IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Ketika Nabi Membebaskan 70 Orang Tawanan

Selasa 2 September 2014 13:1 WIB
Share:
Ketika Nabi Membebaskan 70 Orang Tawanan

Kisah menarik, ketika Rasulullah SAW mendapati 70 orang tawanan, beliau tak langsung memutuskan perihal apa yang akan dilakukan kepada para tawanan itu. Nabi Muhammad tentu bukan tak tahu apa yang terbaik dan seharusnya diputuskan sebagai balasan bagi puluhan kafir tertawan, sebab beliau Rosul. Beliau malah berinisiatif mengadakan pertemuan bersama para sahabat guna membicarakan kebijakan terhadap tawanan.
<>
Dalam forum musyawarah tersebut, Rasulullah bertanya kepada para sahabat ihwal ide menarik yang bisa disampaikan, terkait dengan 70 tawanan. Sahabat Umar bin Khattab langsung lantang mengajukan usulnya. Seperti kita tahu, sahabat Umar dikenal sebagai mantan preman kafir yang telah beriman namun jiwa premannya masih lekat. Maka tanpa ragu, ia pun mengusulkan agar seluruh tawanan dibunuh saja, biar musuh jera.

Nabi dalam hal ini tentu tidak sepakat dengan ide sahabat Umar bin Khattab. Meski demikian, beliau mampu menyikapinya dengan cara yang indah. Kepada Umar, Rasulullah mengatakan bahwa ide itu sangat bagus, mirip dengan karakter Nabi Nuh yang keras.

Setelah itu Nabi kembali meminta usul dari sahabat lain, “Ada pendapat lain?”

Setelah Rasulullah membuka kesempatan bagi sahabat lain untuk menyampaikan ide, giliran sahabat Abu Bakar yang memberanikan diri bersuara. Dalam usulnya, sahabat Abu Bakar menyarankan untuk membebaskan para tawanan, sebagai strategi agar musuh menduga umat Muslim telah kuat sehingga tidak perlu menahan tawanan.

“Pembebasan tersebut dengan syarat, yang kaya harus membayar denda sejumlah empat dinar. Tapi bagi tawanan yang miskin, ditugaskan mengajari anak-anak membaca. Kalau sudah pada pintar, maka baru mereka dibebaskan,” kata sahabat Abu Bakar.

Dari pendapat-pendapat tersebut, Rasulullah lebih sepakat dengan usulan kedua, yakni membebaskan seluruh tawanan dengan syarat. Seperti saat menanggapi usul pertama, maka ketika menanggapi usulan kedua pun Rasulullah menisbahkannya dengan karakter Nabi Ibrahim.

“Ini juga usul yang bagus. Jadi yang pertama mirip dengan Nabi Nuh, dan yang kedua ini mirip dengan Nabi Ibrahim. Hanya, saya lebih memilih yang kedua ini,” ujar Nabi.

Dengan begini, maka sahabat Umar tetap merasa bangga karena Rasulullah telah memuji pendapat pribadinya, bahkan dinisbahkan dengan karakternya Nabi Nuh. Rasulullah telah menunjukkan contoh kepada kita, bahwa menolak pendapat mesti dengan cara yang halus. Lebih dari itu, kisah ini berpesan bahwa musyawarah tetap dibutuhkan agar mencapai kemufakatan yang indah di antara sesama. (Istahiyyah)


*) Disarikan dari taushiyah Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi dalam pembukaan Rapat Kerja PCNU Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/8), di Aula MA NU Banat Kudus.

Share:
Jumat 29 Agustus 2014 11:5 WIB
Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab
Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab melakukan “blusukan” dengan ditemani ajudannya. Di tengah-tengah blusukan itu, Umar pun merasakan lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat.
<>
Saat Khalifah dan ajudannya beristirahat, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya.

“Wahai anakku, oploslah susu yang kamu perah tadi dengan air,” perintah seorang ibu.

Lalu, si gadis menolak perintah ibunya dengan mengatakan, “Apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab kepada rakyatnya untuk tidak menjual susu yang dicampur air?”

“Iya, Ibu pernah mendengar perintah tersebut,” jawab sang ibu.

Kemudian ibunya berkilah, “Mana Khalifah? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku laksanakan perintah ibumu ini, kan cuma sedikit kok ngoplosnya!”

“Dia tidak melihat kita, tapi Rabb-nya melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan gadis dengan ibunya tersebut, Umar dan ajudannya langsung pulang. Sesampai di rumah, Umar bercerita tentang pengamalaman blusukan tadi malam dan meminta putranya, ‘Ashim bin Umar untuk menikahi gadis yang shalihah tersebut.

Dari pernikahan ‘Ashim dengan gadis tersebut, Umar dikaruniai cucu permpuan bernama Laila atau yang biasa disebut Ummu Ashim dan dari Ummu Ashim telahir Umar bin Abdul Aziz khalifah kelima yang terkenal sangat adil, zuhud, dan bijaksana. (Ahmad Rosyidi)

 

*) Dinukil dari Kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz, Kairo: Maktabah  Ash-Shofa 2001


Ahad 24 Agustus 2014 19:2 WIB
Serbuan Tiga Anak Panah Ayat al-Qur’an
Serbuan Tiga Anak Panah Ayat al-Qur’an

Bagi yang akrab dengan dunia tasawuf, nama Fudhail bin ‘Iyadl tentu tidaklah asing. Kezuhudan dan pikiran-pikiran asketisnya dikagumi para ulama hingga sekarang. Tapi siapa sangka, tokoh sufi kenamaan ini ternyata menyimpan rekam jejak sebagai penyamun.
<>
Lebih dari sekadar perampok amatiran. Kehadiran Fudhail selalu menyusutkan nyali para kafilah yang dalam perjalanan. Peristiwa ini seperti dikisahkan dalam al-Aqthafud Daniyyah fi Idhlahi Mawa’idhil ‘Ushfuriyyah.

“Ada Fudhail bin ‘Iyadl membawa pedang. Apa yang harus kita lakukan?” kata salah seorang dari rombongan kafilah. Mereka yang terdiri dari tiga kelompok itu panik. Padahal malam itu Fudhail tak berbuat apa-apa selain menyandarkan kepala ke pangkuan pelayannya.

“Biarlah kami memanahnya. Jika kena, kita meneruskan perjalanan. Namun jika tidak, kita kembali,” kata dari kelompok pertama.

Tidak ada busur atau anak panah di sana. Karena senjata yang dimaksud kelompok pertama ini adalah bacaan ayat al-Qur’an:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.

Fudhail menjerit hingga tersungkur. Pelayannya bingung mengira dada tuannya benar-benar tertusuk anak panah. Tidak ditemukan benda asing apapun yang menancap di tubuh Fudhail yang kesakitan tersebut. Ketika sadar Fudhail berujar, “Aku terkena tusukan panah Allah SWT.”

Sejurus kemudian, serbuan “anak panah” lain datang dari kelompok kedua:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu."

Fudhail kembali histeris. Kali ini lebih keras dari yang pertama. Seperti sebelumnya, sang pelayan tak mengerti dengan apa yang dialami tuannya itu. “Hai pelayanku, aku terkena anak panah Allah.”

Baru saja pulih kesadarannya, “anak panah” ketiga kembali meluncur dari kelompok terakhir.

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)."

Fudhail berteriak semakin keras. Setelah sadar, ia berujar kepada pelayannya, “Mari kita pulang. Sungguh aku sangat menyesal dengan perbuatan jahatku selama ini. Hatiku takut luar biasa. Akan kubuang kesalahan tersebut.”

Sejak peristiwa itu, Fudhail lantas berangkat ke Makkah. Saat hendak sampai di Nahrawan, ia berjumpa dengan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Raja ini bercerita tentang pengalaman mimpinya.

“Ada suara memanggil dengan keras (dalam mimpi itu), ‘Sesungguhnya Fudhail telah takut dan bertekad untuk mengabdi kepada Allah. Temuilah dia’.”

Dengan penuh rasa takjub dan syukur, Fudhail hanya bisa meratap, “Sebab kemuliaan dan keagungan-Mu, Engkau mencintai hambamu ini. Hamba yang telah berlumur dosa dan durhaka kepada-Mu selama empat puluh tahun.”

Demikianlah cara Allah membalikkan kondisi hati dan perilaku Fudhail bin ‘Iyadl. Ketika Dia berkehendak, seorang penjahat puluhan tahun pun sanggup diubahnya dalam waktu singkat menjadi pribadi yang mulia, bahkan melebihi orang-orang pada umumnya. Tak sekadar pencerahan, Fudhail akhirnya juga menerima penghormatan dari seorang khalifah. Kehadiran cahaya hidayah memang menjadi otoritas Tuhan, bukan manusia. (Mahbib)

Jumat 15 Agustus 2014 13:1 WIB
Sepuluh Keutamaan Ilmu
Sepuluh Keutamaan Ilmu

Suatu ketika, kaum Khawarij mendengar sabda Nabi Muhammad saw. :

انامدينةالعلم و عليّ بابها

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali gerbangnya.”<>

Melihat kenyataan tersebut, mereka tidak mau menerimanya. Lalu berkumpullah para tokoh Khawarij untuk membuktikan hal tersebut.

“Kita tanyakan saja kepada Ali, sepuluh pertanyaan yang sama. Jika dia memberikan alasan yang berbeda, maka benarlah apa yang dikatakan Nabi,” usul seorang tokoh.

Mereka kemudian mendatangi Sayyidina Ali secara bergilir dan melontarkan pertanyaan yang sama : “Lebih utama mana ilmu atau harta?”

Sayyidina Ali pun, selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama: ilmu. Akan tetapi dengan alasan berbeda.

Kepada penanya pertama, ia menjelaskan ilmu warisan para nabi, harta merupakan warisan Qarun, Fir’aun dan lainnya.

“Ilmu menjagamu, sedang harta kamulah yang menjaganya,” terangnya kepada penanya kedua.

“Pemilik ilmu sahabatnya banyak, pemilik harta musuhnya banyak.

“Ilmu akan bertambah jikau kau pergunakan. Harta akan berkurang jika kau gunakan.”:

Kepada orang kelima dijawabnya, ”Pemilik ilmu akan dohormati dan dimuliakan. Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit.

“Harta perlu dijaga dari pencuri, ilmu tidak perlu menjaganya.

“Pemilik harta pada hari Kiamat akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan menadapat syafaat.

“Ketika dibiarkan dalam waktu yang lama harta akan rusak. Sedangkan ilmu tak akan musnah dan lenyap.

“Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati.

“Pemilik harta akan dipanggil Tuan Besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuan. Andaikata kalian hidupkan banyak orang, maka aku akan menjawabnya dengan jawaban berbeda, selagi aku masih hidup,” tegas Sayyidina Ali kepada penanya terakhir.

Dan akhirnya, mereka pun kembali dalam pengakuan Islam.

 

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab al-Mawaidhu al-Ushfuriyyah karya Syeikh Muhammad bin Abu Bakar)