IMG-LOGO
Ubudiyah

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar

Senin 1 Agustus 2016 23:1 WIB
Share:
Ini Tujuh Wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar
Jandab bin Janadah, populer dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sebagai orang yang paling baik, ramah, dan santun perangainya. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang dikutip Al-Mizi dalam Tahdzibul Kamal mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Setiap nabi diberikan tujuh orang (sahabat) mulia dan halus (sifat dan tabiatnya), sementara aku diberikan 14 orang yang baik lagi halus bawaannya.’” Di antara sahabat yang dimaksud Rasulullah SAW ialah Abu Dzar Al-Ghifari.

Menurut catatan sejarah, Abu Dzar pertama kali masuk Islam di Mekah, kemudian dia kembali ke kampung halamannya, dan pergi ke Madinah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana. Sahabat ini meninggal pada tahun 32 hijriah, tepatnya masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Semasa hidupnya, Rasulullah pernah berpesan tujuh hal kepada pemuda berkulit sawo matang ini. Wasiat ini terekam dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w 282 H). Isinya berikut ini:

أوصاني خليلي بسبع: أنظر إلى من هو أسفل مني، ولا أنظر إلى من هو فوقي، وأن أحب المساكين وأن أدنوا منهم، وأن أقول الحق وإن كان مرا، وأن لا أسأل أحدا شيئا، وأن أصل الرحم وإن أدبرت، وأن لا أخاف الله لومة لائم وأن أكثر من قول لا حول ولا قوة إلا با الله"

Artinya, “Karibku  (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca la haula wa quwwata illa billah.”

Tujuh pesan yang disampaikan Nabi SAW ini tentu tidak terkhusus untuk Abu Dzar semata. Kendati wasiat ini disampaikan kepadanya, namun makna hadits ini tetap berlaku umum. Siapapun dianjurkan bahkan diwajibkan. Ini sejalan dengan kaidah, al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab (yang menjadi patokan keumuman redaksi hadits, bukan konteks spesifiknya).

Dilihat dari isi wasiatnya, sebagian besar nasihat Nabi SAW ini sangat layak dijadikan panduan menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kontennya tidak hanya berisi ibadah ritual, tapi juga berupa panduan etika, motivasi hidup, dan panduan bermasyarakat.

Misalnya, Nabi meminta untuk melihat orang yang di bawah kita dan jangan terlalu fokus pada orang yang di atas kita. Maksudnya, dalam menjalani kehidupan tentu ada yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sering kali kita iri terhadap orang yang diberikan kelebihan, akibatnya kita malah menjadi orang yang kurang bersyukur.

Dengan memperhatikan kondisi hidup orang di bawah kita baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, hal ini akan memupuk keprihatinan dan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Begitu pula dengan anjuran mencintai fakir miskin dan mendekati mereka. Kita dituntut memperhatikan mereka dan memberikan sebagian kelebihan yang kita miliki  untuk membantu kehidupan mereka. Memberikan bantuan terhadap fakir miskin tersebut membuat ikatan persaudaraan dan kemanusiaan kita semakin menguat. Semoga kita dapat mengamalkan isi wasiat ini. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Share:
Kamis 28 Juli 2016 20:4 WIB
Lebih Baik Shalat Sunah per Dua Raka’at atau Empat Raka’at Sekaligus?
Lebih Baik Shalat Sunah per Dua Raka’at atau Empat Raka’at Sekaligus?
Di antara shalat yang disunahkan ialah shalat rawatib, yaitu mengerjakan shalat sunah sebelum atau setelah shalat wajib.  Melakukan shalat ini sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW, karenanya beliau berwasiat kepada Abu Hurairah agar tidak meninggalkannya. Abu Hurairah mengatakan, “Rasulullah berwasiat kepadaku dan wasiat tersebut senantiasa aku langgengkan sampai aku wafat.”

Sebagaimana yang dinukilkan At-Thabrani di dalam Mu’jamul Awsath, shalat sunah rawatib: dua raka’at sebelum shubuh, dua raka’at sebelum dan sesudah dzuhur, dua raka’at sebelum ashar, dua raka’at setelah magrib dan dua raka’at setelah isya, termasuk deretan amalan yang diwasiatkan Nabi kepada sahabat Abu Hurairah.

Meskipun dalam riwayat At-Thabrani disebutkan dua raka’at sebelum dan sesudah dzuhur, serta dua raka’at sebelum ashar, namun dalam riwayat lain disunahkan untuk menambah dua raka’at lagi sebelum dan sesudah dzuhur, dan sebelum ashar. Artinya, sangat dianjurkan untuk shalat sunah empat raka’at pada dua tiga waktu itu.

Anjuran ini terdapat dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, “Siapa yang membiasakan shalat sunah empat raka’at sebelum dan sesudah dzuhur, Allah SWT mengharamkan neraka bagi mereka.” Terkait kesunahan empat raka’at sebelum ashar, At-Tirmidzi mencatat, “Allah mengasihi orang yang shalat empat raka’at sebelum ashar.”

Dengan memperhatikan beberapa riwayat di atas, kesunahan shalat empat raka’at sebelum dan sesudah dzuhur, dan sebelum ashar tidak diragukan lagi. Akan tetapi, mana yang lebih utama (afdhal), mengerjakannya empat raka’at sekaligus atau mencicilnya dengan dua raka’at, kemudian ditambah dua raka’at lagi?

Imam An-Nawawi pernah ditanya tentang soal ini, dalam kitab Fatawa Al-Imam An-Nawawi, ia menjawab:

يجوز له تسليمة بتشهد واحد وتشهدين، والأفضل تسليمتان

Artinya, “Boleh melakukan shalat sunah sebelum dan sesudah dzhur dengan satu kali salam dan tasyahud (empat raka’at sekaligus) atau dua kali tasyahud. Namun yang paling utama ialah mengerjakannya dengan dua salam (dua raka’at dua raka’at).”

Mengerjakan shalat rawatib, khususnya sebelum dan setelah dzuhur, begitu pula sebelum ashar, kedua model tersebut dapat diamalkan. Dihukumi sah mengerjakannya dengan empat raka’at sekaligus atau mencicilnya dengan dua raka’at dua raka’at. Menurut An-Nawawi, mengerjakannya dengan dua raka’at, kemudian ditambah lagi dengan dua raka’at adalah lebih utama ketimbang empat raka’at sekaligus.

Pendapat ini sejalan dengan kaidah fikih:

ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا

Artinya, "Semakin banyak mengerjakan perbuatan, maka semakin banyak keutamaannya.”

Kaidah ini disebutkan As-Suyuthi dalam Asybah wan Nadzhair ketika membahas mana yang lebih utama mengerjakan shalat witir tiga raka’at sekaligus atau dua raka’at ditambah satu raka’at. Dalam mengurai persoalan ini, shalat witir dengan dua raka’at ditambah satu raka’at lebih diutamakan dengan tiga raka’at sekaligus. Alasannya, semakin banyak mengerjakan amalan, maka pahala dan keutamannya semakin banyak pula.

Sederhananya, mengerjakan shalat witir tiga raka’at sekaligus dihitung satu kali shalat, sementara melakukannya dengan model dua raka’at kemudian ditambah satu raka’at dianggap dua kali shalat. Demikian pula shalat rawatib, mengerjakan shalat sunah empat raka’at hanya dianggap satu kali shalat, sedangkan melakukannya dengan cara mencicilnya dua raka’at-dua raka’at dihitung dua kali shalat. Manakah lebih utama? Tentu dua kali shalat (dua raka’at-dua raka’at). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Kamis 21 Juli 2016 16:1 WIB
Pada Empat Kondisi Ini Disunahkan Sujud Syukur
Pada Empat Kondisi Ini Disunahkan Sujud Syukur
Sudah sepantasnya manusia senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, atas kebaikan-Nya kita dapat merasakan kenikmatan dan kebahagian selama hidup di dunia ini. Kenikmatan tersebut dapat berupa kesehatan, kesempatan, kehidupan, kekayaan, kelapangan, dan lain-lain. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT mengatakan, “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Terdapat banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, salah satunya ialah sujud syukur. Sujud syukur disunnahkan pada saat kita mendapati kenikmatan. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, Sahabat Abu Bakrah mengisahkan, “Bila Rasulullah SAW mendapati kemudahan dan kabar gembira, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Allah SWT,” (HR Ibnu Majah).

Menurut Al-Nawawi, tidak boleh bersujud kecuali ada sebab dan legalitasnya. Kendati dipersoalkan oleh sebagian ulama kebolehan sujud syukur, paling tidak hadis di atas menjadi salah satu rujukan utama dibolehkannya sujud syukur. Tentu tidak semua kondisi kita disunahkan sujud syukur, karena bagaimanapun hampir setiap detik kita merasakan nikmat yang patut kita syukuri. Dalam Taqriratus Sadidah, Hasan bin Ahmad Al-Kaf menyebutkan empat kondisi yang disunnahkan untuk sujud syukur:

Pertama: Mendapat Rezeki Nomplok

 هجوم نعمة: لها وقع من حيث لا يحتسب، سواء أكانت ظاهرة كحدوث ولد، وقدوم غائب، وشفاء مريض، أم باطنة كحدوث علم له أو لنحو ولده

Artinya, “Memperoleh nikmat yang tak terduga, baik yang tampak semisal kelahiran anak, kedatangan orang yang hilang, dan sembuh dari penyakit, atau yang tidak tampak seperti memperoleh pengetahuan bagi diri sendiri ataupun anak.”

Disunahkan sujud syukur pada saat mendapat rejeki nomplok atau dari jalan yang tak terduga. Misalnya, ketika kesulitan dan hutang menumpuk, tiba-tiba ada orang yang memberikan kita uang dengan jumlah yang sangat banyak. Pada saat itu disunahkan bagi kita untuk sujud syukur.

Kedua: Terhindar dari Bahaya

اندفاع نقمة: ظاهرة من حيث لايحتسب، كنجاة من هدم أو غرق أو حادث

Artinya, “Terhindar dari bahaya secara tiba-tiba, seperti selamat dari runtuhan (bangunan), tenggelam, dan musibah lainnya.”

Manusia tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja dia akan mendapati nasib baik di hari esok atau nasib buruk. Demikian pula dengan musibah dan bencana, tidak ada seorang pun yang mampu menaksir waktu kejadiannya. Karenanya, saat terjadi bencana alam yang menelan korban jiwa, kemudian kita selamat dari bencana tersebut, maka disunnahkan untuk sujud syukur.

Ketiga: Melihat Penjahat atau Pelaku Maksiat

رؤية فاسق: متجاهر بفسقه أو متستر مصر ولو على صغيرة، ويسن أن يظهرها للمتجاهر إذا لم يخش فتنة

Artinya, “Melihat orang fasik, baik yang tampak kefasikannya ataupun tertutup dan terus menerus melakukan dosa kecil. Disunnahkan memperlihatkan sujud syukur kepada orang yang berbuat dosa secara terang-terangan bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah.”

Di mana-mana hampir ditemukan orang jahat, baik di desa maupun kota. Terlebih lagi di kota besar, penjahat dan pelaku maksiat hampir ditemukan di setiap sudut. Ketika melihat orang yang melakukan maksiat, disunahkan untuk kita melakukan sujud syukur, meskipun dia melakukan dosa kecil tapi terus-menerus.

Dalam kondisi ini, dianjurkan untuk memperlihatkan sujud syukur kepadanya. Hal ini dapat dilakukan bila dikhawatirkan tidak terjadi fitnah atau gangguan lainnya.

Keempat: Melihat Orang Tertimpa Musibah

رؤية مبتلى: في بدنه أو في عقله أو فيما يعد نقصا في كمال الخلقة أو أصلها عرفا: كالعمى والصمم، ولا يظهرها له.

Artinya, “Melihat orang tertimpa musibah, baik musibah pada tubuhnya maupun akalnya. Musibah yang dimaksud ialah tidak sempurnanya anggota tubuh dan fungsi tubuh seseorang, seperti buta dan tuli. Pada saat melihat orang cacat, tidak boleh memperlihatkan sujud syukur di hadapannya.”

Allah menciptakan sebagian makhluknya tidak sempurna secara fisik dan mental. Pada intinya, setiap manusia pasti diberikan kelebihan dan kekurangan. Pada saat mendapati orang cacat atau penyandang difabel, disunnahkan bagi kita untuk sujud syukur. Sujud syukur dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas kelebihan dan kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Tidak boleh melakukan sujud syukur di hadapan mereka secara langsung, karena takut menghina dan menyakiti perasaan mereka.

Demikianlah empat kondisi yang dianjurkan untuk sujud syukur. Bila menemukan salah satu dari empat kondisi tersebut segeralah sujud syukur. Tata cara pelaksaannya hampir mirip dengan sujud tilawah, artinya jumlah sujudnya hanya satu kali dan dilakukan di luar shalat. Sebelum sujud, takbirlah terlebih dahulu dan setelah itu bangun dari sujud, langsung salam. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Kamis 7 Juli 2016 16:5 WIB
Keutamaan Puasa di Bulan Syawal
Keutamaan Puasa di Bulan Syawal
Puasa sunah Syawal menyimpan banyak keutamaan. Allah SWT menyediakan ganjaran besar bagi mereka yang berpuasa di bulan Syawal. Karenanya puasa enam hari di bulan Syawal sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Bahkan orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah berpuasa penuh Ramadhan seakan berpuasa setahun penuh puasa wajib. Ini merupakan keistimewaan luar biasa yang Allah berikan untuk bulan Syawal.

Hal ini dijelaskan antara lain oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim sebagai berikut.

(وستة من شوال) أي لخبر من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر فإن صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام الستة من شوال بشهرين فذلك كصيام السنة والمراد أنه كصيامها فرضا والا فلا خصوصية لذلك لأن الحسنة بعشرة أمثالها

Artinya, “Salah satu puasa sunah adalah (puasa enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan berpuasa setahun penuh. Karena, puasa Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa setahun penuh’.

Maksudnya, ia seakan berpuasa wajib setahun penuh. Kalau puasa setahun itu tidak diartikan sebagai puasa wajib, maka tiada keistimewaan semua itu. Pasalnya, satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat dengan ibadah serupa,” (Lihat Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim, Darul Fikr,  Juz I, Halaman 214).

Dengan asumsi setiap satu kebaikan dibalas sepuluh, tiga puluh hari puasa di bulan Ramadhan ditambah enam hari puasa di bulan Syawal maka hasilnya adalah tiga ratus enam puluh hari, artinya yang kurang lebih setahun penuh. Demikian perhitungan secara matematisnya.

Sebagian ulama menyatakan bahwa puasa Syawal itu diistimewakan karena antara lain puasa itu dapat menerangkan hati yang gelap pasca-Ramadhan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)