IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Ahli Ibadah Bodoh versus Orang Tidur Berilmu

Senin 11 April 2016 11:0 WIB
Share:
Ahli Ibadah Bodoh versus Orang Tidur Berilmu
Dalam sebuah Hadist dikisahkan bahwa suatu tempo Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mendatangi pintu masjid, di situ beliau melihat setan berada di sisi pintu masjid. Kemudian Nabi SAW bertanya, "Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Maka Setan itu menjawab, "Saya hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi saya takut pada seorang lelaki yang tengah tidur ini."

Lalu Nabi SAW berkata, "Wahai Iblis, kenapa kamu bukannya takut pada orang yang sedang shalat, padahal dia dalam keadaan ibadah dan bermunajat pada Tuhannya, dan justru takut pada orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?" Iblis pun menjawab, "Orang yang sedang shalat ini bodoh, mengganggu shalatnya begitu mudah. Akan tetapi orang yang sedang tidur ini orang alim (pandai)."

Dari Ibnu Abbas radliyallâhu ‘anh, Nabi SAW bersabda, "Nabi Sulaiman pernah diberi pilihan antara memilih ilmu dan kekuasaan, lalu beliau memilih ilmu. Selanjutnya, Nabi Sulaiman diberi ilmu sekaligus kekuasaan.

Bersumber dari Abi Hurairoh radliyallâhu ‘anh, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa pergi menuntut ilmu maka Allah akan menunjukkannya jalan menuju surga. Sesungguhnya orang alim senantiasa dimintakan ampunan untuknya oleh makhluk yang berada di langit maupun di bumi, hingga dimintakan ampun oleh ikan-ikan di laut. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi."

Hadits di atas menyiratkan betapa agama Islam begitu memuliakan, mengutamakan, dan menghargai orang yang berilmu pengetahuan. Bahkan melebihi keutamaanya orang yang ahli ibadah tapi bodoh. Menjadi jelas pula bahwa dalam agama Islam, menuntut ilmu dan mengembangkan budaya ilmiah itu termasuk bagian dari ibadah, juga merupakan tuntutan agama. Jadi tidak semata desakan kebutuhan zaman atau tuntutan dari institusi negara an sich. Itulah kunci mengapa dahulu pada masa kegemilangan peradaban Islam, banyak lahir ilmuan-ilmuan besar Muslim yang sumbangsihnya telah diakui dunia dalam banyak cabang keilmuan. Mereka menekuni disiplin keilmuan atas motif ajaran Islam, bukan tuntutan negara (daulah) waktu itu.

Begitu peduli dan perhatiannya agama Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan, banyak pula ayat Al-Qur'an memberi dorongan dan motivasi agar seseorang mencintai ilmu, di antaranya ayat itu, "Samakah antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Al-zumar: 9). Tak hanya itu, Al-Qur'an sendiri mengajarkan umat manusia berdoa kepada Tuhannya agar senantiasa ditambahkan ilmu pengetahuan, "Dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah pengetahuan kepadaku".

Di ayat lain Allah juga berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al-Mujaadalah: 11).

Berjibunnya apresiasi, penghargaan dan dorongan yang bersumber baik dari al-Qur'an ataupun Sunnah Nabi sebagaimana di atas seyogianya membuat kaum muslim pada saat ini khususnya yang masih berstatus mahasiswa, pelajar dan santri bisa lebih giat dan tekun lagi dalam mempelajari suatu ilmu dan mengembangkan tradisi ilmiah. Pun menyadarkan bahwa menurut pandangan Islam kegiatan dan aktivitas belajar dan menuntut ilmu baik di lembaga pendidikan formal atau nonformal yang ditempuh oleh seorang Muslim orientasinya tidak melulu mengejar ijazah, gelar dan jabatan tertentu, melainkan perlu diinsyafi pula bahwa belajar itu merupakan kewajiban tiap muslim dalam upaya mentaati perintah agama. Wallahu a'lam

M Haromain, pengajar di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo; penulis lepas, bergiat di Forum Intlektual Santri Temanggung.

Share:
Kamis 7 April 2016 4:0 WIB
Di Antara Wasiat Sunan Gunung Jati
Di Antara Wasiat Sunan Gunung Jati
Jika kita berziarah ke makam Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon, maka dapat ditemukan di salah satu sudut area makam, tepatnya di dinding serambi Masjid Agung Gunung Jati, terpampang secara jelas sebuah kalimat "Insun titip tajug lan fakir miskin." Kalimat yang sudah cukup familiar khususnya bagi masyarakat Cirbon, dan diyakini merupakan wasiat terakhir Sunan Gunung Jati tidak lama sebelum beliau wafat.

Secara harfiah arti dari wasiat tersebut ialah, "Saya titip tajug (sejenis mushalla atau langgar yang dipergunakan pula buat mengaji) dan fakir miskin." Lewat wasiat dimaksud, Sunan Gunung Jati berpesan kepada umat Islam secara umum agar sepeninggal beliau keberadaan tajug dan fakir miskin senantiasa diopeni, dijaga dan diperhatikan. Dengan kata lain keduanya jangan diterlantarkan begitu saja.

Menurut salah satu tokoh dan kiai dari Plered, Cirebon, KH Jamhari, tajug yang dimaksud dalam wasiat di atas dalam konteks sekarang mempunyai batasan arti yang lebih luas, tidak hanya terbatas mushalla atau langgar saja. Tapi mencakup pula pondok pesantren, madrasah diniyah dan majlis ta'lim lainnya. Demikian pula yang dikehendaki dari istilah fakir miskin, bukan sekedar para pengemis yang meminta-minta, melainkan terutama adalah para santri dan pelajar yang benar-benar sedang menimba ilmu dan memerlukan bantuan demi kelangsungan studinya. Terhadap tempat-tempat untuk mengaji dan para santri, Sunan Gunung Jati menitipkan keduanya supaya umat Islam sepeninggal beliau ikut merawat dan membantu dan membidani kelestariannya.

Berdasarkan pengamatan penulis saat nyantri di salah satu pesantren di Cirebon tahun 2012, dengan adanya wasiat dari Sunan Gunung Jati ini, khususnya di beberapa daerah di Cirebon, masyarakat sekitar pesantren memperlakukan dengan begitu baik para santri. Misalnya tidak sedikit masyarakat ketika bulan Ramadhan saat mereka bersedekah dan membayar zakat fitrah diberikan langsung kepada para santri yang masih di pesantren.  Itu dilakukan tidak lain karena teringat pesan Sunun Gunung Jati di atas.

Kendati tidak sepopuler bila dibandingkan wasiat pertama di atas, sebagian masyarakat Cirebon juga mengenal mutiara pesan lain yang juga diyakini bersumber dari Syekh Syarif Hidayatullah. Pesan tersebut berbunyi, "Sugih bli rerawat, mlarat bli gegulat," artinya "menjadi kaya bukan untuk pribadi, menjadi miskin, bukan untuk menjadi beban bagi orang lain." 

Dua wasiat atau pesan Sunun Gunung Jati di atas substansinya sama dan saling menguatkan, yaitu di samping mengingatkan umat Islam supaya nguri-uri tempat ibadah dan majlis tempat menimba ilmu, di sisi lain juga mendorong kepada golongan orang yang kuat dan mampu agar senantiasa memiliki empati dan kepedulian kepada fakir miskin atau kelompok yang lemah dalam berbagai seginya baik lemah secara ekonomi, ilmu maupun politik. Sementara pesan kedua secara tersirat menekankan supaya golongan lemah yang mendapatkan uluran tangan atau santunan dari  orang lain tidak menjadi bergantung selamanya pada bantuan orang lain tersebut. Melainkan mereka nantinya juga dituntut bisa mengembangkan kehidupan yang mandiri dalam berbagai aspeknya. 

M Haromain, Pengajar di Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, bergiat Forum Santri NU Temanggung 
Selasa 29 Maret 2016 11:26 WIB
Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya
Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya
Ketika krisis keteladanan melanda generasi suatu bangsa maka menjadi begitu penting membaca dan mengenang kembali para tokoh yang dahulu dikenal memiliki karakter, akhlak, dan kepribadian yang terpuji nan luhur serta patut diteladani generasi sesudahnya. Di antara tokoh dimaksud yang memiliki sejarah hidup mulia dan perlu dikenalkan kepada generasi muda adalah akhlaknya para kiai, di samping tokoh-tokoh pahlawan bangsa.

Pada suatu hari (diperkirakan tahun 1920-an) datanglah seorang pemuda yang baru turun dari dokar di dekat area pondok. Dia membawa perbekalan lumayan banyak dari rumah, sehingga merasa berat untuk dibawanya sendiri. Kemudian pemuda calon santri baru itu melihat ada orang tua yang sedang berkebun. Versi lain mengatakan sedang memperbaiki pagar tembok. Melihat didekatnya ada orang tua, pemuda itu bertanya dengan bahasa Jawa halus:  

"Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” Tanya pemuda itu.

"Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

"Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

"Oh, nggeh mas, kulo purun (Ya mas, saya mau),” balas orang tua.

Lalu dengan senang hati orang tua itu membantu membawakan bekal berupa beras dan kelapa milik pemuda tadi sampai di kompleks kamar santri. Para santri lama yang menyaksikan peristiwa itu terheran-heran: kiainya mengangkatkan barang milik calon santri barunya.

Akhirnya betapa malunya pemuda santri baru tersebut setelah mengetahui ternyata orang yang kemarin dia perintah membantu membawakan barang perbekalannya itulah yang menjadi imam shalat di masjid. Ternyata orang yang mengimami shalat tersebut adalah kiai pengasuh pesantren. Karena kesederhanaan penampilannya, sang pengasuh pesantren disangka orang desa atau petani kampung yang sedang bekerja.

Orang yang membantu mengangkatkan barang pemuda calon santri di atas adalah KH. Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. (M Haromain)  

Fragmen kisah ini disarikan dari arsip wawancara dengan para alumni Pesantren Lirboyo oleh tim penyusun buku
Sejarah Pesantren Lirboyo (2010); Lebih khususnya narasumber cerita ini adalah KH Ahmadi, Ngadiluweh dan almaghfurlah KH. A. Idris Marzuki.  

Ahad 27 Maret 2016 15:0 WIB
Pak Syihab yang Dekat dengan Kiai
Pak Syihab yang Dekat dengan Kiai
Ilustrasi
Salah satu anggota keluarga saya ada seseorang namanya Syihabuddin. Ia adalah suami dari sepupu saya dari jalur ayah. Bagi saya pribadi, sosok seperti Pak Sihab (begitu kalangan keluarga saya biasa memanggil) adalah orang yang unik. Aktivitasnya sehari-hari banyak dihabiskan dalam dunia pendidikan, meskipun ia juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan juga organisasi politik. Namun masyarakat mengenalnya sebagai orang pendidikan. Ia merupakan pegawai negeri sipil dalam lingkungan pendidikan.

Dalam dunia pendidikan ini, karir Pak Syihab sudah sangat lama dan sudah dituakan dalam dunia pendidikan formal kelas kabupaten. Banyak di antara guru-guru di kabupaten Pamekasan tempat tinggal saya yang dulunya juga adalah murid Pak Syihab. Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, adalah salah satu muridnya. Hari-harinya banyak diisi dengan mengajar dan mengajar. Senin sampai Jumat di tempat dinas. Sabtu mengajar di Perguruan Tinggi Swasta setempat. Minggu ia buat mengajar di sebuah madrasah di pelosok desa.

Dalam bidang yang ia tekuni itu Pak Syihabuddin sangat dihormati bawahannya. Meskipun tidak pernah marah murid-murid semuanya sungkan pada dirinya, demikian juga para guru dan staf bawahannya. Seringnya ketika melihat anak didiknya yang melanggar atau nakal Pak Syihab hanya melempar senyum saja pada si anak dan seketika anak itu langsung malu dan sungkan. Si anak pun menjadi jera. Pak Syihab merupakan sosok yang berkharisma. Hal demikian ini membuat posisinya sebagai kepala madrasah sering dimutasi dengan tujuan promosi dan memperbaiki kualitas madrasah yang lain.

Dalam posisinya sebagai pemimpin, Pak Syihab lebih mengutamakan contoh daripada instruksi. Bayangkan, ketika ada anak buahnya lembur, ia juga lembur, menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya sendiri. Ketika guru atau stafnya pulang semua barulah ia pulang juga. Jadi dirinya selalu pulang terakhir sendiri.

Keteladanan Pak Syihab sebagai Kepala Madrasah sangat berkesan bagi bawahannya. Salah seorang guru madrasah yang dipimpin Pak Syihab pernah bercerita kepada penulis. Bahwasanya ketika Pak Syihab harus menghadiri rapat di Kementerian Agama yang jaraknya sekitar 22 (dua puluh dua) KM dari madrasahnya, Pak Syihab tidak langsung pulang ke rumah yang jaraknya dekat dengan kantor kemag tersebut. Melainkan masih menyempatkan diri kembali ke madrasahnya dan memantau apa masih ada salah seorang guru atau staf yang masih di situ. Waktu itu padahal sudah sore.

Dalam kehidupan beragama, Pak Syihab ini tidak seperti keluarga besar kami. Rupanya ia tidak mau tahlilan, memang ia duduk sebagai salah satu pengurus Muhammadiyah setempat. Namun demikian bukan berarti Pak Syihab lalu menunjukkan rasa anti terhadap keluarga kami. Dan keluarga besar kami pun baik kepada dirinya dan keluarganya. Ketika perayaan Idul Fitri keluarga kami ke makam para kakek dan nenek kami, Pak Syihab pun juga ikut. Tapi jika kami baca tahlil Pak Syihab hanya berdoa di samping makam mendoakan ahli kubur. Kesimpulan saya, berarti Pak Syihab bukan tidak percaya sampainya doa melainkan hanya tidak mau tahlilan.

Meskipun demikian bukan berarti Pak Syihab anti pada kiai. Dirinya juga sering silaturahim pada kiai dan meminta doanya. Bahkan dalam banyak hal jika ia harus mengambil kebijakan atau menghadapi masalah dalam pekerjaannya, ia menghadap kiai-kiai. Dulu, dikabarkan ia juga pernah nyantri di Pesantren.

Di daerah Pamekasan, Pak Syihab memiliki ikatan silaturahim dan emosional dengan para kiai ternama di sana. Bahkan ketika ia hendak perpisahan karena harus mutasi dari MTs Negeri tempat kami, Pak Syihab kirim salam pada Kiai Madani, ia mohon maaf dalam perpisahan tidak bisa memberi kabar sang kiai karena pastilah dirinya (Pak Syihab) tidak kuat menahan air mata karena haru. Rupanya Pak Syihab mendapat tempatnya tersendiri dalam hati Pak Kiai. Demikian pula denga kiai yang lain.

Awal tahun yang lalu Pak Syihabuddin wafat. Kewafatannya ini sebagaimana pribadinya memunculkan peristiwa yang unik pula karena dihadiri oleh kalangan kiai-kiai NU dan Pengurus Muhammadiyah Pamekasan Madura. Pada acara pemulasaraan jenazah Pak Syihab, semula para Pengurus Muhammadiyah menginginkan diselenggarakan saja oleh pengurus Muhammadiyah dan diperlakukan ‘ala Muhammadiyah.’ Saya tidak tahu bagaimana pemulasaraan mayat ala Muhammadiyah. Namun ketika itu seorang kiai (kalau tak keliru) namanya Kiai Hamid Mannan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pamekasan melakukan interupsi.

“Maaf saya menyanggah. Saya kira jenazah Kiai Syihab ini harus saya laksanakan ala NU dan nanti harus ditahlili. Mengapa? Karena Almarhum adalah sahabat saya, dan ia pernah mondok di pesantren bersama saya. Jadi saya merasa wajib menghormati Almarhum,” katanya.

Mendengar interupsi itu maka masyarakat yang hadir langsung melaksanakan pemulasaraan terhadap jenazah Pak Syihab dan dilaksanakan ala NU serta di tahlili. Alhamdulillah mungkin itulah berkah kedekatan dengan Kiai. Kepada beliau Al-Fatihah. (R. Ahmad Nur Kholis)