IMG-LOGO
Hikmah

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

Rabu 14 September 2016 5:0 WIB
Share:
Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial
KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula sebaliknya.

Gus Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya kesalahan.

Pada saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”.

Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima: baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi nyata.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng (istiqamah) daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat:

“Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, "Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat." Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual.

Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan: shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu?

Atau mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan: menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ‘ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama.

Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah: “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!

Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis:

“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”

Dengan tegas beliau menyatakan:

“Saya sendiri memperhatikan --dengan amat menyayangkan-- bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya --Saya tidak berkata mereka semuanya-- mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”

Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya. Wa Allahu a’lam bia-shawab.

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Share:
Rabu 14 September 2016 12:35 WIB
Percakapan 2 Malaikat tentang Segelintir Jemaah Haji yang Diterima Allah
Percakapan 2 Malaikat tentang Segelintir Jemaah Haji yang Diterima Allah
Foto: ilustrasi jemaah haji.
Di kalangan masyarakat Indonesia, ada sebagian masyarakat yang memandang bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang prestisius, ibadah yang memberikan dampak pelaksananya mendapatkan gelar di depan namanya, ibadah yang membutuhkan dana tidak sedikit. Tidak seperti shalat, puasa dan zakat, pelaku ibadah ini tidak mendapat gelar khusus di tengah masyarakat sebagaimana ibadah haji. 

Lalu, apakah setiap orang yang haji itu akan diterima Allah SWT? Berikut kisah Ali Ibn Mauqif dalam pengalaman spiritualnya sebagaimana yang diceritakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

Diriwayatkan dari Ali ibn Mauqif, ia berkisah, “Saya pernah menjalankan ibadah haji dalam satu tahun. Ketika malam Arafah tiba, saya tidur di masjid Al Khaif, Mina. Dalam tidur itu, saya bermimpi bertemu dengan dua sosok malaikat turun dari langit. Keduanya mengenakan pakaian serba hijau”.

Malaikat yang satu bertanya kepada yang lain “Wahai hamba Allah”. 

“iya, ada apa hamba Allah?”

“Tahukah anda berapa orang yang haji, mengunjungi Baitullah pada tahun ini?”

“Tidak, saya tak tahu”

“Yang datang berkunjung ke Baitullah tahun ini ada 600 ribu orang.”

“Lalu, anda tahu berapa di antara mereka yang diterima ibadahnya oleh Allah SWT?

“Tidak”

“Yang diterima hajinya hanya enam orang”

Setelah bercakap-cakap, kedua malaikat tersebut kemudian naik ke atas, hilang lenyap dari pandangan. Saya pun terbangun dari tidur. Saya menjadi begitu sangat sedih. Saya dibuat bingung merasakan kejadian ini. Yang saya pikirkan kala itu, andai saja yang diterima itu hanya enam orang, apa mungkin saya masuk pada enam orang itu?

Setelah selesai dari Arafah, saya kemudian berdiri di samping masy’aril haram (Muzdalifah). Saya berpikir keras, memikirkan tentang nasib orang yang sebanyak ini namun hanya diterima enam orang saja. Hingga saya diserang kantuk dan tertidur. Tiba-tiba kedua malaikat itu datang kembali, turun sesuai dengan style seperti dahulu saat mereka datang.

Satu malaikat bertanya kepada yang lain. Mereka berbincang-bincang sebagaimana yang dahulu pernah mereka bahas. Ada percakapan tambahan menarik dalam percakapan mereka kali ini. Satu malaikat bertanya “Apa yang anda tahu, bagaimana kebijaksanaan Tuhan kita malam ini?”

“Tidak”

Malaikat yang bertanya pada permulaan kali pembicaraan itu mengatakan “Sesungguhnya Allah telah memberikan anugerah atas masing-masing dari enam orang tersebut dibalas berupa 100 ribu orang lain yang sedianya tidak diterima menjadi diterima oleh Allah berkat enam orang yang diterimatersebut”. Saya pun kemudian terbangun dan bergembira tiada tara. (Ahmad Mundzir)

(Red: Fathoni)

Jumat 9 September 2016 6:30 WIB
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat
Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

هذا جزاء من آثر رضا الله على رضا نفسه وأحب لقاءنا فأحببنا لقاءه

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Jumat 2 September 2016 15:0 WIB
Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah
Abu Musa al-Asy’ari dan Kisah Empat Kekasih Rasulullah

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menulis satu bab 'sabda Nabi SAW sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih' (Law kuntu muttakhidzan khalilan). Bab tersebut diambil dari potongan Hadits Nabi yang ditujukan kepada Abu Bakar. Dalam bab tersebut juga tercantum satu riwayat panjang dari Abu Musa al-Asy'ari mengenai tiga tokoh yang kemudian menjadi Khalifah: Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mari kita sedikit kaji hadits tersebut dengan sekali lagi melihat konteks sosio-politik perawi dan kandungan Hadits yang diriwayatkannya.

Dalam Hadits Nomor 3398 diceritakan Abu Musa al-Asy'ari menghampiri Nabi SAW yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap (pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. "Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata; "Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah pada hari ini". Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya; "Siapakah ini?. Dia berkata; "Abu Bakr". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Nabi lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk".

Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr; "Masuklah, dan Rasulullah telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk."

Abu Musa melanjutkan ceritanya: "Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; "Siapakah ini?". Orang itu menjawab; "Aku 'Umar bin Al Khaththab". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan; "Wahai Rasulullah, ada 'Umar bin Al Khaththab minta izin masuk". Beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Maka aku temui lalu aku katakan; "Masuklah, dan Rasulullah SAW telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga". Maka 'Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur."

Abu Musa bercerita bahwa ada orang ketiga yang datang, "Orang itu menjawab; "'Utsman bin 'Affan". Aku katakan; "Tunggu sebentar". Kemudian aku menemui Rasulullah lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata; "izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga, dengan berbagai cobaan yang menimpa" (bassyirhu bil jannah 'ala balwaa tushibuhu). Maka 'Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain".

Saya terpana membaca riwayat panjang di atas. Saya tidak meragukan keadilan Abu Musa al-Asy'ari salah seorang sahabat Nabi SAW, namun saya bertanya-tanya, kapan Abu Musa al-Asy'ari mengisahkan kisah di atas? Dari jalur periwayatan, beliau menceritakan riwayat ini kepada seorang ulama besar tabi'in bernama Sa'id bin Musayyab yang kemudian oleh Sa'id bin Musayyab hadits ini diartikan sebagai isyarat Khalifah Utsman tidak dikubur bersama Rasul, Abu Bakar dan Umar, karena posisi duduk Utsman yang berbeda di tepi sumur.

Saya fokos bukan pada posisi duduk, tapi pada ucapan yang berbeda dari Rasul kepada Abu Bakar, Umar dan kepada Utsman, dimana khusus untuk Utsman ada tambahan "dengan berbagai cobaan yang menimpa Utsman". Dalam masa kekhilafahan Abu Bakar dan Umar juga banyak persoalan, seperti kaum yang tidak mau bayar zakat sehingga diperangi Abu Bakar, atau Umar yang dibunuh saat mau jadi Imam shalat, tapi kenapa Rasul khusus mengatakan "berbagai cobaan untuk Utsman"? Ibn Hajar dalam Fathul Bari berusaha menjelaskan kekhususan penyebutan ini.

Boleh jadi Abu Musa al-Asy'ari menceritakan ulang kisah ini setelah huru-hara pada akhir masa kekhalifahan Utsman yang berujung masuknya gerombolan ke rumah Utsman dan membunuh khalifah ketiga. Kalau benar, maka ini riwayat post-factum. Jenazah Utsman sempat dilarang beberapa saat untuk dikubur oleh gerombolan pengepung. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa Utsman dikubur di Baqi, bukan bersama Rasul dan kedua khalifah Abu Bakar dan Umar. Periode kelam ini disebut sebagai fitnatul kubra. Hadits-hadits setelah peristiwa ini harus kita baca dengan cermat.

Dalam kisah di atas, nama Sayyidina Ali tidak disebut oleh Abu Musa al-Asy'ari. Ini menguatkan dugaan bahwa kisah ini diceritakan Abu Musa pada masa akhir Khalifah Utsman, bukan pada masa akhir Khalifah Ali. Sedikit background akan hubungan Abu Musa dengan Utsman dan Ali akan memperjelas kemusykilan kita memahami konteks riwayat di atas.

Abu Musa diangkat menjadi Gubernur Kufah pada masa Umar. Lantas pada masa Utsman, ia kena reshuffle. Tapi ia tetap loyal pada Khalifah Utsman meski orang pada heboh dan mengendus nepotisme sang khalifah karena yang menggantikan Abu Musa adalah keluarganya Utsman. Sewaktu pada masa kekhalifahan Ali terjadi perang unta dengan istri Nabi, Aisyah radhiyallahu 'anha, Abu Musa al-Asy'ari alih-alih mendukung Ali, Abu Musa malah menasihati Ali untuk meletakkan senjata. Ali tidak menghiraukan saran tersebut. Namun sewaktu perang antara Ali dan Mu'awiyah berlangsung, secara mengejutkan Abu Musa berdiri di pihak Ali.

Ketika terjadi tahkim untuk menyelesaikan perang, Imam Ali menghendaki Ibn Abbas yang mewakilinya berhadapan dengan Amru bin 'Ash dari pihak Mu'awiyah. Namun kaum khawarij berseru agar Abu Musa yang pergi. Ali mengalah dan membiarkan Abu Musa yang mewakili pasukannya. Hasilnya kita tahu Abu Musa dikerjai Amru bin Ash dalam peristiwa tahkim sehingga berujung pada kekalahan Ali dan kemenangan Mu'awiyah. Pendukung Imam Ali banyak yang menyalahkan Abu Musa al-Asy'ari. Bahkan ada yang menuduhnya disisipkan oleh Mu'awiyah. Mungkin yang terjadi sebenarnya adalah Abu Musa terlalu polos sebagai juru runding. Perang Siffin berakhir pada 28 Juli 657 (1359 tahun yang lalu).

Sejarah selalu menyisakan sisi kelam yang harus disikapi secara bijak. Tentu bukan tanpa maksud apa-apa ketika kisah di atas diletakkan Imam Bukhari dalam bab 'sekiranya aku diperkenankan mengambil kekasih'. Fakta sejarah mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah 3 khalifah awal yang bukan saja sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW, tapi juga jasa ketiganya (plus Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib) dalam perkembangan umat tidak mungkin dihapus begitu saja. Merekalah para kekasih Nabi di surga kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.


Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School