IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Bolehkah Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Toilet?

Selasa 6 Januari 2015 5:1 WIB
Share:
Bolehkah Membawa HP Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Toilet?

السلام عليكم ورحمة الله وبركات. Pak ustadz. Ada satu hal yang mengganjal di hati saya, apa hukum menyimpan aplikasi al-Qur’an di hp mengingat hp adalah barang yang selalu saya bawa kemana-mana bahkan ke kamar kecil. Apakah saya berdosa...Terima kasih atas jawabannya.<>

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Trisa, Sidoarjo)

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Penanya yang budiman, Al-Qur’an adalah Kalam Allah SWT  yang merupakan mu’jizat bagi Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushhaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Begitu defenisi Al-Qur’an  menurut Dr. Subhi Sholih.

Sebagai kitab suci, terdapat beberapa aturan untuk menyimpan dan memegangnya. Di antaranya, diri kita harus dalam keadaan suci dari hadats jika hendak memegang Al-Qur’an. Kemudian, Al-Qur’an  harus diletakkan di tempat yang layak sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya. Oleh karena itu Ulama melarang membawa Al-Qur’an  dibawa ke dalam toilet. Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitab Mughnil Muhtaj hal. 155 mengutip pendapat Imam Al-Adzra’i ;

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

Artinya : Imam Al-Adzra’i berkata : pendapat yang tepat adalah haram membawa Mushhaf dan semisalnya ke dalam toilet tanpa dhorurot. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap Mushhaf.

Di sini perlu diperjelas tentang Mushhaf yang dimaksud dalam kutipan di atas. Imam Nawawi Banten mengatakan tentang batasan Mushhaf ; Yang dimaksud dengan Mushhaf adalah setiap benda yang di sana terdapat sebagian tulisan dari Al-Qur’an yang digunakan untuk dirosah (belajar) seperti kertas, kain, plastik, papan, tiang, tembok dan sebagainya.(lihat Nihayatuz Zain hal. 32).

Masalahnya kemudian, sekarang banyak Software Al-Qur’an  yang terdapat dalam PC, laptop dan Handphone/Smartphone yang bisa kita baca dan juga bisa kita gunakan untuk belajar. Apakah Software tersebut dihukumi seperti Mushhaf dan bagaimana hukum membawanya ke dalam toilet? Dalam hal ini, ulama kontemporer menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana yang terdapat dalam fatwa-fatwa kontemporer yang dikompilasikan dalam kitab Mauqi’ul Islam, Sual wa jawab hal. 53 ;

ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺠﻮﺍﻻﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﺿﻊ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﺗﺴﺠﻴﻼ، ﻻ ﺗﺄﺧﺬ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻟﻤﺴﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﺨﻼﺀ ﺑﻬﺎ، ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﻟﻴﺲ ﻛﻜﺘﺎﺑﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ، ﻓﻬﻲ ﺫﺑﺬﺑﺎﺕ ﺗﻌﺮﺽ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﻝ ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺣﺮﻭﻓﺎ ﺛﺎﺑﺘﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﻣﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻏﻴﺮﻩ

Artinya: Handphone atau Smartphone yang di dalamnya terdapat Al-Qur’an  baik yang tampak sebagai tulisan atau berupa audio tidak dihukumi sebagai mushhaf. Oleh karena itu boleh memegangnya dalam keadaan hadats dan juga boleh membawanya ke dalam toilet. Ini disebabkan tulisan Al-Qur’an  yang tampak di HP/Smartphone tidak seperti tulisan dalam Mushhaf, tulisan tersebut adalah getaran listrik atau pancaran sinar yang bisa nampak dan bisa hilang serta bukan merupakan huruf yang tetap. Lebih dari itu, dalam HP/Smartphone terdapat banyak program atau data selain Al-Qur’an.

Penanya yang dirahmati Allah, dari penjelasan di atas bisa dilihat bahwa membawa HP yang di dalamnya terdapat software Al-Qur’an hukumnya BOLEH. Akan tetapi kita harus menghormati Al-Qur’an  sebisa mungkin dengan tidak membuka software Al-Qur’an  ketika di dalam toilet.

Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan jawaban ini memberi manfaat bagi kita semua. Semoga kita senantiasa diberi taufiq dan hidayah oleh Allah SWT. untuk selalu membaca Al-Qur’an  dan semoga Allah SWT menjadikan Al-Qur’an  sebagai petunjuk, rahmat dan cahaya bagi kita. Aamiin…

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya’ Ulumuddin

 

Share:
Senin 5 Januari 2015 14:1 WIB
Status Hukum Harta Koruptor
Status Hukum Harta Koruptor

Assalamu'alaikum wr wb. Saya Anang Saeful Anwar, santri di Buntet Pesantren Cirebon. Saya ingin bertanya kepada dewan asatidz PBNU,. Saya membaca berita yang beredar di media cetak ataupun elektronik mengenai harta milik Koruptor-koruptor itu dilelang oleh pemerintah. Contoh saja kasusnya Gayus Tambunan, Jaksa Agung melelang harta milik terpidana kasus korupsi pajak itu. Pertanyaanya, apakah hukum dari harta-harta tersebut? Menurut syar'i dan fiqih? Apakah diperbolehkan dilelang?<>

Wa’alaikum salam wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. sebagaimana yang kita ketahui bahwa dilihat dari cara kerjanya, korupsi masuk dalam kategori pencurian. Pencurian dalam hal ini adalah pencurian uang negara dan rakyat, yang bisa dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Karena dampak negatif yang ditimbulkan praktik korupsi oleh para koruptor, maka ia dikategorikan sebagai bentuk kejahatan luar biasa. Dan dalam pandangan syariat Islam masuk kategori ghulul (pengkhinanat tingkat tinggi) terhadap amanat rakyat. Sedang ghulul itu sendiri sebagai salah satu dosa besar.

Sebelum kami menjawab pelelangan harta koruptor oleh negara maka terlebih dahulu harus dipertanyakan, apakah negara memiliki hak untuk menyita harta koruptor? Harta koruptor dalam pandangan kami bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu harta yang memang terbukti dihasilkan dari korupsi, harta yang tidak jelas, dan harta yang memang dihasilkan bukan dari korupsi seperti harta warisan dan lain-lain.

Untuk kategori kedua, maka pihak koruptor harus membuktikan bahwa harta tersebut bukan harta hasil korupsi. Mislanya dengan cara pembuktian terbalik. Kategori ketiga, yaitu harta yang telah terbukti bukan hasil korupsi maka harta tersebut menjadi haknya dan negara tidak boleh menyita atau merampas.

Sedangkan untuk kategori pertama, yaitu harta yang memang terbukti sebagai hasil koruspi harus dikembalikan kepada negara karena merupakan kekayaan negara.

Begitu harta lainya di mana si koruptor tidak bisa membuktikan bahwa harta tersebut bukan dari hasil korupsi. Jika tidak mau, maka negara berhak untuk menyita harta tersebut. Penyitaan terhadap harta koruptor itu sendiri tidak dengan serta menggugurkan hukuman yang lainnya, seperti potong tangan atau hukuman

وَعَلَى السَّارِقِ رَدُّ مَا سَرَقَ - وَإِنْ قُطِعَ لِخَبَرِ عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَهُ وَلِأَنَّ الْقَطْعَ حَقُّهُ تَعَالَى وَالْغُرْمَ حَقُّ الْآدَمِيِّ فَلَمْ يُسْقِطْ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، وَمِنْ ثَمَّ لَمْ يَسْقُطْ الضَّمَانُ وَالْقَطْعُ عَنْهُ بِرَدِّهِ الْمَالَ لِلْحِرْزِ

“(Wajib bagi pencuri mengembalikan apa yang telah ia curi) meskipun tanganya telah dipotong karena ada hadits hasan yang menyatakan: ‘Wajib atas tangan bertanggungjawab terhadap apa yang telah diambilnya sehingga ia mengembalikannya’. Sebab, potong tangan itu hak Allah, sedang al-ghurm (hutang, denda, dll) itu hak adami. Karenanya, salah satu dari keduanya (potong tangan dan al-ghurm) tidak bisa saling menggugurkan. Dari sinilah maka kewajiban menanggung atas apa yang dicuri dan dipotong tangannya, dengan mengembalikan harta yang dicuri ke tempat penyimpanan semula (al-hirz) tidaklah gugur”. (Syamsuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, 1404 H/1984 M, juz, 7, h. 465-466)   

Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa status harta koruptor, yang terbukti dihasilkan dari korupsi menjadi milik negara. Oleh sebab itu harus dikembalikan kepada negara. Jika pelaku tidak mau mengembalikan,  maka negara berhak menyita atau merampasnya.

Jika demikian maka negara memiliki hak untuk memperlakukan harta tersebut sepanjang mengandung kemaslahatan umum. Pertanyaan selanjutnya, apakah negara boleh melelangnya? Jawabnya tentu bisa sepanjang itu membawa kemaslahatan umum, dan hasil lelang tersebut harus dikembalikan ke kas negara dan digunakan untuk kepenting rakyat itu sendiri.

Memang ada perdebatan para ulama mengenai status hukum jual-beli lelang (ba’i al-muzzyadah). Tetapi sepanjang yang kami ketahui mayoritas ulama sepakat membolehkannya. Misalnya Muhyiddin Syarf an-Nawawi. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan beliau dalam kitab Raudlah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin:


فَأَمَّا مَا يُطَافُ بِهِ فِيمَنْ يَزِيدُ وَطَلَبَهُ طَالِبٌ فَلِغَيْرِهِ الدُّخُولُ عَلَيْهِ وَالزِّيَادَةُ فِيهِ وَإِنَّمَا يَحْرُمُ إِذَا حَصَلَ التَّرَاضِي صَرِيحًا

“Mengenai barang yang diputarkan (ditawarkan) kepada orang yang berani membayar lebih, sedangkan sudah ada orang yang berminat (dan sudah memberikan tawaran), maka bagi orang lain boleh bergabung dan mengajukan harga yang lebih tinggi. Karena yang diharamkan adalah ketika dengan jelas telah terjadi kerelaan antara pihak penjual dan pembeli”. (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Raudlah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Bairut-al-Maktab al-Islamiy, 1305 H, juz, 3, h. 413)

Apa yang dikemukan imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi dengan kasat mata menunjukkan kebolehan praktik jual-beli secara lelang. Namun, jika barang yang dilelang tersebut sudah dimenangkan oleh salah seorang peserta dan si penjual dengan tegas menyatakan setuju, kemudian ada orang lain yang datang dan memberikan tawaran yang lebih tinggi maka dalam hal ini tidak diperbolehkan.    

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga apa yang kami kemukakan bisa membawa manfaat yang berarti. Saran kami, jangan enggan untuk memberikan masukan, saran, dan kritik jika dalam jawaban kami dianggap keliru.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb
(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Ahad 4 Januari 2015 13:7 WIB
Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir
Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Assalamu alaikum wr. wb. Yth Redaksi. Ssaya seringkali mengantuk ketika sedang shalat ataupun berzikir, padahal sebelumnya saya sama sekali tidak mengantuk. Apakah hal ini termasuk gangguan setan? Dan bagaimana cara mengobati "penyakit" tersebut? Terima kasih.
Wassalamu alaikum wr.wb. (Ega Prasetya Noor)<>

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh

Saudara Ega Prasetya Noor yang terhormat.
Rasa kantuk mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Dengan adanya rasa kantuk yang berdampak pada tidur, seseorang akan dapat mengembalikan staminanya setelah sekian lama beraktifitas. Dengan tidur pula orang akan dapat berisitirahat dari keletihan dan kelelahan saat bekerja. Hal ini merupakan dampak positif dari adanya rasa kantuk yang menghinggapi mata manusia.

Penyebab ngantuk sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah akibat mulai letihnya syaraf mata dan otak yang bekerja, hingga akhirnya menjadikan pikiran kurang fokus. Selain itu anemia atau sering juga disebut kurang darah, diabetes, depresi, dehidrasi (kurang cairan) dan gangguan tidur yang lain juga dapat menjadikan rasa kantuk seseorang kian bertambah.

Namun mengingat pertanyaan yang anda sampaikan tidak mengarah kepada sebab-sebab yang telah kami kemukakan, dengan bukti bahwa rasa kantuk muncul pada saat shalat atau dzikir saja, kami lebih menilai bahwa hal itu terjadi karena kurangnya niat maupun tekad untuk lebih fokus pada aktifitas yang dilaksanakan (shalat atau dzikir). Bisa juga memang syetan sedang menjalankan aktifitasnya untuk mengganggu anda dalam menunaikan ibadah.

Ar-razi, Ibnu Katsir serta para mufassir lainnya ketika menafsirkan ayat 154 surat Ali ‘Imron banyak yang mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan bahwa rasa kantuk yang menghinggapi manusia saat shalat berasal dari syetan. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Muhammad bin Umar atau yang sering dikenal dengan Fahruddin Ar-Razi mengatakan:


وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ: النُّعَاسُ فِي الْقِتَالِ أَمَنَةٌ، وَالنُّعَاسُ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ فِي الْقِتَالِ لَا يَكُونُ إِلَّا مِنْ غَايَةِ الْوُثُوقِ بِاللَّهِ وَالْفَرَاغِ عَنِ الدُّنْيَا، وَلَا يَكُونُ فِي الصَّلَاةِ إِلَّا مِنْ غَايَةِ الْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ

Artinya: dari Ibnu Mas’ud: “Mengantuk ketika dalam kondisi perang dapat menjadikan rasa aman (bagi tentara yang berperang), sedangkan rasa kantuk dalam shalat adalah dari syetan. Hal itu dikarenakan rasa kantuk saat berperang hanya terjadi ketika ia (seorang tentara) telah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah secara total dan ia juga tidak peduli lagi dengan urusan duniawi. Sementara kantuk dalam shalat hanya terjadi apabila seseorang jauh (lupa) dengan Allah.”

Saudara penanya yang disayangi Allah. Dari uraian diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk yang terjadi ketika sedang shalat atau dzikir:

Pertama, selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syetan (sering membaca ta’awwudz).

Kedua, kuatkan niat dan tekat untuk lebih fokus mengingat Allah ketika sedang shalat atau berdzikir.

Ketiga, lebih baik lagi apabila anda sering memperbarui wudhu (tajdid al-wudhu) menjelang shalat dan dzikir, agar siraman air yang mengguyur wajah serta sebagian anggota tubuh anda dapat menambah kesegaran dan kebugaran kondisi fisik saat beribadah kepada Allah swt.

Mudah-mudahan aktifitas ibadah yang akan kita lakukan semakin bertambah baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Amin. (Maftukhan)

Ilustrasi: Anggota DPR mengantuk saat sidang

Kamis 1 Januari 2015 12:1 WIB
Bolehkan Menghentikan Shalat Sunnah Saat Muadzin Iqomah?
Bolehkan Menghentikan Shalat Sunnah Saat Muadzin Iqomah?

Assalamu'alaikum wr wb. Redaksi nu.or.id yang terhormat. Seingat saya, sudah tiga kali ini di masjid yang berbeda-bedam saya melihat ada jamaah yang sedang melaksanakan ibadah shalat qobliyah, begitu terdengar iqomah oleh muadzin dia langsung menghentikan shalatnya.<> Padahal salatnya belum selesai, baru dapat satu rakaat dari dua rakat yang semestinya. Menghentikan salat sunnah saat mendengar iqomah, apakah diperbolehkan? Mohon penjelasannya. Matur nuwun. (Hanif/Yogyakarta)  

 

Wa'alaikum salam wr wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa hukum Islam yang kita pahami selama ini ada lima, yaitu yang seharusnya dilakukan disebut wajib, yang sebaiknya dilakukan disebut sunnah, yang seharusnya ditinggalkan disebut haram, yang sebaiknya ditinggalkan disebut makruh, dan yang boleh ditinggalkan maupun dikerjakan disebut mubah.

Sedangkan shalat qabliyah masuk dalam kategori sunnah. Artinya, shalat tersebut sebaiknya dikerjakan, meskipun kalau ditinggal juga tidak apa-apa. Dalam pelaksanaan shalat qabliyah memang terkadang mengalami kendala. Seperti baru dijalankan satu rakaat, tiba-tiba muadzin mengumandangakan iqamah. Apakah meneruskan shalat sunnah qabliyah atau menghentikannya kemudian ikut melakasanaan shalat fardlu berjamaah.

Sepanjang yang kami ketahui memang ada hadits yang menyatakan bahwa ketika shalat didirikan maka tidak ada shalat yang sempurna kecuali shalat maktubah. Hadits ini diriwayatkan Abu Hurairah ra.

  إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ

“Ketika shalat didirikan maka tidak shalat yang sempurna kecuali shalat maktubah”

Apa yang dimaksudnya dengan ‘ketika shalat didirikan’ dalam hadits tersebut adalah ketika iqamah dikumangkan oleh muadzzin. Dengan kata lain, ketika muadzin mengumandangan iqamah maka tidak ada shalat yang sempurna kecuali shalat maktub. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi.

قُلْتُ اَلْمُرَادُ بِإِقَامَةِ الصَّلَاةِ فِي قَوْلِهِ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ اَلْاِقَامَةُ الَّتِي يَقُولُهَا الْمُؤَذِّنُ عِنْدَ إِرَادَةِ الصَّلَاةِ

“Saya berpendapat bahwa yang dimakasudkan mendirikan shalat dalam sabda Rasulullah sawa, ‘Ketika shalat didirikan’ adalah iqamah yang dikumandangan muadzin ketika hendak menjalankan shalat”(Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at-Tirmidzi, Baerut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz, 2, h. 402)

Dengan hadits ini maka kalagan madzhab syafi’i berpendapat bahwa dimakruhkan bagi orang yang hendak menjalankan shalat memulai melakukan shalat sunnah, baik shalat sunnah rawatib, tahiyat masjid atau shalat sunnah yang lainnya ketika iqamah mulai dikumandangan.   

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْاَصْحَابُ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ كُرِهَ لِكُلِّ مَنْ اَرَادَ الْفَرِيضَةَ اِفْتِتَاحُ نَافِلَةٍ سَوَاءٌ كَانَتْ سُنَّةً رَاتِبَةً لِتِلْكَ الصَّلَاةِ أَوْ تَحِيَّةَ مَسْجِدٍ أَوْ غَيْرَهَا لِعُمُومِ هَذَا الْحَدِيثِ

“Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa ketika shalat didirika  (iqamah dikumandangankan) maka dimakruhkan bagi setiap orang yang hendak shalat fardlu memulai shalat sunnah, baik shalat sunnah rawatib, shalat tahiyyat masjid atau selainnya karena keumuman makna yang dikandung hadits ini.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz, 4, h. 222)

Namun penjelasan ini tidak bisa menjawab pertanyaan di atas. Sebab, shalat sunnah qabliyah tersebut dijalankan pada saat belum dimulai iqamah. Di samping itu ada ketidaktahuan dari orang menjalankan shalat qabliyah bahwa iqamah akan segera dimulai. Dengan kata lain, ketika ia menjalankan shalat qabliyah, tiba-tiba muadzin mengumandangan iqamah, padahal baru satu rakaat.

Dalam kasus ini maka sebaiknya (sunnah) menyempurnakan shalat qabliyah, dengan catatan bahwa ia yakin akan bisa mengikuti shalat jamaah sebelum imam salam. Namun jika ia khawatir dengan menjalankan shalat qabliyah tidak bisa mengikuti shalat jamaah, maka sebaiknya menghentikan shalatnya, kemudian ikut berjamaah karena lebih utama dari pada shalat sunnah qabliyyah.            

وَكُرِهَ ابْتِدَاءُ نَفْلٍ بَعْدَ شُرُوعِ الْمُقِيمِ فَإِنْ كَانَ فِي النَّفْلِ أَتَمَّهُ إنْ لَمْ يَخْشَ بِإِتْمَامِهِ  فَوْتَ جَمَاعَةٍ بِسَلَامِ الْإِمَامِ وَإِلَّا نُدِبَ لَهُ قَطْعُهُ وَدَخَلَ فِيهَا لِأَنَّهَا أَوْلَى مِنْهُ

“Dan dimakruhkan (bagi orang yang hendak menjalankan shalat wajib) memulai melakukan shalat sunnah setelah al-muqim (orang yang melakukan iqamah) mulai mengumandangkan iqamah. Namun jika ia (orang yang hendak menjalankan shalat wajib) sedang menjalankan shalat sunnah, maka sebaiknya (sunnah) menyempurnakan shalatnya, sepanjang tidak khawatir tertinggal jamaah karena salamnya imam. Namun apabila khawatir, maka disunnahkan menghentikan shalatnya, kemudian ikut berjamaah karena lebih utama dari pada shalat sunnah”. (Muhammad Khatib asy-Syarbini, al-Iqna` fi Halli Alfazhi Abi Sujja`, Bairut-Dar al-Fikr, 1415 H, juz, 1, h. 169) 

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bermanfaat, dan jika Anda menemukan kasus yang serupa maka bersikaplah bijak, dan tak perlu mempersoalkan dengan keras.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)