di Masjid Menara Kudus

Jumat 1 Agustus 2014 7:6 WIB
Nikmat Iman dan Islam
Nikmat Iman dan Islam

Mungkin pernah terbetik di dalam benak kita, kenapa kita yang seorang muslim hidupnya jauh lebih sengsara, ketimbang mereka yang hidup di dalam kekafiran. Padahal seorang muslim hidup di atas keta’atan menyembah Allah ta’ala, sedangkan orang kafir hidup di atas kekufuran kepada Allah. Berikut ini adalah riwayat mengenai Sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.<>

Kisah berikut termuat dalam kitab Tafsir Surat Yasin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.  Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau.

Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?” ‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”

Nabi pun mengatakan, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”

Di dalam hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir disegerakan nikmatnya oleh Allah di dunia, dan boleh jadi itu adalah istidraj dari Allah. Namun apabila mereka mati kelak, sungguh adzab yang Allah berikan sangatlah pedih. Dan adzab itu semakin bertambah tatkala mereka terus berada di dalam kedurhakaan kepada Allah ta’ala. Maka sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang banyak kepada kita, dan kita lupa akan hal itu, kenikmatan itu adalah kenikmatan Islam dan Iman.

Sungguh kenikmatan di dunia, tidaklah bernilai secuil pun dibanding kenikmatan di akhirat.

Mari kita bandingkan antara dunia dan akhirat, dengan membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah! Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Maka perhatikanlah jari tersebut kembali membawa apa?” (HR. Muslim)

Lihatlah, dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat hanya Nabi misalkan dengan seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian ia menarik jarinya. Perhatikanlah, apa yang ia dapatkan dari celupan tersebut. Jari yang begitu kecil dibandingkan dengan lautan yang begitu luas, mungkin  hanya beberapa tetes saja. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa perhatiannya ‘Umar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak tega, hingga menangis melihat kondisi Nabi yang terlihat susah, sedangkan orang-orang kafir hidup di dalam kenikmatan dunia.

Sebagai penutup tulisan ini, akan saya petikkan kisah seorang hakim dari Mesir, beliau adalah Al-Hafizh Ibnu Hajr. Suatu hari Ibnu Hajr melewati seorang Yahudi yang menjual minyak zaitun, yang berpakaian kotor, dan Ibnu Hajr sedang menaiki kereta yang ditarik oleh kuda-kuda, yang dikawal oleh para penjaga di sisi kanan dan kiri kereta. Kemudian Yahudi tersebut menghentikan kereta beliau dan berkata, “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir. Engkau adalah Hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam penderitaan dan kesengsaraan.”

Ibnu Hajr rahimahullah menjawab, “Aku dengan nikmat dan kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan di Surga adalah penjara. Ada pun engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan, dibandingkan dengan adzab yang akan engkau rasakan di Neraka dalah Surga. Orang Yahudi itu lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Masuk Islam lah orang Yahudi tersebut.

 

Firdaus Maulana, Mahasiswa University of Zitouna, Tunisia