IMG-LOGO
Hikmah

Saat Rasulullah Dicekik dan Dilempari Kotoran Binatang

Jumat 8 Januari 2016 8:11 WIB
Share:
Saat Rasulullah Dicekik dan Dilempari Kotoran Binatang

 Rasulullah bukan sosok pemarah. Banyak yang mencoba mengejek, menyakiti dan melukai, tapi Rasulullah tidak menanggapi dengan api amarah. Rasulullah kadang malah membalas dengan kasih berlebih. Begitu pun ketika si Badui kurang ajar itu mengasarinya. <>Rasulullah tengah berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba Arab Badui itu menarik selendang Najran di kalungan lehernya.

Begitu kerasnya tarikan si Badui, Nabi pun tercekik. Anas, seperti tercatat dalam Shahih al-Bukhari, sempat melihat bekas guratan di leher Nabi.

“Hai Muhammad, beri aku sebagian harta yang kau miliki!” teriak si Badui, masih dengan posisi selendang mencekik Rasul.

Apakah Nabi marah dengan sikap si Badui yang mirip preman Tanah Abang ini: berbuat kasar untuk minta ‘jatah’? Hati Nabi terlalu sejuk untuk sekadar diampiri letikan rasa gusar.

Tidak, Nabi justru tersenyum, dan bilang ke Anas, “Berikanlah sesuatu.”

Itu masih belum seberapa. Nabi bahkan pernah ‘dihadiahi’ kotoran hewan, pada punggung, di saat Nabi sedang sujud dalam shalat. Abdullah bin Mas’ud jadi saksi, yang kemudian direkam pula dalam Shahih al-Bukhari.

Ibnu Mas’ud melihat Nabi tengah bersembahyang di dekat Ka’bah, dan pada saat yang sama Abu Jahl dan gerombolannya duduk-duduk tak jauh dari situ.

“Siapa mau membawa kotoran-kotoran kambing, yang disembelih kemarin, untuk ditaruh di atas punggung Muhammad, begitu dia sujud?”

Abu Jahl berseru pada punakawannya. Satu dari mereka, yang tak lain adalah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, serta Uqbah bin Abi Mu’ith, itu bergerak mengambil kotoran. Mereka tunggu hingga Nabi sampai pada sujud.

Dan benar, sampai ketika Nabi sujud, ditaruhlah kotoran itu di antara dua bahu Nabi. Abu Jahl, punggawa Quraisy yang selalu berupaya menghancurkan Nabi itu, dan gerombolannya menyaksikan dengan tawa keras. Nabi tetap dalam sujud hingga Fatimah az-Zahra membersihkan sembari meneteskan air mata. Tapi Nabi bukan sosok pemarah, bukan pendendam.

Nabi tidak memerintahkan Sahabat-Sahabat untuk membalas balik perlakuan Abu Jahl Cs. Beliau hanya berdoa,  “Allahumma alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy.” Ya Allah, binasakan mereka, bangsa Quraisy yang pongah itu.

Ya, nabi yang pemarah cuma ada di kepala mereka. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang bermuka sangar hanyalah gambar yang lalu lalang di dalam pikiran mereka sendiri. Tapi, siapa sebenarnya yang berperan membangun gambar itu di otak mereka? Bukankah kita? Kita sendiri, ya, kita. Sadar tak sadar, kita diam-diam telah, sedang, dan masih saja berniat melukis Rasulullah dengan sketsa raut wajah garang.

Kita tahu, dan percaya seutuhnya.

 

Sumber: Majalah Syir’ah edisi 52, ditulis oleh Mutjaba’ Hamdi

Share:
Jumat 8 Januari 2016 11:17 WIB
Dua Kisah Nyata Keajaiban pada Perayaan Maulid Nabi
Dua Kisah Nyata Keajaiban pada Perayaan Maulid Nabi

Dua kisah berikut ini merupakan kisah nyata yang saya dapatkan dari Al Habib Jailani Asy-Syathiri kemarin, 26 Rabiul Awal 1437 atau 7 Januari 2016, di Rubat, Tarim, Yaman, pukul 06.30 waktu setempat.
<>
Pertama, Habib Jailani bercerita bahwa kisah yang ia sampaikan berasal dari Sayyid Muhammad al-Maliki, dan Sayyid Muhammad dari ayahandanya Sayyid Alwi al-Maliki. Cerita bermula ketika Sayyid Alwi menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau terheran-heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid.

Sayyid Alwi pun memanggilnya, "Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal Maulid?”

Lalu ia menjawab bahwa dulu ia pernah berjanji saat menghadiri sebuah Maulid Nabi untuk tidak berdiri hingga acara selesai, termasuk saat Mahallul Qiyam, momen di saat jamaah berdiri senrentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah. “Sebab menurutku itu bid’ah,” katanya.

Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen Mahallul Qiyam ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar, “Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja di tempatmu."

“Aku pun ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itulah aku sering sakit dan bahkan organ-organku bermasalah. Sehingga aku bernadzar jikalau Allah menyembuhkan penyakitku maka aku berjanji setiap ada maulid aku akan berdiri dari awal maulid hingga akhir. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah aku diberikan kesembuhan, duhai Sayyid."

Sayyid Alwi pun mempersilakan orang tersebut melaksanakan nazarnya.

Kedua, kisah maulid Nabi yang datang dari Lebanon. Warga di sana biasa merayakan Maulid Nabi dengan menembakan senjata api ke atas untuk menunjukan kegembiraan. Tradisi ini dilakukan turun temurun. Hampir mirip dengan tradisi pernikahan di Arab pada umumnya. Nah, suatu ketika seorang putri beragama Nasrani bani Ghatas ikut melihat perayaan tersebut. Nasib nahas menimpanya kala seorang dari mereka melepaskan senjata. Peluru yang dilepaskan menyasar ke arah putri tersebut dan menembus tepat di kepalanya.

Ia pun bersimbah darah dan jatuh ke tanah. Ibunya yang melihat kejadian itu berteriak histeris, “Binti... Binti... Binti.... (putriku... Putriku... Putriku)."

Dengan segera anaknya dilarikan ke Rumah Sakit Ghassan Hamud. Sayang, pihak rumah sakit tak bisa berbuat apa apa sebab pendarahan di otak terlalu parah. Mereka menyarankan agar segera dirujuk ke rumah sakit di Amerika yang lebih kompeten. Tapi ternyata kondisinya kian parah dan sudah di ambang ajal. Mereka pun tak bisa berbuat banyak.

Sementara ibunya karena panik penuh kecewa dan marah dia menjerit-jerit dan berkata:


يا محمد أين أنت يا محمد، وأنت تدعى النبوة؟ انظر ماذا فعل أمتك إلى بنتي في يوم احتفال مولدك؟

"Di manakah engkau, hai Muhammad yang mengaku sebagai Nabi? Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku pada perayaan hari kelahiranmu?”

Teriakan ini tentu dimaksudkan untuk menghardik Rasulullah.

Dokter memastikan bahwa anaknya telah meninggal dunia dan ketua dokter di sana mempersilakan sang ibu untuk melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Dengan lemas dan dipapah ibu Nasrani itu pun masuk ke ruangan.

Sebuah keajaiban terjadi. Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur dalam kondisi bugar sambil berteriak, “"Ibu… Ibu… Ibu... Tutup pintu dan jendela ibu! Jangan biarkan ia keluar!”

Antara percaya dan tidak. Si ibu yang bingung lantas bertanya, “Siapa, duhai putriku?”

Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan bahwa kondisi baik-baik saja.

Allahu akbar! Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal. Selain sehat dan bugar, bercak darah dan bekas luka tembakan di si putrid Nasrani tersebut menghilang.

"Putriku, apa yang terjadi?”

Putrinya menjawab sambil tersenyum kegirangan, "Ibu.. Ibu... Dia datang mengelus kepalaku sambil tersenyum.”

“Siapa dia, Sayang?”

“Muhammad , Muhammad, Ibu,” jawab anak itu.

"Aku bersaksi duhai ibu bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau hadir dengan kelembutan dan memberikan cahaya penerang bagi kegelapan. Syahadat ini lalu diikuti para dokter yang menyaksikan peristiwa tersebut dan orang-orang di desa tempat putri tersebut tinggal.

 

Pengirim: Moh Nasirul Haq, Santri Rubat Syafi'ie Mukalla Yaman




Selasa 5 Januari 2016 11:15 WIB
Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka
Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya: sangat tekun beribadah. Yang terakhir disebut ini rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.
<>
"Berhentilah!" sergahnya.

Teguran seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. "Berhentilah!" Sergahnya kembali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Saudara yang ahli ibadah pun menimpali, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga."

Cerita ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung, Hadits tersebut melanjutkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wata'ala.

Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Kisah di atas menyiratkan pesan kepada kita untuk tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tentu beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi takabur dengan menghakimi pihak lain, apakah ia bahagia atau celaka di akhirat kelak. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.

Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan. Islam menekankan umatnya muhasabah atau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan. (Mahbib)

Jumat 25 Desember 2015 11:1 WIB
Kesaksian Pendeta Buhaira atas Kenabian Muhammad
Kesaksian Pendeta Buhaira atas Kenabian Muhammad

Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam karyanya berjudul “Ar-Rahiqul Makhtum” berkisah, ketika usia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menginjak usia dua belas tahun—ada pendapat mengatakan lebih 2 bulan 10 hari— sang paman Abu Thalib mengajaknya melakukan perjalanan dagang ke Syam<> yang saat itu berada di bawah kekuasaan bangsa Romawi.

Di gunung pasir sambungan Jabal Hauran terdapat tempat bertapa dan puncak pasirnya dijadikan tempat duduk. Di atas pasir itu pendeta sakti bernama Buhaira—dalam keterangan lain disebutkan bernama Jurjis— duduk memperhatikan daerah pelataran tanah Syam. Buhaira merasa heran melihat awan putih berjalan memayungi kafilah unta yang sedang berjalan beriringan. Saat mereka berhenti di kaki gunung pasir tempat pendeta itu duduk, lalu membuat perkemahan dan beristirahat di pinggir kali yang kering, awan putih pun turut berhenti. Tidak lama kemudian awan putih menghilang, diganti oleh pohon-pohon yang condong sehingga daun-daunnya bisa dipegang.

Pohon dan daun yang condong memayungi seorang anak yang sedang duduk beristirahat. Melihat hal itu, batin Buhaira merasa yakin terhadap apa yang tertera dalam kitab bahwa akan muncul seorang nabi terakhir untuk seluruh manusia dan akan diagung-agungkan oleh semua orang. Tanda-tanda di depan mata itulah buktinya. Buhaira segera turun dari gunung pasir dan memerintahkan kepada para pengiringnya untuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk menyambut para tamu.

Buhaira sendiri terus bersembunyi dan memperhatikan tamunya yang sedang makan. Ia sebenarnya masih bingung sebab di antara tamunya itu tidak ada seorang pun yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam kitabnya.

Ibn Katsir dalam al-Sirah al-Nabawiyah menerangkan, sesudah jamuan selesai, Buhaira mendekati Muhammad dan duduk dekat sekali, lalu berkata, “Demi Lata dan Uzza, aku ingin mengetahui keadaanmu yang sebenarnya”, sengaja dia mengucapkan sumpah demi Lata dan Uzza karena ingin mengetahui reaksi Muhammad.

Sayidina Muhammad lantas berkata, “Bapak jangan sekali-kali menyebut demi Lata dan Uzza yang sangat dibenci Allah!” Buhaira cepat-cepat menjawab, “Baiklah, demi Allah, aku tidak akan berbuat itu lagi.”

Setelah Buhaira berbincang-bincang tentang rumah, keluarga, impian-impian, dan hal-hal lain pada diri Muhammad, rombongan tersebut mohon undur. Buhaira masih belum puas akan bukti yang diterimanya. Tapi Allah memang ingin memperjelas bahwa Muhammad adalah benar-benar seorang nabi. Ketika Muhammad berdiri, kerah jubahnya tersingkap sehingga Buhaira melihat dengan jelas bahwa di pundaknya ada tanda kenabian (khatim an-nubuwah) sesuai dengan isi kitab yang dibacanya.

Buhaira menjadi semakin yakin dan segera mendekati Sayidina Abu Thalib untuk memberitahukan tentang tanda-tanda kenabian Muhammad yang ada dalam kitab yang dia baca itu. Abu Thalib langsung percaya sebab Buhaira memang sudah terkenal keilmuannya. Buhaira memberikan pesan agar Abu Thalib menjaga Muhammad dan menganjurkannya untuk segera membawa pulang, sebab yang akan mencelakakan Muhammad datang dari orang Yahudi. Kalau mereka tahu bahwa nabi terakhir yakni Muhammad sudah lahir, akan berbahaya bagi keselamatan Muhammad.

Dalam kitab Al-Ma’arif sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir, Ibn Qutaibah mengatakan bahwa sebelum kedatangan Islam, sebaik-baik orang pada masa  Jahiliyah ada tiga orang; (1) Buhaira, (2) Wara’ab ibn Barra’, (3) al-Muntadhar. Orang ketiga yang al-Muntadhar bermakna “orang yang ditunggu-tunggu”, Ibn Qutaibah mengartikannya sebagai Muhammad. Nabi terakhir bagi seluruh umat manusia yang diberikan mandat untuk mengemban misi rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam. (M. Zidni Nafi’)