IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Rabu 4 Februari 2015 12:46 WIB
Share:
Obat dengan Bahan Semut, Cacing, dan Undur-undur

Assalamu'alaikum wr wb. Ustadz yang saya hormati, di tempat saya ada beberapa orang yang menjual obat herbal dimana bahan pokoknya adalah semut, cacing dan undur-undur.<> Bagaimana sebetulnya Islam mengatur hal ini, adakah dalil yang mendasari kehalalannya berobat dengan bahan-bahan demikian? Lalu bagaimana hukum budi daya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan? Atas penjelasannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalam.

Achsib surabaya.

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Achsib, mudah-mudahan Allah selalu menaungi kehidupan anda dengan ridha dan kasih sayang-Nya.

Pada dasarnya Islam telah mengatur apa saja yang boleh dikonsumsi ataupun dihindari oleh umatnya. Hal ini tentu saja berlaku pada makanan, minuman, obat-obatan serta berbagai penunjang kebutuhan manusia lainnya. Prinsip yang dikembangkan oleh Islam adalah menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk dampaknya bagi keberlangsungan kehidupan manusia secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah surat al-A’raf ayat 157:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Artinya: dan Nabi yang ummi serta didapati dalam kitab Taurat dan Injil tersebut (Rasulullah saw) menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.

Ayat diatas kemudian dijabarkan oleh Rasulullah saw melalui hadis-hadis beliau yang cukup banyak dan kemudian ditafsiri oleh generasi setelahnya dengan berbagai macam penafsiran.

Saudara penanya yang kami hormati, sebelum menanggapi pertanyaan yang saudara sampaikan, ada baiknya apabila kita mengetahui pandangan para ilmuwan Islam (ulama) mengenai status kehalalan maupun keharaman hewan-hewan ini mengingat konsekuensi yang akan muncul dari tiap-tiap pendapat tentu akan berbeda.

Semut, cacing, dan undur-undur dalam istilah biologi termasuk hewan yang tidak mempunyai tulang belakang atau tulang punggung (Avertebrata/invertebrata), sementara dalam bahasa Arab ketiga jenis hewan ini dimasukkan dalam kategori serangga (al-hasyarat). Khusus untuk Semut hampir mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan ini haram dimakan karena termasuk salah satu hewan yang dilarang oleh Nabi untuk dibunuh. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud bersumber dari Ibnu Abbas Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ: النَّمْلَةُ، وَالنَّحْلَةُ، وَالْهُدْهُدُ، وَالصُّرَدُ

Artinya: Dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw melarang untuk membunuh empat binatang: semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurod.”

Hadis di atas kemudian dijadikan dasar oleh para ulama mengenai tidak diperbolehkannya semut untuk dikonsumsi sebagai makanan, meskipun masih banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa jenis semut yang dilarang untuk dibunuh hanyalah satu jenis semut tertentu.

Sementara untuk kedua jenis binatang lainnya (cacing dan Undur-undur), para ulama terbagi dalam dua kelompok:

Kelompok pertama berpandangan bahwa kedua jenis hewan ini termasuk dalam kategori al-hasyarat ( serangga) dan hukumnya haram (tidak boleh dimakan) dengan alasan menjijikkan (al-khabaist). Ulama yang berpendapat demikian diantaranya adalah Imam Abu Hanifah dan asy- Syafi'i.

Kelompok kedua dipelopori oleh Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Auza'i berpendapat bahwa al-hasyarat hukumnya halal.

Selanjutnya mengenai tentang boleh tidaknya berobat dengan hal-hal yang haram, para ulama’ dengan berbagai argumentasi yang mereka kemukakan, berbeda pendapat menjadi empat:

1. Pendapat pertama menyatakan boleh berobat dengan yang haram dalam keadaan darurat (kritis) dan tidak ditemukan obat lain.
2. Pendapat kedua menyatakan haram secara mutlak.
3. Pendapat ketiga menyatakan dalam kondisi darurat boleh berobat dengan yang haram/najis, kecuali khamar.
4. Pendapat keempat menyatakan tidak haram menggunakan obat dari jenis-jenis serangga meskipun menjijikkan.

Dari keempat pendapat ini tentunya akan berdampak pula pada jawaban atas pertanyaan berikutnya dari saudara yakni hukum budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan untuk diperjualbelikan. Di antara para ulama ada yang membolehkan disamping juga ada yang tidak memperbolehkan.

Untuk masalah ini sebenarnya Muktamar ke-30 NU di Lirboyo tahun 1999 telah menjelaskan secara terperinci. Dalam hal ini kami lebih cenderung mengikuti pendapat yang memperbolehkan budidaya hewan-hewan tersebut dengan tujuan diperjualbelikan. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Amin. (Maftukhan).

Share:
Jumat 30 Januari 2015 10:1 WIB
Hukum Menutupi Aib pada Calon Suami
Hukum Menutupi Aib pada Calon Suami

Assalamu’alaikum wr. wb. Ustad, saya dan teman-teman sering memperbincangkan pergaulan anak remaja sekarang, dan suat waktu keluar pertanyaan dari teman saya, apakah seorang perempuan yang sudah tidak perawan tetapi tidak hamil nanti ketika akan menikah harus mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada calon suaminya, atau malah harus menutup-nutupi aib tersebut? Terimakasih, wassalamu’alaikum wr. wb. (Niskha /Semarang) <>

 

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Aib itu adalah sesuatu yang memalukan, dan sudah semestinya ditutupi. Dalam hadits Nabi saw yang sering kita dengar adalah, barang siapa yang menutupi aib saudaranya sesama muslim maka akan Allah tutupi aibnya kelah pada hari kiamat.

Namun bagaimana dengan aib sendiri, seperti ketidakprawanan seorang perempuan yang disebabkan melakukan hubungan badan dengan kekasihnya, kemudian putus hubungan dengannya. Lalu, ada laki-laki lain yang mencintai si perempuan tersebut dan siap menikahinya. Apakah si perempuan itu sebaiknya menceritakan aibnya apa tidak.

Dalam kitab I’anah ath-Thalibib terdapat keterangan yang menyatakan bahwa orang yang zina dan orang yang melakukan kemaksiatan disunnahkan untuk menutupi perbuatannya. Alasan yang dikemukakan adalah terdapat hadits yang menyatakan bahwa barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang keji maka hendaknya ia menutupinya dengan tutup Allah swt.

وَاعْلَمْ أَنَّهُ يُسَنُّ لِلزَّانِي وَلِكُلِّ مَنِ ارْتَكَبَ مَعْصِيِّةً أَنْ يَسْتُرَ عَلَى نَفْسِهِ لِخَبَرِ مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللهِ تَعَالَى

“Ketahuilah bahwa disunnahkan bagi pelaku zina dan setiap orang melakukan kemaksiatan untuk menutupinya dirinya karena ada hadits yang menyatakan, ‘Barang siapa yang melakukan satu perbuatan keji maka hendaknya ia menutupi dengan tutup Allah swt”. (Abu Bakr Ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 4, h. 147)

Bahkan menurut penulis kitab at-Tamhid yaitu Ibnu Abd al-Barr, salah seorang ulama kenamaan dari madzhab maliki menyatakan bahwa ketika seorang muslim melakukan perbuatan keji (fahisyah) wajib baginya menutupi dirinya, begitu juga wajib menutupi orang lain.

Dalam pandangan Ibnu Abd al-Barr perintah untuk menutupi perbuatan keji dipahami sebagai perintah wajib, bukan sunnah seperti pandangan penulis kitab I’anah ath-Thalibin. Demikian ini sebagaimana dikemukakan Muhammad bin Yusuf bin Abi al-Qasim al-Abdari penulis kitab at-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil.

 قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَصَابَ مِنْ مِثْلِ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ  قَالَ فِي التَّمْهِيدِ : فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ السِّتْرَ وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ إذَا أَتَى فَاحِشَةً ، وَوَاجِبُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي غَيْرِهِ

“Rasulullah saw bersabda, ‘Barang siapa yang melakukan sesuatu dari yang semisal perbuatan yang keji, maka hendaknya ia menutupinya dengan tutup Allah. Dalam kitab at-Tamhid, Ibnu Abd al-Barr berkata, bahwa dalam hadits ini terdapat petunjuk yang menunjukkan bahwa ketika seorang muslim melakukan perbuatan yang keji wajib baginya menutupinya, dan begitu juga menutupi orang lain” (Muhammad bin Yusuf bin Abi al-Qasim al-Abdari, at-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil, Bairut-Dar al-Fikr, 1398 H, juz, 6, h. 166)  

Dengan mengacu pada penjelasan di atas, maka sebaiknya si perempuan tersebut tidak menceritakan aibnya sendiri kepada calon suaminya. Bahkan menurut pendapat Ibnu Abd al-Barr menyatakan wajib menutupinya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa menjadi solusi yang baik atas persoalan yang ada. Setiap orang mempunyai masa lalu. Berusahalah sebisa mungkin untuk menutupi aib kita dan orang lain, segera bertaubat, dan perbanyak istighfar.

 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Senin 26 Januari 2015 8:30 WIB
Pakaian Hasil Laundry yang Suci untuk Shalat
Pakaian Hasil Laundry yang Suci untuk Shalat

Assalamu'alaikum wr. wb. Segenap pengurus NU yang saya hormati, bagaimana status pakaian yang dicuci di laundry? Apakah pakaian tersebut suci dan boleh digunakan untuk shalat atau tidak suci dan tidak boleh digunakan untuk shalat? <>

Cara mencuci pakaian di laundry menggunakan air yang sedikit dan tidak mengalir, sehingga mungkin saja najis yang ada pada satu pakaian bisa menyebar ke pakaian yang lain. Bagaimana status mencuci pakaian di laundry ini, apakah suci atau tidak? Kami tunggujawabannya. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum wr.wb. (Dika Darojat)

 

Wa’aalaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Dika Darojat yang mudah-mudahan selalu dalam naungan ridha dan kasih sayang Allah, Bisnis yang bergerak di bidang pelayanan jasa akhir-akhir ini cukup memikat hati masyarakat. Banyak diantara mereka yang berinvestasi dalam bidang jasa terutama dikota-kota besar tak terkecuali jasa laudry (pencucian baju). Fenomena ini tentunya cukup menggembirakan roda perekonomian bangsa kita yang sedang giat-giatnya mengembangkan sektor usaha kecil dan menengah bagi warganya.

Jasa pencucian baju (laundry) sebagaimana pertanyaan saudara Dika Darojat juga perlu mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Namun yang lebih penting dari itu adalah perhatian pelaku bisnis yang tidak lain adalah pengelola laundry atas kesucian dan kebersihan hasil cuciannya demi menjaga eksistensi dan kepercayaan pelanggan atas bisnis yang digelutinya.

Jadi yang perlu diperhatikan bukan sekedar rapi dan harum. Bersih dan suci, itulah dua standar yang selayaknya diterapkan dalam proses pembersihan dan penyucian dari tiap kotoran dan najis. Suci namun tidak bersih dimata manusia nampak kurang begitu dihargai, seperti pakaian yang lusuh namun suci. Sementara bersih saja tanpa unsur suci dalam pandangan syara’ juga tidak sah untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu seperti shalat.

Saudara penanya yang kami hormati. Menanggapi pertanyaan dari saudara, kami perlu membuat perincian sebagai berikut: 1. Apabila pakaian yang dilaundry itu tidak ada yang najis atau terkena najis maka hasil cuciannya suci, tanpa perlu memperhatikan proses perendaman baju (kecuali apabila dalam proses perendaman ada benda najis atau terkena najis dari dalam mesin dan belum sempat dihilangkan serta disucikan).

2. Apabila pakaian/cucian terdapat najis atau terkena najis maka najis yang ada atau yang melekat harus dihilangkan terlebih dahulu, baru kemudian diadakan proses penyucian. Apabila diperlukan pemisahan antara pakaian yang terkena najis dengan yang tidak, maka hal itu juga sangat baik untuk dilakukan.

Dalam pandangan fiqih terutama madzhab Syafi’i, setelah ‘ainiyah (materi) najis hilang, proses berikutnya yakni penyucian baju atau pakaian yang terkena najis (mutanajjis) seperti pakaian harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya adalah adanya aliran air yang menembus dan mengalir ke setiap sisi bekas najis. Dalam kitab Fahul-Qarib dinyatakan:

ويشترط في غسل المتنجس ورودُ الماء عليه إن كان قليلا، فإن عكس لم يطهر. أما الماء الكثير فلا فرق بين كون المتنجس واردا أو مورودا

Artinya: Dalam mencuci benda yang terkena najis disyaratkan air mengalir pada benda tersebut (diguyurkan). Hal ini belaku pada air yang sedikit (volume airnya kurang dari +/200 liter), apabila sebaliknya (air ada terlebih dahulu kemudian benda( dalam hal ini pakaian) yang terkena najis dicelupkan ke dalamnya), maka belum dinyatakan suci. Jika air itu banyak, maka tidak disyaratkan aliran air pada benda (pakaian tersebut).

Persyaratan proses penyucian yang demikian, sekali lagi mengacu pada madzhab Syafi’i dan hal ini tentunya lebih mengedepankan kehati-hatian dalam memandang status suci tidaknya hasil cucian. Pendapat dari madzhab lain mungkin saja berbeda dengan yang kami kemukakan.

Saudara Dika yang kami muliakan. Intisari dari jawaban ini sebenarnya lebih mengarahkan agar para pengelola maupun pengguna mesin cuci lebih cermat dan teliti dalam mencuci pakaiannya. Guna lebih memastikan dan meyakinkan status kesucian pakaian yang dicuci, kami menyarankan agar dalam proses pembilasan terakhir sebelum pengeringan, diupayakan ada guyuran air yang mengaliri semua cucian baik melalui, kran, selang air (toler), gayung dan lain sebagainya. Beberapa mesin cuci yang dipakai laudry sekarang juga sudah langsung mengalirkan air bersih dari toler ke pakaian dan lalu ke pembuangan. Maka pastikan menggunakan jasa laundry yang terpercaya dan sesuai dengan kriteria yang telah dijelaskan di atas.

Mudah-mudahan jawaban ini dapat difahami dan diaplikasikan sebaik-baiknya. Amin. Wallahu a’lam. (Maftukhan)

Sabtu 24 Januari 2015 5:1 WIB
Hukuman Mati Bagi Bandar Narkoba
Hukuman Mati Bagi Bandar Narkoba

Assalamu’alaikum wr. wb. Baru-baru ini muncul kontrovesi mengenai hukuman mati bagi bandar narkoba. Ada pihak yang setuju, ada juga pihak yang tidak setuju. Yang ingin saya tanyakan, apakah boleh dalam pandanngan hukum Islam menghukum mati bandar narkoba? Kami mohon penjelasannya, dan atas penjelasannya kami ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Agus Triyono/ Jakarta)<>

 

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa narkoba merupakan momok yang menakutkan bagi kita semua karena besarnya dampak negatif yang ditimbulkan. Bahkan dilaporkan setiap hari ada 40 nyawa melayang akibat kegananas narkoba. Ini artinya setiap satu hari kita kehilangan 40 generasi bangsa kita, meregang nyawa sia-sia.

Memang tidak ada nash yang secara sharih menjelaskan tentang ketentuan hukuman had atau kafarat bagi bandar narkoba. Padahal bandar narkoba jelas merupakan aktor penting yang berperan sebagai penyedia barang haram yang telah memakan korban yang tidak sedikit, merusak generasi bangsa kita, dan menimbulkan efek negatif (mafsadah) yang luar biasa besarnya. 

Di dalam hukum Islam dikenal istilah ta’zir. Menurut kesepakatan para ulama, ta’zir merupakan hukuman yang disyariatkan atas pelanggaran atau kemaksiatan yang di dalamnya tidak terdapat ketentuan hukuman had dan kafarat. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ibnu Taimiyah.

  وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ التَّعْزِيْرَ مَشْرُوْعٌ فِيْ كُلِّ مَعْصِيَّةٍ لاَ حَدَّ فِيْهَا وَلاَ كَفَّارَةَ

“Para ulama telah sepakat bahwa hukuman ta’zir itu disyariatkan untuk setiap pelanggaran (ma’shiyah) yang tidak terdapat ketentuan hukuman had dan kafarat”. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatwa, Iskandaria-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005 M, juz, 30, h. 39). 

Pertanyaan penting yang harus diajukan di sini adalah apakah hukuman ta’zir diperbolehkan sampai pada taraf menghukum mati? Dalam pandangan kami, jelas diperbolehkan sepanjang pelanggaran yang dilakukan menimbulkan dampak negatif (mafsadah) yang massif. Bahkan memberikan hukuman ta’zir dengan cara menghukum mati pernah dilakukan pada masa sayyidina Umar bin al-Khaththab ra.

Sayyidina Umar bin al-Khaththab ra pernah mengumpulkan para sahabat senior yang alim dan mengajak mereka untuk mendiskusikan tentang hukuman yang setimpal bagi pelaku liwath. Mereka pun kemudian mengeluarkan fatwa agar pelakunya dihukum mati dengan cara dibakar.

…أَنَّ عُمَرَ جَمَعَ كِبَارَ عُلَمَاءِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَاسْتَشَارَهُمْ فِيْ عُقُوْبَةِ اللاَّئِطِ فَأَفْتَوْا بِإِعْدَامِهِ حَرْقًا، وَهَذَا مِنْ أَشَدِّ مَا يُتَصَوَّرُ فِيْ بَابِ التَّعْزِيْرِ

“…bahwa sayyidina Umar bin al-Khaththab ra mengumpulkan para sahabat senior yang alim dan mengajak mereka bermusayawarah mengenai hukuman yang layak bagi pelaku liwath. Kemudian mereka pun memberikan fatwa hukuman mati bagi pelaku tersebut dengan cara membakarnya. Model hukuman ini merupakan model yang paling mengerikan dalam bab hukuman ta’zir…” (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahbib al-Arba`ah, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 5, h. 249)

Berangkat dari penjelasan ini maka menghukum mati bandar narkoba itu jelas diperbolehkan dengan pertimbangan bahwa ia telah melakukan suatu tindak kejahatan yang membawa dampak negatif yang sangat luar biasa bagi kelangsungan kehidupan manusia.

Bahkan dalam beberapa kasus kami pernah mendengar bahwa para bandar narkoba yang tertangkap kemudian dipenjara, masih saja bisa menjalankan bisnisnya dari dalam penjara. Ini artinya hukuman penjara ternyata tidak bisa memberi efek jera. Dan sudah berang tentu hukuman mati pantas diberikan kepadanya. Sebab, kejahatan yang ia lakukan ternyata tidak dapat dicegah.

Nahdlatul Ulama sendiri dalam Muktamar ke-31 di Asrama Haji Donohudan-Boyolali-Jawa Tengah telah memutuskan kebolehan untuk menghukum mati bagi pemasok psychotropika dan narkotika. Alasan yang dikemukan dalam keputusan tersebut adalah karena menimbulkan mafsadah yang besar. (Lihat, Ahkam al-Fuqaha`, Khalista dan Lajnah Ta’lif Wan Nasyr, cet ke-1, 2011, h. 618-624)

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Dan sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk berperang melawan narkoba. Semua pihak harus saling bahu-membahu menyelamatkan generai bangsa ini dari ancaman narkoba. Karena ini juga merupakan bagian dari jihad di jalan Allah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)