IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Suami-Istri Bertengkar dan Mengancam Talak

Rabu 29 April 2015 5:0 WIB
Share:
Suami-Istri Bertengkar dan Mengancam Talak

Asslammualaikum wr. wb. Pak ustadz, di sini saya ingin menanyakan tentang status pernikahan saya karena dulu saya sering berantem sama istri, ada beberapa kata yang mengandung makna cerai misalkan:<>

  1. Kalau saya sudah puas menyakitimu saya akan ceraikan kamu. Nah di sini saya berhenti menyakitinya bukan karna saya puas tetapi saya menyesal, apakah sudah jatuh talak?
  2. Saya bilang sama dia kalau begini caranya kita pisah dulu aja intropeksi diri dulu masing-masing, tetapi hati saya bermaksud pisah ranjang bukan cerai, apakah sudah jatuh talak?
  3. Saya bilang ke istri saya, seperti ini, kamu mau berkata apa, mau bilang cerai lagi kamu pikir aku takut apa, terserah kamu saja, tapi hati saya tidak mau cerai, apakah sudah jatuh talak, pada saat itu saya memang belum tau tentang hukum talak, bagaimana tentang keabsahan pernikahan saya, tolong dibantu jawab pak ustad. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Iip)

 

--

 Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa pertengkaran dalam sebuah kehidupan rumah tangga merupakan hal lumrah sebagai bagian untuk mendewasakan masing-masing pasangan. Namun akan menjadi persoalan serius jika pertengkaran tersebut sering terjadi. Alih-alih sebagai proses pendewasaan diri, tetapi malah mengancam keharmonisan kehidupan tangga pasangan suami-isteri, yang ujungnya adalah perceraian atau talak.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa ada pelbagai macam talak. Dari sisi redaksi atau shigat yang digunakan, talak terbagi menjadai dua, yaitu sharih dan kinayah. Yang dimaksud dengan sharih adalah bahwa kata yang digunakan tidak mengandung makna lain kecauli talak. Seperti ucapan suami kepada isterinya, ‘kamu adalah orang yang tertalak, atau saya ceraikan kamu.

Sedang yang dimaksud kinayah dalam hal ini adalah bahwa kata yang digunakan bisa mengadung makna selain talak. Karenanya talak dalam hal ini memerlukan niat. Seperti ucapan suami kepada isterinya, ‘pulanglah kamu ke keluargamu’. Pernyataan ‘pulanglah kamu ke keluargamu’ bisa mengadung makna talak mau selainnya.    

Sedangkan talak di lihat sisi waktu terjadinya atau jatuhnya ada tiga yaitu, munajjaz, mudlaf, dan mu’allaq. Pertama, talak munajjaz adalah talak yang di dalam ungakapannya atau shigat-nya tidak digantungan dengan syarat tertentu atau dikaitkan dengan masa yang akan datang.

Singkatnya talak jenis ini adalah talak yang terjadi ketika pernyataan talak terucap. Seperti ucapan seorang suami kepada isterinya, ‘anti thaliq’ (kamu adalah orang yang tertalak). Atau dengan ungkapan, “pulanglah kamu ke rumah keluargamu” dimana ketika hal ini diucapkan pihak suami berniat menceraikannya.

 أَوَّلاً ـ اَلطَّلاَقُ الْمُنَجَّزُ أَوِ الْمُعَجَّلُ هُوَ مَا قُصِدَ بِهِ الْحَالُ، كَأَنْ يَقُولَ رَجُلٌ لِامْرَأَتِهِ: أَنْتِ طَالِقٌ، أَوْ مُطَلَّقَةٌ، أَوْ طَلَّقْتُكِ

“Pertama, talak munajjaz atau mu’ajjal yaitu talak yang ucapkan dan dimaksudkan terjadi ketika itu juga, seperti seorang suami berkata kepada isterinya, kamu adalah orang yang tertalak atau ditalak, atau saya ceraikan kamu” (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-10, juz, juz, 9, h. 416)

Kedua, talak mudlaf yaitu talak yang jatuhnya dikaitkan dengan waktu yang akan datang, seperti seorang suami mengatakan kepada isterinya, ‘awal bulan Januari kamu adalah orang yang tertalak’. Ini artinya talaknya jatuh ketika masuk pada bagian pertama dari awal bulan Januari.   

ثَانِياً ـ اَلطَّلَاقُ الْمُضَافُ هُوَ مَا أُضِيفَ حُصُولُهُ إِلَى وَقْتٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، كَأَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ طَالِقٌ غَداً، أَوْ أَوَّلَ الشَّهْرِ الْفُلَانِيِّ أَوْ أَوَّلَ سَنَةٍ كَذَا

“Kedua, talak mudlaf yaitu talak yang terjadinya dikaitkan kepada waktu yang akan datang, seperti seorang suami berkata kepada isterinya, ‘besok, atau awal bulan atau tahun kamu adalah orang yang tertalak” (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-10, juz, juz, 9, h. 416)

Ketiga, talak mu’allaq yaitu talak bersyarat, dan akan jatuh ketika perkara yang disyaratkan pada masa yang akan datang telah terpenuhi pada waktunya. Talak jenis ini menggunakan huruf syarat seperti in (jika) dan idza (ketika). Contohnya perkataan suaminya kepada isterinya, ‘jika kamu masuk rumah si fulan, maka kamu adalah orang yang tertalak’”. Contoh lain, ‘jika si fulan mengunjungimu maka kamu adalah orang yang tertalak’. Jadi ketika si isteri masuk ke rumah si fulan atau si fulan mengunjunginya maka saat itu juga talaknya jatuh.  

ثَالِثاً ـ اَلطَّلَاقُ الْمُعَلَّقُ هُوَ مَا رَتَّبَ وُقُوعُهُ عَلَى حُصُولِ أَمْرٍ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، بِأَدَاةٍ مِنْ أَدَوَاتِ الشَّرْطِ أَيْ التَّعْلِيقِ، مِثلُ إِنْ، وَإِذَا ، وَمَتَى، وَلَوْ وَنَحْوِهَا، كَأَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: إِنْ دَخَلْتِ دَارَ فُلَانٍ فَأَنْتِ طَالِقٌ

“Ketiga, talak mu’allaq yaitu talak yang jatuhnya akibat adanya perkara yang terjadi pada masa yang akan datang dengan menggunakan salah satu huruf syarat atau ta’liq, seperti in (jika), idza (ketika), mata (manakala), law (seandainya) dan lain sebagainya. Seperti seorang suami berkata kepada isterinya, ‘jika kamu masuk rumah si fulan maka kamu adalah orang yang tertalak’. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-10, juz, juz, 9, h. 418)

Berangkat dari penjelasan mengenai ragam talak dan jika ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas maka jawaban untuk pertanyaan pertama, di mana pihak suami mengatakan kepada isterinya, “kalau saya sudah puas menyakitimu saya akan ceraikan kamu”. Dan si suami pun berhenti menyakitinya, namun bukan karena puas tetapi menyesal dengan apa yang telah dilakukan, maka dalam konteks ini talaknya suami tidak jatuh.

Talak suami dalam hal ini adalah masuk kategori sebagai talak mu`allaq atau talak yang digantungkan dengan syarat. Sedangkan persyaratan yang disebutkan di dalam shigat talaknya tidak terpenuhi. Karenanya, talaknya tidak dianggap jatuh.

Begitu juga menyangkut jawaban untuk pertanyaan kedua di mana pihak suami mengatakan, “kalau begini caranya kita pisah dulu aja, intropeksi diri dulu masing masing”. Sedang dalam hatinya tidak bermaksud cerai tetapi pisah ranjang saja.

Dalam kasus yang kedua itu pun tidak jatuh talaknya. Sebab dalam redaksi atau shigat yang digunakan terdapat kata ‘pisah’. Sedangkan kata ‘pisah’ itu sendiri tidak secara sharih menunjukkan makna cerai. Dengan kata lain, yang gunakan adalah kata kinayah.

Padahal jika perceraian itu dengan menggunakan kata kinayah membutuhkan niat cerai dari pihak yang mengucapkannya. Tetapi dalam kasus ini pihak suami ketika mengatakan kata pisah tidak berniat cerai tetapi hanya sebatas pisah ranjang. Karenanya, pernyataan pihak suami, “kalau begini caranya kita pisah dulu aja intropeksi diri dulu masing masing” tidak menjadikan jatuh talaknya.

Selanjutnya menanggapi kasus yang ketiga di mana pihak suami mengatakan, ‘kamu mau berkata apa, mau bilang cerai lagi kamu pikir aku takut apa, terserah kamu saja’. Dalam pandangan kami, pernyataan tersebut juga tidak menunjukkan jatuhnya talak. Talak adalah hak suami karenanya seribu kali isteri bilang cerai tetap saja talak tidak jatuh. Pernyataan suami tersebut lebih pada sebagai peringatan kepada si isteri agar tidak selalu ngomong soal cerai.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi pasangan suami-isteri hendaknya saling menghargai, dan jangan mengedapankan ego masing-masing. Jika isteri sedang dalam kondisi marah, maka suami sebaiknya tak perlu menanggapinya dengan kemarahan pula, sebaliknya jika suami sedang marah isteri juga tak perlu menanggapi dengan kemarahan. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Share:
Selasa 28 April 2015 3:1 WIB
Hikmah Membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani
Hikmah Membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustadz yang saya hormati, kami memiliki perkumpulan manaqib. Biasanya kita setiap tanggal 11 membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani, secara bergilir. Tradisi membaca manaqib ini sudah bertahun-tahun, dari orang tua kami zaman dulu. Bahkan di daerah kami biasanya kalau ada orang sehabis membangun rumah mereka mereka mengundang orang-orang kemudian dibacakan manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani. Tuan rumah pun menyuguhkan pelbagai aneka makan kepada para undangan. Para tetangga juga dibagi makanan terutama yang tidak mampu.<>

Namun akhir-akhir ada sekelompok orang yang mengaggap bahwa tradisi yang kami lakukan turun-temurun hukumnya haram. Yang ingin kami tanyakan apa benar membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani dilarang, dan hukum menyuguhkan makanan setelah manaqiban. Atas penjelasan dari pak ustadz kami sampaikan terimkasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Majid/Cilacap) 

 

---

 Assalamu’alaikum wr. Wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Para wali merupakan hamba-hamba yang saleh, dekat dengan Allah, dan dipilih oleh Allah sendiri. Banyak sejarah hidup para wali atau yang kita kenal sekarang dengan nama manaqib, yang telah dibukukan, seperti manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani. Kerena mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah maka sudah sewajarnya jika kita mencintai mereka.  

Sedangkan salah satu hal yang bisa menambah rasa kecintaan kita kepada para wali adalah dengan membaca manaqibnya. Dengan membaca manaqibnya kita bisa mengetahui kesalehan dan kebaikannya, dan hal ini tentunya akan menambah kecintaan kita kepadanya.  

Dari sini dapat kita pahami bahwa membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani itu sangat baik. Karena akan menambah kecintaan kita kepada beliau, yang notebenenya adalah salah seorang wali Allah, bahkan beliau disemati gelar sebagai sulthan al-awliya` atau pemimpin para wali. 

اِعْلَمْ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُسْلِمٍ طَالِبِ الْفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكَاتِ وَالنَّفَحَاتِ وَاسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْمَاتِ فِيْ حَضَرَاتِ اْلأَوْلِيَآءِ فِيْ مَجَالِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحَالَ ذِكْرِهِمْ وَعِنْدَ كَثْرَةِ الْجُمُوْعِ فِيْ زِيَارَاتِهِمْ وَعِنْدَ مُذَاكَرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَنَاقِبِهِمْ

“Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugrah, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka, baik yang masih hidup ataupun sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka, serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka”. (Alawi al-Haddad, Mishbah al-Anam wa Jala` azh-Zhulam, Istanbul-Maktabah al-Haqiqah, 1992 M, h. 90)

Sedangkan mengenai suguhan makanan baik sebelum atau setelah manaqiban pada dasarnya merupakan penghormatan kepada para tamu yang diundang. Dengan kata lain, penyuguhan itu dalam rangka memuliakan tamu, sedangkan kita dianjurkan memulianan tamu. Karena memuliakanntamu termasuk salah satu tanda dari kesempurnaan atau benarnya keimanan kita. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw; “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (H.R. Bukhari-Muslim).

رَغَّبَ الإْسْلاَمُ فِي كَرَامَةِ الضَّيْفِ وَعَدَّهَا مِنْ أَمَارَاتِ صِدْقِ الإْيمَانِ ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآْخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu, dan mengkategorikan pemulian kepada tamu sebagai salah satu tanda benarnya keimanan. Sungguh, Nabi saw telah bersabda; ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (Lihat, Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Mesir-Mathabi` Dar ash-Shafwah, cet ke-1, juz, 24, h. 218)   

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami, jangan kita terburu-buru menghukumi sesat atau haram terhadap pelbagai amaliyah atau tradisi di daerah kita sebelum kita benar-benar memahami seluk beluknya. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Kamis 23 April 2015 16:33 WIB
Hikmah Membaca Surat al-Kahfi di Malam Jum'at
Hikmah Membaca Surat al-Kahfi di Malam Jum'at

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustadz, perkenalkan nama saya Arif, sekarang saya tinggal di daerah Bandung selatan. Setiap malam Jum'at biasanya sehabis shalat Maghrib saya dan keluarga selalu rutin membaca surat Yasin kemudian di lanjutkan dengan pembacaan tahlil. <>

Suatu hari saya ikut pengajian, kemudian dalam pengajian tersebut di isi ceramah oleh seorang ustadz. Dalam ceramahnya ia mengatakan bahwa di samping baca surat Yasin dan tahlil, perbanyak juga membaca shalawat, dan baca juga surat al-Kahfi. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana sebenarnya hukum membaca surat al-Kahfi pada malam atau hari Jumat? Apa hikmahnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Arif/Bandung)

 

---

Wa’alaikum salam wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Hari Jumat memang merupakan hari yang istimewa, dan dipandang sebagai sayyidul-ayyam atau penghulu hari. Karena itu terdapat anjuran untuk meningkatkan dan memperbanyak amal-ibadah kita. Misalnya, memperbanyak shalawat kepada baginda Rasulullah saw, bersedekah, dan lain-lain.

Sebelum kami menjawab pertanyaan di atas, kami akan mengetengahkan apa yang telah dikemukakan oleh imam Syafi’i, pendiri madzhab syafi’i, mengenai anjuran untuk memperbanyak membaca shalawat kepada baginda Rasulullah saw, dan mengenai soal membaca surat al-Kahf pada hari Jumat

Imam Syafi’i telah meriwayatkan hadits yang menganjurkan kepada kita semua untuk memperbanyak bershalawat kepada baginda Rasulullah saw. Di samping itu beliau juga suka membaca surat al-Kahfi pada hari malam Jumat dan siangnya karena memang terdapat anjurannya.    

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) أَخْبَرَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ مَعْمَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ وُقِيَ فِتْنَةَ الدَّجَّالِ. ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ كَثْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَنَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَتِهَا أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا وَأُحِبُّ قِرَاءَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا لِمَا جَاءَ فِيهَا

“Imam Syafi’i berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibrahim bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman bin Ma’mar bahwa Nabi saw bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat’. Beliau juga berkata, dan telah sampai kepadaku riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka ia dilindungi dari fitnahnya Dajjal. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa saya menyukai banyak-banyak membaca shalawat kepada Nabi saw dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca shalawat), begitu juga saya suka membaca surat al-Kahf pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini” (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 207)

Berangkat dari penjelasan ini, maka memang benar bahwa hukum membaca surat al-Kahf pada hari Jumat itu adalah sunnah. Sebab, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca surat al-Kahf maka akan dilindungi dari fitnahnya Dajjal.

Lantas, apa hikmah yang dapat kita ambil, atau hubunganya membaca surat al-Kahfi dengan hari Jum'at? Membaca surat al-Kahfi bisa melindungi kita dari fitnah Dajjal sebagaimana riwayat yang dikemukan oleh imam Syafi’i di atas.

Di samping itu hari Jumat merupakan hari yang luar biasa karena ada beberapa peristiwa penting terjadi pada hari Jumat, seperti diciptakannya nabi Adam as. Begitu juga peristiwa di masukkannya beliau dan dikeluarkannya dari surga itu terjadi pada hari Jumat. Dan yang paling menggetaran adalah kelak hari kiamat jatuh pada hari Jumat sebagaimana riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Sebaik-baiknya hari di mana sang surya menyinarinya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat nabi Adam as diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat” (H.R. Muslim)

Dari sini saja kita sudah bisa memahami hubungan antara membaca surat a-Kahfi dengan hari Jumat, atau hikmahnya. Singkatnya adalah kiamat jatuh pada hari Jumat, demikian sebagaimana bunyi riwayatnya. Karenanya, hari Jumat diidentikan  dengan hari kiamat. Sebab, hari Jumat itu sendiri mengandung pengertian berkumpulnya makhluk seperti kiamat di mana seluruh makhluk dikumpulkan. Sedang dalam surat al-Kahfi terdapat gambaran mengenai menakutkannya hari kiamat (ahwal al-qiyamah). Misalnya pada ayat berikut ini;

 وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

 “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau melihat bumi rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka” (Q.S. Al-Kahfi: 47)

وَالْحِكْمَةُ مِنْ قِرَاءَتِهَا أَنَّ السَّاعَةَ تَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ، وَالْجُمُعَةُ مُشَبَّهَةٌ بِهَا لِمَا فِيهَا مِنِ اجْتِمَاعِ الْخَلْقِ، وَفِي الْكَهْفِ ذِكْرُ أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ

“Hikmah membaca surat al-Kahfi adalah bahwa hari kiamat jatuh pada hari Jumat sebagaimana riwayat yang terdalam dalam kitab Shahih Muslim. Dan hari Jumat itu diserupakan dengan hari kiamat karena di dalamnya terdapat perkumpulan makhluk, sedang di dalam surat al-Kahf digambar mengenai pelbagai keadaan kiamat yang sangat menyeramkan”. (Lihat Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-12, juz, 4, h. 461)

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Perbanyaklah dzikir, shalawat, dan kebajikan, terutama pada hari Jumat. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Senin 20 April 2015 10:0 WIB
Nikah Sirri, Lalu Ditinggal Kabur Suami
Nikah Sirri, Lalu Ditinggal Kabur Suami

Assalamualaikum alaikum wr. wb. Ustad saya mau tanya, saya menikah di bawah tangan dan seorang pemuka agama yg menikahkan kami. Karena suatu permasalahan suami saya pulang ke kotanya dan tidak ada kabar atau nafkah sama sekali, terhitung hari ini sudah lebih dari empat (4) tahun. <>

Saya tidak bisa mencarinya karena suatu musibah di kotanya suami dan seluruh keluarganya pindah rumah dan saya tidak tahu dimana tinggalnya sekarang. Yang ingin saya tanyakan. Bagaimanakah status pernikahan saya? Apakah saya sudah bercerai secara otomatis? Perlu di ketahui suami saya tidak mengatakan talak.

Kalau saya belum bercerai, bagaimana caranya supaya saya bisa bercerai karna tidak mungkin saya meminta hakim untuk menceraikan saya karna tidak adanya bukti pernikahan kami sekalipun cuma kartu identitas suami pun saya tak punya. Atas jawabanya terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (nama dirahasiakan/Sulawesi)

----

Wa’alaikum salam wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebelum kami menjawab pertanyaan di atas,  pertama-tama kami turut prihatin atas persoalan yang sedang Anda alami. Memang ini persoalan yang sangat berat. Kami tidak membayangkan beban berat yang ditanggung Anda selama kurang lebih empat tahun. Berstatus menikah tetapi tetapi tidak mendapatkan hak yang semestinya di dapatkan.  

Menikah di bawah tangan atau dalam istilah kita adalah menikah sirri singkatnya adalah pernikahan yang tidak dicatatkan secara resmi di KUA. Sampai hari ini kasus pernikahan di bawah tangan masih cukup marak. Meskipun secara agama itu sudah diangap sah, namun konsekwensi yang harus ditanggung bagi pelaku nikah sirri itu tidak sebanding dengan enaknya menikah sirri, terutama pihak perempuan.

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, jawaban yang dapat kami kemukakan adalah bahwa status pernikahan tidak bisa lepas dengan alasan ditinggal suami. Sepanjang suami belum mengucapkan talak, maka status pernikahan masih tetap. Dengan kata lain, meskipun seorang isteri ditinggal pergi suaminya dan tidak beri nafkah lahir-batin perceraian tidak bisa jatuh secara otomatis.

Lantas dalam kasus ini bagaimana jika pihak perempuan ingin bercerai dengan suaminya, padahal ketika menikah tidak dicatatkan sehingga tidak ada bukti pernikahannya? Jika mengajukan perceraian ke Pengadilan Agama tentunya akan ditolak karena tidak ada bukti pernikahan yang dianggap sah. Persoalan ini jelas terlihat sangat pelik. Mempertahankan ikatan pernikahan jelas tidak mungkin, meminta cerai juga susah karena pihak suami tidak diketahui tempat tinggalnya.

Jalan keluar yang kami tawarkan adalah dengan mengajukan isbat nikah untuk cerai ke Pengadilan Agama. Dengan kata lain, mengajukan isbat nikah agar pernikahannya diakui terlebih dahulu, baru kemudian mengajukan gugat cerai. Sedang mengenai prosedur isbat nikah bisa langsung ditanyakan kepada pihak Pengadilan Agama. 

Cara ini pada dasarnya sejalan dengan pandangan fikih. Para pakar hukum Islam atau fuqaha` sepakat bahwa ikatakan sebuah pernikahan boleh dipisahkan dengan alasan ditinggal suami. Tetapi prosedurnya harus melalui keputusan hakim, sebab persoalan mengenai perginya suami (al-ghaibah) merupakan wilayah ijtihadi atau menjadi domain mujtahid. Karenanya, perceraian dalam kasus ini tidak bisa diputuskan kecuali dengan keputusan hakim.      

اِتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ القَائِلُونَ بِالتَّفْرِيقِ لِلْغَيْبَةِ عَلَى أَنَّهُ لَا بُدَّ فِيهَا مِنْ قَضَاءِ الْقَاضِي لِأَنَّهَا فَصْلٌ مُجْتَهَدٌ فِيهِ، فَلَا تُنَفَّذُ بِغَيْرِ قَضَاءٍ

“Para fuqaha` sepakat bahwa boleh memisahkan ikatan pernikahan karena ditinggal suami, hanya saja hal harus melalui keputusan hakim sebab masalah ini (ditinggal suami) merupakan domain mujtahid. Karenanya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan keputusan hakim” (Lihat Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait,  al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Dar as-Salasil, cet ke-2, juz, 29, h. 64)

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami hindari pernikahan sirri meskipun ini sah, karena ketika terjadi persoalan sering kali pihak perempuan yang menjadi korban, apalagi kalau sampai punya anak. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan