IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Santunan untuk Anak Yatim yang Balig, Sekolah, atau Kuliah?

Rabu 6 Januari 2016 21:1 WIB
Share:
Santunan untuk Anak Yatim yang Balig, Sekolah, atau Kuliah?

Assalamu 'alaikum
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang terhormat. Setahu saya, batasan anak yatim adalah balig. Sesudah balig, ia tidak berhak lagi memperoleh santunan. Tapi ada seseorang yang mengatakan, batasan yatim itu balig, tetapi ketika anak yatim yang sudah balig itu masih bersekolah di sekolah umum atau di madrasah walaupun ia sudah SMA/sederajat, ia masih berhak mendapat santunan yatim. Hal tersebut bagaimana? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu 'alaikum. (hamba Allah di Indonesia)
<>
Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga Allah merahmati Anda dan kita semua. Jika seorang bapak meninggal, anak-anak yang ditinggalkannya menyandang status yatim. Anak yang menyandang status yatim, berhak menerima santunan.

Sampai kapan ia berhak menerima santunan? Hadits Nabi Muhammad SAW menyebut batasan yatim pada balig. Berikut ini keterangan Imam An-Nawawi.

وأما نفس اليتم فينقضي بالبلوغ وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يتم بعد الحلم، وفي هذا دليل للشافعي ومالك وجماهير العلماء أن حكم اليتم لا ينقطع بمجرد البلوغ ولا بعلو السن، بل لا بد أن يظهر منه الرشد في دينه وماله. وقال أبو حنيفة: إذا بلغ خمسا وعشرين سنة زال عنه حكم الصبيان، وصار رشيدا يتصرف في ماله، ويجب تسليمه إليه وإن كان غير ضابط له

Status yatim sendiri selesai lantaran balig. Sebuah riwayat menyebut Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada keyatiman setelah balig”. Hadits ini menjadi dalil bagi Imam Syafi’i, Imam Malik, dan jumhur ulama yang berpendapat bahwa status yatim tidak selesai karena balig semata atau bertambahnya usia yatim. Tetapi sebuah kedewasaan dalam beragama maupun kematangan dalam mengelola harta harus tampak pada si yatim.

Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat, jika seseorang yatim sudah mencapai usia 25 tahun, statusnya sebagai anak lenyap darinya. Ia menyandang status dewasa yang dapat mengatur sendiri perekonomiannya. Kita pun wajib menyerahkan harta (peninggalan orang tuanya) kepadanya sekalipun ia bukan orang yang cermat. (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Minhajul Muslim fi Syarhi Shahihi Muslim, Darul Hadits, Kairo, cetakan keempat, 2001, juz 6, halaman 433).

Menyambut keterangan Imam An-Nawawi di atas, Wahbah Az-Zuhaily menyebut sejumlah batasan perihal yatim. Berikut ini keterangannya.

لكن أجمع العلماء أن الصبي إذا بلغ سفيها يمنع منه ماله لقوله تعالى وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا . فإن أصبح راشدا ببلوغ خمس وعشرين سنة، فيسقط حينئذ منع المال عنه لقوله تعالى وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

Ulama sepakat bahwa ketika seorang anak yatim sudah balig tetapi masih belum sempurna akalnya (belum bisa mengatur harta dengan benar), ia tidak diperbolehkan mengatur hartanya. Ini didasarkan pada firman Allah di surat An-Nisa ayat 5 yang berbunyi “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta mereka (yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.”

Namun, ketika ia balig dan sudah matang pikirannya dengan mencapai usia 25 tahun, gugurlah penangguhan atas pengelolaan sendiri harta mereka. Ini didasarkan pada firman Allah di surat An-Nisa ayat 5 yang berbunyi, “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Jika kamu merasa mereka telah matang (bisa mengatur harta dengan benar), serahkanlah harta-hartanya kepada mereka.” (Lihat Wahbah Az-Zuhaily, Ushulul Fiqhil Islami, Darul Fikr Mu’ashir, Beirut, juz 1, halaman 181).

Dari keterangan di atas kita bisa simpulkan bahwa anak yatim meskipun sudah balig di usia 15 tahun secara fisik masih berhak menerima santunan. Di samping itu masyarakat juga bertanggung jawab atas pengajaran agama dan pendidikan yang memadai agar anak yatim dapat menjalankan praktik beragama secara wajar dan mandiri secara ekonomi ke depan.

Terlebih dalam konteks Indonesia, anak-anak wajib sekolah juga kuliah sebagai bekal hidupnya ke depan. Menurut hemat kami, anak-anak yatim yang masih sekolah atau sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi tetap berhak menerima santunan. Pasalnya anak yatim dalam rentang balig hingga matang di usia 25 tahun sangat membutuhkan dukungan. Sebab, usia anak dalam rentang itu merupakan usia perkembangan yang sangat baik dimanfaatkan untuk sekolah, mondok, dan kuliah.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kedepankan. Semoga keterangan bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan)

Share:
Kamis 24 Desember 2015 2:2 WIB
Dari Mana Kita Mulai Shaf Kedua Dalam Shalat Jama’ah?
Dari Mana Kita Mulai Shaf Kedua Dalam Shalat Jama’ah?

Assalamu’alaikum wr. Wb
Mohon maaf kepada tim redaksi, semoga kita semua mendapat ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Saya Yono dari Lampung mau bertanya tentang posisi memulai barisan kedua dan seterusnya pada shalat jamaah.
<>
Jika barisan pertama sudah terisi penuh maka membuatlah barisan kedua  dan seterusnya. Saat membuat barisan kedua, apakah dimulai dari tengah (di belakang imam) atau dimulai dari sebelah kanan (mentok/mempet masjid).

Misalnya barisan pertama sudah penuh, dan barisan kedua hanya ada 3 orang. Pertanyaan saya, yang 3 orang ini posisinya apakah di tengah-tengah (di belakan imam) atau di sebelah kanan mentok/mepet tembok masjid?

Mohon penjelasannya karena di mushola di lingkungan saya terjadi perbedaan pendapat sehingga sering terjadi kekosongan (terputus/tidak menyatu) di barisan kedua (yaitu di bagian tegah sudah terisi beberapa orang, kemudian ada beberapa orang lagi yang mengisi di bagian kanan mempet tembok sehingga terjadi kekosongan di antara keduanya). Atas perhatian dan penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb (Yono/Lampung).

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Deskripsi masalah yang dibuat penanya begitu panjang dan setelah kami mencermati pertanyaan di atas, inti persoalannya adalah soal dari mana kita harus mulai shaf ke dua dalam shalat berjamaah. Apakah dari sebelah kanan, tengah, atau dari sebelah kiri?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa meluruskan shaf shalat termasuk dari kesempuranaan shalat. Di samping itu shaf shalat yang lurus dan rapi akan terlihat indah. Hal ini tentunya tidak terlihat elok jika terjadi dalam shaf shalat itu ada yang berdiri di sebelah kanan dan ada yang berdiri di tengah sehingga terjadi kerenggangan.

Lantas bagaimana memulai shaf kedua jika shaf pertama sudah penuh sebagaimana pertanyaan di atas? Ketika kami membaca pertanyaan di atas dalam benak kami terbayang ada sisa tiga orang yang mau membuat shaf kedua karena shaf pertama sudah penuh. Dari mana mereka memulainya?

Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyatakan bahwa dalam shaf disunahkan untuk lurus atau seimbang. Ketika para jamaah berdiri, antara sebagian dan sebagian lainnya tidak boleh terlalu maju atau terlalu mundur dengan dada atau anggota tubuh yang lainnya. Selanjutnya Imam Nawawi menyatakan bahwa para jamaah disunahkan untuk berdiri di tengah imam sebagaimana dianjurkan dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah ra.

أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ الاعْتِدَالُ فِي الصُّفُوفِ فَإِذَا وَقَفُوا فِي الصَّفِّ لا يَتَقَدَّمُ بَعْضُهُمْ بِصَدْرِهِ أَوْ غَيْرِهِ وَلا يَتَأَخَّرُ عَنْ الْبَاقِينَ , وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُوَسِّطُوا الإِمَامَ وَيَكْتَنِفُوهُ مِنْ جَانِبَيْهِ لِحَدِيثِ اَبِى دَاوُدَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَسِّطُوا الْاِمَامَ وَسَدُّوا الْخَلَلَ

“Bahwa sesungguhnya disunahkan adanya keseimbangan dalam shaf. Ketika mereka (para jamaah shalat) berdiri, mereka tidak boleh sebagian dari mereka terlalu maju dengan dadanya atau anggota tubuh yang lain, dan tidak boleh (pula) terlalu mundur dari jamaah lainnya. Mereka juga disunahkan untuk menjadikan imam berada di tengah-tengah dan mengelilinginya dari kedua sisinya karena didasarkan pada hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, ‘Jadikan imam berada di tengah-tengah dan tutuplah celah,’” (Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut-Dar al-Fikr, juz, IV, h. 301).

Jika penjelasan singkat ini ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, jawabannya adalah bahwa shaf dimulai dari tengah di belakang imam dan menjadikan imam pada posisi tengah. Jika shaf kedua ada tiga orang, barisan dimulai dari tengah, kemudian sebelah kanan dan yang terakhir sebelah kiri. Hal ini agar menjadikan posisi imam berada di tengah.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Hendaknya kita semua meluruskan dan memerhatikan kerapian shaf dalam shalat berjamaah karena itu merupakan anjuran yang disyariatkan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Kamis 17 Desember 2015 4:0 WIB
Apakah Suara Tinggi Istri kepada Suami Termasuk Bentuk Durhaka?
Apakah Suara Tinggi Istri kepada Suami Termasuk Bentuk Durhaka?

Assalamu'alaikum wr wb.
Pak ustadz saya mau tanya, saya ini orangnya emosian, mudah tersinggung. Jika saya memberikan pendapat atau usulan kepada suami saya, ia berprasangka buruk terlebih dahulu sebelum memahami ucapan yang saya sampaikan. Ia merasa saya “mengajarkannya”. Jawabannya selalu memancing emosi saya sehingga sering terjadi pertengkaran. Dia juga mengatakan, saya ini pembangkang kepada suami, tidak mau kalah dengan suami.
<>
Apakah memang itu termasuk membangkang kepada suami? Padahal saya tidak melakukan kesalahan misal keluar rumah tanpa izin, meninggalkan shalat dan sebagainya. Ketika saya memberitahunya, ia menolak dan marah-marah.

Kami hanya berbeda pendapat. Saya juga ingin didengar. Saya tidak suka dianggap salah dan bodoh. Saya cuma bermaksud membela diri, bukan membangkang kepada suami pak ustadz. Mohon penjelasannya pak ustadz, terima kasih. Wassalamu'alaikum wr wb. (NN dari Solo)

Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb
Kami doakan penanya yang budiman semoga selalu dirahmati Allah swt. Dari pertanyaan yang diajukan kami memahaminya lebih pada perilaku komunikasi pasangan suami istri. Kalau memang cekcok mulut tidak bisa dihindari, keduanya perlu meredam emosi agar tidak berujung pada kekerasan fisik.

Pembangkangan atau durhaka dalam istilah Al-Quran disebut nusyuz. Apa bentuk konkret pembangkangan yang dimaksud Al-Quran? Ada baiknya kita lihat keterangan ulama perihal nusyuz berikut ini.

ومعنى النشوز ألا تمكن الزوج من الاستمتاع وتعصي عليه. وهذه الأحكام الثلاثة محمول على ترتيب الجرائم. فإن ظهر منها أمارات النشوز كسوء الخلق والترفع عليه وعظها وخوفها من الله تعالى أنه يعاقبها في الأخرة وما يلحقها من الضرر في الدنيا بسقوط النفقة. فإن نشزتها هجرها في المضجع. ولا يهجرها في الكلام لقوله عليه السلام لايحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاثة أيام. فإن أقامت عليه ضربها ضربا غير مبرح ولا يدمي ويتقى الوجه لنهيه عن ذلك المقاتل لما في ذلك من الضرر الخطير

Pengertian “pembangkangan” merujuk pada ketidaksediaan istri untuk berhubungan suami-istri, dan tindakan perlawanan istri terhadap suami. Tiga hukum itu termasuk pelanggaran yang berjenjang. Bila tampak tanda-tanda pembangkangan dari seorang istri seperti berakhlaq buruk dan merasa lebih tinggi dari suami, suami harus menasihatinya dan mengingatkannya akan sanksi yang Allah siapkan di akhirat dan dampak mudharat di dunia yang akan menderanya seperti gugur kewajiban nafkah dari suami. Bila istri masih saja membangkang, suami boleh memilih pisah ranjang.

Tetapi suami tidak boleh mendiamkan istrinya karena sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Seorang muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” Bila istri terus pada pembangkangannya, suami boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan melukai. Kalau terpaksa juga memukul, ia tidak boleh memukul wajah karena larangan Rasulullah SAW terhadap pemukulan anggota tubuh yang vital sehingga berdampak bahaya yang luar biasa. (Lihat Ibnu Daqiq Al-Ied, Tuhfatul Labib fi Syarhit Taqrib, Daru Athlas, 1419 H, halaman 335-336)

Lalu apakah pembelaan diri istri dalam musyaawarah dengan suami masuk kategori nusyuz seperti dijelaskan di atas? Berikut ini keterangan yang antara lain kita temukan dari Abu Bakar Al-Hushni al-Husaini ad-Dimsyiqi.

ليس من النشوز الشتم وبذائة اللسان لكنها تأثم بإيذائه وتستحق التأديب. وهل يؤدبها الزوج أم يرفع الأمر إلى القاضي؟ وجهان حكاهما الرافعي هنا بلا ترجيح. وجزم به في باب التعزير بأن الزوج يؤدبها، وصححه النواوى هنا من زيادته فقال قلت: الأصح أنه يؤدبها بنفسه لأن في رفعها إلى القاضي مشقة وعارا وتنكيدا للاستمتاع فيما بعد وتوحيشا للقلب والله أعلم

Maki dan kata kotor tidak termasuk bangkang. Tetapi seorang istri berdosa karena menyakiti suaminya. Ia pantas mendapat didikan. Apakah suami sendiri yang mendidik si istri atau ia mengangkat perkara itu ke muka hakim? Dua pendapat dikemukakan Imam Rofi’i tanpa menaruh kecenderungan pada salah satunya. Sementara di bab ta’zir, ia yakin pada pendapat yang mengatakan bahwa cukup suami sendiri yang mendidik istrinya. Pendapat ini dibenarkan oleh Imam Nawawi. Ia menambahkan, pendapat lebih sahih ialah suami sendiri mendidik istrinya. Karena, angkat perkara ke muka hakim menimbulkan kesulitan, aib, menghalangi hubungan intim setelah itu, dan membuat enggan hati. (Lihat Abu Bakar Al-Hushni al-Husaini ad-Dimsyiqi, Kifayatul Akhyar fi Ghayatil Ikhtishar fil Fiqhis Syafi’i, Darul Basya’ir, 2001, halaman 456).

Dari keterangan di atas, sudah jelas bahwa pembelaan diri dalam musyawarah dengan suami tidak termasuk kategori membangkang seperti yang dimaksud Al-Quran. Hanya saja masing-masing pihak perlu memperbaiki diri soal komunikasi sehingga kata-kata atau perlakuan kasar tidak perlu terjadi. Tetapi keterangan di atas itu bukan berarti membenarkan suami berbuat semaunya seperti berbicara dan berlaku kasar terhadap suami. Berikut ini keterangan Syekh Syarqawi perihal keharusan suami dan istri untuk bersikap ramah satu sama lain.

وفي الحق الواجب أي الذي هو طاعته اللازم لها تسليم نفسها له ومعاشرته بالمعروف وملازمة المسكن وحقها عليه المهر والقسم والمعاشرة بالمعروف، وفي عكس هذه وهو نشوز الزوج ينهاه الحاكم ويعزره إن رآه مصلحة

Kewajiban istri terhadap suami adalah kepasrahan diri, perlakuan yang ramah terhadap suami, tidak meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Sedangkan kewajiban suami adalah menggenapi mahar, nafkah batin, dan perlakuan yang ramah terhadap istri. Sebaliknya jika suami melakukan pembangkangan maka pemerintah harus mencegahnya dan menjatuhkan sanksi kepada suami bila dipandang membawa mashlahat. (Lihat Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi, Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, Darul Fikr, halaman 274).

Atas kejadian yang dialami penanya kami menyarankan setiap pihak memahami kewajibannya masing-masing terutama perihal sikap bijak dan ramah dalam pergaulan sehari-hari.

Demikian jawaban yang bisa kami utarakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Semoga pasangan suami istri dapat menjalani rumah tangga dengan sabar dan saling menghargai satu sama lain sehingga rumah tangganya masuk kategori sakinah mawaddah wa rahmah yang selalu bernilai ibadah. Kami selalu terbuka untuk menerima saran serta kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb

(Alhafiz Kurniawan)

Sabtu 12 Desember 2015 0:2 WIB
Apakah Sakit Akut Gugurkan Kewajiban Haji?
Apakah Sakit Akut Gugurkan Kewajiban Haji?

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh
Salam hormat dari saya, semoga pak kiai selalu dalam lindungan Allah swt. Pada rubrik sebelumnya pak kiai menjawab soal umrah yang tidak bisa menggugurkan kewajiban haji. Di situ dijelaskan hukum umrah. Jujur saya baru tahu kalau ternyata umrah itu ada yang menyatakan wajib. Orang-orang melakukan umrah sebagai alternatif karena lamanya daftar tunggu calon jamaah haji.
<>
Namun saya melihat jawaban yang diberikan pak kiai masih terasa kurang lengkap. Bagaimana jika ada seseorang yang mendaftar haji dan keberangkatannya lima belas tahun kemudian. Tetapi sebelum lima belas tahun ia mengalami sakit akut yang membuat ia tidak bisa menempuh perjalanan jauh atau meninggal dunia. Padahal ia termasuk orang yang sudah mampu. Apakah kewajiban hajinya gugur? Atas penjelasan pak kiai, saya ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Zamroni/Bekasi Utara)

Jawaban
Assalamu’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Pertama-tama kami ucapkan terima kasih atas masukan yang sangat berharga. Pertanyaan yang diajukan kepada kami sangat jelas memiliki keterkaitan dengan pertanyaan sebelumnya mengenai umrah. Ada kesamaan problem yaitu mengenai daftar tunggu calon jamaah haji yang sangat lama.

Kewajiban menunaikan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam itu dibebankan kepada orang mukallaf yang telah mampu untuk melaksanakannya sebagaimana difirmankan Allah swt dalam Al-Quran.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS Ali Imran [3]: 97)

Kemampuan untuk melaksankan ibadah haji (istitha’tul hajj) menjadi hal tak bisa ditawar lagi sehingga orang yang tidak memiliki istitha’ah tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji. Pertanyaannya apakah yang dimaksud dengan istitha’ah?

Rasulullah saw menafsirkan istitha’ah dengan bekal dan kendaraan, tetapi bukan dalam pengertian yang sempit. Demikian dikemukan oleh  Imaduddin bin Muhammad ath-Thabari atau lebih dikenal dengan nama al-Kiya al-Harasi seorang pakar fikih dari madzhab syafi’i dan murid dari Imamul Haramain al-Juwaini.

اَلْاِسْتِطَاعَةُ وَرَدَتْ مُطْلَقَةً، وَفَسَّرَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ لَا عَلَى مَعْنَى أَنَّ الْاِسْتِطَاعَةَ مَقْصُورَةٌ عَلَيْهَا فَإِنَّ الْمَرِيضَ، وَالْخَائِفَ، وَالشَّيْخَ الَّذِي لَا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَة وَالزَّمِنَ وَكُلَّ مَنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ الْوُصَولُ فَهُوَ غَيْرُ مَسْتَطِيعِ لِلسَّبِيلِ إِلَى الْحَجِّ وَإِنْ كَانَ وَاجِداً لِلزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ

“Istitha’ah merupakan hal yang mutlak dan Rasulullah saw menafsirkannya dengan bekal dan kendaraan, tetapi bukan dalam pengertian yang sempit. Karenanya, orang yang sakit, orang yang takut (melakukan perjalanan), orang tua yang tidak tidak mampu (berlama-lama) di atas kendaraan, orang yang tertimpa musibah dan setiap orang yang mengalami kesulitan untuk bisa sampai (ke Baitullah, pent) maka mereka bukan termasuk orang yang mampu mengadakan perjalanan untuk menjalankan ibadah haji meskipun memilik bekal dan ada alat transportasinya”. (Lihat, Al-Kiya al-Harasi, Ahkamul Qur’an, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt, juz, II, h. 294, )

Apa yang dikemukakan oleh al-Kiya al-Harasi dalam pandangan kami sangat menarik karena ia mencoba memahami lebih dalam mengenai tafsiran Rasulullah saw tentang makna istitha’ah. Jadi makna mampu bukan hanya bekal dan kendaraan (az-zad wa ar-rahilah), tetapi juga menyangkut kesehatan fisik dan pelbagai halangan yang menyebabkan seseorang tidak bisa menunaikan ibadah haji.

Apa yang dikemukakan oleh al-Kiya al-Harasi ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas memiliki konsekuensi bahwa jika ada orang yang mendaftar haji kemudian harus menunggu sampai waktu yang lama, tetapi kemudian dalam masa penantiannya ia mengalami sakit akut yang menyebabkan tidak bisa menempuh perjalanan ke tanah Haram, atau meninggal dunia sebelum waktu berangkat haji, kewajiban hajinya otomatis gugur meski ia memiliki bekal yang cukup dan alat transportasi. Sebab, dalam konteks ini ia tidak masuk kategori orang yang memiliki istitha’ah untuk melaksanakan ibadah haji.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Semoga orang-orang yang sedang menunggu giliran untuk berangkat haji diberi kesabaran dan diberi kesehatan sehingga pada waktunya nanti bisa menjalankan ibadah haji dengan sempurna agar mendapatkan haji yang mabrur. Kami selalu terbuka untuk menerika saran serta kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb  


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)