IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Jumat 9 September 2016 6:30 WIB
Share:
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat
Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

هذا جزاء من آثر رضا الله على رضا نفسه وأحب لقاءنا فأحببنا لقاءه

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Share:
Jumat 2 September 2016 15:0 WIB
Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah
Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menulis satu bab 'sabda Nabi SAW sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih' (Law kuntu muttakhidzan khalilan). Bab tersebut diambil dari potongan Hadits Nabi yang ditujukan kepada Abu Bakar. Dalam bab tersebut juga tercantum satu riwayat panjang dari Abu Musa al-Asy'ari mengenai tiga tokoh yang kemudian menjadi Khalifah: Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mari kita sedikit kaji hadits tersebut dengan sekali lagi melihat konteks sosio-politik perawi dan kandungan Hadits yang diriwayatkannya.

Dalam Hadits Nomor 3398 diceritakan Abu Musa al-Asy'ari menghampiri Nabi SAW yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap (pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. "Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata; "Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah pada hari ini". Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya; "Siapakah ini?. Dia berkata; "Abu Bakr". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Nabi lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk".

Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr; "Masuklah, dan Rasulullah telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk."

Abu Musa melanjutkan ceritanya: "Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; "Siapakah ini?". Orang itu menjawab; "Aku 'Umar bin Al Khaththab". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada 'Umar bin Al Khaththab minta izin masuk". Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Maka aku temui lalu aku katakan; "Masuklah, dan Rasulullah SAW telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka 'Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur."

Abu Musa bercerita bahwa ada orang ketiga yang datang, "Orang itu menjawab; "'Utsman bin 'Affan". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga, dengan berbagai cobaan yang menimpa" (bassyirhu bil jannah 'ala balwaa tushibuhu). Maka 'Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain".

Saya terpana membaca riwayat panjang di atas. Saya tidak meragukan keadilan Abu Musa al-Asy'ari salah seorang sahabat Nabi SAW, namun saya bertanya-tanya, kapan Abu Musa al-Asy'ari mengisahkan kisah di atas? Dari jalur periwayatan, beliau menceritakan riwayat ini kepada seorang ulama besar tabi'in bernama Sa'id bin Musayyab yang kemudian oleh Sa'id bin Musayyab hadits ini diartikan sebagai isyarat Khalifah Utsman tidak dikubur bersama Rasul, Abu Bakar dan Umar, karena posisi duduk Utsman yang berbeda di tepi sumur.

Saya fokos bukan pada posisi duduk, tapi pada ucapan yang berbeda dari Rasul kepada Abu Bakar, Umar dan kepada Utsman, dimana khusus untuk Utsman ada tambahan "dengan berbagai cobaan yang menimpa Utsman". Dalam masa kekhilafahan Abu Bakar dan Umar juga banyak persoalan, seperti kaum yang tidak mau bayar zakat sehingga diperangi Abu Bakar, atau Umar yang dibunuh saat mau jadi Imam shalat, tapi kenapa Rasul khusus mengatakan "berbagai cobaan untuk Utsman"? Ibn Hajar dalam Fathul Bari berusaha menjelaskan kekhususan penyebutan ini.

Boleh jadi Abu Musa al-Asy'ari menceritakan ulang kisah ini setelah huru-hara pada akhir masa kekhalifahan Utsman yang berujung masuknya gerombolan ke rumah Utsman dan membunuh khalifah ketiga. Kalau benar, maka ini riwayat post-factum. Jenazah Utsman sempat dilarang beberapa saat untuk dikubur oleh gerombolan pengepung. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa Utsman dikubur di Baqi, bukan bersama Rasul dan kedua khalifah Abu Bakar dan Umar. Periode kelam ini disebut sebagai fitnatul kubra. Hadits-hadits setelah peristiwa ini harus kita baca dengan cermat.

Dalam kisah di atas, nama Sayyidina Ali tidak disebut oleh Abu Musa al-Asy'ari. Ini menguatkan dugaan bahwa kisah ini diceritakan Abu Musa pada masa akhir Khalifah Utsman, bukan pada masa akhir Khalifah Ali. Sedikit background akan hubungan Abu Musa dengan Utsman dan Ali akan memperjelas kemusykilan kita memahami konteks riwayat di atas.

Abu Musa diangkat menjadi Gubernur Kufah pada masa Umar. Lantas pada masa Utsman, ia kena reshuffle. Tapi ia tetap loyal pada Khalifah Utsman meski orang pada heboh dan mengendus nepotisme sang khalifah karena yang menggantikan Abu Musa adalah keluarganya Utsman. Sewaktu pada masa kekhalifahan Ali terjadi perang unta dengan istri Nabi, Aisyah radhiyallahu 'anha, Abu Musa al-Asy'ari alih-alih mendukung Ali, Abu Musa malah menasihati Ali untuk meletakkan senjata. Ali tidak menghiraukan saran tersebut. Namun sewaktu perang antara Ali dan Mu'awiyah berlangsung, secara mengejutkan Abu Musa berdiri di pihak Ali.

Ketika terjadi tahkim untuk menyelesaikan perang, Imam Ali menghendaki Ibn Abbas yang mewakilinya berhadapan dengan Amru bin 'Ash dari pihak Mu'awiyah. Namun kaum khawarij berseru agar Abu Musa yang pergi. Ali mengalah dan membiarkan Abu Musa yang mewakili pasukannya. Hasilnya kita tahu Abu Musa dikerjai Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim sehingga berujung pada kekalahan Ali dan kemenangan Mu'awiyah. Pendukung Imam Ali banyak yang menyalahkan Abu Musa al-Asy'ari. Bahkan ada yang menuduhnya disisipkan oleh Mu'awiyah. Mungkin yang terjadi sebenarnya adalah Abu Musa terlalu polos sebagai juru runding. Perang Siffin berakhir pada 28 Juli 657 (1359 tahun yang lalu).

Sejarah selalu menyisakan sisi kelam yang harus disikapi secara bijak. Tentu bukan tanpa maksud apa-apa ketika kisah di atas diletakkan Imam Bukhari dalam bab 'sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih'. Fakta sejarah mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah 3 khalifah awal yang bukan saja sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW, tapi juga jasa ketiganya (plus Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib) dalam perkembangan umat tidak mungkin dihapus begitu saja. Merekalah para kekasih Nabi di surga kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.


Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Selasa 30 Agustus 2016 17:0 WIB
Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan
Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan
Ilustrasi
Kastari bin Maulana Maghribi Wonobodro merupakan sesepuh Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal.

Mbah Kastari, demikian biasa masyarakat memanggil, lahir di Kendal 15 Juli 1935 dan wafat di tahun 2002. Menurut cerita, Mbah Kastari merupakan keturunan ke-11 Syeikh Maulana Maghribi Wonobodro.

Mbah Kastari bukan tokoh populer, bukan kiai besar, atau pengasuh pesantren yang memiliki ribuan santri. Ia hanya dikenal di Desa Pagerdawung, selebihnya tidak banyak yang tahu.

"Mbah yai itu baik banget, Ngajar ngajinya juga mudah dipahami. Jika ada santri yang salah tidak pernah dimarahi kecuali pernah anak kakak saya nggak bisa ngaji akhirnya dimarahi karena beliau merasa malu bisa mendidik anak orang kok cucu sendiri ngak bisa, mungkin itu pikir beliau," kenang Sajidi, putra ketiga Mbah Kastari.

Kehidupan sehari-hari Mbah Kastari berjalan selayaknya masyarakat pada umumnya. Bertani, ngajar ngaji, juga menjadi Imam sholat.

Mbah Kastari terkenal akan kesederhanaan, juga kerendahan hatinya. Ketua Ta'mir Masjid At-Taqwa Desa Pagerdawung, KH Solihin mengungkapkan, Mbah Kastari adalah pribadi yang bersahaja.

"Simbah Kiai Kastari itu sangat sederhana. Rendah hati juga. Saya saja masih ingat kerendahan hatinya dulu. Sayang ya orang sebaik dia harus pergi terlebih dahulu," tutur Kiai Solikin.

Kehidupan beliau sangat sederhana, bahkan terkadang kekurangan. Tidak pernah keluar sedikitpun kata "kurang" yang keluar dari mulutnya, justru malah sebaliknya beliau selalu bersyukur.

"Alhamdulillah Gusti Allah wes maringi nikmat. Sitik gak popo daripada raono (Alhamdulillah Gusti Allah sudah memberikan nikmat, Sedikit tidak apa-apa daripada tidak ada," kata Sajidi, menirukan wejangan Mbah Kastari.

Dalam sebuah pengajian, Mbah Kastari pernah menuturkan tentang sosok kiai. Baginya, kiai adalah penyematan gelar yang berat untuk dipikul.

"Kiai itu apa? Semua itu ada aturanya kenapa seorang diangap sebagai kiai. Kalian terlebih saya pribadi jangan berharap dipangil kiai. Jadi kiai itu berat, Jalani aja, sampaikan apa yang kamu tahu dan berharaplah hanya kepada Allah SWT," katanya.

Sebelum wafat, Mbah Kastari jatuh sakit selama dua pekan. Sebenarnya beliau tahu apa penyebab sakitnya, namun untuk mencegah kepanikan anak-anaknya beliau hanya diam dan tetap berkata bahwa beliau sedang sakit biasa.

Karena kesehatannya semakin menurun, anak pertamanya Muryati bertanya kepada beliau tentang penyakitnya. Dan, semua tercengang. Ternyata yang diderita selama ini adalah akibat “diguna-guna” oleh orang yang tidak suka dengan dirinya. 
Setelah mendengar ceritanya, anak-anak beliau hendak membalas perlakuan seseorang kepada ayahnya itu, tetapi dengan tegas Kiai Kastari melarangnya dan menyampaikan pesan yang ternyata itu adalah pesan terakhir sebelum kepergianya.

"Anak anakku, mati ini adalah urusan Allah SWT , Lauhul Mahfuz tidak pernah salah. Mungkin ini adalah pelajaran bagi bapakmu ini yang penuh dosa ketika hidup di dunia. Bapakmu ini ikhlas nak biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Kita berdoa aja kepada Allah, jangan balas keburukan dengan keburukan, balaslah dengan kebaikan. Bapakmu sudah ikhlas, jika nanti bapak meninggal jangan pernah ungkit-ungkit masalah ini. Berikan senyuman, bapak sudah ihlas, Lillahhita'ala. Doakan bapak agar selalu berada di jalan Allah dan mati juga dijalan Allah"

Itu adalah pesan terakhir Kiai Kastari kepada putra-putrinya, juga  kepada santrinya. Semoga kisah ini bisa bermanfaat bagi kita semua bahwa keburukan tidak perlu dilawan dengan keburukan. Sebaliknya, keburukan harus dihadapi dengan kebaikan. Karena di situ letak ujian manusia. (IMS/Zunus)

Ahad 28 Agustus 2016 6:0 WIB
Saat Nabi Menjawab Pertanyaan
Saat Nabi Menjawab Pertanyaan
Nabi adalah orang yang membawa berita. Bukan sembarang berita, tapi ini berita dari langit. Semua Nabi membawa dua pesan utama: percaya kepada Tuhan dan percaya pada hari akhir/hari kebangkitan. Pesan dari langit bukan sekadar pepesan kosong melainkan juga harus diterapkan untuk terciptanya ketertiban dan kenyamanan. Pada titik ini, Nabi menjelma menjadi suri tauladan untuk menjalankan pesan ilahi.

Nabi bukan hanya pembawa pesan (messenger) sebagaimana layaknya tukang pos yang tidak tahu isi pesan. Nabi diberi pemahaman akan berita atau pesan yang hendak diteruskan kepada sesama. Bahkan Nabi juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan kandungan berita langit. Nabi juga menjadi orang pertama yang berhadapan dengan mereka yang tidak percaya dan mengingkari pesan langit.

Ada yang jelas-jelas menentang (kafir) namun ada pula yang hatinya mendua antara percaya dan tidak percaya (munafiq). Banyak pihak yang sekadar iseng bertanya kepada Nabi. Atau bertanya untuk menguji dan mengolok-olok. Ada pula yang gemar mencari-cari kesalahan, menguping dan membocorkan pembicaraan Nabi, bahkan ada yang meniru gerak-gerik Nabi berbicara sekadar mengejek setiap kali Nabi menyampaikan pesan atau penjelasan.

Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan Nabi naik mimbar dan kemudian "menantang" jamaah untuk mengajukan pertanyaan yang mereka mau, dan pasti saat itu akan Nabi jawab. Melihat Nabi yang terlihat geram, sejumlah sahabat menangis terisak-isak. Nabi berulangkali berseru: "bertanyalah kalian kepadaku!". Seorang bertanya, "dimana tempat tinggalku kelak?" Nabi menjawab: "kamu di neraka!". lantas Abdullah bin Hudzaifah bertanya: "siapa ayahku Ya Rasul?" Nabi menjawab, "Ayahmu Hudzaifah." Nabi masih menunggu siapa lagi yang mau bertanya segala macam kepadanya dengan terus mengulang: "Ayo bertanya lagi?!"

Umar bin Khattab kemudian berkata: "Radhina billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin shallahu 'alayhi wa sallam Rasula (Kami ridha Allah sebagai Rabb Kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW sebagai Rasul)." Ucapan Umar di tengah isak tangis para sahabat tersebut mengandung pertaubatan, penyesalan akan ketidaksopanan sejumlah pihak dan juga pengulangan janji kesetiaan kepada Nabi.

Nabi terdiam sejenak mendengar ucapan Umar. Nabi kemudian bersabda: "Pada dinding ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini." Ucapan Nabi bermakna gentingnya situasi saat itu akibat kemarahan Nabi.

Peristiwa ini berbuntut panjang. Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan kisah tambahan betapa ibu Abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa bapaknya di depan Nabi. Bukan saja pertanyaan itu tidak penting ditanyakan tapi juga seolah meragukan jalur nasabnya. Kata ibunya, "Kamu sangka ibumu ini pelacur yang kemudian aibnya mau kamu buka di depan Nabi dan jamaah dengan bertanya seolah meragukan siapa ayahmu?! Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih durhaka ketimbang engkau!"

Ada memang orang yang selalu ingin tahu hal-hal yang amat sangat detil dari agama ini. Nabi yang membawa gagasan besar dan pesan dari langit disibukkan dengan pertanyaan remeh temeh, seperti orang yang kehilangan unta dan kemudian bertanya hal itu kepada Nabi.

Nabi pernah bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata, ”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah bersabda, ”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda, ”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah."

Maka kemudian turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian." [al-Mâidah: 101].

Jadi, apa kita tidak boleh bertanya? Tentu boleh. Ada sekitar 12 ayat di mana Allah turun tangan langsung menjelaskan jawaban dengan menggunakan redaksi: "Mereka bertanya kepadamu tentang...." Itu karena pertanyaannya sangat penting. Di lain kesempatan, Nabi juga senang sekali berdialog dengan para sahabatnya. Ini artinya Nabi tidak keberatan menghadapi berbagai pertanyaan sahabat.

Namun seringkali orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ada yang bertanya untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan. Ada yang bertanya untuk menyindir, atau untuk menunjukkan kita lebih pintar dari yang ditanya. Atau bertanya untuk menebar pesona betapa alim dan dermawannya kita.

Simak pertanyaan model ini: "Mengapa ya Ustadz setiap saya habis bersedekah rasanya nikmatttt sekaliii?" Lantas disusul pertanyaan jamaah lain, "Kalau saya rasanya nikmat itu pas sehabis shalat tahajud 12 rakaat. Kenapa ya Ustadz?" Atau yang satu ini: "Bu Ustadzah, setiap saya pergi umrah setiap bulannya kenapa ya saya selalu menangis kalau shalat di depan Ka'bah? Dan anehnya tetangga saya katanya tidak bisa keluar air mata di Tanah Suci. Apakah perbedaan ini karena saya rajin menyantuni anak yatim, sementara tetangga saya itu terkenal pelitnya ya Bu?"

Duuhhhh!

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School