IMG-LOGO
Syariah

Bagaimana Memahami Konteks Hadits Memepet Orang Kafir di Jalan?

Senin 1 Agustus 2016 11:0 WIB
Share:
Bagaimana Memahami Konteks Hadits Memepet Orang Kafir di Jalan?
Ilustrasi (swedwards.com)
Abu Hurairah bergabung bersama Rasulullah di Madinah tahun ketujuh hijriah dan hanya bersama Rasul dalam periode sekitar 3 tahun sebelum wafatnya Rasulullah. Dalam periode yang relatif singkat tersebut, Abu Hurairah, menurut catatan Imam Dzahabi, telah meriwayatkan 5.374 hadits. Sejumlah pihak membandingkannya dengan Siti Aisyah (2.210 hadits), Sayyidina Umar (537 hadits) dan Sayyidina Abu Bakar Ashiddiq (132 hadits). Sudah banyak bahasan masalah ini sejak dahulu kala sampai Imam Bukhari pun meriwayatkan pembelaan dan alasan Abu Hurairah sendiri mengapa ia banyak sekali meriwayatkan Hadits dalam waktu singkat. Ada apa dengan Abu Hurairah?

Saya menerima pembelaan dan alasan Abu Hurairah tersebut. Dan kita bersyukur ada Abu Hurairah yang meriwayatkan banyak Hadits tentang Rasul. Fokus saya bukan pada jumlah Hadits yang beliau riwayatkan, tapi pada konteks 3 tahun terakhir hidup Rasulullah. Tentu saja ini menunjukkan ribuan Hadits yang beliau ceritakan itu berasal dari periode akhir kehidupan Baginda Rasul, dan tidak bisa menggambarkan keseluruhan perjalanan dakwah Rasulullah. Konteks ini menjadi penting untuk memahami Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Salah satu Hadits yang bisa dipahami dalam konteks di atas adalah Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

"Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit. (HR. Muslim Nomor 2167)

Dari segi sanad, Hadits di atas masuk ke dalam Hadits Sahih, tapi tentu menjadi musykil untuk dipatuhi dalam konteks masyarakat yang majemuk. Bayangkan kalau Hadits di atas dipahami secara apa adanya maka orang-orang kafir akan dipaksa minggir bahkan kita akan memepet mereka di jalan raya baik dengan motor dan mobil. Bahkan untuk mengetahui mereka kafir atau bukan (sehingga layak dipepet ke pinggir jalan) akan ada razia KTP yang memeriksa agama pengguna jalan. Atau terpaksa dibuatkan jalur khusus non-muslim di pinggir jalan raya. Inikah yang diinginkan Rasulullah selaku pembawa rahmat bagi semesta alam? Tentu saja kita sukar percaya bahwa suasana masyarakat seperti itulah yang dikehendaki Rasul.

Dari segi matan, para ulama sudah banyak membahas benarkah kita dilarang mendahului mengucapkan salam kepada non-Muslim. Sebagian memahami apa adanya larangan dalam Hadits di atas, sebagian lagi mengatakan memulai salam jangan, tapi menjawabnya tidak mengapa (meski dengan lafadh yang sekadarnya saja). Namun ada pula ulama yang membolehkan mendahului mengucapkan salam, tapi hanya sebatas 'selamat pagi' atau 'sore' bukan berupa assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ada pula sebagian ulama yang membolehkan mendahului mengucapkan salam dengan berdasarkan Hadits lain dan keumuman ayat Qur'an dalam berinteraksi dengan non-Muslim.

Pendek kata, Hadits di atas telah dibahas panjang lebar oleh para ulama dan kita harus menyimak perdebatan tersebut sebelum menjadikan Hadits ini sebagai ukuran ber-muamalah dengan pihak non-Muslim. Inilah bahayanya kalau kita hanya mencomot teks Hadits tanpa mengaitkan dengan Hadits ainnya dan tanpa membaca penjelasan dan perdebatan para ulama mengenai kandungan dan aplikasi Hadits.

Kembali ke konteks sosio historis perawi, Abu Hurairah bergabung setelah perang Khaibar. Dalam periode akhir kehidupan Rasul, memang relasi umat Islam dengan Yahudi berubah menjadi tegang akibat pengkhianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian yang ada. Untuk itulah Syekh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan Hadits riwayat Abu Hurairah di atas itu diucapkan Rasul dalam konteks perang.

Indikasinya terdapat dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Kitab Adab al-Mufrad bahwa Rasulullah hendak pergi berperang dengan menaiki kendaraannya ke tempat perkampungan Yahudi dan mengatakan jangan memulai salam kepada mereka. Tentu saja mau perang kok pakai mengucapkan salam. Tidak mungkin kan! Dan dalam suasana mau berangkat perang, kalau ketemu bakal musuh di jalan, ya tentu kita harus tunjukkan kebesaran dengan menguasai jalan hingga mereka terdesak ke pinggir. Jadi, konteksnya adalah suasana perang, bukan suasana normal sehari-hari.

Itu sebabnya para ulama seperti Ibn Abbas, Imam al-Thabari, Sufyan bin Uyainah, Abu Umamah, Ibn Abi Syaibah, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak melarang kita memulai ucapan salam kepada pihak non-Muslim.

Seringkali pada masa kini hubungan antarumat beragama menjadi penuh ketegangan dan konflik karena kita tidak bisa memilah mana perkara aqidah dan mana perkara muamalah. Masalah ucapan salam yang sejatinya persoalan interaksi sosial pun dimasukkan dalam kategori aqidah sehingga menjadi pertarungan teologis. Begitu pula kita harus memilah mana ketentuan yang berlaku umum untuk berhubungan baik dengan non-Muslim atas dasar kemanusiaan, dan mana ketentuan yang berlaku khusus dalam kondisi konflik dan peperangan. Mencampuradukkannya akan membuat dunia ini tegang dan konflik terus.

Kita menginginkan dunia yang damai, bukan?!

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Share:
Jumat 8 Juli 2016 19:0 WIB
Penggunaan Kata Sayyidina Menurut KH Sya’roni Ahmadi
Penggunaan Kata Sayyidina Menurut KH Sya’roni Ahmadi
Seiring dengan bertumbuhkembangnya beberapa paham di Indonesia, terdapat sebagian kelompok yang gemar menyalahkan amaliyah nahdliyah yang telah berjalan mengakar di tengah masyarakat. Tak sedikit dari mereka saling beradu argumen dengan masing-masing pihak tanpa memahami duduk permasalahan secara utuh.

Seperti perdebatan penggunaan kata “sayyidina” dalam shalawat Nabi. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya boleh berdasarkan nash Al-Qur’an secara sharih (jelas). Adapun orang yang tak setuju itu semata dikarenakan mereka tak paham.

Lafadh as-sayyid merupakan lafadh kulli musytarak, yaitu satu lafadh yang mempunyai makna lebih dari satu arti. Demikian penjelasan Kiai Sya’roni pada salah satu pertemuan pengajian Tafsir Al Jalalain rutin setiap Jumat pagi di Masjid Al Aqsha, Menara Kudus.

Kiai sepuh ini menjelaskan bahwa “sayyidina” mempunyai tiga arti. Hal ini mengacu pada beberapa sumber :

Pertama, as-sayyid yang bermakna Tuhan sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari Muslim الَّسيِّدُ اللهُ. Tuhan itu Allah. Kalau seorang muslim mengucapkan “Sayyidina Muhamad” dengan maksud memakai makna tuhan, “Tuhan itu Muhammad” maka yang mengatakan demikian hukumnya jelas kufur (keluar dari Islam).

Kedua, as-sayyid yang mempunyai arti suami sebagaimana disebut dalam QS Yusuf: 25

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَّأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ، الاية

Artinya, "Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu."

Pada ayat ini, as-sayyid tidak dapat dimaknai sebagai raja, Tuhan, namun mempunyai makna “suami”. Antara makna yang pertama dengan kedua ini telah jelas ada perbedaannya. Memakai lafadh sayyid pada Nabi Muhammad dengan maksud sebagai suami salah.

Ketiga, as-sayyid mempunyai arti pimpinan sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran:

فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّىْ فِىْ الْمِحْرَابِ اِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُوْرًا وَنَبِيَّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya, "Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan (pemimpin) menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang shalih."

Pada ayat ini jelas bahwa Allah menyebut Nabi Yahya dengan sebutan sayyid. Ini baru Nabi Yahya. Padahal Nabi Muhammad itu pimpinan para nabi dan rasul, maka sudah sangat patut jika kita menyebutnya dengan memberi imbuhan kata sayyid, sebab Nabi Muhammad secara derajat masih di atas Nabi Yahya (qiyas aulawiy).

Dengan keterangan KH Sya’roni di atas, diharapkan umat dapat memahami persoalan secara mendalam sehingga tidak ada saling tuduh. Akhirnya umat akan dingin, tak ada pertengkaran dan saling klaim, hanya untuk persoalan yang bersifat furu’iyah (bukan fundamen agama). Hal ini dapat tercipta jika masing-masing berkenan memahami agama secara menyeluruh dan mendahulukan hati, pikiran dengan benar bukan nafsu dan emosi. (Mundzir)

Selasa 5 Juli 2016 20:5 WIB
Hukum Takbiran di Hari Lebaran
Hukum Takbiran di Hari Lebaran
Saat menjelang lebaran suara takbir bergema di mana-mana: masjid, jalan, bahkan pasar. Ada yang melafalkannya secara langsung dan ada pula yang memutar kaset takbiran. Bahkan di kebanyakan daerah, tua dan muda langsung turun ke jalan, takbir keliling, menggemakan suara takbir pertanda Ramadhan sudah berakhir.

Terkhusus bagi masyarakat Nusantara, ‘Idul Fithri merupakan momen yang sangat istimewa dan berharga. Hari itu ajang silaturahmi, maaf-maafan, dan berkumpul bersama karib-kerabat. Karenanya, sebagian orang rela menghabiskan waktu untuk mudik supaya dapat merayakan lebaran di kampung halaman. Meskipun kita tahu bahwa mudik bukanlah perkara mudah.

Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa takbir pada malam hari raya disunahkan. Kesunahan ini ditujukan untuk semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mukim ataupun musafir, sedang berada di rumah, masjid, ataupun di pasar. Muhammad bin Qasim Al-Ghazi mengatakan:

ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى  وحاضر ومسافر في المنازل والطرق والمساجد والأسواق، من غروب الشمس من ليلة العيد، أي: عيد الفطر، ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام في الصلاة  للعيد، ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلاة، ولكن النووي  في "الأذكار" اختار أنه سنة

Artinya, “Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fithri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fithri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar  hal ini tetap disunahkan.”

Merujuk pendapat ini, disunahkan bagi siapapun untuk bertakbir menjelang kedatangan hari raya, sekalipun dalam kondisi perjalanan. Takbir dimulai dari terbenam matahari sampai shalat ‘Idul Fithri. Sedangkan menurut sebagian pendapat ulama, takbiran setelahnya tidak disunahkan. Inilah yang membedakan ‘Idul Fithri dengan ‘Idul Adlha: saat ‘Idul Adlha disunahkan takbir setiap usai shalat fardhu selama hari tasyriq (11,12, 13 Dzulhijah), yaitu setelah shalat ‘Idul Adlha. Sementara dan ketika ‘Idul Fithri takbir setelah shalat ‘Id tidak disunahkan.

Pendapat ini berbeda dengan An-Nawawi, takbir setelah shalat ‘Id menurutnya tetap disunahkan. Artinya, pada malamnya juga masih disunahkan. Menurut Penulis, pengamalan berbagai pendapat ini dikembalikan pada tradisi yang berlaku di daerah masing-masing.

Apabila di kampung tersebut tidak ada tradisi takbir setelah shalat ‘Id lebih baik tidak dilakukan, kendati menurut sebagian ulama disunahkan. Tujuannya supaya tidak mengundang polemik dan kerancuan di tengah masyarakat. Wallahu ‘alam (Hengki Ferdiansyah)

Senin 20 Juni 2016 15:1 WIB
Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan
Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan
Kewajiban puasa berlaku sejak kita melihat bulan. Rasulullah SAW bersabda, “Sûmû liru’yatihi wa afthirû li ru’yatihi.” Artinya, “Berpuasalah kamu karena melihat bulan. Dan berhari raya kamu semua karena melihat bulan.” Sejak bulan terlihat, sejak itu pula kita berwajiban menjalankan ibadah puasa.

Semua aktivitas yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami istri mesti diatur jadwalnya. Pengaturan ini berlaku untuk mereka yang wajib secara syara’ (agama) menjalankan puasa. Mereka yang wajib adalah orang yang baligh, berakal, sehat, muda, dan mampu menjalankan puasa. Singkatnya mereka yang mampu menjalani ketentuan puasa.

Sedangkan orang di luar itu tidak berkewajiban menjalankan puasa. Mereka ini yang dikecualikan. Orang-orang ini disebutkan secara rinci oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatu Saja. Mereka ini diizinkan secara syara’ untuk membatalkan puasanya.

يباح الفطر في رمضان لستة للمسافر والمريض والشيخ الهرم أي الكبير الضعيف والحامل ولو من زنا أو شبهة ولو بغير آدمي حيث كان معصوما والعطشان أي حيث لحقه مشقة شديدة لا تحتمل عادة عند الزيادي أو تبيح التيمم عند الرملي ومثله الجائع وللمرضعة ولو مستأجرة أو متبرعة ولو لغير آدمي

Artinya, “Enam orang berikut ini diperbolehkan berbuka puasa di siang hari bulan Ramadhan. Mereka adalah pertama musafir, kedua orang sakit, ketiga orang jompo (tua yang tak berdaya), keempat wanita hamil (sekalipun hamil karena zina atau jimak syubhat [kendati wanita ini berjimak dengan selain manusia tetapi ma’shum]).

Kelima orang yang tercekik haus (sekira kesulitan besar menimpanya dengan catatan yang tak tertanggungkan pada lazimnya menurut Az-Zayadi, sebuah kesulitan yang membolehkan orang bertayamum menurut Ar-Romli)-serupa dengan orang yang tercekik haus ialah orang yang tingkat laparnya tidak terperikan-, dan keenam wanita menyusui baik diberikan upah atau suka rela (kendati menyusui bukan anak Adam, hewan peliharaan misalnya).”

Islam memungkinan orang-orang ini terbebas dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan meskipun sebagian dari enam orang ini harus menggantinya di luar Ramadhan. Karena, kondisi yang dialami enam orang ini, dalam pandangan ulama, memungkinkan hilangnya kemampuan puasa dari yang bersangkutan saat Ramadhan. Artinya, Islam tidak memaksakan mereka yang tidak mampu berpuasa. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)