IMG-LOGO
Hikmah

Kesaksian Pendeta Buhaira atas Kenabian Muhammad

Jumat 25 Desember 2015 11:1 WIB
Share:
Kesaksian Pendeta Buhaira atas Kenabian Muhammad

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam karyanya berjudul “Ar-Rahiqul Makhtum” berkisah, ketika usia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menginjak usia dua belas tahun—ada pendapat mengatakan lebih 2 bulan 10 hari— sang paman Abu Thalib mengajaknya melakukan perjalanan dagang ke Syam<> yang saat itu berada di bawah kekuasaan bangsa Romawi.

Di gunung pasir sambungan Jabal Hauran terdapat tempat bertapa dan puncak pasirnya dijadikan tempat duduk. Di atas pasir itu pendeta sakti bernama Buhaira—dalam keterangan lain disebutkan bernama Jurjis— duduk memperhatikan daerah pelataran tanah Syam. Buhaira merasa heran melihat awan putih berjalan memayungi kafilah unta yang sedang berjalan beriringan. Saat mereka berhenti di kaki gunung pasir tempat pendeta itu duduk, lalu membuat perkemahan dan beristirahat di pinggir kali yang kering, awan putih pun turut berhenti. Tidak lama kemudian awan putih menghilang, diganti oleh pohon-pohon yang condong sehingga daun-daunnya bisa dipegang.

Pohon dan daun yang condong memayungi seorang anak yang sedang duduk beristirahat. Melihat hal itu, batin Buhaira merasa yakin terhadap apa yang tertera dalam kitab bahwa akan muncul seorang nabi terakhir untuk seluruh manusia dan akan diagung-agungkan oleh semua orang. Tanda-tanda di depan mata itulah buktinya. Buhaira segera turun dari gunung pasir dan memerintahkan kepada para pengiringnya untuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk menyambut para tamu.

Buhaira sendiri terus bersembunyi dan memperhatikan tamunya yang sedang makan. Ia sebenarnya masih bingung sebab di antara tamunya itu tidak ada seorang pun yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam kitabnya.

Ibn Katsir dalam al-Sirah al-Nabawiyah menerangkan, sesudah jamuan selesai, Buhaira mendekati Muhammad dan duduk dekat sekali, lalu berkata, “Demi Lata dan Uzza, aku ingin mengetahui keadaanmu yang sebenarnya”, sengaja dia mengucapkan sumpah demi Lata dan Uzza karena ingin mengetahui reaksi Muhammad.

Sayidina Muhammad lantas berkata, “Bapak jangan sekali-kali menyebut demi Lata dan Uzza yang sangat dibenci Allah!” Buhaira cepat-cepat menjawab, “Baiklah, demi Allah, aku tidak akan berbuat itu lagi.”

Setelah Buhaira berbincang-bincang tentang rumah, keluarga, impian-impian, dan hal-hal lain pada diri Muhammad, rombongan tersebut mohon undur. Buhaira masih belum puas akan bukti yang diterimanya. Tapi Allah memang ingin memperjelas bahwa Muhammad adalah benar-benar seorang nabi. Ketika Muhammad berdiri, kerah jubahnya tersingkap sehingga Buhaira melihat dengan jelas bahwa di pundaknya ada tanda kenabian (khatim an-nubuwah) sesuai dengan isi kitab yang dibacanya.

Buhaira menjadi semakin yakin dan segera mendekati Sayidina Abu Thalib untuk memberitahukan tentang tanda-tanda kenabian Muhammad yang ada dalam kitab yang dia baca itu. Abu Thalib langsung percaya sebab Buhaira memang sudah terkenal keilmuannya. Buhaira memberikan pesan agar Abu Thalib menjaga Muhammad dan menganjurkannya untuk segera membawa pulang, sebab yang akan mencelakakan Muhammad datang dari orang Yahudi. Kalau mereka tahu bahwa nabi terakhir yakni Muhammad sudah lahir, akan berbahaya bagi keselamatan Muhammad.

Dalam kitab Al-Ma’arif sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir, Ibn Qutaibah mengatakan bahwa sebelum kedatangan Islam, sebaik-baik orang pada masa  Jahiliyah ada tiga orang; (1) Buhaira, (2) Wara’ab ibn Barra’, (3) al-Muntadhar. Orang ketiga yang al-Muntadhar bermakna “orang yang ditunggu-tunggu”, Ibn Qutaibah mengartikannya sebagai Muhammad. Nabi terakhir bagi seluruh umat manusia yang diberikan mandat untuk mengemban misi rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)

Share:
Selasa 22 Desember 2015 17:0 WIB
Kisah Masa Kecil Rasulullah dan Ibunya
Kisah Masa Kecil Rasulullah dan Ibunya

 Sebagaimana tradisi suku Quraisy dan kabilah Arab pada umumnya, pada hari kedelapan selepas dilahirkan oleh Siti Aminah, Muhammad kecil harus diungsikan ke pedalaman dan baru akan dikembalikan ke ibunya ketika kelak berusia delapan atau sepuluh tahun. <>Tentu hal ini membuat Siti Aminah gundah. Tapi, tradisi tetaplah tradisi, mau nggak mau harus tetap dilaksanakan.

Aminah pun sadar, ini penting untuk ia lakukan. Ia pun mengikhlaskan putranya untuk dikirim ke pedalaman. Lagipula ia tahu bahwa tujuan dikirimkannya supaya kemampuan berbahasa sang anak bagus—di pedalaman bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab asli, belum campuran dan bukan bahasa pasar (fush-ha)—dan bisa mencecap udara pedalaman yang bersih, tidak seperti di kota yang dianggap telah tercemar.

Di pedalaman itu, Muhammad kecil diasuh oleh Halimah bint Abi Dzuaib (Halimatus Sa’diyah) selama tiga tahun. Muhammad pun tumbuh menjadi anak yang cepat tanggap, telaten dan jujur. Ia juga kerap membantu temannya yang kesusahan dan selalu bersikap bersahaja walaupun ia terkenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan anak seumurannya, apalagi ia adalah keturunan salah satu suku terpandang di kabilah Arab. Hal itu membuatnya disukai banyak orang. Tak terkecuali teman sebayanya.

Suatu ketika, saat ia bermain bersama anak-anak lain, ia didatangi oleh dua orang berbaju putih. Ia pun sempat bertanya, tapi tidak dijawab. Dua orang itu berkata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Muhammad  kecil.

Sontak, hal ini pun membuatnya ketakutan. Tak terkecuali teman-temannya. Mereka pun berlari mendatangi  rumah Halimatus Sa’diyah dan melaporkan peristiwa yang terjadi.

“Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki,” ujar salah seorang dari mereka, agak berteriak.

Halimah pun agak terkaget. Tapi, ia berusaha tetap tenang.

“Apa benar yang kau katakan?”

“Benar. Dan ia telah dibaringkan di sebuah batu, perutnya dibedah sambil dibolak-balikkan.”

Seketika itu pula wajah Halimah pucat. Ia pun berlari menuju tempat yang diceritakan itu. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di tempat yang diceritakan itu.

Di sana, ia melihat Muhammad yang terdiam, Halimah pun berusaha menenangkannya.

“Apa yang telah terjadi, Anakku.”

Muhammad melihat wajah Halimah. Kemudian merangkulnya. Lalu, dengan agak terbata-bata ia menjawab, ”Dua orang itu berbaju putih. Ia berusaha mengambil sesuatu dari tubuhku.”

“Apakah itu?”

“Aku tidak tahu, Ibu.”

Halimah pun merangkulnya sekali lagi. Ia pun sebenarnya ketakutan dan takut jika anak ini sedang kesurupan atau ada keanehan lain yang tidak mengerti. Untuk itu, ia bersepakat dengan keluarganya untuk mengembalikan Muhammad kecil ke Makkah.

Kelak, selepas Muhammad kecil tumbuh dewasa dan diangkat menjadi Rasul, baru ia mengerti bahwa dua orang berbaju putih itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah subhanahu wata'ala untuk mencari dan mengangkat keburukan dalam dirinya.

 

*Diceritakan ulang dari biografi Sejarah Hidup Muhammad karya Mohammad Husain Haekal oleh Dedik Priyanto, alumni Pesantren Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro.  

Rabu 16 Desember 2015 10:0 WIB
Pantaskah Cari Hiburan dengan Menjaili Orang Lain?
Pantaskah Cari Hiburan dengan Menjaili Orang Lain?

Konon seorang Syekh sedang berjalan-jalan bersama salah satu muridnya di sebuah taman. Tiba-tiba, keduanya melihat sepasang sepatu lusuh tergeletak di sudut jalan. Setelah mengamati sekitar, tak didapati seorang pun di sana.
<>
Mereka yakin itu adalah sepatu tukang kebun, yang lagi menyelesaikan pekerjaannya di dalam kebun. Seketika, sang murid yang sudah sangat akrab dengan Syekhnya itu berujar: “Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita sembunyi di belakang pohon? Nanti ketika dia kembali, kita akan melihat bagaimana ekspresi si tukang kebun kaget!”

Usulan yang datang tiba-tiba dari sang murid tidak lantas disetujui oleh syekh, dengan perpektif si murid. Tapi Sang Guru menjawab: “Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan menertawakan orang kecil. Kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Coba masukkan beberapa lembar uang kertas dalam sepatunya, lalu kamu saksikan bagaimana respon tukang kebun itu.”

Sang murid takjub dan langsung sepakat dengan usulan yang lebih baik dari gurunya. Dia segera memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu, mereka berdua memilih untuk bersembunyi di balik semak-semak sambil mengintip apa yang akan terjadi. Tidak berselang lama, datanglah pekerja kebun itu sambil mengibas-ngibaskan debu dari pakaiannya. Ketika memasukkan kaki dalam sepatu, ia terperanjat. Ada sesuatu di dalamnya. Ternyata itu adalah uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, juga berisi beberapa lembar uang kertas. Dia mengamati sekeliling kebun berulang-ulang. Akalnya sulit untuk percaya dengan keajaiban ini.

Ia memutar pandangannya ke segala penjuru sekali lagi, tapi tak ada seorang pun di sana. Lalu, dimasukkannya uang itu dalam sakunya. Sambil berlutut dan menangis, dia berteriak, seolah-olah bicara kepada Tuhan yang di atas, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Wahai Yang Mahatahu, istriku lagi sakit dan anak-anakku sedang menderita kelaparan. Mereka belum mendapat jatah makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkan mereka Ya Allah.”

Dia terus menangis lama sambil memandang langit dan menengadah sebagai ungkapan rasa syukurnya atas nikmat yang tiada terkira ini. Beberapa saat kemudian, si tukang kebun ini pulang dengan air mata haru yang terus meleleh sambil menyenandungkan bait-bait syukur.

Sementara di balik semak-semak, sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya menganak sungai, antara haru dan senang tiada terkira.

Syekh lalu berujar pelan, “Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih daripada rencana menyembunyikan sepatunya?” Muridnya menjawab, "Sekarang aku baru paham makna ajaranmu yang dulu pernah kau ajarkan kepada kami, Syekh. Bahwa ketika memberi, kita akan mendapatkan kebahagiaan lebih banyak dari pada ketika kita memperoleh sesuatu.”

Sahabat, betapa sering kita mengalami kasus serupa. Dan mayoritas kita memiliki kecenderungan layaknya keinginan sang murid. Kita menginginkan untuk sekadar mencari hiburan atau kelucuan sesaat. Mempermainkan dan bahkan mezalimi orang yang lemah, baik sadar maupun tidak. Lebih senang memberikan sesuatu kepada orang kecil dengan terlebih dahulu mengerjainya. Padahal kita mampu untuk berbuat sebaliknya, menghadirkan senyum merekah di wajah mereka. Virus ini bahkan menyebar hingga ke anak-anak sekolahan. Menjaili teman secara berlebihan, menertawakan temannya yang terjatuh, mengejek jika ada teman yang mendapat hukuman, atau mem-bully bersama adalah di antara yang nyata kita temukan dalam pergaulan anak-anak sekolah zaman sekarang.  

Sebagai timbangan terhadap bangaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain adalah dengan membayangkan jika yang diperlakukan demikian adalah sosok diri kita. Ketika kita menipu atau mempermainkan orang lain, mari sejenak kita bayangkan jika orang lain memperlakukan kita demikian. Ketika hendak mencari hiburan atau candaan dengan jalan merendahkan orang lain, mari kita resapi jika yang di posisi itu adalah diri kita. Nurani adalah ukuran. Ia akan jujur menilai dan merespon keadaan. Namun, jika nurani terlalu lama ditinggal, tak pernah digunakan, tak diasah untuk peka, atau dibiarkan keruh bahkan kotor, maka dikhawatirkan ia akan tertutupi sedikit demi sedikit. Ketika nurani sudah terkotori, ini bencana yang sesungguhnya.

Khoiruddin Bashori pernah berujar, “Orang besar selalu ingin membesarkan orang lain. Orang kecil hanya ingin membesarkan diri sendiri.” Kepribadian seseorang bisa diukur dari perlakuan kita kepada sesama. Ketika kita berazam untuk berbuat maksimal kepada sesama, maka di saat bersamaan, alam semesta akan mengembalikan energi yang telah kita keluarkan.

Tak ada yang sia-sia dengan membagi kebahagiaan kepada sesama. Tak ada yang perlu disesali dengan berbuat baik kepada siapa pun. Justru kita perlu bersedih ketika memperlakukan orang lain tidak semestinya. Terlebih jika yang menjadi alasan bagi tindakan itu hanya karena penilaian berdasarkan pekerjaan atau status sosial. Menganggap rendah hanya karena orang tersebut berprofesi sebgai tukang kebun atau seorang juru parkir. Bisa jadi nanti, si tukang kebun atau juru parkir yang kita hina, lebih dahulu masuk surga berkat kedekatannya dengan Tuhan, kejernihan hati, atau juga mentalnya yang lebih merdeka. Wallahu a’lam bishawab.


Muhammad Ridha Basri, mahasiswa prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Usuluddin UIN Sunan Kalijaga.

 

=====

NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Rabu 9 Desember 2015 11:0 WIB
Kisah Nyata Ucapan Ibu Berbuah Petaka untuk Anaknya
Kisah Nyata Ucapan Ibu Berbuah Petaka untuk Anaknya

Alkisah seorang anak hidup dalam kederhanaan. Sebut saja ia dalam kisah nyata ini dengan inisial H. Ibunya pergi merantau dan dia tinggal bersama neneknya. Setiap bulan ibunya pulang untuk sekadar silaturahmi pada orang tuanya yang masih hidup dan bertemu anaknya. Selama ini saya pun juga tidak tau apa pekerjaan asli sang ibu itu.
<>
Suatu ketika tepatnya di bulan puasa Ramadhan, sang ibu itu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti biasa adat anak-anak Jawa, setiap bulan puasa tak lepas dari petasan yang menjadi mainan mereka. Banyak anak-anak yang main petasan di pinggir jalan, di depan rumah orang, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan mengganggu orang lain atau tidak. Yang namanya anak-anak, sudah diberi tahu beberapa kali pun seakan tak dihiraukan.

Tepatnya di depan rumahku kejadian ini berawal. Setelah shalat tarawih banyak anak yang bermain di depan rumah termasuk si H. Kebetulan hari-hari itu kakekku sedang sakit. Kebetulan malam itu ibu si H sedang ada di dalam rumahku berniat menjenguk kakekku. “Anak-anak, kalian jangan sampai main petasan di depan rumah ini, ya! Kakek lagi sakit” teriak ibu H sambil keluar di depan rumah. Setelah itu si ibu pun masuk lagi ke rumah dan kembali ke kamar kakek.

Tak lama kemudian, “Daaaaaaaarrrrr....” suara petasan meletus hingga membuat yang di dalam rumah kaget. Bergegaslah ibunda H tadi keluar.

“Siapa yang mainan petasan barusan” teriak ibu itu dengan muka merah.

“H, Bu” sahut salah satu anak yang di depan tadi.

Seketika ibu itu juga teriak pada anaknya. Ucapan yang bernada marah terucap, “Ingat, Nak, kamu diatur sulit. Ingat ya, kamu tidak pernah akan bahagia selamanya karena kamu sulit diatur,” teriak ibu tadi pada anaknya.

Saat itu aku berada di rumah dan dengan jelas mendengar langsung “doa” sang ibu tadi pada H. Diriku merasa tercengang dengan perkataan ibu tadi. “Masyaallah, tega banget ibu tadi mendoakan anaknya sendiri seperti itu. Bukankah doa ibu pada anak itu mudah terkabul? Apalagi sang ibu dalam keadaan marah karena anaknya,” gumamku dalam hati. H memang tergolong anak yang lumayan nakal. Tapi menurutku justru nakal itu harus didoakan agar berubah dan nantinya menjadi baik.

Beberapa tahun kemudian...

Kehidupan H selama ini memang tergolong yang tidak beruntung. Dia pernah jadi buronan polisi karena kasus pencurian di Surabaya. Dalam hal pernikahan, ia gagal karena berakhir perceraian. Nikah lagi, dan menghamili mertuanya sendiri. Diusirlah ia oleh warga kampung istrinya karena dianggap mencemarkan nama baik. Dan yang terakhir yang saya tahu, H hampir dikeroyok pemuda kampungnya sendiri karena mencuri. Dan sekarang dia pun lontang-lantung di rumah seakan membawa beban berat jika dilihat raut mukanya.

Ya Allah, seketika jika melihat kehidupanya saya teringat ucapan ibundanya sewaktu dia kecil dulu. Ucapan sang ibu yang mendoakan anaknya tidak akan bahagia selamanya. “Apakah ini yang dinamakan doa ibu yang selalu terkabul,” pikirku.

Dengan kisah ini semoga kita menjadi orang tua yang lebih santun di setiap ucapan. Tidak gampang mendoakan dengan doa yang buruk. Jika anak kita nakal, hendakaknya malah kita doakan semoga diberi kesadaran hingga mendapat kebaikan. Karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua juga.”

Menjadi orang tua memang sulit. Harus mengatur rumah tangga, juga mendidik anak-anak agar mempunyai akhlak baik. Bandelnya sang anak kadang memancing emosi mereka. Inilah gambaran orang tua. Tetapi, meskipun demikian hendaklah orang tua menjaga ucapan untuk anak-anak mereka. Sebandel dan senakal apapun anak jangan sampai orang tua terucap dari mulut suatu perkataan yang tidak baik pada anak apalagi mendoakan yang tidak baik. Na’udzubillah.


Ahmad Toha, pengajar; berdomisili di Trenggalek Jawa Timur

=====

NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id