IMG-LOGO
Doa

Doa setelah Wudhu

Kamis 12 Mei 2016 6:8 WIB
Share:
Doa setelah Wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لآّاِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû, allâhummaj'alnî minat tawwâbîna waj'alnii minal mutathahhirîna.

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bersuci (shalih)." (Dari hadits riwayat Imam Muslim dan Imam at-Tirmidzi)


(Mahbib)

Tags:
Share:
Sabtu 30 April 2016 9:0 WIB
Doa saat Menghadapi Musuh
Doa saat Menghadapi Musuh
Secara nurani, setiap manusia tak ingin memiliki musuh dan sama sekali tak dianjurkan mencari-carinya. Hanya saja, watak hidup yang dinamis membuat kita nyaris tak bisa menghindar dari musuh, atau setidaknya dimusuhi. Kala berhadapan dengan musuh, terutama yang agresif dan membahayakan diri kita, seseorang dianjurkan untuk membela diri.

Rasulullah mengajarkan, ketika kita sendang menghadapi musuh untuk membaca:

يَا مَالِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيَّاكَ أعْبُدُ وَإيَّاكَ أَسْتَعِينُ

Iyyâka a‘budu wa iyyâka asta‘înu yâ mâlika yaumiddîn

Artinya, “Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan, wahai penguasa hari pembalasan.”

Hadits tersebut diriwayatkan dari Anas yang bersaksi bahwa Nabi membaca doa itu saat bertemu musuh dalam sebuah peperangan. Kemudian ia melihat orang-orang bergulat dan malaikat-malaikat turut terlibat di dalamnya. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)

Sabtu 30 April 2016 5:24 WIB
Lafal Paling Sering Dibaca Rasulullah SAW Jelang Wafat
Lafal Paling Sering Dibaca Rasulullah SAW Jelang Wafat
Rasulullah SAW tidak pernah putus berdoa dan berharap kepada Allah SWT. Beliau banyak mengajarkan lafal doa baik umum maupun khusus kepada para sahabat dan keluarganya. Tetapi jelang wafatnya Rasulullah SAW menyibukan diri dengan tasbih dan istighfar. Berikut ini lafal yang paling sering dibaca Rasulullah SAW.

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Subhanâka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atûbu ilaik.

Artinya, “Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertobat kepada-Mu.”

Sejumlah riwayat di bawah ini menjelaskan betapa seringnya Rasulullah SAW mengucapkan tasbih dan istighfar.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: ما صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ عليه {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1] إلا يَقُوْلَ فيها "سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفٍرْ لِيْ" متفق عليه.

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Setelah turun ayat [Idzâ jâ’a nashrullâhi wal fathu], Rasulullah SAW seusai sembahyang belum pernah meninggalkan bacaan, ‘Subhanâka rabbanâ wa bihamdik. Allâhummaghfir lî (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku),’’” HR Bukhari dan Muslim.

Bahkan saking seringnya Rasulullah SAW membaca tasbih dan istighfar di dalam sembahyangnya seperti diriwayatkan Aisyah RA yang disebutkan di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim berikut ini.

وفي رواية في الصحيحين عنها: كان رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يكثر أن يَقُولَ فِي رُكُوعِه وَسُجُودِهِ "سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ" يَتَأَوَّلُ القُرْآنَ. ومعنى "يتأول القرآن" أي يعمل ما أمر به في القرآن في قوله تعالى "فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ"

Artinya, “Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, Rasulullah SAW dalam ruku’ dan sujudnya memperbanyak baca, “Subhanâkallâhumma rabbanâ wa bihamdik. Allâhummaghfir lî (Mahasuci Engkau ya Allah, ya Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku),'” Rasulullah SAW menakwil Al-Quran.

Pengertian ‘menakwil Al-Quran’ kata Imam An-Nawawi adalah Rasulullah SAW mengamalkan perintah Al-Quran dalam firman-Nya, “Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah),” (Lihat Imam An-Nawawi, Riyadlus Shalihin).

Siti Aisyah RA pernah menanyakan perihal tingginya intensitas tasbih dan istighfar Rasulullah SAW. Dialog keduanya terekam dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ: «سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ» قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِي أَرَاكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا؟ قَالَ: «جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا» {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW sebelum wafat memperbanyak baca ‘Subhanâka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atûbu ilaik (Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertobat kepada-Mu).’ Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa arti kalimat ini, sebelumnya aku belum pernah mendapatimu melakukannya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku sudah diberi tanda di tengah umatku. Kalau sudah tanda itu tampak, aku membacanya.’ Tanda yang dimaksud Rasulullah SAW adalah turunnya surat An-Nashr,” (Lihat Imam An-Nawawi, Riyadlus Shalihin).

Dengan tasbih dan istighfar ini semoga Allah SWT memberikan banyak kebaikan bagi kita semuanya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Rabu 20 April 2016 13:15 WIB
Doa Pengusir Marah
Doa Pengusir Marah
Ilustrasi
“Sesungguhnya orang yang kuat bukan orang yang unggul dalam bergulat, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya saat marah.” Pernyataan Rasulullah yang diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi ini menyiratkan pesan bahwa mengendalikan diri lebih dari sekadar urusan fisik.

Mengontrol amarah menjadi parameter kekuatan batin seseorang. Karena orang yang sedang marah bisa lalai terhadap segalanya, termasuk pada Tuhan dan dirinya sendiri. Dampak negatifnya bisa tak terbatas. Dalam situasi inilah setan hinggap, karena marah memang pekerjaan hawa nafsu, baik marah untuk kepentingan diri sendiri, untuk orang banyak, maupun marah mengatasnamakan agama.

Rasulullah dalam suatu hadits pernah mengulang-ulang perintah “Jangan marah!” hingga tiga kali. Hal ini lantaran amarah tak hanya bisa menghilangkan akal sehat, tapi juga memiliki efek kerusakan bagi diri sendiri dan sekitarnya. Dalam menyikapi suatu hal, seseorang hendaknya tetap rileks dan berpikir jernih sehingga usaha mengatasi masalah lebih banyak menghasilkan maslahat ketimbang mudarat. Rasulullah memberi resep mengusir setan dan marah dengan membaca ta’awudz:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A‘ûdzubillâhi minasy syaithânir rajîm

"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Doa ini juga selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam surat Fushilat ayat 36 yang berbunyi, “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Mahbib)