IMG-LOGO
Syariah

Hukum Wanita Ihram Berkacamata

Sabtu 20 September 2014 7:0 WIB
Share:
Hukum Wanita Ihram Berkacamata

Diantara hal yang dilarang dalam Ihram bagi wanita adalah menutup wajah dan memakai kaos tangan. Jika keduanya dilanggar dengan disengaja tanpa ada alasan kuwat, maka menyebabkan wajibnya membayar fidyah. Akan tetapi jika menutup muka karena khawatir timbulnya fitnah maka tidak mengapa. Seperti ketika berjumpa atau berkomunikasi dengan lelaki bukan muhrimnya dengan dekak.<>

Jika masih bisa dihindarkan henda hendaknya perempuan yang sedang ihram menghindarkan wajahnya dengan cara melindungi diri dari tatapan langsung, baik dengan kerudung maupun dengan satir sejenisnya. Dan kemudain membuknya kembali.

Lantas bagaimanakah dengan kaca mata? Apakah kaca mata digolongkan sebagai penutup muka? Atau sekedar penutup mata? Karena di zaman sekarang ini lazim sekali para wanita mengenakan kaca mata di saat ihram tanpa ada kekhawatiran menimbulkan fitnah. Kebanyakan mereka menggunakan kaca mata karena menghindar dai terik mentari.

Mengenai wanita menggunakan kaca mata saat ihram para ulama berbeda pendapat. Tetapi mayoritas membolehkannya. Karena menganggap kaca mata hanya sebagai penutup mata, bukan penutup muka. Disamping itu masih ada perselisihan antar ulama apakah muka dan telapak tangan adalah aurat bagi wanita ketika ihram. Namun demikiat mayoritas melarang wanita ihram menutup muka kecuali dikhawatirkan dengan membuka muka terjadi fitnah. Bahkan karena karakter fitnah yang semakin tidak menentu, maka dibolehkanlah wanita menggunakan kaca mata. Demikian keterangan dalam syarh al-yaquut al-nafis yang teksnya sebagai berikut:

ويحرم على المرأة ستر الوجه ويجوز لبس المخيط ومن هنا نشأ الخلاف بين العلماء فى حكم وجه المرأة وكفيها هل هما عورة –الى ان قال- قالوا يجب عليه الستر اذا خشيت الفتنة أما اذا امنت الفتنة فلاتستره ومما لاشك فيه أن الفتنة فى هذا الزمان غير مأمونة ويجوز لها لبس النظارة

(ulil H) 

 

 

Share:
Rabu 10 September 2014 7:0 WIB
Cara Mewakilkan Haji
Cara Mewakilkan Haji
ilustrasi (tripulous.com)

Ibadah haji memerlukan biaya, sarana transportasi dan kesiapan fisik. Haji adalah ibdah fisik (al-ibadah al-badaniyah) sekaligus harta (al-ibadah al-maliyah). Allah swt. tidak membebani hambanya kecuali sebatas kemampuannya. Oleh sebab itu kewajiban haji sebagai rukun Islam kelima, terbatas pada kaum muslimin yang mampu menunaikannya. (al-Fiqh ala madzahibil arb’ah).

Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji hanya bisa dilangsungkan di Tanah Suci. Thawaf harus mengeitari Ka’bah. Sa’i dari bukit Shofa dan Marwah. Wukuf dilaksanakan di padang Arafah.

Ibadah haji memerlukan biaya, sarana transportasi dan kesiapan fisik. Haji adalah ibdah fisik (al-ibadah al-badaniyah) sekaligus harta (al-ibadah al-maliyah). Allah swt. tidak membebani hambanya kecuali sebatas kemampuannya. Oleh sebab itu kewajiban haji sebagai rukun Islam kelima, terbatas pada kaum muslimin yang mampu menunaikannya. (al-Fiqh ala madzahibil arb’ah).

Pada prinsipnya sebagai ibadah badaniyah, haji harus dilakukan sendiri. dalam kondisi normal, di mana yang bersangkutan mampu mengerjakan sendiri, haji tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.

Tetapi dalam kondisi sakit yang kronis dan tidak mungkin diharapka kesmebuhannya, sebagai ibadah maliyyah, menurut pendapat mayoritas ulama, haji boleh diwakilkan kepada orang lain. Begitu pula orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum pernah menunaikan ibadah ini, padahal yang bersangkutan sudah mampu. Diceritakan di dalam hadis shahih seorang perempuan dari Khats’am berkata kepada Rasulullah SAW:

يارسول الله إن فريضة الله على عباده فى الحج ادركت أبى شيخا كبيرا  لا يثبت على الراحلة افأحج عنه؟ قال نعم (متفق عليه)

Wahai Rasulullah sesungguhnya kewajiban haji berlaku atas hamba-hamba Allah. Saya menjumpai bapak saya telah tua dan tidak mampu duduk di atas kendaraan. Apakah saya mengerjakan haji atas namanya? Beliau menjawab “ya”. (Muttafaq alaih)

Oleh sebab itu para fuqaha mengklasifikasikan istita’ah (kemampuan haji) menjadi dua, istitha’ah binafsih dan istitha’ah bi ghairih. Istitha’ah binafsih artinya, sanggup mengerjakan haji sendiri. Istitha’ah bi ghairih, ketika seseorang karena alasan sakit atau termakan usia tidak mampu berangkat sendiri, tetapi memiliki uang untuk menyewa orang lain melakukan haji atas namanya. (al-Fiqh al-Islami).

Seseorang dianggap telah istitha’ah bi gahirih, apabila mempunyai uang dalam jumlah yang cukup untuk membayar orang lain mengerjakan haji menurut ukuran lumrah yang berlaku di masyarakat (ujrah misl).

Transaksi anatara orang yang mewakilakan dan wakil atau badal termasuk akad ijarah. Sehingga tidak ada batasan yang baku mengenai uapah yang harus diberikan. Yang terpenting terdapat kata sepakat antara keduanya, atau dalam bahasa fiqihnya disebut an’taradhin. Mungkin juga si wakil tidak meminta bayaran sepeserpun, semata-mata ingin membantu orang. Hal ini sangat mungkin terjadi, bila mana antara keduanya terjalin hubungan kekerabatan misalnya.

Orang yang sah ditunjuk menjadi wakil atau badal adalah orang yang memiliki kompetensi untuk mengerjakan haji, yaitu mukallaf (muslim, baligh, dan berakal), dan mampu melakukannya. Tidak dibenarkan mewakilkan kepada orang yang belum pernah mengerjakan haji untuk dirinya sendiri. Hendaknya dicarikan orang yang dapat dipercaya (al-mautsuq bih), untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Wakil melakukan ihram atas nama orang yang mewakilkan. Ihram dari miqat orang yang diwakili (al-fiqh al-Islami juz III).

Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. 2010. Dialog Problematika Umat. LTN –Khalista. (Red: Ulil Hadrawi)

Rabu 27 Agustus 2014 12:33 WIB
Masalah Ejakulasi Dini dan Impotensi dalam Perkawinan
Masalah Ejakulasi Dini dan Impotensi dalam Perkawinan

Dalam konteks fiqih, ejakulasi dini biasa disebut dengan istilah ‘idzyauth atau juga adzwath yaitu orang yang air maninya keluar lebih dahulu sebelum pertemuan dua alat kelamin, sehingga sang istri tidak dapat merasakan ni’mat bersetubuh.<>Ejakulasi dini merupakan fenomena psikologis. Ejakulasi dini merupakan ketidak sempurnaan yang bisa menimpa lelaki manapun semenjak dahulu kala.  Ejakulasi dini bukanlah penyakit baru. Hanya istilahnya saja yang kini sering terdengar agak lebih keren. 

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj diterangkan bahwa mereka yang terbiasa dengan ejakulasi dini haruslah berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya ejakulasi dini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Entah dengan berolah raga ataupun mengatur pola makan dan lain sebagainya. Dengan demikian keutuhan rumah tangga masih layak dan bisa dipertahankan.

وخرج بهذه الخمسة غيرها كالعذيوط بكسر أوله المهمل وسكون ثانيه المعجم وفتح التحتية وضمها ويقال عذوط كعتور وهو فيهما من يحدث عند الجماع وفيه من ينزل قبل الايلاج فلاخيار به مطلقا على المعتمد وسكوتهما فى موضع على ان المرض المأيوس منه زواله ولايمكن معه الجماع فى معنى العنة انما هو لكون ذلك من طرق العنة فليس قسما خارجا عنها.    

Berbeda dengan kasus impoten (unnah) sebagai penyakit yang sangat susah sekali disembuhkan (المرض المأيوس منه زواله ) maka bagi seorang perempuan berhak mengundurkan diri sebagai seorang istri. Artinya jika ternyata seorang suami terbukti impoten maka seorang istri berhak memilih antara meneruskan perkawinannya atau membatalkannya. Akan tetapi ada baiknya bagi istri bersabar barang setahun barangkali ada sebab gangguan psikologis dari organ lain yang diharapkan bisa sembuh.

Seperti kasus yang pernah terjadi pada zaman sahabat Umar sebagaimana diriwayatkan oleh Al-baihaqy bahwa ada seorang wanita datang kepada Umar mengadukan bahwa suaminya tidak mampu melayani kebutuhan biologisnya. Kemudian Sayyidina Umar memberikan saran agar sang istri memberi waktu satu tahun, dengan harapan penyakit itu dapat disembuhkan. Akan tetapi setelah satu tahun, ternyata sang suami belum juga mampu melayani, dan sang istripun minta untuk diceraikan. Maka kemudia

Senin 25 Agustus 2014 16:0 WIB
Variasi Gaya Bercinta dan Hukumnya
Variasi Gaya Bercinta dan Hukumnya

Seorang istri sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Baqarah 223 berlaku sebagai lahan yang boleh ditanami apapun oleh sang suami. Meski demikian, Islam juga telah mengatur berbagai tata norma kehidupan antara suami dan istri. Termasuk di dalamnya juga etika berhubungan intim. Seperti yang diterangkan dalam kitab ‘uqudul lujain’ mengenai tatacara melakukan huhbungan seks suami-istri.<>

Namun demikian di zaman globalisasi dengan arus informasi yang semakin kencang dan terbuka, sangat mempengaruhi perilaku manusia. Termasuk juga dalam melakukan variasi gaya dalam berhubungan seks dengan pasangannya. Mereka yang telah banyak mendapatkan pengetahuan dan informasi dari berbagai sumber mengenai gaya bersetubuh, tentunya ingin menerapkannya dalam kehidupan seksualnya.

Jika keadaan ini dapat dipahami oleh pasangan suami istri, tidaklah menimbulkan masalah. Akan tetapi jika terjadi keinginan sepihak tentunya akan menimbulkan permaslahan. Nah bagaimanakah jika seorang istri menolak untuk memenuhi tuntutan suami dalam melakukan variasi bercinta? Apakah istri telah melakukan pembangkangan terhadap suami (nusyuz)?

Penolakan seorang istri terhadap permintaan suami dalam melayani variasi bercintanya tidaklah termasuk dalam kategori membangkan (nusyuz, dalam fiqih mengakibatkan hak suami berhak memberhentikan nafkah kepada istriI) karena pada dasarnya kewajiban melayani hubungan seks seorang istri adalah sewajarnya saja. Kecuali apabila seorang suami tidak bisa mengeluarkan sperma tanpa variasi tersebut atau akan menyebabkan kerepotan yang lain, maka bagi istri memenuhi permintaan suaminya tersebut hukumnya adalah wajib. Selama bentuk variasi itu masih dalam kewajaran. Misalnya dengan berbagai gaya ( jurus cakar elang, hariamau menerkam dan lain-lain) atau sekedar bermain-main dengan tangan dan jari-jari di wilayah mister v, atau menggunakan tangan istri untuk mempermainkan dzakar dan lainnya.  Akan tetapi jika variasi itu telah melanggar norma agama, maka tidak wajib bagi istri untuk menurutinya misalnya dengan menggunakan jalur belakang.

Demikian keterangan dalam kitab Fathul Muin dan juga kitab-kitab lainnya semisal dalam al-Fatawy al-Fiqhiyyah al-kubra karangan Ibnu Hajar al-Haytami:

الواجب عليها هو التمكين من الوطء ولايجب عليها ما وراء ذلك مما هو معروف وان ترتب عليه مزيد قوة لهمة الرجل وتنشيط للجماع هذا هو الذى يتجه ويحتمل أن يجب عليها ما يتوقف عليه الانزال او مايترتب على تركه ضرر للرجل  

Red. Ulil H