IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Hukum Selamatan Sebelum Berangkat Haji

Ahad 14 Agustus 2016 16:3 WIB
Share:
Hukum Selamatan Sebelum Berangkat Haji
ilustrasi (Gulf Business)
Tidak lama lagi musim haji tiba. Bertepatan dengan itu, sebagian saudara kita yang sudah mencukupi persyaratan dan mampu akan berangkat ke tanah suci. Di sana mereka akan menunaikan rukun kelima Islam.

Sebelum berangkat haji, mereka biasanya melakukan tasyakuran atau selamatan. Tradisi ini kelihatannya sudah membumi di Nusantara. Hampir di semua daerah ditemukan tradisi ini, meskipun dengan nama yang berbeda-beda. Secara umum mereka menyebutnya walimah safar.

Istilah ini memang jarang ditemukan dalam litaratur fikih. Tapi sebenarnya ada istilah yang hampir mirip, yaitu naqi’ah. Hanya saja, istilah naqi’ah secara spesifik digunakan untuk menyambut kedatangan musafir, terutama yang balik dari perjalanan jauh semisal haji. Masyarakat menyambutnya dengan mengadakan walimah atau acara makan-makan. Naqi’ah ini bisa diadakan oleh musafir itu sendiri atau masyarakat yang menyambutnya.

Al-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab berpendapat:

يستحب النقيعة وهي طعام يعمل لقدوم المسافر ويطلق على ما يعمله المسافر القادم وعلى ما يعمله غيره له

Artinya, “Disunahkan melangsungkan naqi’ah, yaitu makanan yang dihidangkan karena kedatangan musafir, baik disiapkan oleh musafir itu sendiri, atau orang lain untuk menyambut kedatangan musafir.”

Pendapat ini didukung oleh hadis riwayat Jabir bahwa Nabi Muhammad SAW ketika sampai di Madinah selepas pulang dari perjalanan, Beliau menyembelih unta atau sapi (HR Al-Bukhari). Dalil ini memperkuat kesunahan mengadakan selamatan setelah pulang dari perjalanan jauh. Selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas diselamatkannya musafir dari bahaya perjalanan.

Demikian pula dengan selamatan sebelum haji. Hukumnya dapat disamakan dengan naqi’ah. Terlebih lagi, substansi acaranya tidak melenceng sedikit pun dari syariat Islam. Di dalamnya terdapat unsur silaturahmi, sedekah, do’a, baca Al-Qur’an, dan lain-lain. Kendati istilah walimah safar jarang ditemukan dalam literatur hadits maupun fikih, bukan berarti mengadakannya dianggap haram atau bid’ah tercela.

Al-ibraru bil musamma, la bil ismi, yang diperhatikan ialah substansi yang dinamai, bukan soal nama itu sendiri. Berdasarkan prinsip ini, yang menjadi acuan dalam menghukumi sebuah perbuatan ialah isi dan substansinya. Selama isi dan substansinya tidak bertentangan dengan syariat Islam, ia diperbolehkan sekalipun istilah atau penamaannya tidak ditemukan di masa Rasulullah SAW.

Terlebih lagi, dalam Madzhab Syafi’i, istilah walimah tidak hanya dikhususkan untuk pesta pernikahan. Istilah walimah mencakup semua perayaan yang diselenggarakan lantaran mendapat rezeki yang tidak terduga atau kebahagian tertentu. Maka dari itu, menurut Madzhab Syafi’i kesunahan mengadakan walimah tidak dibatasi hanya untuk nikah, tapi juga disunahkan pada saat bangun rumah, khitan, pulang dari perjalanan, dan lain-lain. Pendapat ini sebagaimana dikutip Al-Jaziri dalam Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah:

الشافعية قالوا: يسن صنع الطعام والدعوة إليه عند كل حادث سرور، سواء كان للعرس أوللختان أوللقدوم من السفر إلى غير ذلك مما ذكر

Artinya, “Madzhab Syafi’i mengatakan disunahkan menghidangkan makanan dan mengundang orang untuk memakannya pada setiap kejadian yang membahagiakan, baik saat pernikahan, nikah, kedatangan orang dari perjalanan, dan lain-lain.”

Merujuk pada pendapat di atas, tradisi walimah safar yang dilakukan masyarakat Nusantara sangat baik dilakukan. Pada saat itulah momen berbagi kepada sesama masyarakat atas kesempatan dan nikmat yang diberikan Allah SWT. Apalagi tidak semua orang yang diberikan kesempatan untuk berhaji.

Selain ajang silaturahmi dan sedekah, walimah safar merupakan bentuk rasa syukur atas peluang yang diberikan Allah SWT dan ajang meminta do’a kepada sanak-saudara supaya diselamatkan selama menjalani ibadah haji. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Tags:
Share:
Rabu 27 Juli 2016 11:30 WIB
Penjelasan Fiqih Haji Kiai Sholeh Darat As-Samarani
Penjelasan Fiqih Haji Kiai Sholeh Darat As-Samarani
Mendekati musim ibadah haji, banyak sekali masyarakat Islam yang mencari bahan rujukan tentang bagaimana manasik haji. Salah karya ulama Nusantara yang mengupas tentang ibadah haji adalah Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani (dikenal Kiai Sholeh Darat).

Ulama Nusantara kelahiran Kedung Cumpleng Jepara 1820 M/1235 H ini menulis kitab yang secara khusus membahas ibadah haji dan umrah yang berjudul Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin. Kitab ini berisi 64 halaman dengan 17 topik yang dikupas dimulai dari bab Kitab Haj wa al-Umrah hingga al-Khatimah (penutup). Kitab ini diterbitkan di Bombai India pada tahun 1340 H/1922 M.

Redaksi Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin ini sama dengan isi Kitab Majmu'ah al-Syari'ah al-Kafiyah li al-'Awam karya Kiai Sholeh Darat yang menjelaskan bab haji pada halaman 110-145. Kitab Majmu'ah al-Syari'ah al-Kafiyah li al-'Awam ini diterbitkan oleh penerbit Karya Toha Putra Semarang dan tidak ditemukan kolofon tahunnya, sehingga penulis belum bisa memastikan kedua naskah tersebut lebih dahulu yang mana.

Yang jelas bahwa Kiai Sholeh Darat memberikan perhatian khusus mengenai ibadah haji orang Islam, terutama di Jawa. Kepedulian ini dituangkan dengan karyanya yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan harapan masyarakat Jawa dapat memahami tata cara beribadah haji dengan baik sesuai ajaran Islam dan berdasarkan kitab-kitab ulama salaf.

Bahkan oleh Kiai Sholeh Darat disebutkan bahwa dalam membahas asrarul-hajj (rahasia ibadah haji) ia merujuk kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Ghazali. Kitab lain yang dirujuk dalam bidang fiqih adalah Syarh al-Minhaj, Syarkh al-Khatib Syarbain dan Durar al-Bahiyyah.

Penjelasan pertama yang ditulis Kiai Sholeh Darat dalam Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin adalah mengenai kewajiban haji dan umrah sebagai rukun Islam kelima dilaksanakan satu kali seumur hidup. Adapun haji dan umrah ini merupakan syariat dari Nabi terhahulu. Artinya bahwa semua Nabi dan Rasul itu pernah melakukan haji. Sejarah ibadah haji yang pernah dilakukan oleh Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw juga disinggung oleh Kiai Sholeh Darat.

Nabi Muhammad bersabda bahwa makam Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Syu'aib, Nabi Sholeh itu berada di antara hajar aswad, maqam Ibrahim dan sumur zam-zam. Sebagian ulama menyatakan bahwa di tempat itu dimakamkan 99 Nabi, termasuk Nabi Ismail. Adapun sejarah haji yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat adalah mengenai keberangkatan 40 kali ibadah haji Nabi Adam dari negara India dengan berjalan kaki. Keterangan itu diambil dari sebuah hadits.

Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Adam bahwa para Malaikat melakukan thawaf di baitullah jauh 70.000 tahun sebelum Adam diciptakan. Maka setelah baitullah selesai dibangun oleh Nabi Ibrahim, Allah memerintahkan untuk mengundang seluruh anak Adam untuk melakukan ibadah haji. Ketika Nabi Ibrahim mengumumkan perintah haji di maqam Ibarahim, maka tempat itu menjadi tinggi (ada sebagian menyampaikan peristiwa ini terjadi di Jabal Abi Qubais).

Nabi Ibrahim menyerukan: "Wahai para manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian untuk melakukan ibadah haji di baitullah ini. Maka berhajilah Anda semua di tempat ini". Setelah itu, semua Malaikat dan umat manusia di alam arwah (ashlab al-Aba' dan arham ummahat) menjawab: "Labbaik ya Rabbi". Maka yang menjawab satu kali, mereka akan mendapat giliran haji satu kali. Demikian juga untuk yang menjawab dua kali dan tiga kali akan menjalani haji sesuai jawabannya.

Dalam kondisi seperti ini, Iblis yang dilaknat Allah juga turut serta memanggil bersamaan dengan panggilan Ibrahim tadi. Maka bagi umat manusia yang menjawab panggilan Iblis, ia akan berhaji demi kemaksiyatan. Ciri orang yang hajimardud (tertolak) adalah sepulang haji bertambah maksiyat, bertambah takabbur dan bertambah cinta dunia.

Ada satu hadits menarik yang disebutkan oleh Kiai Sholeh Darat yang artinya: "Pada akhir zaman ada empat golongan yang berangkat haji: pejabat niat haji untuk rekreasi/plesir menghibur hatinya, saudagar (orang kaya) niat haji untuk berdagang, orang faqir niat haji untuk menjadi pengemis mencari uang dan ulama yang niat haji demi kemasyhuran namanya bisa berkali-kali berangkat ke Makkah". Hadits ini menjadi nasehat bagi semua yang berangkat haji agar benar niatnya hanya karena Allah.

Ada enam rukun ibadah haji yang disebutkan Kiai Sholeh Darat: niat ihram, wuquf di Arafah, thawaf, sa'i antara shofa dan marwa tujuh kali, mencukur/menggunting dan tertib (berurutan). Bagi Kiai Sholeh Darat, haji disebut tidak sah jika meninggalkan rukun dan rukun ini tidak boleh dibayar dengandam. Adapun rukun umrah ada lima: niat ihram, thawaf, sa'i, mencukur dan tertib.

Sedangkan wajibnya haji itu ada lima hal: ihram dari miqat, menginap di Muzdalifah, menginap di Mina, melempar Jumrah Aqabah ketika subuhnya hari nahr (penyembelihan), melempar jumrah saat hari tasyriq dan meninggalkan hal yang diharamkan saat ihram. Wajibnya haji jika ada yang ditinggalkan tetap sah asalkan dibayarkan dam dengan kambing atau mud.

Betapa mulianya ibadah haji, sehingga bagi anak yang telah ditinggal wafat oleh orang tuanya, jika ingin berbakti boleh melaksanakan haji badal. Kiai Sholeh Darat menjelaskan hal ini dalam Kitab Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jauhar al-Tauhid halaman 83 dengan menyebutkan hadits yang berarti: "Barangsiapa yang menghajikan orang tuanya setelah wafat. Maka Allah menulis satu kali haji bagi orang tuanya. Dan Allah menulis bagi anaknya bebas dari neraka".

M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo & Wakil Ketua Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat (KOPISODA)

Kamis 24 Maret 2016 20:5 WIB
Nasihat Nabi Muhammad saat Haji Wada’
Nasihat Nabi Muhammad saat Haji Wada’
Ilustrasi (SPA)
Haji wada’ terjadi pada tahun 10 hijriyah. Ia dianggap sebagai tanda perpisahan sahabat dengan Rasulullah SAW. Karena tak lama setelah itu, Beliau dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya. Sebagian sahabat yang paham akan isyarat ini, tak kuasa membendung air mata ketika mendengarkan khutbah Nabi SAW.

Di penghujung usia Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya agar selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunah Rasul (HR. Malik). Selama berpatokan kepada dua sumber tersebut dipastikan tidak akan sesat hidup di dunia dan akhirat.

Pada saat haji wada’ pula, Nabi SAW memberi pelajaran penting kepada para sahabat. Pelajaran itu tentu sangat berguna untuk memperkuat fondasi keislaman kita. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع: ألا أخبركم بالمؤمن؟ من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم، والمسلم من سلم الناس من لسانه ويده، والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله، والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب

Artinya, “Nabi SAW bersabda saat haji wada’, ‘Maukah kalian kuberitahu pengertian mu’min? (Mukmin) Yaitu orang yang memastikan dirinya memberi rasa aman untuk jiwa dan harta orang lain. Sementara muslim ialah orang yang memastikan ucapan dan tindakannya tidak menyakiti orang lain. Sedangkan mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam keta’atan kepada Allah SWT. Sedangkan orang yang berhijrah (muhajir) ialah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.”

Dari defenisi yang dijelaskan Nabi ini, baik defenisi mu’min, muslim, mujahid, dan muhajir, kita dapat dipahami bahwa Islam bukanlah agama individual. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dan Tuhan, tapi juga menjaga hubungan sesama manusia.

Menjadi orang beriman berarti juga harus mampu memberi kenyamanan dan keamanan pada orang lain. Walaupun kita tidak bisa berbuat banyak terhadap orang lain, minimal jangan sampai tingkah laku dan perkataan kita menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.

Begitu pula dengan mujahid, julukan mujahid tidak hanya diberikan untuk orang yang mengikuti peperangan, namun siapapun yang melakukan sesuatu atas dasar keta’atan pada Allah, maka ia dapat dikatakan mujahid.

Sementara muhajir tidak hanya orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, tapi muhajir ialah orang yang mau beralih dari dosa menuju kebaikan. Wallahu a’lam. (Hengki ferdiansyah)

Jumat 27 Maret 2015 1:4 WIB
Hukum Menjual Daging Qurban
Hukum Menjual Daging Qurban
Ilustrasi (Getty Images)

Dua pekan sebelum hari raya Idul Adha, pasar hewan dadakan bermunculan di tepi jalan raya. Sepekan menjelang hari H, pasar hewan itu makin ramai baik oleh pembeli maupun anak-anak yang terkagum girang melihat kambing, sapi, atau kerbau berkumpul. Ini yang disebut “Dijual Hewan Kurban”. Lalu bagaimana dengan menjual daging kurban?

Mereka yang menjual daging kurban memang sulit ditemukan di tepi jalan seperti penjual hewan kurban. Mereka juga biasanya jadi penjual dadakan paket daging kurban yang mereka terima dari panitia masjid atau tetangganya yang menyembelih hewan kurban.

Menjual hewan kurban jelas mubah. Lalu bagaimana dengan menjual daging kurban? Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam karyanya Busyrol Karim Bisyarhi Masa’ilit Ta‘lim mengatakan,

وتردد البلقيني في الشحم، وقياس ذلك أنه لا يجزئ كما في التحفة، وللفقير التصرف فيه ببيع وغيره أي لمسلم، بخلاف الغني إذا أرسل إليه شيء أو أعطيه، فإنما يتصرف فيه بنحو أكل وتصدق وضيافة، لأن غايته أنه كالمضحي

Al-Bulqini sangsi perihal lemak hewan kurban. Berdasar pada qiyas, tidak cukup membagikan paket kurban berupa lemak seperti keterangan di kitab Tuhfah. Sementara orang dengan kategori faqir boleh mendayagunakan daging kurban seperti menjualnya atau transaksi selain jual-beli kepada orang muslim. Berbeda dengan orang kaya yang menerima daging kurban. Ia boleh mendayagunakan daging itu hanya untuk dikonsumsi, disedekahkan kembali, atau menjamu tamunya. Karena kedudukan tertinggi dari orang kaya sejajar dengan orang yang berkurban.

Kategori kaya kasarannya ialah mereka yang memunyai kelebihan rezeki untuk menyembelih hewan kurban saat hari raya Id. Ketentuan ini merupakan anjuran bagi orang kaya untuk berkurban selagi tidak ada halangan. Sementara si faqir tidak perlu bimbang untuk menjual daging yang sudah menjadi haknya kepada orang lain bila kondisi menuntut. Dijual mentah boleh, dijual matang tidak masalah. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)