IMG-LOGO
Trending Now:
Khutbah
KHUTBAH JUM'AT

Delapan Amal Mengganti Delapan Amal yang Lain

Rabu 23 Maret 2016 9:28 WIB
Share:
Delapan Amal Mengganti Delapan Amal yang Lain

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ فَتَحَ اَبْوَابَ الرَّحْمَةِ لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَفْضَلُ الْمَخْلُوْقِيْنَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، خَاتَمِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِىْ نَفْسِى وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin jamaah Jum’at yang mulia,

Saya berwasiat terhadap diri saya sendiri dan kepada Anda semua, mari kita meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga melaksanakan semua perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya

Hadirin jamaah Jum’at yang mulia,

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, jika kita ingin hidup mendapat ridlo Allah SWT serta selamat lahir batin, mendapat kuntungan dunia akhirat, semua harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, berusaha melakukan hal-hal yang dapat menarik ridlo Allah SWT dengan cara apapun bentuknya.

Jika mampu, bisa juga melakukan hal-hal yang utama, bila tak bisa, dapat menjalankan kegiatan-kegiatan lain yang mampu ia laksanakan.

رُوِىَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ اَنَّهُ قَالَ مَنْ عَجَزَ عَنْ ثَمَانِيَةٍ فَعَلَيْهِ بِثَمَانِيَةٍ اُخْرَى

Diriwayatkan dari sebagian sahabat,“Barangsiapa yang belum bisa melakukan delapan hal, maka sebaiknya ia melaksanakan delapan hal yang lain untuk menambal, memenuhi kekurangannya tersebut.

 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَهُوَ نَائِمٌ فَلاَ يَعْصِىْ فِى النَّهَارِ

1. Barangsiapa yang ingin mendapat keutamaan shalat malam, tapi ia tidur, tak mampu bangun malam untuk tahajjud, sebaiknya jangan sampai ia melaksanakan maksiat pada siang harinya.
 
 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ صِيَامِ التَّطَوُّعِ وَهُوَ مُفْطِرٌ فَلْيَحْفَظْ لِسَانَهُ

2. Barangsiapa yang ingin mendapat keutamaanu derajat orang puasa, namun ia tak mampu melaksanakannya, sebaiknya ia harus bisa menjaga mulutnya, jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik.

 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الْعُلَمَاءِ فَعَلَيْهِ بِالتَّفَكُّرِ

3. Barangsiapa yang ingin mendapat derajat ulama, sebaiknya ia bertafakkur, memikirkan ciptaan-ciptaan Allah.

 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الْمُجَاهِدِيْنَ وَالغُزَّاةِ وَهُوَ قَاعِدٌ فِىْ بَيْتِهِ فَلْيُجَاهِدِ الشَّيْطَانَ

4. Barangsiapa yang ingin mendapat pangkat sebagai pejuang perang, namun ia beada di rumah, sebaiknya ia harus dapat memerangi dan mengalahkan setan.

  مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الصَّدَقَةِ وَهُوَ عَاجِزٌ فَلْيُعَلِّمِ النَّاسَ مَا سَمِعَ مِنَ الْعِلْمِ

5.Barangsiapa yang ingin mendapat pangkat ahli sedekah, sebaiknya ia mengajar kepada orang lain tentang ilmu yang perna ia terima. Ilmu apa saja yang penting baik.

  مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الْحَجِّ وَهُوَ عَاجِزٌ فَلْيَلْزَمِ الْجُمْعَةِ

6. Barangsiapa yang ingin mendapat pangkat orang yang berhaji, namun belum mampu, orang itu bisa selalu melaksanakan shalat jum’at secara istiqomah.

 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الْعَابِدِيْنَ، فَلْيُصْلِحْ بَيْنَ النَّاسِ فَلاَ يُوْقِعُ بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَاةَ وَالْبَغْضَاءَ

7. Barangsiapa yang ingin mendapat pangkat orang yang ahli ibadah, maka ia hendaknya berbuat kedamaian, tidak menciptakan permusuhan antar sesama.

 مَنْ اَرَادَ فَضْلَ الْاَبْدَالِ، فَلْيَضَعْ يَدَهُ اِلَى صَدْرِهِ وَيَرْضَى لِأَخِيْهِ مَا يَرْضَى لِنَفْسِهِ

8. Barangsiapa yang ingin mendapat pangkat wali abdal, ingin memiliki pangkat menjadi kekasih Allah SWT, hendaknya ia berhati baik, sabar, lapang dada, ridlo, kasih terhadap sesama seperti cintanya kepada pribadinya sendiri.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia,

Mari kita senantiasa membenahi diri kita masing-masing, mulai dari hal yang sekecil apapun, mulai dari hal-hal yang menurut kita remeh temeh, hingga hal besar-besar yang lain.

Dikisahkan, ada orang shalih sedang sakaratul maut. Dalam kondisi naza'nya, orang ini kepayahan untuk mengucapkan syahadah. Selepas ia meninggal, ada satu orang yang hidup bermimpi bertemu dengan lelaki shalih yang mati tadi.

Dalam mimpinya ia bertanya kepada orang yang mati tadi, "Bagaimana kabarmu? Selama hidup, aku menilai engkau sebagai orang yang taat dan baik dalam segala hal. Namun, mengapa engkau begitu susah bersyahadah ketika sakaratul maut.
 
Lalu dijawab, “Iya, Alhamdulillah. Selama hidup saya menjalaninya dengan baik, namun ada satu hal yang menyebabkan saya mengalami kondisi seperti saat itu. Ini lantaran profesiku sebagai pedagang. Sedang timbangan yang saya gunakan semakin lama semakin berdebu. Begitu berlanjut hingga debunya semakin menumpuk. Saya tidak menyadari akan hal itu, karena hal tersebut memang tidak aku sengaja. Debu yang mengumpul sekian lama menyebabkan timbangan sudut milikku lebih berat sehingga hak pembeli tidak terpenuhi secara penuh. Hal itulah yang menghalangi syahadatku."
Naudzu billah

Hadlirin jamaah Jum’at,
 
Memperbaiki diri merupakan keharusan, karena semua hal yang kita laksanakan pasti akan dihisab oleh Allah SWT. Kecuali jika ada rahmat yang menjadikan tidak terhisab.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Semoga kita, keluarga kita benar-benar mendapat ridlo, taufiq, diberi tsubutul iman (tetap iman), selamat lahir batin, beruntung dunia dan akhirat. Amin.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُتَّقِيْنَ.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِىْ  خُسْرٍ اِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبرِ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَقَّ حَمْدِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا الله، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أَإِمَّتَنَا وَأُمَّتَنَا وَقَضَاتَنَا وَعُلَمَائَنَا وَفُقَهَائَنَا وَمشَايِخَنَا صَلَاحًا تَامًّا عاَمًّا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُّهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ نْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ،اَللَّهُمَّ اَهْلِكْ اَعْدَاَ أَلدِّيْنَ،وَاَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِينَ،وَفُكَّ أَسْرَى الْمَأْسُوْرِيْنَ،وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدْيُوْنِيْنَ وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرُ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الَمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلاَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قُدِيْرٌ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَهْلَنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَجَمِيْعَ إِخْوَانِنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الصَّابِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ عُلَمَائِكَ الْعَامِلِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. رَبَّنَا أَتِيْنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارَ. اِللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُاتِمَةِ ×۳
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


KH. M. Shofi Al Mubarok Baedlowie/Ahmad Mundzir


Share:
Kamis 17 Maret 2016 7:0 WIB
KHUTBAH JUM’AT
Membangun Hidup yang Berkualitas
Membangun Hidup yang Berkualitas
Ilustrasi

Khutbah I

 اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَاِبه اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,

Manusia, terutama yang tinggal di kota, sebagian atau bahkan mungkin mayoritas terlalu sibuk. Urusan kita terlalu banyak, meski hampir semuanya mungkin hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Berapa lama waktu yang kita habiskan untuk mencari nafkah? Berapa jam kita untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di luar kantor? Berapa untuk istirahat dan tidur? Berapa pula untuk aktivitas hiburan, misalnya bermain media sosial atau beromong kosong dalam kerumunan orang? Berapa lama untuk berbelanja atau bepergian? Rasa-rasanya durasi 24 jam yang dianugerahkan kepada kita tiap hari seolah selalu kurang.

Saking sibuknya, kita bahkan sering tak sempat menghitung, dari sekian waktu yang kita lalui apakah porsi manfaat dan kebaikan lebih banyak atau justru sebaliknya: sia-sia belaka. Hal ini kerap dilatarbelakangi oleh sikap kita yang terlalu tenggelam pada urusan sehari-hari, urusan duniawi. Minimnya waktu untuk kontemplasi dan merenungi diri membuat manusia sering lupa bahwa ada kebahagiaan sejati di luar gemerlap aktivitas dan alam bendawi ini.

Allah subhânahu wata‘âlâ berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 46:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Artinya, “Harta dan anak keturunan adalah hiasan kehidupan rendah, sedangkan amal lestari yang berkebaikan adalah lebih baik (lebih tinggi nilainya) di sisi Tuhanmu sebagai pahala, dan lebih baik pula sebagai harapan.” (QS. 18: 46)

Dalam surat dan ayat lain disebutkan:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

Bukanlah harta kekayaanmu, dan bukan pula anak keturunanmu itu yang akan mendekatkan kamu ke sisi Kami (Tuhan) sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Maka mereka ini, ada bagi mereka pahala berlipat ganda atas apa yang mereka amalkan, dan mereka akan hidup dalam ruang-ruang (di surga) dengan aman sentosa (QS Saba’ [34]: 37).

Dua ayat tersebut mengungkapkan secara jelas bahwa orientasi “kehidupan rendah” dipertentangkan dengan orientasi kehidupan ketuhanan (rabbânîyah). Kebaikan sejati ternyata bukan pada banyaknya kekayaan dan keturunan, melainkan justru pada kehidupan yang diliputi kesadaran berketuhanan yang ditandai dengan iman amal saleh.

Hal yang bisa ditarik dari keterangan di atas bahwa orientasi kehidupan yang lebih tinggi, yang lebih mendapat ridla Allah adalah yang lebih menitikberatkan segi-segi kualitatif hidup, bukan segi-segi kuantitatifnya. Kekayaan dan anak keturunan seberapa pun banyak dan hebatnya tetap tak akan mengungguli iman dan amal saleh.

Iman bisa kita maknai sebagai kesadaran penuh akan Allah dalam setiap gerak langkah kita. Keyakinan yang tak hanya dibibir melainkan juga termanifestasi dalam setiap tindakan. Melalui iman inilah kita menyingkirkan berhala-berhala yang menyekutukan-Nya. Berhala-berhala tersebut bisa berupa uang, rumah, mobil, pekerjaan, jabatan, prestasi, anak, istri, dan seterusnya. Segala anugerah diyakini datang dari Allah dan semua aktivitas bermuara hanya untuk Allah.

Yang kedua adalah amal saleh (‘amal shâlih). Kata shalih berasal dari akar kata shulh yang berarti baik, cocok, pantas, perdamaian. Shâlih dalam bahasa Arab lebih pas  dipakai untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan orang lain. Dengan bahasa lain, kata ini lebih berorientasi sosial ketimbang individual. Dari kata ini pula muncul kata mashlahat yang bermakna kemaslahatan atau kebaikan bagi publik.

Jamaah shalat Jum’at a‘zâkumullâh,

Ketika Al-Qur’an mengontraskan antara banyaknya harta dan keturunan dengan iman dan amal saleh, terungkap pesan bahwa sesungguhnya yang kuantitatif, yakni berupa kekayaan dan keluarga, tidak lebih utama daripada kualitas pribadi seorang hamba yang digambarkan dengan kesadaran berketuhanan dan perbuatan baik. Kitab Suci seolah sedang mengajak kita untuk tidak hanya mempedulikan diri sendiri melainkan juga menebar kemanfaatan kepada yang lain.

Al-Qur’an sering menggambarkan dengan nada miring sikap hidup yang membanggakan harta kekayaan, tapi juga tak pernah memuji kemiskinan dan pola keluarga kecil yang sedikit atau tanpa keturunan. Islam memandang segenap perkara duniawi secara proporsional: menghalalkannya sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni tercapainnya kesadaran penuh akan Allah dalam setiap kesibukan kita dan kebermanfaatan kita untuk lingkungan sekitar.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang Rasulullah sebut sebagai manusia dengan kualitas unggulan (khairunnâs).  Kualitas tersebut tidak diukur dari jumlah kekayaan, tingginya kedudukan, atau bergengsinya status sosial dan latar belakang pendidikan. Ia diukur dari kadar kemanfaatannya untuk orang lain. “Khairunnâs anfa‘uhum linnâs. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


Alif Budi Luhur

Selasa 8 Maret 2016 19:0 WIB
GERHANA MATAHARI TOTAL
Khutbah Gerhana Matahari oleh KH Maimoen Zubair
Khutbah Gerhana Matahari oleh KH Maimoen Zubair

خطبة كسوف الشمس للشيخ ميمون زبير حفظه الله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل الشمس والقمر آيتين من آيات الله الملك القهار، ظهرت تلك الآيات لمن تدبر وتفكر من أولى الأبصار، يكور الليل على النهار ويكور النهار على الليل ذلك ذكرى للذاكرين من ذي العلوم والأفكار نحمده سبحانه وتعالى على ما رزقنا بالاتعاظ بالوعظ والاعتبار

وأشهد أن لا إله إلا الله الواحد الأحد الملك الجبار شهادة ندخرها ليوم تشخص فيه القلوب والأبصار

وأشهد أن سيدنا ومولانا محمدا عبده ورسوله الداعي إلى الخضوع والتضرع إلى الله الخالق لهذه الكائنات طرا وصلى الله على سيدنا ومولانا محمد الذي بعثه الله تعالى بالتنذير والبشرى وعلى آله المطهرين من الرجز والشرك يطهرهم الله تعالى تطهيرا وأصحابه الذين اهتدوا بهديه وجميع أتباعهم وسلم تسليما كثيرا

أما بعد:
فيا أيها الناس رحمكم الله تعالى اتقوا الله تعالى أظهر لكم العبر لتعتبروا فأراكم أوضح آياته لتتذكروا
ففى تلك الآيات الباهرة لاحظوا وتفكروا ولا تكونوا من الذين قست قلوبهم ونسوا ما ذكروا فتفسقوا وتكفروا ولا تكونوا كالذين نسوا الله فأنساهم أنفسهم أولئك هم الفاسقون.

أيها الناس رحمكم الله اعلموا أن الله سبحانه وتعالى نبهكم وذكركم بالذكرى أظهر فى هذا اليوم كسوف الشمس ليكون ذلك من الله تعالى بهذا تنذيرا فإن الشمس جعلها سبحانه وتعالى دليلا ونورا ليهتدي الناس بها فى طلب معاشهم وأكسابهم نهارا
فلم تزل الشمس كذلك وقد انكسفت فى هذا اليوم وما ذلك إلا كي تتبروا وتتعظوا وتتفكروا وتخافوا عذابه تعالى فإن عذاب الله الشديد فاستغفروا ثم استغفروا استغفروا ربكم إنه كان غفارا وأنيبوا إلى ربكم إنه كان لطيفا خبيرا

واعلموا أن الله أجرى الشمس لمستقر لها وقدر مجراها تقديرا فالشمس والقمر آيتان من آيات الله أجراهما فى مجراهما فلا يخرجان عن مقدارهما منذ أن خلقهما إلى اليوم وما بعد اليوم فى الأيام جعل الشمس آية فى الليل كما جعل القمر آية فى الليل بقدرة الملك العلام جعل الشمس ضياء والقمر أنوارا وقدر ذلك تقديرا.

أيها المسلمون اتقوا الله واحذروا فإن الله تعالى حذركم بانكساف الشمس فإن نور الشمس وضيائها نعمة لكم ورحمة لكم وقد غير سبحانه وتعالى بالانكساف لتتعظوا فإنه تعالى لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم ذلك بأن الله لم يك مغيرا نعمة أنعمها على قوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
 
فلربما يكون هذا الانكساف بما تراكم فيكم الأوزار
فاستغفروا من ذنوبكم فإن الذنوب تذهب بالاستغفار واندموا على ما فرطتم فى جنب الله العزيز الجبار

ففى الحديث قال صلى الله عليه وسلم: إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم منها شيئا فادعوا الله وكبروا وصلوا وتصدقوا

قال الله تعالى فى كتابه الكريم تذكيرا لمن ألقى السمع وله قلب سليم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون

بارك الله لي ولكم
إلى الآخر مع الدعاء المناسب للمقام.

Artinya, Segala puji bagi Allah swt yang menjadikan matahari dan bulan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa yang mana tanda itu telah tampak bagi orang-orang awas yang merenungkan dan memikirkannya. Dialah yang membuat malam dan siang silih berganti. Pergantian malam-siang itu merupakan peringatan bagi orang-orang berilmu dan berpikir yang bersedia mengambilnya sebagai peringatan. Kita memuji Allah swt atas anugerah yang Dia berikan kepada kita dengan menerima nasihat, menasihati, dan mengambil pelajaran.

Aku bersaksi, tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, lagi Maha Kuasa, sebuah kesaksian yang kita simpan untuk hari di mana hati dan mata itu menatap.

Aku bersaksi, penghulu dan junjungan kita nabi besar Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya, seorang rasul yang mengajak manusia tunduk dan merendahkan diri kepada Allah swt yang mencipta alam semesta tanpa kecuali. Semoga Allah swt melimpahkan shalawat dan salam-Nya untuk penghulu dan junjungan kita nabi besar Muhammad saw yang diutus membawa peringatan dan kabar gembira, untuk keluarganya yang disucikan sesuci-sucinya dari penyembahan berhala dan syirik, untuk para sahabatnya yang mana mereka mengambil petunjuk darinya, dan untuk seluruh pengikut nabi Muhammad saw.

Amma ba'du,
Para jamaah sekalian, semoga Allah merahmati kamu semua. Bertakwalah kamu semua kepada Allah. Dia telah menampakkan peringatan-Nya kepadamu semua karenanya terimalah peringatan itu. Dia memperlihatkan tanda kuasa-Nya yang paling jelas agar kamu mengambil peringatan. Amati dan pikirkanlah tanda-tanda-Nya yang jelas itu. “Janganlah menjadi salah satu dari mereka yang berhati keras dan mereka yang melupakan Allah lalu Allah membuat mereka lupa diri. Mereka adalah orang fasik,” (Al-Hasyr ayat 19).

Para jamaah shalat gerhana yang dirahmati Allah, ketahuilah bahwa Allah menyadarkan dan mengingatkan kamu dengan peringatan yang paling nyata di hari gerhana ini agar fenomena ini menjadi peringatan bagimu.

Allah menjadikan matahari sebagai tanda dan cahaya-Nya agar kamu semua dapat beraktivitas mencari nafkah di siang hari. Demikianlah matahari sejak dulu selalu begitu. Dan hari ini telah terjadi gerhana matahari. Fenomena ini tidak terjadi kecuali sebagai peringatan agar kamu berbuat baik, mengambil pelajaran, merenung, berpikir, dan takut siksa-Nya. Siksa Allah itu teramat keras. Istighfarlah, istighfar. Mintalah ampunan kepada Tuhanmu. Kembalilah kepada Tuhanmu karena Dia Maha Lembut lagi Maha Tahu.

Ketahuilah Allah mengedarkan matahari di tempat tetapnya. Dia dengan tepat menentukan lintas peredarannya. Matahari dan bulan adalah dua tanda-Nya. Dia mengedarkan matahari dan bulan di tempat edarnya. Keduanya beredar tidak keluar dari lintasan edarnya sejak diciptakan hingga hari ini dan hari-hari esok. Allah menjadikan matahari sebagai tanda-Nya di malam hari sebagaimana bulan adalah tanda-Nya di malam hari atas kuasa Penguasa Yang Maha Tahu. Allah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Allah menentukan semuanya dengan ketentuan yang proporsional.

Wahai umat Islam, bertakwalah kamu kepada Allah dan waspadalah karena Dia menuntutmu waspada atas fenomena gerhana matahari. Pasalnya sinar dan cahaya matahari adalah nikmat dan rahmat-Nya untukmu. Allah mengubah nikmat itu melalui fenomena gerhana agar kamu mengambil pelajaran. “Allah takkan mengubah (nikmat) yang ada pada suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubah (ketaatan) yang ada pada diri mereka. Demikian terjadi karena Allah takkan nikmat yang telah diberikannya kepada suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah (ketaatan) yang ada pada diri mereka sendiri,” (Al-Anfal ayat 53).

Bisa jadi gerhana matahari ini terjadi disebabkan oleh akumulasi dosa-dosamu. Karenanya, minta ampunlah atas segala dosamu karena dosa dapat terhapus sebab istighfar. Sesalilah perilakumu yang melewati batas selama ini di hadapan Allah.

Rasulullah saw bersabda, "Sungguh matahari dan bulan adalah dua tanda dari sekian banyak tanda kebesaran Allah. Gerhana keduanya terjadi bukan karena meninggal dan lahirnya seseorang. Kalau kamu lihat fenomena itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah," (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain).

Allah berfirman, "Dialah Allah yang menciptakan matahari sebagai sinar dan bulan sebagai cahaya. Dia menetapkan garis edarnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungannya. Tiadalah Allah ciptakan semua itu kecuali dengan benar. Demikian Allah menerangkan tanda-tanda-Nya bagi kaum yang mau memahami,” (Yunus ayat 5).

بارك الله لي ولكم

Kemudian berdoa dengan doa yang sesuai. (diterjemahkan oleh Alhafiz Kurniawan, NU Online)


Senin 7 Maret 2016 11:0 WIB
GERHANA MATAHARI TOTAL
Khutbah Gerhana: Berdoalah, Bartakbirlah, Bersedekahlah!
Khutbah Gerhana: Berdoalah, Bartakbirlah, Bersedekahlah!

 Khotbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِي خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِي جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحـْدَهُ لاَشـَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلاَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ.

وقال أيضاً: هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ . مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ . يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Jamaah a‘zakumullah,

Sebagian besar kita kerap salah paham, begitu kata “ayat-ayat Allah” disebutkan maka yang tergambar hanya teks Al-Qur’an. Padahal, Allah menciptakan ayat bukan semata huruf-huruf atau lafal-lafal suci. Ayat secara bahasa berarti tanda. Apa itu tanda? Tanda adalah sarana yang dianggap representasi dari kehadiran sesuatu. Allah menciptakan tanda akan keberadaan Diri-Nya bukan melalui Al-Qur’an saja. Alam semesta dan diri kita pun adalah bagian dari tanda alias ayat-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS Fushshilat [41]:53 )

Dari sinilah kemudian muncul istilah ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah berupa ayat Al-Qur’an yang bisa kita baca dan ucapkan, sementara ayat kauniyah berupa realitas ciptaan di luar itu, seperti penciptaan manusia dan hewan, pergantian siang dan malam, serta fenomena alam lainnya. Termasuk segenap hal yang ada dalam diri manusia: tentang metabolisme tubuh, emosi, pikiran, perasaan, dan lain-lain. Ayat atau tanda yang disebutkan terakhir ini bisa dibaca jika dan hanya jika kita merenungkan dan menghayatinya secara mendalam.

إنَّ فِي خَلْقِ السَّمَٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَٰوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS Ali Imran [3]:190-191).

Jamaah shalat gerhana matahari a‘zakumullah,

Gerhana matahari total yang kita alami hari ini adalah bagian dari ayat kauniyah tersebut.  Penanda tentang keagungan dan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala. Gerhana matahari terjadi ketika piringan matahari ditutup oleh piringan bulan. Jika bulan hanya menutup sebagian, maka disebut sebagai gerhana matahari sebagian. Jika seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari disebut sebagai gerhana matahari total. Meskipun ukuran diameter matahari sekitar 400 kali lebih besar daripada diameter bulan, bayangan bulan mampu menghalangi cahaya matahari sepenuhnya karena bulan lebih dekat dibandingkan matahari. Bulan berjarak rata-rata 384.400 kilometer dari bumi sedangkan matahari mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer dari bumi.

Gerhana merupakan peristiwa alamiah sebagai bagian dari gerak harmonis sistem Tata Surya yang luar biasa. Tata Surya adalah kumpulan benda-benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Tata Surya sendiri terletak di galaksi Bima Sakti, sebuah galaksi spiral yang berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya dan memiliki sekitar 200 miliar bintang. Matahari berlokasi di salah satu lengan spiral galaksi yang disebut Lengan Orion. Letak Matahari berjarak antara 25.000 dan 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi, dengan kecepatan orbit mengelilingi pusat galaksi sekitar 2.200 kilometer per detik. Subhânallâh.

Peristiwa gerhana matahari total ini merupakan momentum tepat bagi kita semua untuk merenungkan dahsyatnya kekuasaan Penguasa Alam Raya ini. Ini juga momentum seorang hamba untuk mengagungkan Tuhannya, meningkatkan kualitas penghambaan, dan membantu sesama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ يَنْخَسَفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبّرُوْا، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوْا


“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bagian dari tanda-tanda (keagungan) Allah. Keduanya tidak
memunculkan gerhana lantaran peristiwa kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana itu, lekaslah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dan dirikanlah shalat, dan bersedakahlah.” (HR Bukhari)

Mari kita gunakan kesempatan langka ini untuk bermuhasabah, menginstropeksi diri sendiri. Sudahkah doa, takbir, dan sedekah kita berada di jalan yang benar?

Apakah kita berdoa sebagai wujud ketawadukan kepada Sang Khaliq atau keserakahan kita sebagai manusia yang serba-ingin? Berdoa karena kita membutuhkan Allah atau sekadar memenuhi nafsu diri sendiri? Pernahkah kita tidak meremehkan doa sebagai perintah dari Allah subhanahu wata’alâ?

Lalu bagaimana dengan takbir kita? Sudahkah ia lebih mendalam dan bermakna dari sebatas kata-kata? Apakah kita bagian dari sebagian orang yang bertakbir membesarkan nama Allah tapi di saat bersamaan juga membesarkan ego pribadi dan kelompoknya sendiri?

Bagaimana pula dengan sedekah kita? Seberapa besar manfaat yang dibawa harta dan kehadiran kita untuk orang-orang sekitar? Masihkah kita membeda-bedakan dalam bersedekah orang yang kita senangi dan orang yang kita benci? Sudah kita tak mengharap pamrih dari jasa-jasa yang kita buat meskipun sekadar pujian dan terima kasih?

Jamaah a‘zakumullah,

Apapun momentumnya, seyogianya hal itu menjadi bahan memperbaiki kualitas kepribadian kita. Semakin dekat kepada Allah dari hari ke hari, kian bersahabat dengan alam dan manusia lainnya dari waktu ke waktu. Hal itu bisa dilakukan hanya dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan Dzat yang diagungkan, melebihi apa saja, tak terkecuali jabatan, gelar, harta, atau lainnya.

Iman Al-Ghazali pernah bertanya, “Apa yang paling besar di dunia ini?”

Murid-muridnya yang menjawab, “Gunung.”

“Matahari.”

“Bumi.”

Imam Al-Ghazali berkata, “Semua jawaban itu benar, tapi yang jauh lebih besar adalah hawa nafsu. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Semoga kita semua bisa belajar dan mengambil dari peristiwa gerhana matahari ini.

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

(Alif Budi Luhur/Sindikasi Media)