IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Ahad 4 Januari 2015 13:7 WIB
Share:
Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Assalamu alaikum wr. wb. Yth Redaksi. Ssaya seringkali mengantuk ketika sedang shalat ataupun berzikir, padahal sebelumnya saya sama sekali tidak mengantuk. Apakah hal ini termasuk gangguan setan? Dan bagaimana cara mengobati "penyakit" tersebut? Terima kasih.
Wassalamu alaikum wr.wb. (Ega Prasetya Noor)<>

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh

Saudara Ega Prasetya Noor yang terhormat.
Rasa kantuk mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Dengan adanya rasa kantuk yang berdampak pada tidur, seseorang akan dapat mengembalikan staminanya setelah sekian lama beraktifitas. Dengan tidur pula orang akan dapat berisitirahat dari keletihan dan kelelahan saat bekerja. Hal ini merupakan dampak positif dari adanya rasa kantuk yang menghinggapi mata manusia.

Penyebab ngantuk sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah akibat mulai letihnya syaraf mata dan otak yang bekerja, hingga akhirnya menjadikan pikiran kurang fokus. Selain itu anemia atau sering juga disebut kurang darah, diabetes, depresi, dehidrasi (kurang cairan) dan gangguan tidur yang lain juga dapat menjadikan rasa kantuk seseorang kian bertambah.

Namun mengingat pertanyaan yang anda sampaikan tidak mengarah kepada sebab-sebab yang telah kami kemukakan, dengan bukti bahwa rasa kantuk muncul pada saat shalat atau dzikir saja, kami lebih menilai bahwa hal itu terjadi karena kurangnya niat maupun tekad untuk lebih fokus pada aktifitas yang dilaksanakan (shalat atau dzikir). Bisa juga memang syetan sedang menjalankan aktifitasnya untuk mengganggu anda dalam menunaikan ibadah.

Ar-razi, Ibnu Katsir serta para mufassir lainnya ketika menafsirkan ayat 154 surat Ali ‘Imron banyak yang mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan bahwa rasa kantuk yang menghinggapi manusia saat shalat berasal dari syetan. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Muhammad bin Umar atau yang sering dikenal dengan Fahruddin Ar-Razi mengatakan:


وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ: النُّعَاسُ فِي الْقِتَالِ أَمَنَةٌ، وَالنُّعَاسُ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ فِي الْقِتَالِ لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ غَايَةِ الْوُثُوقِ بِاللَّهِ وَالْفَرَاغِ عَنِ الدُّنْيَا، وَلَا يَكُونُ فِي الصَّلَاةِ إِلَّا مِنْ غَايَةِ الْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ

Artinya: dari Ibnu Mas’ud: “Mengantuk ketika dalam kondisi perang dapat menjadikan rasa aman (bagi tentara yang berperang), sedangkan rasa kantuk dalam shalat adalah dari syetan. Hal itu dikarenakan rasa kantuk saat berperang hanya terjadi ketika ia (seorang tentara) telah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah secara total dan ia juga tidak peduli lagi dengan urusan duniawi. Sementara kantuk dalam shalat hanya terjadi apabila seseorang jauh (lupa) dengan Allah.”

Saudara penanya yang disayangi Allah. Dari uraian diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk yang terjadi ketika sedang shalat atau dzikir:

Pertama, selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syetan (sering membaca ta’awwudz).

Kedua, kuatkan niat dan tekat untuk lebih fokus mengingat Allah ketika sedang shalat atau berdzikir.

Ketiga, lebih baik lagi apabila anda sering memperbarui wudhu (tajdid al-wudhu) menjelang shalat dan dzikir, agar siraman air yang mengguyur wajah serta sebagian anggota tubuh anda dapat menambah kesegaran dan kebugaran kondisi fisik saat beribadah kepada Allah swt.

Mudah-mudahan aktifitas ibadah yang akan kita lakukan semakin bertambah baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Amin. (Maftukhan)

Ilustrasi: Anggota DPR mengantuk saat sidang

Share:
Kamis 1 Januari 2015 12:1 WIB
Bolehkan Menghentikan Shalat Sunnah Saat Muadzin Iqomah?
Bolehkan Menghentikan Shalat Sunnah Saat Muadzin Iqomah?

Assalamu'alaikum wr wb. Redaksi nu.or.id yang terhormat. Seingat saya, sudah tiga kali ini di masjid yang berbeda-bedam saya melihat ada jamaah yang sedang melaksanakan ibadah shalat qobliyah, begitu terdengar iqomah oleh muadzin dia langsung menghentikan shalatnya.<> Padahal salatnya belum selesai, baru dapat satu rakaat dari dua rakat yang semestinya. Menghentikan salat sunnah saat mendengar iqomah, apakah diperbolehkan? Mohon penjelasannya. Matur nuwun. (Hanif/Yogyakarta)  

 

Wa'alaikum salam wr wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa hukum Islam yang kita pahami selama ini ada lima, yaitu yang seharusnya dilakukan disebut wajib, yang sebaiknya dilakukan disebut sunnah, yang seharusnya ditinggalkan disebut haram, yang sebaiknya ditinggalkan disebut makruh, dan yang boleh ditinggalkan maupun dikerjakan disebut mubah.

Sedangkan shalat qabliyah masuk dalam kategori sunnah. Artinya, shalat tersebut sebaiknya dikerjakan, meskipun kalau ditinggal juga tidak apa-apa. Dalam pelaksanaan shalat qabliyah memang terkadang mengalami kendala. Seperti baru dijalankan satu rakaat, tiba-tiba muadzin mengumandangakan iqamah. Apakah meneruskan shalat sunnah qabliyah atau menghentikannya kemudian ikut melakasanaan shalat fardlu berjamaah.

Sepanjang yang kami ketahui memang ada hadits yang menyatakan bahwa ketika shalat didirikan maka tidak ada shalat yang sempurna kecuali shalat maktubah. Hadits ini diriwayatkan Abu Hurairah ra.

  إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ

“Ketika shalat didirikan maka tidak shalat yang sempurna kecuali shalat maktubah”

Apa yang dimaksudnya dengan ‘ketika shalat didirikan’ dalam hadits tersebut adalah ketika iqamah dikumangkan oleh muadzzin. Dengan kata lain, ketika muadzin mengumandangan iqamah maka tidak ada shalat yang sempurna kecuali shalat maktub. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi.

قُلْتُ اَلْمُرَادُ بِإِقَامَةِ الصَّلَاةِ فِي قَوْلِهِ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ اَلْاِقَامَةُ الَّتِي يَقُولُهَا الْمُؤَذِّنُ عِنْدَ إِرَادَةِ الصَّلَاةِ

“Saya berpendapat bahwa yang dimakasudkan mendirikan shalat dalam sabda Rasulullah sawa, ‘Ketika shalat didirikan’ adalah iqamah yang dikumandangan muadzin ketika hendak menjalankan shalat”(Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at-Tirmidzi, Baerut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz, 2, h. 402)

Dengan hadits ini maka kalagan madzhab syafi’i berpendapat bahwa dimakruhkan bagi orang yang hendak menjalankan shalat memulai melakukan shalat sunnah, baik shalat sunnah rawatib, tahiyat masjid atau shalat sunnah yang lainnya ketika iqamah mulai dikumandangan.   

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْاَصْحَابُ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ كُرِهَ لِكُلِّ مَنْ اَرَادَ الْفَرِيضَةَ اِفْتِتَاحُ نَافِلَةٍ سَوَاءٌ كَانَتْ سُنَّةً رَاتِبَةً لِتِلْكَ الصَّلَاةِ أَوْ تَحِيَّةَ مَسْجِدٍ أَوْ غَيْرَهَا لِعُمُومِ هَذَا الْحَدِيثِ

“Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa ketika shalat didirika  (iqamah dikumandangankan) maka dimakruhkan bagi setiap orang yang hendak shalat fardlu memulai shalat sunnah, baik shalat sunnah rawatib, shalat tahiyyat masjid atau selainnya karena keumuman makna yang dikandung hadits ini.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz, 4, h. 222)

Namun penjelasan ini tidak bisa menjawab pertanyaan di atas. Sebab, shalat sunnah qabliyah tersebut dijalankan pada saat belum dimulai iqamah. Di samping itu ada ketidaktahuan dari orang menjalankan shalat qabliyah bahwa iqamah akan segera dimulai. Dengan kata lain, ketika ia menjalankan shalat qabliyah, tiba-tiba muadzin mengumandangan iqamah, padahal baru satu rakaat.

Dalam kasus ini maka sebaiknya (sunnah) menyempurnakan shalat qabliyah, dengan catatan bahwa ia yakin akan bisa mengikuti shalat jamaah sebelum imam salam. Namun jika ia khawatir dengan menjalankan shalat qabliyah tidak bisa mengikuti shalat jamaah, maka sebaiknya menghentikan shalatnya, kemudian ikut berjamaah karena lebih utama dari pada shalat sunnah qabliyyah.            

وَكُرِهَ ابْتِدَاءُ نَفْلٍ بَعْدَ شُرُوعِ الْمُقِيمِ فَإِنْ كَانَ فِي النَّفْلِ أَتَمَّهُ إنْ لَمْ يَخْشَ بِإِتْمَامِهِ  فَوْتَ جَمَاعَةٍ بِسَلَامِ الْإِمَامِ وَإِلَّا نُدِبَ لَهُ قَطْعُهُ وَدَخَلَ فِيهَا لِأَنَّهَا أَوْلَى مِنْهُ

“Dan dimakruhkan (bagi orang yang hendak menjalankan shalat wajib) memulai melakukan shalat sunnah setelah al-muqim (orang yang melakukan iqamah) mulai mengumandangkan iqamah. Namun jika ia (orang yang hendak menjalankan shalat wajib) sedang menjalankan shalat sunnah, maka sebaiknya (sunnah) menyempurnakan shalatnya, sepanjang tidak khawatir tertinggal jamaah karena salamnya imam. Namun apabila khawatir, maka disunnahkan menghentikan shalatnya, kemudian ikut berjamaah karena lebih utama dari pada shalat sunnah”. (Muhammad Khatib asy-Syarbini, al-Iqna` fi Halli Alfazhi Abi Sujja`, Bairut-Dar al-Fikr, 1415 H, juz, 1, h. 169) 

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bermanfaat, dan jika Anda menemukan kasus yang serupa maka bersikaplah bijak, dan tak perlu mempersoalkan dengan keras.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)   

Selasa 30 Desember 2014 16:2 WIB
Memakai Kostum Khusus Saat Takziyah
Memakai Kostum Khusus Saat Takziyah

Assalamu’alaikum wr wb. Pak ustadz yang terhormat, saya mau menanyakan mengenai permasalahan yang sering kita lihat saat ada orang yang meninggal dunia. Banyak diantara anggota keluarga dan orang-orang yang takziyah memakai pakaian berwarna hitam.<>

Yang saya mau tanyakan apakah ada dasarnya mengenai perintah mengggunakan pakaian tertentu saat ada orang meninggal atau takziyah? Atas jawabannya kami haturkan terima kasih. (Saifuddin, Sulawesi Barat).

 

Wa’aalaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Saifuddin yang mudah-mudahan selalu dalam naungan kasih sayang Allah. Kehilangan orang yang dicintai merupakan musibah yang cukup berat untuk dirasakan dan sangat wajar kiranya apabila seseorang merasa sedih atas kepergian orang yang dicintainya.

Mengekspresikan maupun meluapkan emosi saat ditinggal menghadap ilahi oleh orang yang dicintai merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bersedih atau bahkan menangisi kepergian orang yang dicintai pada hakikatnya tidak dilarang oleh agama, bahkan Rasulullah saw sendiri pernah mengalirkan air mata saat ditinggal orang yang dicintainya.

Sebuah riwayat yang bersumber dari imam Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa tatkala Ibrahim putra beliau dari istri Mariyyah al-Qibthiyyah meninggal, linangan air mata mengalir membasahi pipi manusia termulia ini. Meskipun demikian, tidak semua ekspresi kesedihan dapat dibenarkan oleh ajaran agama Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw memberikan rambu-rambu bagaimana cara seorang Islam mengekspresikan kesedihan saat berduka. Beliau mengatakan:

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Artinya: “Bukan termasuk golongan kami, orang yang memukul pipinya (saat berduka), merobek saku dan berdoa dengan doa-doa jahiliyyah.”

Saudara penanya yang kami hormati. Dari hadist di atas, para ulama bersepakat mengenai keharaman berteriak-teriak, menjerit meratapi musibah, serta ekspresi-ekspresi berlebih lainnya saat berduka cita seperti mencakar wajah, menepuk dada dan lain sebagainya.

Muhammad bin Abi al-Abbas Ar-Ramli dalam kitab Nihayat al-Muhtaj memasukkan pula masalah mengenakan kostum khusus yang mencerminkan berlebihan dalam bersedih. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa setiap ekspresi maupun aktifitas yang menimbulkan kesan bersedih secara mendalam dan tidak terima dengan ketentuan Allah adalah haram hukumnya.

وَ يَحْرُمُ (الْجَزَعُ بِضَرْبِ الصَّدْرِ وَنَحْوِهِ) كَشَقِّ جَيْبٍ وَنَشْرِ شَعْرٍ وَتَسْوِيدِ وَجْهٍ وَإِلْقَاءِ الرَّمَادِ عَلَى الرَّأْسِ وَرَفْعِ الصَّوْتِ بِإِفْرَاطٍ فِي اُلْبُكَا، وَكَذَا تَغْيِيرُ الزِّيِّ وَلُبْسُ غَيْرِ مَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ كَمَا نَقَلَهُ ابْنُ دَقِيقِ الْعِيدِ فِي غَايَةِ الْبَيَانِ. قَالَ الْإِمَامُ وَالضَّابِطُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ فِعْلٍ يَتَضَمَّنُ إظْهَارَ جَزَعٍ يُنَافِي الِانْقِيَادَ وَالِاسْتِسْلَامَ لِلَّهِ تَعَالَى فَهُوَ مُحَرَّمٌ

Artinya : Dan diharamkan meluapkan kesedihan dengan memukuli dada atau yang lain, seperti merobek saku, mengurai rambut, menghitamkan muka, membubuhkan debu diatas kepala, mengeraskan suara bahkan menjerit-jerit saat menangis, demikian pula mengganti kostum dan mengenakan sesuatu yang biasanya tidak dipakai. Hal ini sebagaimana dinukil oleh Ibn Daqiq al-‘Id dalam Ghayat al-Bayan. Al-Imam berkata; kriteria keharaman tersebut berlaku pada tiap-tiap aktifitas yang menunjukkan kesedihan secara mendalam yang dapat menghilangkan sikap tunduk dan rela (menerima) atas ketentuan Allah.

Saudara Saifuddin yang dimuliakan Allah. Dari uraian diatas dapat difahami bahwa mengenakan kostum khusus saat berduka atau takziyah sebagimana pertanyaan yang anda sampaikan tidak ada dasar perintahnya, bahkan perlu dihindari. Jadi pakailah kostum biasa saja yang sopan.

Bagi orang yang tertimpa musibah atau sedang berduka diperintahkan untuk bersabar serta memohonkan ampunan kepada Allah untuk yang meninggal, sementara para mu’azziyin dan mu’azziyat (orang-orang yang ta’ziyah) yang datang dianjurkan untuk menghibur keluarga yang sedang berkabung, bukan semakin menambah kesedihan apalagi sampai berlarut-larut dalam kedukaan. Wallahu a’lam (Maftukhan)

Sabtu 27 Desember 2014 4:1 WIB
Masa Iddah Perempuan yang Cerai Apakah Hanya untuk Memastikan Isi Rahim?
Masa Iddah Perempuan yang Cerai Apakah Hanya untuk Memastikan Isi Rahim?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak ustad, saya mau bertanya mengenai soal iddah perempuan yang ditalak atau diinggal mati uami. Perempuan yang cerai atau ditinggal mati sebagaimana yang saya ketahui harus menjalani masa iddah. Tujuannya adalah untuk mengetahui bersihnya rahim dari janin. Tetapi saat ini<> dengan bantuan alat kesehatan ternyata sudah dapat diketahui apakah rahimnya bersih atau ada kandungannya. Nah dari sini saya ingin bertanya, apakah si perempuan yang cerai tersebut masih harus menjalani masa iddah, padahal ia sudah dapat dipastikan menurut dokter bahwa rahimnya bersih. Atas penjelasannya kami ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (Ina/Bandung)

Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa perempuan yang cerai memang harus menjalani masa iddah atau masa tunggu sampai pada batas waktu tertentu yang telah ditetapkan. Sehingga ketika ia sudah melewatinya ia boleh menikah lagi dengan orang lain.

Memang benar jika dikatakan bahwa salah satu tujuan iddah itu untuk mengetahui bersihnya rahim. Namun bukan hanya untuk itu saja, dalam iddah juga mengandung unsur ta’abbudi. Dengan kata lain, iddah mengandung dua hal, yaitu yang bersifat ta’aqquli dan ta’abbudi.

Yang dimaksud dengan ta’aqquli adalah hal-hal yang bersifat rasional atau dapat dinalar. Dalam konteks iddah maka unsur ta’aqquli-nya antara lain adalah untuk mengetahui bersihnya rahim, di mana hal ini jelas-jelas bisa dinalar. Dengan kata lain, sesuatu itu bersifat ta’aqquli apabila diketahui kemaslahatannya melalui nalar sehat  

Sedang yang dimaksud ta’abbudi ini adalah hal yang tidak bisa dinalar. Dalam konteks iddah adalah menjalani masa iddah sampai selesai sesuai ketentuan yang telah ditetapkan, meskipun sudah dapat dipastikan bahwa rahimnya bersih.   

Karena itu maka para ulama mendefiniskan iddah sebagai masa tunggu bagi seorang perempuan untuk mengetahui bersihnya rahmi atau rahim dari kehamilan atau untuk tujuan ta’abbudi

       وَهِيَ أَيِ الْعِدَّةُ شَرْعًا مُدَّةٌ تَتَرَبَّصُ فِيْهَا الْمَرْأَةُ لِمَعْرِفَةِ بَرَاءَةِ رَحِمِهَا مِنَ الْحَمْلِ أَوْ لِلتَّعَبُّدِ وَهُوَ اِصْطِلاَحًا مَا لاَ يُعْقَلُ مَعْنَاهُ عِبَادَةً كَانَ أَوْ غَيْرَهَا أَوْ لِتَفَجُّعِهَا عَلَى زَوْجٍ وَشُرِعَتْ اَصَالَةً صَوْنًا لِلنَّسَبِ عَلَى اْلاِخْتِلاَطِ

“Iddah secara syar’i adalah masa penungguan oleh perempuan untuk mengetahui bersihnya rahim atau untuk tujuan ta’abbudi yang secara istilahi merupakan sesuatu yang  pengartiannya tidak bisa dirasionalisasikan, baik bersifat ibadah murni ataupun lainnya, atau untuk berbelasungkawa atas kematian suaminya. Dan iddah pada dasarnya disyaraitakan untuk melindungi keturunan dari ketercampuran (dengan bibit dari lelaki lain)”

Nah, dari penjelasan singkat ini sebenarnya dapat dipahami bahwa perempuan yang cerai harus menjalani masa iddah, meskipun bersihnya rahim sudah dapat diketahui sebelum selesai masa iddahnya.

Alasan yang dapat dikemukakan dalam konteks ini adalah bahwa iddah bukan semata-mata hal yang bersifat ta’aqquli seperti mengetahui bersihnya rahmi, tetapi juga bersifat ta’abbudi atau bernilai ibadah sehingga iddah harus dijalani sampai selesai pada waktu yang telah ditentukan.

Sesuatu yang masuk dalam kategori yang bersifat bersifat ta’abbudi itu tidak bisa dikutak-katik. Karena pada dasarnya dalam soal ibadah kita hanya mengikuti petunjuk yang sudah ditetapkan, tanpa harus mempertanyakannya.

Jadi, dua hal ini yaitu ta’aqquli dan ta’abbudi menjadi sesuatu yang melekat pada diri iddah sendiri. Dan keduanya tidak perlu dipertentangkan. Dua  model pendekatan inilah yang kemudian digunakan oleh para ulama untuk menjelasakan persoalan kenapa perempuan yang cerai meski sudah sudah diketahui rahimnya bersih sebelum masa iddahnya selesai masih harus menyelesaikan masa iddah sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga penjelasan singkat ini bisa memadai sebagai jawaban atas pertanyaan di atas.    

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb
(Mahbub Ma’afi Ramdlan)