IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Mendoakan Hewan

Ahad 14 Agustus 2016 19:6 WIB
Share:
Hukum Mendoakan Hewan
Ilustrasi (merdeka.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masa'il NU Online yang saya cintai. Saya sayang dengan hewan terkhusus kucing dan tidak tega bila ada hewan yang teraniaya bahkan sampai mati. Bolehkah saya berdoa untuk mereka? Mohon penjelasannya, terima kasih. Wassalamu 'alaikum wr. wb. (Aditya PM/Kroyakan, Pekalongan)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sebagai Muslim, kita diperintahkan untuk menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk yang ada di muka bumi. Sebuah hadits mengatakan sebagai berikut:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya, “Sayangilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangimu,” (HR Bukhari).

Menurut Ibnu Baththal, hadits tersebut sangat menekankan untuk menyayangi manusia, tanpa peduli apapun agamanya. Bahkan termasuk di dalamnya adalah menyayangi binatang baik piaraan maupun binatang liar. Demikian sebagaimana dikemukakan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari.

قَالَ ابْنُ بَطَّالٍ فِيهِ الْحَضُّ عَلَى اسْتِعْمَالِ الرَّحْمَةِ لِجَمِيعِ الْخَلْقِ فَيَدْخُلُ الْمُؤْمِنُ وَالْكَافِرُ وَالْبَهَائِمُ الْمَمْلُوكُ مِنْهَا وَغَيْرُ الْمَمْلُوكِ

Artinya, “Ibnu Baththal berkata, bahwa dalam hadits tersebut menekankan untuk menyayangi semua makhluk, baik mukmim, kafir, binatang peliharaan maupun liar” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz X, halaman 440).

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka dalam pandangan kami hukum mendo’akan hewan kucing adalah diperbolehkan apalagi jika kucing tersebut dalam kondisi sakit. Karena do’a itu merupakan salah satu wujud dari kasih sayang.

Namun persoalannya tidak sampai di sini, bagaimana jika kucing tersebut mati, apakah kita boleh mendo’akannya?

Dalam konteks ini karena keterbatasan pengetahuan, kami belum menemukan penjelasan yang memadai. Insya Allah kami akan mencoba menanyakan hal ini kepada para kiai dan masyaikh yang tentu lebih luas pengetahuannya.

Saran kami, tebarkan kasih sayang kepada semua makhluk bumi sehingga makhluk langit akan menyayangi kita.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Share:
Kamis 11 Agustus 2016 21:1 WIB
Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air
Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati, beberapa waktu ada seorang teman lama datang ke rumah. Kami mengobrol ke sana-ke sini. Di tengah obrolan teman saya membicarakan soal Indonesia sebagai tanah air kita bersama.

Ia menyatakan bahwa cinta tanah air Indonesia tidak disyariatkan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ‘hubbul wathan minal iman’ (cinta tanah air sebagian dari iman) bukanlah hadits sehingga mencintai Indonesia sebagai tanah air itu bukan sesuatu yang masyru` atau disyariatkan karena tidak ada dalilnya.

Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mencintai Indonesia yang merupakan tanah air kita dan dihuni oleh mayoritas umat Islam adalah memang tidak disyariatkan? Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Agung/Brebes)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

Artinya, “Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah SAW. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah SAW berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Artinya, “Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ

Artinya, “Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

Saran kami, cintailah negeri kita dengan terus merawat dan menjaganya dari setiap upaya yang dapat menghancurkannya.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)
Senin 8 Agustus 2016 21:2 WIB
Hukum Murtad dan Kembali Lagi Peluk Islam
Hukum Murtad dan Kembali Lagi Peluk Islam
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online yang terhormat, saya mau bertanya. Kakak ipar saya laki-laki saat berumur 28 tahun keluar Islam demi memilih pasangan hidupnya. Karena suatu masalah mereka berpisah setelah empat tahun berumah tangga. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang muslimah. Pertanyaan saya, bagaimana hukumnya Muslim menjadi murtad lalu kembali Muslim? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nadia)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Memeluk suatu agama adalah pilihan bebas setiap individu, termasuk di dalamnya memilih Islam sebagai agama. Ketika seseorang yang sudah memeluk Islam kemudian ia keluar darinya (riddah) maka ia menjadi murtad.

Ketika seseorang sudah memeluk Islam, maka sudah seharusnya ia menyakini kebenarannya. Konsekuensinya ia dilarang untuk keluar dari Islam (riddah). Jika ia nekat melakukannya, maka ia telah melakukan dosa besar. Karenanya, keluar dari Islam secara hukmi dikategorikan sebagai kekafiran kelas berat. Jika ia meninggal dunia dalam keadaan murtad, maka hal tersebut dapat menghapus amal baiknya yang pernah dilakukan sebelumnya.

وَهِيَ أَفْحَشُ الْكُفْرِ وَأَغْلَظُهُ حُكْمًا ، مُحْبِطَةٌ لِلْعَمَلِ إنْ اتَّصَلَتْ بِالْمَوْتِ

Artinya, “Riddah (keluar dari Islam) dihukumi sebagai kekafiran yang paling keji dan berat, dapat menggugurkan amal jika diiringi dengan kematian,” (Lihat Muhammad Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Fikr, juz IV, halaman 133).

Lantas bagaimana status keislamanan seseorang yang awalnya Islam kemudian ia murtad, lalu bertobat dan kembali masuk Islam? Keislamannya jelas sah. Namun yang menjadi “gegeran” di kalangan para fuqaha` sebenarnya bukan hukum kembalinya ia masuk Islam. Tetapi kewajiban yang ditinggalkan ketika murtad seperti shalat dan zakat. Apakah ia wajib mengqadha atau tidak wajib?

Dalam konteks ini mereka berselisih pendapat. Imam Syafi’i berpendapat dengan tegas bahwa ia wajib mengqadha shalat dan zakat yang ia tinggalkan ketika murtad. Menurutnya, jika ada seseorang yang keluar dari Islam kemudian kembali masuk Islam maka ia wajib mengqadha shalat dan zakat yang diwajibkan kepadanya, yang ditinggalkan ketika murtad.

إذَا ارْتَدَّ الرَّجُلُ عن الْإِسْلَامِ ثُمَّ أَسْلَمَ كَانَ عَلَيْهِ قَضَاءُ كُلِّ صَلَاةٍ تَرَكَهَا في رِدَّتِهِ وَكُلِّ زَكَاةٍ وَجَبَتْ عَلَيْهِ فِيهَا

Artinya, “Ketika seseorang keluar dari Islam kemudian ia masuk Islam lagi maka ia wajib mengqadha shalat yang ia tinggalkan pada saat ia menjadi murtad, begitu juga wajib mengqadha setiap zakat yang wajib atasnya,” (Lihat Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm, Beirut, Darul Ma’rifah, 1393 H, juz I, halaman 69).

Sedang menurut Madzhab Hanafi dan Maliki, ia tidak wajib mengqadha shalat yang ia tinggalkan ketika murtad. Demikian sebagaimana dikemukakan dalam kitab Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah sebagai berikut ini:

 ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ إِلَى عَدَمِ وُجُوبِ قَضَاءِ الصَّلاَةِ الَّتِي تَرَكَهَا أَثْنَاءَ رِدَّتِهِ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ كَافِرًا ، وَإِيمَانُهُ يَجُبُّهَا

Artinya, “Madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat, tidak wajib (bagi orang yang murtad kemudian ia masuk Islam) mengqadha shalat yang ditinggalkan pada saat ia murtad karena ia (pada saat itu) adalah masuk kategori sebagai orang kafir, sedang keyakinannya memutuskan shalat,” (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Kuwait, Darus Salasil, juz XXII, halaman 200).

Jika kita cermati pandangan dari Madzhab Hanafi dan Maliki di atas, maka argumentasi yang ingin dikatakan adalah bahwa ketika seseorang menjadi murtad maka ia berstatus sebagai orang kafir.

Sedang orang kafir tidak terkena kewajiban menjalankan shalat dan membayar zakat. Karenanya ketika ia masuk Islam kembali, maka tidak wajib mengqadha shalat dan zakat yang ia tinggalkan semasa murtad.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pada pembaca.

Saran kami, bentengi diri kita, keluarga, dan masyarakat sekitar kita dengan keimanan yang kokoh agar tidak terjerumus ke dalam kemurtadan. Karena kemurtadan termasuk kategori kekafiran kelas berat.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Jumat 5 Agustus 2016 17:2 WIB
Hukum Sambut Kiai atau Pejabat dengan Shalawat dan Nyanyian Religius Daerah
Hukum Sambut Kiai atau Pejabat dengan Shalawat dan Nyanyian Religius Daerah
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati, dalam kesempatan ini kami akan menanyakan hal yang sering kita jumpai ketika kedatangan seorang tokoh seperti kiai, pejabat, atau mubaligh yang hendak mengisi acara pengajian. Mereka biasa disambut dengan shalawatan atau nyanyian daerah. Yang ingin kami tanyakan adalah bagaimana hukumnya? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Irman/Solo)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kami banyak menjumpai di pelbagai daerah komunitas muslim ketika ada seorang mubaligh bahkan pejabat tertentu datang disambut dengan shalawatan yang diiringin rebana. Tradisi menyambut tamu yang dianggap istimewa sepanjang yang kami pahami adalah lebih merupakan ekspresi kegembiraan atas kedatangannya.

Hal ini sebagaimana yang berdendang ria mendengarkan musik pada saat datangnya kegembiraan yang diperbolehkan, seperti pada hari hari raya Idul Fitri atau Adha, kembalinya orang yang bepergian jauh, kelahiran seorang anak dan lain sebagainya. Semua ini menurut Abu Hamid Al-Ghazali adalah diperbolehkan.

اَلْخَامِسُ السِّمَاعُ فِي أَوْقَاتِ السُّرُورِ تَأْكِيدًا لِلسُّرُورِ وَتَهْيِيجًا لَهُ وَهُوَ مُبَاحٌ إِنْ كَانَ ذَلِكَ السُّرُورُ مُبَاحَا كَالْغِنَاءِ فِي أَيَّاِم الْعِيدِ وَفِي الْعُرْسِ وَفِي وَقْتِ قُدُومِ الْغَائِبِ وَفِي وَقْتِ الْوَلِيمَةِ وَالْعَقِيقَةِ وَعِنْدَ وِلَادَةِ الْمَوْلُودِ وَعِنَدَ خِتَانِهِ وَعِنْدَ حِفْظِهِ الْقُرْآنَ الْعَزِيزَ وَكُلُّ ذَلِكَ مُبَاحٌ لِأَجْلِ إِظْهَارِ السُّرُورِ بِهِ

Artinya, “Kelima, mendengarkan lagu di waktu gembira karena menguatkan dan membuatnya lebih bergairah. Hal itu hukumnya adalah mubah sepanjang kegembiraan tersebut mubah misalnya mendengarkan lagu saat hari raya, walimatul ‘ursy, kembalinya orang yang bepergian, saat walimah, aqiqah, kelahiran bayi, dan selesai hafal Al-Qur`an. Semunya boleh karena untuk menampakkan kegembiraan dengannya,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya` Ulumiddin, Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa tahun, juz II, halaman 277).

Selanjutnya Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan alasan kebolehannya. Menurutnya, bahwa dari lagu-lagu ada yang membuat bahagia, gembira, dan suka cita, sehingga setiap hal yang boleh bergembira dengannya maka boleh membangkitkan kegembiraan padanya.

وَوَجْهُ جَوَازِهِ أَنَّ مِنَ الْأَلْحَانِ مَا يُثِيرُ الْفَرْحَ وَالسُّرُورَ وَالطَّرْبَ فَكُلُّ مَا جَازَ السُّرُورُ بِهِ جَازَ إِثَارُهُ السُّرُورَ فِيهِ

Artinya, “Alasan kebolehannya adalah sungguh dari lagu-lagu ada yang membuat bahagia, gembira, dan suka cita, sehingga setiap hal yang boleh bergembira dengannya maka boleh membangkitkan kegembiraan padanya,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya` Ulumiddin, Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa tahun, juz II, halaman 277).

Lebih lanjut Abu Hamid mendasarkan pandangannya tersebut pada dalil naqli yang menyatakan bahwa ketika Rasulullah saw datang ke kota Madinah, beliau disambut oleh para wanita kota tersebut dengan dendangan thala‘al badru ‘alaina, wajabas syukru ‘alaina, ma da‘a lillahi da’.

Ini semua adalah bentuk ekspresi kegembiraan masyarakat Madinah atas kedatangan Rasulullah SAW. Jelas ini adalah kegembiraan terpuji, karenanya menampakkan kegembiraan dengan mendendangkan sya’ir, nyanyian maupun tarian gerakan yang baik adalah terpuji juga. Dengan catatan dilakukan untuk menyambut hal-hal yang diperbolehkan.

وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا مِنَ النَّقْلِ إِنْشَادُ النِّسَاءِ عَلَى السُّطُوحِ بِالدُّفِّ وَالْأَلْحَانِ عِنْدَ قُدُومِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا ... مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ، وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا ... مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعٍ.  فَهَذَا إِظْهَارُ السُّرُورِ لِقُدُومِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَهُوَ سُرُورٌ مَحْمُودٌ فَإِظْهَارُهُ بِالشِّعْرِ وَالنَّغَمَاتِ وَالرَّقْصِ وَالْحَركَاتِ أَيْضًا مَحْمُودٌ

Artinya, “Dalil naqli yang menunjukkan hal ini adalah bernyanyinya beberapa perempuan di atas loteng dengan terbang dan berbagai lagu saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW di Madinah: thala‘al badru ‘alaina, min tsaniyyatil wada`, wajabas syukru ‘alaina, ma da’a lillahi da’ (telah hadir Rasulullah SAW yang laksana bulan purnama kepada kita, dari arah Tsaniyah al-Wada`, kita wajib bersyukur, selama pendo’a berdo’a kepada Allah). Hal tersebut merupakan ekspresi kegembiraan karena kedatangan beliau, dan merupakan kegembiraan yang terpuji, sehingga menampakkannya dengan syai’ir, lagu-lagu, goyangan, dan pelbagai gerakan (yang baik) adalah terpuji juga,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya` Ulumiddin, Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa tahun, juz II, halaman 277).

Jika penjelasan di atas itu ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka hukum menyambut kedatangan kiai atau pejabat publik yang memang diharapkan dan ditunggu-tunggu kedatangannya adalah diperbolehkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)