IMG-LOGO
Hikmah

Detik-detik Wafatnya Imam al-Ghazali

Jumat 12 Agustus 2016 10:16 WIB
Share:
Detik-detik Wafatnya Imam al-Ghazali
Hujjatul Islam Imam Al-Gazali. Siapa tak kenal ulama tersohor ini? Kedalaman ilmu ulama bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi tersebut tak diragukan lagi, bahkan oleh para pengkritiknya. Karya tulisnya ratusan dan dibaca selama berabad-abad hingga sekarang. Madzhab tasawufnya diikuti. Ilmu kalamnya menjadi benteng. Dan ulasan ushul fiqihnya menjadi rujukan. Imam al-Ghazali juga serius mendalami filsafat meski akhirnya ilmu ini ia kritik sendiri.

Reputasi Imam al-Ghazali sebagai ilmuan diakui oleh kawan maupun lawan. Tapi yang mesti diingat, kehebatannya tak datang tiba-tiba. Ulama yang terkenal dengan karya monumental Ihya’ Ulumiddin ini melalui kehidupan berliku sejak kecil. Al-Ghazali hidup dalam keluarga miskin. Ayahnya yang sangat taat beragama adalah seorang pemintal dan melalui perkejaan sederhana ini pula ia menghidupi keluarga. Ia hanya mau menafkahi keluarga dari hasil jerih payahnya sendiri.

Meski diliputi hidup yang serbaterbatas, ayah al-Ghazali menyimpan impian yang begitu menggebu, yakni kedua anaknya, Imam al-Ghazali dan saudaranya (Imam Ahmad) kelak menjadi orang yang faqîh dan tonggak dalam suksesnya syiar Islam. Ayah Imam al-Ghazali memang orang yang gemar mengunjungi majelis-majelis ilmu, melayani para ulama, dan ketika mendengarkan kalam guru-gurunya itu ia menangis dan merunduk sembari melangitkan doa bagi masa depan anak-anaknya.

Doa tersebut terkabul meski sang ayah tak menyaksikan kebesaran anak-anaknya karena wafat sebelum  mereka dewasa. Kerasnya hidup sebagai anak yatim dan semangat menimba ilmu yang terus berkobar membuat al-Ghazali kecil dan saudaranya tumbuh sebagai manusia yang cerdas dan sangat disegani. Wawasannya luas dan terbuka, pribadinya penuh cinta dan kasih sayang, serta kezuhudan dan ketaatannya dalam beragama amat meyakinkan. Bahkan oleh sang guru, Imam al-Haramain, al-Ghazali dijuluki “bahrun mughdiq” (lautan luas tak bertepi).

Imam al-Ghazali pernah diangkat sebagai guru besar di Madrasah Nidhamiyah, Bagdad, era kekuasaan Nidhamul Mulk saat usianya 34 tahun. Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia pendidikan dan keislaman zaman itu yang belum pernah disandang siapa pun dalam usia yang relatif muda. Meskipun, kehormatan itu sempat ia lepas begitu saja demi pendalamannya terhadap ilmu tasawuf.

Namun demikian, bukan statusnya sebagai profesor itu yang membuat kisah Imam al-Ghazali menarik. Setelah mengakhiri pengabdian di Madrasah Nidhamiyah, sang imam pulang ke kampung asal, Thus, dan mendirikan zawiyah atau semacam pesantren untuk meneruskan khidmah mengajar hingga akhir hayat. Pada detik-detik kewafatannya, sebuah peristiwa indah terjadi.

Abul Faraj ibn al-Juuzi dalam kitab Ats-Tsabât 'indal Mamât memaparkan cerita dari Imam Ahmad, saudara kandung Imam al-Ghazali. Suatu hari, persisnya Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, saat terbit fajar, Imam al-Ghazali mengambil wudhu lalu menunaikan shalat shubuh. Usai sembahyang, al-Ghazali berkata, "Saya harus memakai kain kafan.” Lalu ia mengambil, mencium, dan meletakkan kain kafan tersebut di kedua matanya.

Selanjutnya, Imam al-Ghazali berucap, “Saya siap kembali ke hadirat-Mu dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).” Ia pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat, lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Imam al-Ghazali wafat pada 19 Desember 1111 dan dikebumikan di desa Thabran, kota Thus. Proses wafatnya yang tenang, damai, dan indah mencerminkan kualitas kehambaannya selama hidup. Kepergiannya ditangisi para ulama, murid-muridnya, dan jutaan umat Islam. Imam al-Ghazali mewariskan ratusan karya tulis, teladan, dan keilmuan yang tak lekang oleh zaman. (Mahbib Khoiron)

Share:
Selasa 9 Agustus 2016 12:0 WIB
Kisah Mursyid Syattariyah Mimpi Melihat Gigi Rasulullah
Kisah Mursyid Syattariyah Mimpi Melihat Gigi Rasulullah
Subang, NU Online
Rasulullah adalah manusia mulia, siapa pun yang ada di dekatnya pasti akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan yang tiada terhingga. Maka tidak heran jika sebagian para sahabat rela tinggal di masjid karena ingin selalu dekat dengan Rasulullah.

"Kemana pun Rasulullah pergi, para sahabat selalu mengikutinya. Karena bagi para sahabat, ada 'kenikmatan' tersendiri jika berada di dekat Rasulullah, bahkan menjelang wafatnya Rasulullah, ada seorang sahabat yang bernama Ukasyah yang rela 'mengelabui' hanya karena ingin memeluk Rasulullah," papar mantan Rais Syuriyah PCNU Subang, KH Nawawi di kediamannya, Kecamatan Pabuaran, Subang, Kamis (4/8).

Suatu hari, kata Kiai Nawawi, Rasulullah ingin istirahat, karena bagaimana pun juga Rasulullah adalah seorang manusia yang membutuhkan istirahat. Namun saat Rasulullah hendak memasuki rumah, para sahabat tetap mengikutinya.

"Rasulullah mau melarang sahabat tapi tidak enak, sehingga yang melarangnya langsung oleh Allah, ‘Janganlah kalian masuk rumah Nabi tanpa izin’," ungkapnya sambil mengutip Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab Ayat 53.

Mengenai hal ini, Kiai Nawawi mengisahkan mimpinya KH Sayuti Maksudi yang bertemu Rasulullah. Kiai Sayuti adalah mursyid tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi sendiri diberi amanat sebagai khalifahnya.

"Saat saya berkunjung ke rumahnya, beliau (Kiai Sayuti, red) sudah dua hari terbaring sakit dan tidak enak makan, sepertinya sakitnya karena pikiran dan keluarganya tidak ada yang tahu bahwa Kiai Sayuti sedang memikirkan sesuatu," jelas Kiai Nawawi

Saat ditanyakan, kata Kiai Nawawi, barulah diketahui bahwa dua hari sebelumnya Kiai Sayuti bermimpi melihat Rasulullah sedang tersenyum dan giginya terlihat, saat melihat mimpi tersebut, Kiai Sayuti merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, sehingga mimpi tersebut selalu terbayang sampai tidak bisa merasakan kenikmatan yang lain, termasuk nikmatnya makan.

"Akhirnya setelah saya kasih nasihat, beliau baru mau makan dan tidak lama kemudian sembuh," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Selasa 2 Agustus 2016 8:0 WIB
Manusia Biasa Bersama dengan Nabi di Surga, Mungkinkah?
Manusia Biasa Bersama dengan Nabi di Surga, Mungkinkah?
Tsauban merupakan budak Rasulullah yang di kemudian hari ia dimerdekakan. Karena setiap hari ia melihat perilaku dan adab Nabi, cintanya kepada Nabi semakin tumbuh lebat. Bahkan kecintaannya melebihi cintanya kepada keluarga Tsauban sendiri.

Habib Muhammad bin Husain Anis mengisahkan bahwa suatu saat Tsauban didatangi Rasulullah SAW. Namun Baginda Nabi mendapati kulit Tsauban yang telah berubah, tubuhnya menjadi kurus, di wajahnya tampak menyimpan raut muka kesedihan. Ia seperti orang yang sedang menderita sakit.

Nabi menyapanya, "Hai Tsauban, ada apa gerangan yang menjadikanmu berubah seperti demikian?"

"Ya Rasulallah, aku tidak sedang punya masalah dan tidak sedang mengalami sakit atau kelaparan. Hanya saja, ketika aku tidak melihat engkau, rinduku ini bergejolak hebat tiada tara. Pergolakan rindu batinku tidak akan lepas hingga aku bertemu engkau. Nah, aku berpikir, iya, kalau di dunia aku masih bisa menemuimu wahai Nabi, namun jika di akhirat kelak, apa mungkin aku bisa mengobati rinduku padamu, aku tidak akan lagi bisa melihatmu di sana."

Kemudian Tsauban memberikan sebuah alasan mendasar, "Engkau adalah Nabi, aku manusia biasa. Engkau pasti akan diangkat Allah di surga pada level yang sama dengan nabi-nabi lain, sedangkan aku, andai saja aku masuk surga, toh surga kita tidak akan sama. Derajatku pasti akan berada di bawah derajatmu. Itu kalau aku masuk surga. Kalau tidak, niscaya akau tidak akan melihatmu selama-lamanya."

Mendengar aduan Tsauban yang seperti demikian Rasulullah diam hingga kemudian malaikat Jibril datang membawakan kabar gembira berupa wahyu berikut:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Artinya: "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya, maka mereka akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan Allah."

Maksudnya, memang derajat Nabi dengan orang biasa tidak sama di akhirat, derajat para Nabi lebih tinggi, namun Nabi akan berkeliling, berkunjung kepada orang-orang yang taat selama di dunia, mereka bisa saling melihat, bercengkrama dalam taman-taman yang indah. Dan mereka di surga mempunyai status teman. Teman seperti yang demikian ini merupakan sebaik-baiknya pertemanan. Jadi, derajat mereka tak sama, tapi mereka akan tetap bisa bersama. (Mundzir)

Ahad 31 Juli 2016 15:0 WIB
32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?
32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?
Ilustrasi (istimewa)
Subang, NU Online
Usai melaksanakan pengajian bahtsul masail di kantor MWCNU Dawuan, Subang, Jawa Barat yang digelar tiap Sabtu, Ketua MWCNU setempat, Ajengan Toto Ubaidillah Haz mengutip sebuah keterangan yang menyatakan bahwa di liang kubur jasad seorang hafidh (penghafal) Al-Qur'an akan tetap utuh.

Mengenai hal ini, pria yang akrab disapa Kang Toto itu mengisahkan pertemuannya dengan Bu Supaedah. Ia adalah anak seorang hafidh Al-Qur'an yang saat ini berprofesi menjadi bidan di sebuah klinik. Pertemuan itu terjadi beberapa waktu lalu saat Kang Toto mengantar anaknya berobat. Dalam pertemuan itu keduanya berdialog cukup serius.

"Pak Ustadz, kira-kira kemana kalau mau mesantrenin anak ya?" tanya bidan Supaedah

Pria yang akrab disapa Kang Toto itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Memangnya ibu maunya di pesantren daerah mana?"

Bidan Supaedah menjawab bahwa ia asli Cirebon dan menginginkan anak-anaknya bisa masuk pesantren yang ada di daerah Cirebon supaya bisa dekat dengan keluarga besarnya. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa pesantren yang diinginkannya adalah pesantren tahfidh Al-Qur'an.

"Kalau pesantren Al-Qur'an ada di Kaliwadas Cirebon, Pesantrennya Uwa saya almarhum KH Nashir, nama pesantrennya An-Nashr. Ada juga di Ambit, Kecamatan Waled pesantrenya KH Abdul Basith, pesantren itu dikelola anak-anak dari Pesantren Rawamerta, Karawang," jawab Kang Toto yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Subang.

Namun benak Kang Toto sedikit termenung, karena biasanya para orang tua menginginkan anaknya mengikuti dan melanjutkan jejak orang tuanya, tapi bu bidan yang satu ini malah menginginkan anaknya masuk ke pesantren Al-Qur'an, bukan ke sekolah kesehatan.

"Kenapa ibu mau masukin anak ke pesantren? Enggak dimasukin ke kedokteran atau yang sesuai dengan profesi ibu?"

Bidan Supaedah kemudian menjawabnya dengan sebuah kisah nyata yang dialami keluarganya. Suatu hari, dengan alasan tertentu makam ayah Bidan Supaedah yang telah wafat 32 tahun yang lalu hendak dipindahkan, proses pemindahannya disaksikan oleh seluruh keluarga. Saat makam dibongkar, semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur.

"Anak-anak saya bertanya, Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" ungkap Supaedah menirukan pertanyaan anak-anaknya.

Dengan berlinang air mata, Supaedah kemudian menjawabnya dengan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidh Al-Qur'an, kakek kalian kiai pengamal Al-Qur'an, Nak..."

Sejak saat itu, anak-anak Bidan Supaedah ingin menjadi penghafal Al-Qur'an dan minta dimasukan ke pesantren supaya bisa seperti kakeknya di kemudian hari. "Menurut informasi, sekarang anak-anaknya bu bidan itu sudah masuk pesantren Al-Qur'an"pungkas Kang Toto kepada NU Online, Sabtu (30/7). (Aiz Luthfi/Mahbib)