IMG-LOGO
Doa

Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat

Kamis 13 Juni 2019 17:30 WIB
Share:
Doa Khusus dari Rasulullah untuk Shalat Hajat

Dalam berbagai literatur fiqih dan buku-buku tuntunan shalat banyak ditemukan amalan dan do’a-do’a keseharian. Dari yang bersifat umum hingga do’a istimewa. Diantara do’a yang banyak ragamnya adalah do’a yang disediakan untuk shalat hajat. Akan tetapi kebanyakan penyebutan do’a-do’a itu tidak menyertakan sumber asalnya. Baik yang berasal dari ulama shalihin maupun langsung dari hadits Rasulullah saw.<>

Oleh karena itu sungguh ada manfaatnya apabila dalam tulisan ini diceritakan sebuah kisah tentang seorang yang tidak sempurna penglihatannya datang kepada Rasulullah saw untuk meminta do’a kesembuhan. Akan tetapi Rasulullah saw malah memerintahkannya untuk mendirikan shalat hajat lalu berdo’a yaitu:

اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya.

Artinya:

Ya allah Sesungguhnya aku bermohon kepada Engkau, dan aku menghadap kepada engkau dengan Muhammad Nabiyyir Rahmah, Wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap Tuhanku bersamamu dalam memohonkan hajatku ini agar dikabulkan. Ya Allah perkenankanlah dia (Muhammad saw) memberikan syafaatnya kepadaku. 

Adapun keterangan lengkapnya sebagaimana ditahrijkan oleh At-Tiridzi dan Ibnu Majah hadits riwayat Utsman bin Hunaif.

إن رجلا ضرير البصري اتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ادع الله لي انيعافينى فقال ان شئت اخرت لك فهو خير وان شئت دعوت فقال ادعه فامره ان يتوضأ فيحسن وضوءه ويصلى ركعتين ويدعو بهذا الدعاء : اللهم انى اسألك واتوجه اليك بمحمد نبي الرحمة يا محمد انى قد توجهت بك الى ربى فى حاجتى هذه لتقضى. اللهم فشفعه في

Bahwasannya ada seorang laki-laki yang penglihatannya rusak datang kepada Rasulullah saw sambil berkata “do’akanlah kepada Allah untukku, agar disembuhkan-Nya aku ini”. Rasulullah saw balik menjawab “kalau kamu mau, aku dapat menundanya untukmu dan itu lebih baik, atau kalau kamu mau aku akan mendo’akan” maka orang itupun memohon “doakanlah untukku!” . Kemudian Rasulullah saw menyuruhnya berwudhu, maka wudhulah orang tersebut dengan baik dan shalat dua raka’at dan berdo’a dengan do’a ini “Allahumma ini as’aluka wa atawajjahu ilaika bi muhammadin nabiyyir rahmah, ya Muhammadu inni qad tawajjahtu bika ila Rabbi fi hajati hazdihi litaqdhi. Allahumma fa syaffi’hu fiyya”.

Demikianlah Rasulullah saw menganjurkan dan membolehkan seseorang bertawassul menggunakan nama beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, meskipun dalam shalat hajat. (ulil H)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 22 Oktober 2014 pukul 06:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Share:
Kamis 13 Juni 2019 15:45 WIB
Doa Shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan
Doa Shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan
(Foto: @ibtimes)
Kita lebih sering mendengar lafal “Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, dan seterusnya” sebagai doa shalat Dhuha. Sebenarnya ini hanya satu dari dua versi doa shalat Dhuha yang diajarkan oleh para ulama.

Syekh Nawawi Al-Bantani menceritakan bahwa kita memiliki dua riwayat atau versi doa shalat Dhuha. Lafal “Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, dan seterusnya” yang sering kita dengar adalah doa shalat Dhuha versi Syekh Sayyidi M Bakri.

Adapun berikut ini adalah doa yang dibaca setelah shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan.

اللَّهُمَّ فُكَّ أَقْفَالَ قُلُوْبِنَا بِمَشِيْئَتِكَ وَأَحْسِنْ تَوْفِيْقَنَا بِدَوَامِ الصِّدْقِ فِي إِرَادَتِكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا فِي هَذِهِ السَّاعَةِ رَايَةَ هِدَايَتِكَ وَقَلِّدْنَا بِسُيُوْفِ وِلَايَتِكَ وَتَوِّجْنَا بِتِيْجَانِ مَعْرِفَتِكَ وَأَمْطِرْ عَلَيْنَا مِنْ سَحَائِبِ رَحْمَتِكَ وَاسْقِنَا مِنْ شَرَابِ مَحَبَّتِكَ وَأَثْبِتْنَا فِي دِيْوَانِ خَاصَّتِكَ وَأَوْقِفْنَا فِي مِيْدَانِ مُلَاحَظَتِكَ وَصُفَّ سَرَائِرَنَا وَنَوِّرْ أَبْصَارَنَا وَاجْمَعْنَا فِي حَظَائِرِ قُدْسِكَ وَآنِسْنَا بِلَطِيْفِ أُنْسِكَ وَلَا تَقْطَعْنَا بِغَيْرِكَ عَنْ نَفْسِكَ

اللَّهُمَّ مَا كَانَ مِنَّا مِنْ إِقْبَالٍ إِلَى غَيْرِكَ وَإِعْرَاضٍ عَنْكَ تَعَمُّدًا أَوْ خَطَأً أَوْ نِسْيَانًا فَأَزِلْهُ عَنَّا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya, “Ya Allah, bukalah gembok hati kami dengan kehendak-Mu, perbaikilah taufik kami dengan senantiasa benar dalam iradah-Mu, tebarkanlah panji hidayah-Mu di atas kami pada saat ini, ikatlah kami dengan pedang kuasa-Mu, muliakanlah kami dengan mahkota makrifat-Mu, basahilah kami dengan hujan dari awan rahmat-Mu, berilah kami minuman dari air cinta-Mu, tetapkanlah kami di lingkaran orang-orang yang istimewa menurut-Mu, tetapkan kami di lapangan perhatian-Mu, rapikanlah niat kami, terangilah pandangan kami, kumpulkanlah kami di surga-Mu, sayangilah kami dengan kelembutan kasih-Mu, dan jangan Kau putuskan hubungan kami dan diri-Mu dengan ‘kehadiran’ yang lain.

Ya Allah, sesuatu yang dapat menghadapkan kami kepada selain-Mu dan dapat memalingkan kami dari-Mu baik sengaja, tidak sengaja, maupun karena lupa, maka lenyapkan dari kami. Sungguh, Kau berkuasa atas segala sesuatu,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2004 M/1422 H], halaman 101).

Mereka yang terbiasa dengan doa shalat Dhuha versi Syekh Sayyidi M Bakri tetap dapat membaca doa shalat Dhuha sesuai kebiasaannya. Tetapi mereka yang ingin membaca doa shalat Dhuha versi Syekh Ibnu Alwan juga tidak masalah karena kedua versi doa ini berisi permohonan yang baik.

Tetapi ada baiknya, mereka menggabungkan dua versi doa shalat Dhuha ini. Keduanya dibaca setelah shalat sunnah Dhuha di samping doa-doa yang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 13 Juni 2019 14:45 WIB
Doa Shalat Istikharah
Doa Shalat Istikharah
(Foto: @istock2)
Kita sering kali dihadapkan pada dua atau beberapa pilihan (dalam hal yang mubah atau sunnah menurut agama, seperti aktivitas jual, beli, perkawinan) yang menyulitkan. Dalam situasi ini, kita dianjurkan untuk melakukan shalat istikharah agar diberikan pilihan terbaik.

Shalat istikharah dilakukan sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah Surat Al-Fatihah, kita dapat membaca Surat Al-Kafirun. Sedangkan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah, kita membaca Surat Al-Ikhlas.

Setelah shalat istikharah kita dianjurkan untuk membaca doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ

اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِيْ بِهِ

Artinya, “Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kuasa-Mu (atas masalahku) dengan kuasa-Mu. Aku mohon sebagian dari karunia-Mu yang agung karena sungguh Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya. Engkau maha mengetahui hal yang gaib.

Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan masalah yang dihadapinya) lebih baik dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku, takdirkan ia untukku, mudahkan jalannya, dan berilah berkah. Sebaliknya, jika Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, dunia, kehidupan, dan akibatnya terhadap diriku baik seketika maupun suatu ketika nanti, maka singkirkan persoalan itu, dan jauhkan aku darinya. Takdirkanlah bagiku kebaikan di mana saja berada, dan berilah ridha-Mu untukku,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2004 M/1422 H], halaman 104).

Setelah shalat istikharah dan berdoa, kita dianjurkan untuk tetap beraktivitas sebagaimana biasa. Sedangkan terkait pilihan yang menyulitkan itu, kita harus tetap mengambil sikap. Kita dianjurkan untuk mengambil pilihan yang dirasa paling plong, lapang, dan sreg di hati. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 12 Juni 2019 23:30 WIB
Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun
Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir.

Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan.

Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan.

Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo’a, “Allâhumma hawâlainâ wa lâ ’alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),” HR Bukhari.

Hadis riwayat lain al-Bukhari menyebutkan bahwa:

إن النبي - صلى الله عليه وسلم- كان إذا رأى المطر قال اللهم صيبا نافعا

“Sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat hujan berdo’a: Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”

Hadits ini menunjukan bahwa ketika hujan turun, Nabi SAW senantiasa meminta agar hujan yang diturunkan Allah SWT menjadi hujan rahmat, hujan yang membawa berkah,  bukan hujan musibah. Do’a ini dibaca Nabi kisaran dua atau tiga kali berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Majah.

Di saat musim hujan seperti sekarang ini, do’a di atas penting untuk kita baca. Semoga hujan musim hujan kali ini membawa kemaslahatan bagi kita bersama. Wallâhu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Jumat, 29 Januari 2016 pukul 00:03. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.