IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Waris Beda Agama

Kamis 17 Maret 2016 20:2 WIB
Share:
Hukum Waris Beda Agama

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Mohon maaf sebelumnya, saya Achmad Ashrofi mahasiswa di UIN Yogyakarta mau tanya mengenai fenomena kewarisan beda agama. Negeri kita yang sangat beragam ini saya kira memunyai potensi untuk terjadinya fenomena seperti ini di dalam sebuah keluarga, terutama bagi saudara-saudari yang memunyai anggota keluarga yang nonmuslim.

Lalu bagaimana solusi NU dari bahtsul masail mengenai kewarisan keluarga semacam ini. Apakah tetap jika anaknya yang berbeda agama tidak mendapat apa-apa karena ada mawani'ul waris? Lalu bagaimana jika konsep seperti ini diberi solusi berupa wasiat wajibah seperti yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam dan yang dianut oleh Hukum Keluarga Filiphina, bagaimana menurut NU, bolehkah dengan jalan wasiat wajibah? Mohon sekali jawabannya sebagai perwakilan dari aspirasi NU. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Ashrofi)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada dua hal yang diajukan kepada kami. Pertama menyangkut kewarisan beda agama. Kedua menyangkut wasiat wajibah. Pertama ingin kami tegaskan bahwa apa yang akan kami kemukakan bukanlah pandangan NU secara resmi, tetapi ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa salah satu hal yang bisa menghalangi kewarisan adalah perbedaan agama antara pihak yang mewariskan dan ahli waris. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dikatakan.

لا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الكَافِرَ، ولا يَرِثُ الكَافِرُ الْمُسْلِمَ

Artinya, “Orang muslim tidak bisa wewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya) orang kafir tidak bisa mewarisi  orang muslim,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Apabila seorang muslim meninggal dunia dan ada ahli warisnya yang nonmuslim, semua ulama sepakat bahwa pihak ahli waris nonmuslim tidak bisa mendapatkan warisan sebab ia berbeda keyakinan.

Lantas, bagaimana jika ahli warisnya adalah muslim misalnya bapaknya kafir sedangkan anaknya muslim. Apakah anaknya itu bisa mendapatkan warisan dari bapaknya? Dengan mengacu pada bunyi hadits di atas mayoritas ulama berpendapat seorang muslim tetap tidak bisa mewarisi harta orang kafir. Ini artinya, jika bapaknya kafir sedang anaknya muslim, si anak tetap tidak bisa mewarisi harta bapaknya.

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ الْكَافِرَ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمَ وَأَمَّا الْمُسْلِمُ فَلَا يَرِثُ الْكَافِرَ أَيْضًا عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ

Artinya, “Para ulama telah sepakat bahwa orang kafir tidak bisa mewarisi harta orang muslim. Begitu juga menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya berpendapat bahwa orang muslim tidak bisa mewarisi harta orang kafir.”

Pandangan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim mengandaikan ada pandangan dari minoritas ulama yang memperbolehkannya. Menurut keterangan yang dikemukakan Muhyidin Syaraf An-Nawawi, di antara yang memperbolehkan adalah Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah, Sa’id bin Musayyab, dan Masruq. Namun pandangan kelompok ini menurut Imam An-Nawawi bukanlah pandangan yang sahih.

 وَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى تَوْرِيثِ الْمُسْلِمِ مِنَ الْكَافِرِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَمُعَاوِيَةَ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَمَسْرُوقِ وَغَيْرِهِمْ وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَالشَّعْبِيِّ وَالزُّهْرِيِّ وَالنَّخَعِيِّ نَحْوَهُ عَلَى خِلَافٍ بَيْنَهُمْ فِي ذَلِكَ وَالصَّحِيحُ عَنْ هَؤُلَاءِ كَقَوْلِ الْجُمْهُورِ. وَاحْتَجُّوا بِحَدِيثِ اَلْاِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ وَحُجَّةُ الْجُمْهُورِ هُنَا اَلْحَدِيثُ الصَّحِيحُ الصَّرِيحُ

Artinya, “Sekelompok ulama memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Ini adalah pandangan Mu`adz bin Jabal, Mu’awiyah, Said bin Musayyab, Masruq, dan lainnya. Begitu juga diriwayatkan dari Abid Darda`, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, An-Nakha’I, dan selainnya yang bertentangan dengan pandangan kelompok ulama yang memperbolehkan orang muslim mewarisi harta orang kafir. Dan yang sahih adalah riwayat mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Mereka (ulama yang membolehkan) berdalil dengan hadits al-islam ya’lu wala yu’la ‘alaih. Sedangkan dalil mayoritas ulama adalah hadits sahih yang sangat jelas (hadits yang kami sebutkan di atas, penerjemah).”

Dalam pandangan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa sertamerta dijadikan landasan tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim. Sebab, yang dimaksud hadits tersebut adalah bicara mengenai keunggulan Islam dibanding dengan yang lain, bukan bicara soal kewarisan. Pandangan mereka jelas mengabaikan hadits la yaritsul muslimul kafir. Lantas bagaimana hadits ini bisa diabaikan? Jawaban yang tersedia adalah kemungkinan hadits ini tidak sampai kepada mereka.

وَلَا حُجَّةَ فِي حَدِيثِ الْاِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ لِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ فَضْلُ الْاِسْلَامِ عَلَى غَيْرِهِ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ فِيهِ لِمِيرَاثٍ فَكَيْفَ يُتْرُكُ بِهِ نَصُّ حَدِيثِ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَعَلَّ هَذِهِ الطَّائِفَةَ لَمْ يَبْلُغْهَا هَذَا الْحَدِيثُ

“Hadits al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (tentang kebolehan muslim mewarisi harta nonmuslim). Sebab yang dimaksudkan hadits tersebut adalah membincang keutamaan Islam dibanding yang lain dan tidak menyinggung soal kewarisan. Lantas bagaimana bisa hadits la yaritsul muslimul kafira diabaikan dalam masalah ini? Bisa jadi hadits ini tidak sampai kepada mereka yang membolehkan.”

Berangkat dari penjelasan di atas, semakin gamlang bahwa perbedaan agama menjadi penghalang mendapatkan harta warisan. Para ulama telah sepakat muslim tidak bisa mewariskan hartanya kepada nonmuslim.

Namun kasus sebaliknya yaitu muslim mewarisi harta nonmuslim, para ulama berbeda pendapat. Menurut mayoritas ulama seorang muslim tidak bisa mewarisi harta nonmuslim. Sedang menurut minoritas ulama diperbolehkan, meskipun pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang lemah (marjuh).

Mengenai soal al-washiyyah al-wajibah dalam pandangan kami secara pribadi bisa saja dipertimbangankan sebagai solusi atas persoalan yang ada. Namun hal ini perlu kajian lebih lanjut dari para pakar.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami, orang yang mengalami problem kewarisan beda agama harus menyelesaikannya secara baik-baik. Jangan sampai menimbulkan persoalan besar dalam keluarga. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
Wassalamu alaikum wr.wb



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Share:
Senin 14 Maret 2016 21:4 WIB
Pelaku Maksiat di Mekkah, Berlipat Gandakah Dosa?
Pelaku Maksiat di Mekkah, Berlipat Gandakah Dosa?

Assalamu ’alaikum wr. wb
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati. Saya mau menanyakan besarnya dosa orang yang melakukan maksiat di Mekkah. Sebagaimana yang saya ketahui, orang yang beribadah di Mekkah mendapatkan pahala yang besar. Misalnya, orang yang shalat di Masjidil Haram mendapat pahala seratus ribu lebih besar dibanding shalat di masjid lain. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana jika ada orang melakukan kemaksiatan atau perbuatan dosa, apakah dosanya juga berlipat ganda? Demikian pertanyaan saya, atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb (Farid/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa setiap kebajikan akan dilipatgandakan kebajikannya menjadi sepuluh (‘asyru amtsaliha). Lain halnya dengan kejelekan, di mana satu kejelekan akan dicatat dan dibalas dengan hanya satu kejelekan.

Lantas bagaimana dengan kebaikan dan kejelekan yang dilakukan di Makkah? Kebaikan di Mekkah sudah barang tentu dilipatgandakan dan lebih besar dibanding dilakukan di luar Mekkah. Sedangkan kejelekkan menurut sekelompok ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Muhajid, dan Ahmad bin Hanbal juga dilipatgandakan sebagaimana kebaikan.

ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ السَّيِّئَاتِ تُضَاعَفُ بِمَكَّةَ كَمَا تُضَاعَفُ الْحَسَنَاتُ، مِمَّنْ قَالَ ذَلِكَ مُجَاهِدٌ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَابْنُ مَسْعُودٍ وَغَيْرُهُمْ لِتَعْظِيمِ الْبَلَدِ. وَ سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ مُقَامِهِ بِغَيْرِ مَكَّةَ فَقَالَ: مَالِي وَلِبَلَدٍ تُضَاعَفُ فِيهِ السَّيِّئَاتُ كَمَا تُضَاعَفُ الْحَسَنَاتُ؟ فَحَمَلَ ذَلِكَ مِنْهُ عَلَى مُضَاعَفَةِ السَّيِّئَاتِ بِالْحَرَمِ،

“Sekelompok ulama berpendapat bahwa kejelekkan di Mekkah itu dilipatgandakan sebagaimana dilipatgandakannya kebaikan. Di antara berpendapat demikian adalah Mujahid, Ibnu Abbas, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Mas’ud, dan yang lain karena untuk mengagungkan Mekkah. Ibnu Abbas pernah ditanya tentang tempat tinggalnya selain Mekkah lantas ia pun menjawab: ‘Apa hubunganku dan negeri yang di dalamnya dilipatgandkan kejelekan sebagaimana dilipatgandakan kebaikan? Pernyataan Ibnu Abbas lantas ditafsirkan sebagai hal yang menunjukkan pelipatgandaan kejelekkan di Tanah Haram,” (Lihat Badruddin Az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkamil Masjid, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cetakan ke-1, 1416 H/1995 M, halaman 89).

Pertanyaannya, berapa pelipatgandaan kejelekkannya? Ada yang menyatakan dilipatgandakan seperti kebaikannya. Artinya, jika balasan kebaikan di Mekkah dilipatgandakan seratus ribu kali maka balasan kejelekannya juga demikian.

Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa pelipatgandaan balasan kejelekannya seperti pelipatgandaan balasan kebaikan di selain Tanah Haram. Pendapat ini mengandaikan, jika pelipatgandaan balasan kebaikan di selain Tanah Haram adalah sepuluh kali lipat, maka pelipatgandaan kejelekan yang dilakukan di Makkah adalah sepuluh kali lipat juga.

Sedangkan pendapat ketiga cenderung tidak melipatgandakan balasan kejelekkan yang dilakukan di Mekkah karena melihat keumuman dalil-dalil yang tersedia. Seperti firman Allah ta’ala dalam surat Al-An’am ayat 160.

ثُمَّ قِيلَ تَضْعِيفُهَا كَمُضَاعَفَةِ الْحَسَنَاتِ بِالْحَرَمِ. وَقِيلَ بَلْ كَخَارِجِهِ، وَ مَنْ أَخَذَ بِالْعُمُومَاتِ لَمْ يَحْكُمْ بِالْمُضَاعَفَةِ قَالَ تَعَالَى: مَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا

“Kemudian dikatakan bahwa pelipatgandaan kejelekan di Mekkah itu sebagaiamana pelipatgandaan kebaikan di Tanah Haram. Pendapat lain menyatakan, pelipatgandaan  kejelekannya sebagaimana pelipatgandaan kebaikan di luar Tanah Haram. Sedangkan orang yang mengambil dengan keumuman dalil-dalil yang ada maka ia tidak menghukumi adanya pelipatgandaan kejelekan di Tanah Haram. Allah ta’ala berfirman: ‘Barang siapa yang berbuatan kejelekkan maka dibalas seimbang dengan kejelekannya,’ (Q.S. Al-An’am [6]: 160)”.

Namun menurut Al-Fasi Al-Maliki (775-832 H)—seorang pakar hadits dan sejarawan yang berafiliasi pada madzhab Maliki, dan pernah menjabat sebagai qadli madzhab Maliki di Mekkah—bahwa pendapat yang sahih dari pelbagai madzhab adalah pendapat yang menyatakan bahwa kejelekan di Mekkah itu sama seperti di luar Mekkah.

وَقَال الْفَاسِيُّ : وَالصَّحِيحُ مِنْ مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ السَّيِّئَةَ بِمَكَّةَ كَغَيْرِهَا

“Al-Fasi berkata, ‘Dan pendapat yang benar dari pelbagai madzhab ulama adalah bahwa kejelekan di Mekkah itu seperti di tempat lainnya’”.

Apa yang dikemukakan Al-Fasi jelas mengarah kepada ketidakadaannya kelipatan balasan perbuatan maksiat. Satu perbuatan maksiat mendapat balasan setimpal, dan tidak berlipat ganda.

Catatan penting yang perlu dipahami dalam konteks ini adalah bahwa maksud ulama yang berpendapat adanya pelipatgandaan balasan kejelekan adalah pelipatgandaan dari sisi kualitasnya (miqdar) bukan kuatitasnya (la kammiyyatiha fi al-adad). Sebab, balasan kejelekan adalah kejelekan pula, tetapi kejelekan itu berbeda-beda. Kejelekan yang dilakukan di tanah yang disucikan Allah tentunya lebih besar konsekuensi dibanding jika dilakukan di tempat lain.

فَقَالَ الْقَائِلُ بِالْمُضَاعَفَةِ أَرَادَ مُضَاعَفَةُ مِقْدَارِهَا أَيْ غِلَظِهَا لَا كَمِّيَّتِهَا فِى الْعَدَدِ فَإِنَّ السَّيْئَةَ جَزَاؤُهَا سَيِّئَةٌ لَكِنَّ السَّيِّئَاتِ تَتَفَاوَتُ فَالسَّيِّئَةُ فِى حَرَمِ اللهِ وَبِلَادِهِ عَلَى بِسَاطِهِ أَكْبَرُ وَأَعْظَمُ مِنْهَا فِى طَرْفٍ مِنْ أَطْرَافِ الْبِلَادِ وَلِهَذَا لَيْسَ مَنْ عَصَى الْمَلِكَ عَلَى بِسَاطِ مُلْكِهِ كَمَنْ عَصَاهُ فِى مَوْضِعٍ بَعِيدٍ عَنْهُ

“Ulama yang berpendapat adanya pelipatgandaan kejelekan di Mekkah maksudnya adalah pelipatgandaan dari sisi kualitas atau ketebalannya bukan ukuran dari sisi kuantitasnya. Sebab, balasan kejelekan adalah kejelekan pula, akan tetapi kejelekan itu berbeda-beda tingkatannya. Maka kejelekan yang dilakukan di tanah suci itu lebih besar dibanding dilakukan di tempat lain. Karenanya, orang yang melakukan kesalahan kepada seorang raja di tempat yang dekat dengan kekuasaannya jelas berbeda dengan orang yang melakukannya di tempat yang jauh darinya,” (Lihat Badruddan Az-Zarkasi, I’lamus Sajid bi Ahkamil Masajid, halaman 90).

Dari pelbagai pandangan yang dikemukakan di atas, kami lebih cendrung memilih pendapat yang menyatakan adanya pelipatgandaan balasan kejelekan yang dilakukan di Mekkah atau Tanah Haram. Hal ini lebih karena mengagungkan kedudukan Tanah Haram yang jelas-jelas memiliki kelebihan di banding tempat lain.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Perbanyaklah do’a agar kita dapat bisa berziarah ke Tanah Haram. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu ’alaikum wr. wb



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Sabtu 12 Maret 2016 3:6 WIB
Mekkah dan Madinah, Mana Lebih Utama?
Mekkah dan Madinah, Mana Lebih Utama?
Assalamu ‘alaikum wr. wb
Pak ustadz yang terhormat, saya ditanya anak saya mengenai kota suci Mekkah dan Madinah.  Di antara dua kota suci itu mana yang lebih utama, Mekkah atau Madinah? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Iswanto/Bontang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mekkah dan Madinah merupakan dua kota suci, dan memiliki kedudukan sangat penting bagi umat Islam. Rasulullah SAW lahir di Mekkah dan wafat di Madinah. Kedua kota suci itu merupakan tempat penting bagi umat Islam, dan memiliki keistimewaan masing-masing.

Lantas pertanyaannya, di antara dua tempat itu mana yang paling utama? Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini. Sayyidina Umar RA dan beberapa sahabat berpendapat bahwa Madinah lebih utama dari Mekkah. Inilah yang dikemukakan oleh Imam Malik dan para ulama dari Madinah.

Pendapat kedua menyatakan sebaliknya, Mekkah lebih utama dari Madinah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama. Pandangan ini juga dikemukakan oleh Ibnu Wahab, Ibnu Habib, dan Ashbagh yang termasuk dari deretan ulama Madzhab Maliki.

فَذَهَبَ عُمَرُ وَغَيْرُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ إِلَى تَفْضِيلِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَأَكْثَرُ الْمَدَنِيِّيِّنِ. وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ إِلَى تَفْضِيلِ مَكَّةَ. وَبِهِ قَالَ ابْنُ وَهْبٍ وَ ابْنُ حَبِيبٍ وَ أَصْبَغُ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ

“Sayyidina Umar dan beberapa sahabat lain dalam pendapatnya cenderung mengutamakan Madinah. Ini menjadi pandangan Imam Malik dan mayoritas ulama Madinah. Sedangkan Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan mayoritas ulama cenderung dalam pendapat mereka mengutamakan Mekkah. Pandangan ini juga dikemukakan Ibnu Wahab, Ibnu Habib, dan Ashbagh yang notabenenya adalah para ulama dari kalangan Madzhab Maliki,” (Lihat Badruddin Az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkamil Masjid, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke I, tahun 1416 H/1995 M, halaman 129).

Salah satu alasan yang mendukung pandangan mayoritas ulama adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu atau memenuhi persyaratan untuk menjalankan ibadah haji. Begitu juga dengan umrah. Dua ibadah ini hanya dilakukan di Mekkah bukan Madinah.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang mana yang lebih utama antara Mekkah dan Madinah, yang jelas dua kota ini merupakan kota suci yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Mekkah menjadi tempat kelahiran Nabi Saw, sedangkan Madinah menjadi tujuan hijrah dan tempat wafat Beliau.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Perbanyak doa dan meminta kepada Allah swt agar diberikan jalan dan kemudahan untuk mengunjungi dua kota suci tersebut. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb



(Mahbub Ma’afi Ramadlan)

Senin 7 Maret 2016 21:3 WIB
Hukum Shalat Gerhana Matahari dan Tata Caranya
Hukum Shalat Gerhana Matahari dan Tata Caranya
Assalamu ‘alaikum wr. wb
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati, saya mau menanyakan bagaimana hukum shalat gerhana matahari dan tata cara pelaksanaannya. Pertanyaan ini saya ajukan mengingat menurut perhitungan tanggal 9 Maret akan ada gerhana matahari total. Atas penjelasannya saya sampaikan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Maulana/Riau)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Fenomena gerhana matahari (kusufus syamsi) dan gerhana bulan (khusuful qamar) merupakan fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah swt.

Shalat sunah gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan pada tahun kelima Hijriyah dan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada bulan Jumadal Akhirah.

وَشُرِعَتْ صَلَاةُ  كُسُوفِ الشَّمْسِ فِى السَّنَةِ الثَّانِيَّةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَصَلَاةُ خُسُوفِ الْقَمَرِ فِى السَّنَةِ الْخَامِسَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ فِى جُماَدَى الْأَخِرَةِ عَلَى الرَّاجِحِ

“Shalat gerhana matahari disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada tahun kelima Hijriyah bulan Jumadal Akhirah,” (Lihat Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Hasyiyatus Syeikh Ibrahim al-Baijuri, Indonesia, Darul Kutub al-Islamiyyah, 1428 H/2007 M, juz I, halaman 434).

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum menjalankan shalat gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan adalah sunah mu`akkadah.

وَصَلَاةُ كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بِالْاِجْمَاعِ لَكِنْ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيَفَةَ يُصَلِّى لِخُسُوفِ الْقَمَرِ فُرَادَى وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ كَسَائِرِ النَّوَافِلِ

“Menurut kesepakatan para ulama (ijma`) hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah sunah mu’akkadah. Akan tetapi menurut Imam Malik dan Abu Hanifah shalat gerhana bulan dilakukan sendiri-sendiri dua rakaat seperti shalat sunah lainnya,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz VI, halaman 106).

Pendapat ini didasarkan pada firman Allah swt dan salah satu hadits Nabi saw. Allah ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 37).

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,” (HR Bukhari-Muslim).

Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut,
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu.
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum shalat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,”As-Shalâtu jâmi'ah.”
4. Niat melakukan shalat gerhana matahari (kusufus syams) atau gerhana bulan (khusuful qamar), menjadi imam atau ma’mum.

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

5. Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku’ dan dua kali sujud.
7. Setelah ruku’ pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali.
8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
9. Setelah shalat disunahkan untuk berkhotbah.

Hal yang sebaiknya diperhatikan adalah dalam soal ruku’nya. Ruku’ yang pertama dalam rakaat pertama lebih panjang dari yang kedua. Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab fikih madzhab Syafi’i, pada ruku’ pertama membaca tasbih kira-kira lamanya sama dengan membaca seratus ayat surat Al-Baqarah, sedang ruku’ kedua kira-kira delapan puluh ayat.

Begitu seterusnya dalam rakaat kedua. Untuk ruku’ pertama pada rakaat kedua membaca tasbih lamanya kira-kira sama dengan membaca tujuh puluh ayat surat Al-Baqarah, dan ruku’ keduanya kira-kira lamanya sama dengan membaca lima puluh ayat.

Mengenai sujud memang ada yang mengatakan tidak perlu lama. Tetapi pendapat ini menurut Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi pendapat yang sahih adalah pendapat yang menyatakan bahwa sujud juga lama. Pertanyaanya, berapa lamanya sujud?

Jawaban yang tersedia adalah lamanya kira sama seperti lamanya ruku’. Dengan kata lain, sujud pertama dalam rakaat pertama membaca tasbih lamanya kira-kira seratus ayat surat Al-Baqarah dan untuk sujud kedua kira-kira lamanya sama dengan membaca delapan puluh ayat.

Sedang sujud pertama dalam rakaat kedua lamanya kira-kira sama dengan membaca tujuh puluh ayat surat Al-Baqarah, dan sujud kedua dalam rakaat kedua lamanya sama dengan membaca lima puluh ayat. Di samping itu bacaan surat dalam shalat sunah gerhana matahari boleh dipelankan, boleh juga dikeraskan, tetapi disunahkan pelan. Dalam shalat gerhana tidak ada adzan dan iqamah.

وَيُسَبِّحُ فِي الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ قَدْرَ مِائَةٍ مِنَ الْبَقَرَةِ وَفِي الثَّانِي ثَمَانِينَ وَالثَّالِثِ سَبْعِينَ وَالرَّابِعِ خَمْسِينَ تَقْرِيبًا  فِي الْجَمِيعِ وَلَا يَطُولُ السَّجَدَاتِ فِي الْأَصَحِّ قُلْتُ الصَّحِيحُ تَطْوِيلُهَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَنَصَّ فِي الْبُوَيْطِىُّ أَنَّهُ يَطُولُهَا نَحْوَ الرُّكُوعِ الَّذِي قَبْلَهَا وَاللهُ أَعْلَمُ فَالسُّجُودِ الْأَوَّلِ كَالرُّكُوعِ الْأَوَّلِ وَهَكَذَاوَتُسَنُّ جَمَاعَةٌ أَىْ تُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيهَا وَيُنَادَى لَهَااَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ وَيَجْهَرُ بِقِرَاءَةِ كُسُوفِ الْقَمَرِ لَا الشَّمْسِبَلْ يُسِرُّ فِيهَا لِأَنَّهَا نَهَارِيَّةٌ

“Bertasbih dalam ruku’ pertama kira-kira lamanya seperti lamanya membaca seratus ayat dari surat Al-Baqarah, ruku’ kedua delapan puluh ayat, ketiga tujuh puluh ayat dan keempat lima puluh ayat. Saya berpendapat bahwa pendapat yang sahih adalah memanjangkan sujud sebagaimana dalam hadits sahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dan pendapat imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Al-Buwaithi bahwa ia memanjangkan sujud seperti memanjangkan ruku’ yang sebelum sujud. Wallahu a’lam. Karenanya, sujud yang pertama itu panjangnya seperti ruku’ yang pertama begitu seterusnya. Shalat gerhana matahari sunah dilaksanakan secara berjamaah dan diseru dengan ungkapan ash-shalâtu jâmi’ah. Disunahkan meninggikan suara ketika membaca surat dalam shalat gerhana bulan, bukan gerhana matahari bahkan memelankan bacaan suratnya karena shalat gerhana matahari merupakan shalat sunah yang dilakukan siang hari,” (Lihat Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi, As-Sirajul Wahhaj, Beirut, Darul Ma’rifah, tt, 98).

Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan dua khutbah sebagaimana khotbah Jumat. Namun jika shalat sunah gerhana matahari dilakukan sendirian, tidak perlu ada khotbah. Begitu juga jika semua jamaahnya adalah perempuan. Tetapi jika ada salah satu dari perempuan tersebut yang berdiri untuk memberikan mauidlah tidak ada masalah (la ba’sa bih).

(وَيَخْطُبُ الْإِمَامُ) أَيْ أَوْ نَائِبُهُ وَتُخْتَصُّ الْخُطْبَةُ بِمَنْ يُصَلِّي جَمَاعَةً مِنَ الذُّكُورِ فَلَا خُطْبَةَ لِمُنْفَرِدٍ وَلَا لِجَمَاعَةِ النِّسَاءِ فَلَوْ قَامَتْ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ وَوَعَظَتْهُنَّ فَلَا بَأْسَ بِهِ كَمَا فِى خُطْبَةِ الْعِيدِ

“Kemudian imam berkhotbah atau orang yang menggantikan imam. Khotbah dikhususkan bagi orang laki-laki yang yang mengikuti shalat tersebut secara jamaah. Karenanya, tidak ada khutbah bagi orang yang shalat sendirian juga bagi jamaah perempuan, (akan tetapi, pent) jika salah satu dari jamaah perempuan berdiri dan memberikan mauidlah, tidak apa-apa sebagaimana dalam khotbah shalat ‘ied,” (Lihat Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatus Syeikh Ibrahim Al-Baijuri, Indonesia, Darul Kutub Al-Islamiyyah, 1428 H/2007 M, juz I, halaman 438).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami sebaiknya ruku’ dan sujud dalam shalat gerhana dipanjangkan sebagaimana penjelasan di atas, tetapi jika tidak juga tidak apa-apa. Begitu juga sebaiknya sebelum melakukan shalat terlebih dahulu mandi karena merupakan salah satu yang disunahkan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)