IMG-LOGO
Ubudiyah

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib

Selasa 12 April 2016 4:2 WIB
Share:
Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib
Usai mengerjakan shalat sebaiknya jangan langsung beranjak dari tempat shalat. Biasakan diri untuk dzikir sejenak dan berdo’a untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat. Sebab dzikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan saat selesai shalat.

Ia termasuk ibadah yang mudah dan ringan dilakukan, namun ganjaran yang diberikan sangatlah besar. Kendati mudah dilakukan, ada banyak godaan yang harus disingkirkan agar tetap istiqamah dalam berdzikir. Di antara godaan yang dimaksud adalah malas.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memasukkan bahasan khusus tentang do’a dan dzikir. Menurutnya, salah satu dzikir yang sangat dianjurkan ialah membaca subhânallâh, alhamdulillâh, dan allâhu akbar sebanyak 33 kali. Kemudian ditutup dengan melafalkan lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai‘in qadîr satu kali.

Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah yang berbunyi:

قال صلى الله عليه وسلم من سبح دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين وحمد ثلاثا وثلاثين وكبر ثلاثا وثلاثين وختم المائة بلا إله إلا الله لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير غفرت ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,’” (HR. Malik).

Dengan demikian, budayakan setelah shalat membaca semua dzikir di atas. Berdasarkan hadits yang dikutip di atas, orang yang terbiasa melakukan ibadah ini, dosanya akan diampuni Allah Yang Maha Pengampun meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah).

Share:
Kamis 31 Maret 2016 21:6 WIB
Cara Miliki Rumah di Surga
Cara Miliki Rumah di Surga
Di akhirat kelak, tidak ada yang dapat membantu manusia kecuali amal saleh. Setinggi apapun jabatan di pemerintahan dan sebanyak apapun harta yang didapat, itu semua tidak berguna di depan Yang Maha Kuasa. Sebab Allah SWT hanya menghargai amal kebaikan dan ibadah yang dilakukan hamba-Nya. Karenanya, perbanyaklah melakukan amal saleh selama masih diizinkan untuk bernafas.

Di antara amal saleh yang dapat dilakukan adalah memperbanyak shalat sunah. Dalam sebuah hadis riwayat At-Tirmidzi dikatakan bahwa orang yang mengejakan shalat sebanyak dua belas raka’at setiap hari, maka Allah SWT akan membangunkan rumah untuknya di surga nanti.

Shalat dua belas raka’at yang dimaksud ialah shalat sunah yang dikerjakan sesudah atau sebelum shalat wajib. Berikut kutipan hadisnya:

مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً  بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ: أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، َرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ» "

Artinya, “Siapa saja yang mengerjakan shalat dua belas raka’at setiap harinya, maka ia akan memperoleh rumah di surga. Shalat dua belas raka’at yang dimaksud adalah empat raka’at sebelum dzuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah magrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum shubuh,” (HR At-Tirmidzi).

Selain mengerjakan shalat wajib, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sunah. Shalat rawatib, baik sebelum atau setelah shalat wajib, termasuk shalat sunah yang sangat dianjurkan Nabi SAW.

Bahkan, Allah SWT akan menyediakan rumah di akhirat kelak bagi pengamalnya. Shalat sunah rawatib yang dianjurkan di dalam hadis di atas ialah empat raka’at sebelum dzuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah magrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum shubuh. Semoga kita dapat mengamalkannya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sabtu 19 Maret 2016 1:3 WIB
Amalan Jaga Konsentrasi ala Rasulullah SAW
Amalan Jaga Konsentrasi ala Rasulullah SAW
Konsentrasi terlebih lagi pada saat kritis adalah barang mahal yang tidak dijual di toko. Memang ada banyak sebab yang dapat memecah konsentrasi pikiran seseorang. Pelbagai ingatan justru hadir saat tidak dikehendaki. Pikiran-pikiran kadang melintas begitu saja memotong garis konsentrasi.

Kurangnya konsentrasi ini dapat membawa kerugian besar. Karenanya konsentrasi perlu dipelihara dengan baik.

Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin ila Jannati Rabbil ‘Alamin menyinggung sebuah doa di dalam Al-Quran yang Allah SWT perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar pikiran-pikiran yang tidak dikehendaki tersingkir. Doanya sebagai berikut,

وَقُلْ رَّبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَّحْضُرُوْنِ

Artinya, “Waqur rabbi a‘ûdzubika min hamazâtis syayâtîn wa a‘ûdzubika rabbi ay yahdlurûn (Katakanlah [hai Muhammad], ‘Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari gangguan setan. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kepungan mereka,’” QS Al-Mukminun ayat 97-98).

Kalau makhluk-Nya yang paling mulia, paling berilmu, dan paling diperhatikan diperintahkan untuk berlindung kepada Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Kita lebih layak mengamalkan doa ini. Demikian keterangan Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin.

Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes, Kediri dalam karyanya Sirajut Thalibin ala Minhajil ‘Abidin menguraikan lebih lanjut pernyataan Imam Al-Ghazali itu sebagai berikut.

اي يحوموا حولي في شيء من الأحوال وخصوصا حال الصلاة و قراءة القرآن و حلول الموت لأنها أحرى الأحوال بأن يخاف عليه فيها كما في البيضاوي

Artinya, “’Aku berlindung kepada-Mu ketika setan-setan itu dari segala arah menghampiriku di waktu-waktuku.’ Terlebih lagi saat sembahyang, membaca Al-Quran, dan saat ajal mendekat. Karena tiga kondisi ini lebih layak lagi sebagai waktu paling kritis untuk berlindung kepada Allah. Demikian disebutkan Imam Al-Baidlawi.”

Di waktu-waktu tertentu, kita membutuhkan konsentrasi penuh. Tetapi kepingan pikiran-pikiran yang dibawa setan saat sembahyang, membaca Al-Quran, dan ajal mendekat perlu disingkirkan dengan harapan perlindungan dari Allah SWT agar kita selamat melewati tiga kondisi dan juga saat-saat lainnya dengan sejahtera. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Ahad 13 Maret 2016 17:5 WIB
Anjuran Nabi SAW Sebelum Berpergian
Anjuran Nabi SAW Sebelum Berpergian
Tidak nikmat rasanya hidup ini jika tiap hari hanya dihabiskan di rumah. Sesekali kita perlu juga melangkah ke luar, pergi ke tempat pariwisata, atau mengunjungi karib kerabat. Ketika hendak berpergian, jangan lupa pamitan, minta restu, dan doa keluarga terutama untuk perjalanan jauh dan lama.

Selain pamitan, Rasulullah SAW menganjurkan shalat dua rakaat sebelum meninggalkan rumah.

Amaliah ini rutin Beliau lakukan ketika hendak berpergian. Apalagi saat meninggalkan rumah untuk jangka waktu yang lama. Hal ini seperti yang dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab,

يستحب إذا أراد الخروج من منزله أن يصلي ركعتين يقرأ في الأولى بعد الفاتحة (قل يا أيها الكافرون) وفي الثانية (قل هو الله أحد) ففي الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما خلف عبد أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا. وعن أنس قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم لاينزل منزلا إلا ودعه بركعتين، رواه الحاكم وقال هو صحيح على شرط البخاري ويستحب أن يقرأ بعد سلامه (آية الكرسي ولإيلاف قريش)

Artinya, “Disunahkan shalat dua raka’at menjelang keluar rumah. Pada rakaat pertama, disunahkan membaca surat Al-Kafirun dan membaca surat Al-Ikhlas untuk rakaat kedua. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Tidak ada amalan yang lebih utama ketika keluar rumah kecuali shalat dua raka’at”. Sahabat Anas menceritakan bahwa Nabi SAW tidaklah meninggalkan rumah sebelum shalat dua raka’at, (HR Al-Hakim). Setelah shalat, dianjurkan membaca ayat Kursi dan surat Quraisy.”

Sebelum keluar rumah, lakukanlah shalat dua raka’at. Dianjurkan membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama, dan surat Al-Ikhlas pada raka’at kedua. Jangan lupa setelah shalat membaca ayat Kursi dan surat Quraisy.

Demikianlah amalan Nabi Muhammad SAW sebelum meninggalkan rumah. Semoga kita dapat mengamalkan dan membiasakannya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)