IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Nasihat Nabi Muhammad saat Haji Wada’

Kamis 24 Maret 2016 20:5 WIB
Share:
Nasihat Nabi Muhammad saat Haji Wada’
Ilustrasi (SPA)
Haji wada’ terjadi pada tahun 10 hijriyah. Ia dianggap sebagai tanda perpisahan sahabat dengan Rasulullah SAW. Karena tak lama setelah itu, Beliau dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya. Sebagian sahabat yang paham akan isyarat ini, tak kuasa membendung air mata ketika mendengarkan khutbah Nabi SAW.

Di penghujung usia Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya agar selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunah Rasul (HR. Malik). Selama berpatokan kepada dua sumber tersebut dipastikan tidak akan sesat hidup di dunia dan akhirat.

Pada saat haji wada’ pula, Nabi SAW memberi pelajaran penting kepada para sahabat. Pelajaran itu tentu sangat berguna untuk memperkuat fondasi keislaman kita. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع: ألا أخبركم بالمؤمن؟ من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم، والمسلم من سلم الناس من لسانه ويده، والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله، والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب

Artinya, “Nabi SAW bersabda saat haji wada’, ‘Maukah kalian kuberitahu pengertian mu’min? (Mukmin) Yaitu orang yang memastikan dirinya memberi rasa aman untuk jiwa dan harta orang lain. Sementara muslim ialah orang yang memastikan ucapan dan tindakannya tidak menyakiti orang lain. Sedangkan mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam keta’atan kepada Allah SWT. Sedangkan orang yang berhijrah (muhajir) ialah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.”

Dari defenisi yang dijelaskan Nabi ini, baik defenisi mu’min, muslim, mujahid, dan muhajir, kita dapat dipahami bahwa Islam bukanlah agama individual. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dan Tuhan, tapi juga menjaga hubungan sesama manusia.

Menjadi orang beriman berarti juga harus mampu memberi kenyamanan dan keamanan pada orang lain. Walaupun kita tidak bisa berbuat banyak terhadap orang lain, minimal jangan sampai tingkah laku dan perkataan kita menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.

Begitu pula dengan mujahid, julukan mujahid tidak hanya diberikan untuk orang yang mengikuti peperangan, namun siapapun yang melakukan sesuatu atas dasar keta’atan pada Allah, maka ia dapat dikatakan mujahid.

Sementara muhajir tidak hanya orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, tapi muhajir ialah orang yang mau beralih dari dosa menuju kebaikan. Wallahu a’lam. (Hengki ferdiansyah)

Tags:
Share:
Jumat 27 Maret 2015 1:4 WIB
Hukum Menjual Daging Qurban
Hukum Menjual Daging Qurban
Ilustrasi (Getty Images)

Dua pekan sebelum hari raya Idul Adha, pasar hewan dadakan bermunculan di tepi jalan raya. Sepekan menjelang hari H, pasar hewan itu makin ramai baik oleh pembeli maupun anak-anak yang terkagum girang melihat kambing, sapi, atau kerbau berkumpul. Ini yang disebut “Dijual Hewan Kurban”. Lalu bagaimana dengan menjual daging kurban?

Mereka yang menjual daging kurban memang sulit ditemukan di tepi jalan seperti penjual hewan kurban. Mereka juga biasanya jadi penjual dadakan paket daging kurban yang mereka terima dari panitia masjid atau tetangganya yang menyembelih hewan kurban.

Menjual hewan kurban jelas mubah. Lalu bagaimana dengan menjual daging kurban? Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam karyanya Busyrol Karim Bisyarhi Masa’ilit Ta‘lim mengatakan,

وتردد البلقيني في الشحم، وقياس ذلك أنه لا يجزئ كما في التحفة، وللفقير التصرف فيه ببيع وغيره أي لمسلم، بخلاف الغني إذا أرسل إليه شيء أو أعطيه، فإنما يتصرف فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة، لأن غايته أنه كالمضحي

Al-Bulqini sangsi perihal lemak hewan kurban. Berdasar pada qiyas, tidak cukup membagikan paket kurban berupa lemak seperti keterangan di kitab Tuhfah. Sementara orang dengan kategori faqir boleh mendayagunakan daging kurban seperti menjualnya atau transaksi selain jual-beli kepada orang muslim. Berbeda dengan orang kaya yang menerima daging kurban. Ia boleh mendayagunakan daging itu hanya untuk dikonsumsi, disedekahkan kembali, atau menjamu tamunya. Karena kedudukan tertinggi dari orang kaya sejajar dengan orang yang berkurban.

Kategori kaya kasarannya ialah mereka yang memunyai kelebihan rezeki untuk menyembelih hewan kurban saat hari raya Id. Ketentuan ini merupakan anjuran bagi orang kaya untuk berkurban selagi tidak ada halangan. Sementara si faqir tidak perlu bimbang untuk menjual daging yang sudah menjadi haknya kepada orang lain bila kondisi menuntut. Dijual mentah boleh, dijual matang tidak masalah. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Jumat 19 September 2014 16:0 WIB
Syukuran Haji
Syukuran Haji
ilustrasi (setkab.go)

Setelah melaksanakan haji dan pulang ke rumahnya, Jama’ah haji biasanya mengadakan tasyakuran yang disebt walimatul naqi’ah yaitu walimah yang diadakan untuk selamatan orang yang datang dari berpergian (walimah haji), bahkan seorang yang telah melaksanaknan haji disunnahkan mengadakan tasyakuran dengan menyembelih sapi atau unta.

Hal ini sebenarnay bukanlah semata-mata tradisi belaka tetapi juga mengandung unsur ibadah yang jelas ada rujukan dalilnya sebagaimana ditrangkan dalam al-fiqh al-wadhih min al-kitab wa al-sunnah

يستحب للحاج بعد رجوعه الى بلده ان ينحر جملا او بقرة او يذبح شاة للفقراء والمساكين والجيران والاخوان تقربا الى الله عز وجل كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم 

Disunnahkan bagi orang yang baru pulang dari haji untuk menyembelih seekor onta, sapi atau kambing (untuk diberikan) kepada fakir, miskin, tetangga, saudara. (hal ini dilakukan) sebagai bentuk pedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi saw.

Dalil ini berdasar pada hadits Rasulullah saw:

عن جابر بن عبد الله رضى الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم  لما قدم المدينة نحر جزورا اوبقرة

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah (usai melaksanakan ibadah haji), beliau menyembelih kambing atau sapi.

Demikianlah adanya hadits dan anjuran tentang walimatus safar yang menandai rasa syukur atas segala karunia Allah swt yang diberikan kepada seseorang yang telah berhasil melaksanakan ibadah haji ataupun telah mampu melunasi baiaya ONH haji. Karena itu disebagain daerah walimatus safar dilakukan sebelum pemberangkatan. (Ulil Hadrawi) 

Ahad 13 Oktober 2013 7:0 WIB
Dalil Shalat Arbain di Masjid Nabawi
Dalil Shalat Arbain di Masjid Nabawi
Ilustrasi (islamicity.org)

Pada umumnya, para jamaah haji dijadwalkan untuk mengunjungi kota Madinah sebelum atau sesudah penyelenggaraan ibadah haji . Diantara motifasi para jamaah adalah adanya fadhilah Kota Madinah yang diterangkan oleh Rasulullah dalam hadits-haditsnya.

Shalat di Masjid Nabawi tidaklah seperti shalat di masjid lain, Allah telah menyematkan padanya keutamaan yang besar, sebagaimana Allah telah melebihkan sebagian amalan di atas sebagian yang lain. Sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits riwayat dari Sahabat Abu Hurairah,

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ المَسْجِدَ الحَرَامَ

Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. (HR. al-Bukhari).

Sungguh keutamaan yang besar! Ini berarti satu kali shalat fardhu di Masjid Nabawi lebih baik dari shalat fardhu yang kita lakukan dalam dua ratus hari di Masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Maka sungguh merugi orang yang sudah sampai di Madinah tapi tidak sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan besar ini. Karena ada tiga Masjid di dunia ini yang memiliki keutamaan lebih dari pada Masjid-masjid yang lain, Pertama, Masjidil Haram di kota Mekah. Kedua, Masjid Nabawi di kota Madinah. Ketiga, Masjidil Aqsha di Palestina.

Arba'in atau arba'un dalam bahasa Arab berarti empat puluh. Yang dimaksud dengan shalat arba'in adalah melakukan shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam. Para jamaah haji meyakini bahwa amalan ini akan membuat mereka terbebas dari neraka dan kemunafikan. Karenanya jamaah haji Indonesia dan banyak negara lain diprogramkan untuk menginap di Madinah selama minimal 8 hari agar bisa menjalankan shalat arba'in.

Dasar keyakinan ini adalah sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan. (HR. Ahmad)

Dengan demikian, melaksanakan Jama'ah Shalat Arba'in di Masjid Nabawi bagi orang yang telah selesai menunaikan rangkaian amalah ibadah haji, atau sebelum melaksanakan ibadah haji adalah termasuk ibadah yang sangat mulia, pahalanya sebagaimana disebutkan, di jauhkan dari api neraka dan sifat kemunafikan, akan tetapi ini bukanlah sebagai syarat maupun rukun haji, melainkan menjadi rentetan kegiatan dari jamaah haji semisal dari Indonesia atapun dari Negara lain.

(Pen. Fuad H Basya/Red. Ulil H)