IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Selasa 11 Juni 2019 17:0 WIB
Share:
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Qur'an adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair  Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini  tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:     

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.     

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto  sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)

Ditulis berdasarkan penuturan informan yang bertemu penulis beberapa bulan lalu saat Lebaran.

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Ahad, 25 September 2016 pukul 15:47 Redaksi menayangkannya ulang tanpa mengubah isi tulisan.




Share:
Selasa 11 Juni 2019 19:30 WIB
Semua Bayi Lahir Menangis kecuali Nabi Isa dan Ibunya, Mengapa?
Semua Bayi Lahir Menangis kecuali Nabi Isa dan Ibunya, Mengapa?
Setiap bayi lahir menangis. Jika tidak, hal itu bisa jadi tanda kematiannya atau masalah lainnya. Namun hal seperti ini tidak terjadi pada diri Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam. Keduanya lahir ke dunia ini tanpa menangis. Mengapa?

Ada dua perspektif untuk menjelaskan mengapa semua bayi lahir menangis, yakni perpektif medis dan perspektif teologis sebagai berikut:

Secara medis, seorang bayi lahir ke dunia dalam keadaan menangis disebabkan dorongannya sendiri untuk lahir selamat. Sebuah artikel di situs detikhealth.com berjudul Kenapa Bayi Menangis Saat Baru Lahir? (11/11/2009) menjelaskan bahwa selama dalam kandungan, bayi hidup dengan bantuan sebuah jalan yang menghubungkan jantung dan paru-parunya dengan organ dalam tubuh ibunya. Dengan cara ini bayi mendapatkan nutrisi dari darah sang ibu. 

Pada saat bayi terlahir, ia mengambil napas untuk pertama kali melalui perubahan peredaran darah. Dengan menangis, maka terbuka sirkulasi yang memungkinkan oksigen terkirim melalui paru-paru. Jadi tangisan bayi tersebut membantu membuka paru-parunya agar bisa menghirup oksigen sendiri tanpa bergantung lagi pada ibunya. Selain itu bagi bayi menangis juga merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. 

Secara teologis, Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, 1998), Cet. II, hal. 31, menjelaskan bahwa tak seorang pun bayi selamat dari tempelengan setan ketika baru dilahirkan sehingga mereka menangis sebagaimana kutipan berikut:

فإذا وضع الإنسان من بطن أمه، استهل صارخاً. وذلك من لكزة الشيطان لعنة الله، التي لم يسلم منها إلا عيسى بن مريم وأمه عليهما السلام ، وذلك أن الله أعاذهما منها ، بقول أم مريم زوجة عمران : [وإني أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ] آل عمران 3/36. كما ذكر ذلك في الحديث، وإن إبليس جاء ليطعن فوقعت طعنته في الحجاب. .

Artinya, “Ketika manusia dilahirkan dari perut (rahim) ibunya, ia menangis keras. Hal itu disebabkan ia ditempeleng oleh setan terkutuk yang tak seorangpun selamat darinya kecuali Nabi Isa putra Maryam dan sang ibu alaihimas salam. Hal itu disebabkan Allah melindungi mereka berdua karena ibu dari Siti Maryam, istri Imran, sebelumnya pernah berdoa demikian.’Dan sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya, dari gangguan setan yang terkutuk.’ (Q.S. 3:36). Juga disebutkan dalam hadits, ‘Ketika Iblis datang untuk menusuknya, maka tusukan itu mengenai tabir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, setiap bayi, baik laki-laki maupun perempuan, terlahir dalam keadaaan menangis disebabkan oleh ulah setan terkutuk yang sengaja menempeleng mereka. Penjelasan ini merujuk pada hadits Rasulullah shallahu alaihi wasallam sebagai berikut:

ما من مولود يولد إلا نخسه الشيطان فيستهل صارخاً من نخسة الشيطان إلا ابن مريم وأمه

Artinya,“Tidak ada seorang bayi yang terlahir tanpa mendapatkan tusukan dari setan sehingga bayi itu menangis keras karenanya kecuali putra Maryam dan ibunya. (HR. Muslim)

Tidak hanya setan, Iblis juga terlibat dalam hal ini. Artinya sejak manusia dilahirkan ke dunia Iblis dan setan telah mulai menggoda untuk merusak fitrah mereka. 

Kedua, Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam adalah satu-satunya yang selamat dari tempelengan setan karena Allah melindungi keduanya disebabkan sebelumnya ibu dari Siti Maryam yang tak lain adalah istri Imran, pernah secara khusus berdoa kepada Allah agar keduanya dilindungi dari gangguan setan. Doa itu sebagaimana tertulis di dalam Al-Qurán sebagai berikut:

وَإِنِّي أُعِيْذُها بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya,“Dan sesungguhnya aku mohon kepada-Mu perlindungan untuk dia (Maryam) dan keturunannya (Isa) dari gangguan setan terkutuk.” (Q.S. 3:36)

Ketiga, kisah keterlibatan Iblis dalam hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslimm berbunyi, “Ketika Iblis datang untuk menikamnya, maka tikaman itu mengenai tabir.” Tujuan Iblis dan setan dalam aksinya ini adalah untuk mempengaruhi manusia agar menyimpang dari fitrahnya, yakni beriman tauhid dengan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya yang wajib disembah. Kesaksian ini terjadi di alam azali ketika Allah menanyai mereka satu per satu tentang siapa Dia? 

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Artinya: “Bukankah Aku (Allah) ini Tuhan kamu? Mereka menjawab: “Ya, kami menjadi saksi.” (Q.S. 7:172)

Terkait dengan godaan setan dan Iblis di atas, Sayyid Abdullah Al-Haddad selanjutnya menjelaskan bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan di telinga kanan si bayi yang baru lahir dan iqamat di telinga kirinya. Hal ini tak lain merupakan upaya penyelamatan terhadap si bayi agar ia tetap dalam dalam fitrahnya, yakni beriman tauhid. 

Dai uraian di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam alaihima salam tidak menangis ketika masing-masing dilahirkan ke dunia karena Allah memang melindunginya dari tempelengan setan. Dengan kata lain, doa istri Imran yang tak lain adalah ibundanya Siti Maryam dikabulkan oleh Allah subhanahu wataála. Keduanya, ibu dan anak ini, memang orang-orang luar biasa karena sang anak lahir dari sang ibu yang masih perawan suci – sebuah fenomena yang menguji keimanan kita sepanjang masa. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Ahad 9 Juni 2019 14:0 WIB
Kisah Nabi Isa dan Babi yang Melintas
Kisah Nabi Isa dan Babi yang Melintas
Dalam kitab al-Shumt wa Âdâb al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya memasukkan riwayat dari Imam Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Berikut riwayatnya: 

حدثني الحسين بن علي بن يزيد أنبأنا عبد الله مسلمة، حدثنا مالك بن أنس رضي الله عنه قال: مرّ بعيسي ابن مريم عليه السلام خنزير، فقال: مُرَّ بسَلام، فقيل: يا روح الله، لهذا الخنزير تقول؟ قال: أَكْرَهُ أنْ أُعَوِّدَ لِسانِي علي الشَّرِّ

Al-Husein bin Ali bin Yazid bercerita, Abdullah Maslamah bercerita, Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu bercerita kepada kami, ia berkata:

Isa bin Maryam ‘alaihissalam berpapasan dengan seekor babi, ia berkata: “Melintaslah dengan selamat (hati-hati).” 

Kemudian ia ditanya: “Wahai ruh Allah, untuk babi ini kau berucap (seperti itu)?”

Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku (mengucapkan hal-hal) buruk.” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shamt wa Âdâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1990, h. 176-177)

****

Dari sudut pandang “terapan”, ucapan Nabi Isa ‘alaihissalam adalah pelatihan yang harus dibiasakan. Dari mulai yang paling sederhana, sampai yang paling rumit. Pembiasaan itu ia tampilkan dalam sikapnya pada seekor babi. Ia menganjurkan agar babi yang berpapasan dengannya untuk berhati-hati. Ucapannya tersebut tidak dipahami oleh orang-orang yang mendampinginya, mereka bertanya (terjemah bebas): “Kenapa kau berucap seperti itu untuk seekor babi?” Nabi Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku mengucapkan hal-hal buruk.” Dalam riwayat lain, Nabi Isa menjawab:

إِنّي أخافُ أَنْ أُعَوِّد لِسَاني النطقَ بالسُوء

“Sesungguhnya aku takut membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘alâ Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Dar al-Fikr, 2018, juz 4, h. 470)

Pembiasaan itu penting karena dapat menjadi norma “rasa” dan “tubuh”, yaitu kebiasaan yang telah mendarah-daging sehingga terasa asing ketika tidak melakukannya. Contohnya orang yang terbiasa shalat, di titik tertentu ia akan merasa tidak tenang ketika tidak melakukannya, karena rasa dan tubuhnya telah ternormakan oleh “pembiasaan” itu tadi. Namun, kita harus tetap hati-hati agar shalat kita tidak menjadi aktivitas yang kering spiritualitas. Jangan sampai shalat kita termasuk dalam shalatnya orang-orang yang celaka. Allah berfirman (QS. Al-Ma’un: 4-7):

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Maka kecelakaan untuk orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” 

Perumpamaan lainnya adalah praktisi beladiri. Mereka memiliki kelenturan dan respon yang sangat cepat. Tubuh mereka seperti detektor yang bisa mendeteksi setiap gerakan yang hendak menyerang mereka. Oleh sebab itu, pembiasaan dalam berkata baik, sebagai bagian dari akhlak yang baik (min khusnil adab), sangat dianjurkan untuk dilatih. Agar lisan kita terjaga dari ucapan-ucapan buruk yang menyinggung perasaan. Dengan latihan, kita bisa mengontrol lisan kita di saat marah, meski kita sangat ingin meluapkannya dengan kata-kata, kita bisa menahannya. Seorang penyair mengatakan:

تَعَوَّد الْخَيْرَ فَخَيْرُ عَادَةٍ # تَدْعو إلي الغِبْطَةِ وَالسَّعادَة

Biasakanlah kebaikan. Sebaik-baik kebiasaan adalah,
yang mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.

(Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, Kairo: Dar al-Wa’yi, 1993, juz 27, h. 311)

Syair tersebut merupakan lanjutan dari penjelasan Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar tentang riwayat yang menceritakan Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Sebelumnya Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar (368-463 H) berkomentar:

إنّما قيل ذلك لعيسي لأن الخنزير كثير الأذَي لبَنِي آدم في أموالهم من زروعهم وكرومهم, وكذلك نقول لعيسي: تقول لخنزير خيرًا؟ فقال: أكْرَهُ أن أُعَوِّدَ لِسانِي النُّطْقَ بِالسّوء

“Nabi Isa ditanya seperti itu karena sesungguhnya babi itu memberi banyak kerugian kepada bani Adam (manusia) dalam hal harta benda, yaitu (dalam) pertanian dan perkebunan mereka. Karena itu (seakan-akan) kita bertanya pada Isa: ‘Kau berucap baik kepada babi (yang sering merugikan kami)?’ Ia menjawab: ‘Aku tak ingin membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, 1993, juz 27, h. 311)

Ini artinya kita harus menyingkirkan keburukan dari lidah kita. Dimulai dari berucap baik kepada makhluk Allah selain manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan dilanjutkan dengan berucap baik kepada sesama manusia. Meski binatang atau manusia tersebut sering menyakiti kita. Karena latihan terbaik dalam menjaga hati adalah bersabar dan berbuat baik kepada orang yang paling kita benci, termasuk kepada binatang. 

Maka, pantas saja kita sering mendengar kiai-kiai kita terdahulu sangat berhati-hati memperlakukan binatang. Mereka tidak berani melintasi ayam atau binatang apapun yang sedang makan, bahkan rela mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Jika dengan binatang saja mereka bisa sedemikian santun, apalagi dengan manusia.

Karena itu, di hari yang fitri ini, kita harus meluaskan maaf kita, mengujarkan kebaikan dan menjauhkan keburukan dari lisan kita. Kita harus memulai pembersihan lidah kita dari meminta maaf pada orang yang kita kenal dan mengenal kita, karena tidak mungkin selama bergaul tidak ada salah terbuat dan singgung terucap. Kita juga harus meminta maaf kepada orang yang mengenal kita tapi kita tidak mengenal mereka, karena bisa jadi kita tidak membalas sapaan mereka dan memberi senyum sebagai hak mereka.

Kita pun harus meminta maaf kepada orang yang kita kenal tapi mereka tak mengenal kita, bisa jadi kita pernah menggunjing mereka, membicarakan keburukan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan lupa, kita juga harus meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal dan mereka pun tidak mengenal kita, bisa jadi kita pernah bermuka masam kepada mereka, menginjak kaki mereka tanpa sengaja, menyerobot antrean mereka dan lain sebagainya. 

Ya, memang sukar menemui mereka satu persatu, apalagi orang yang tidak kita kenal. Paling tidak kita berdoa kepada Allah agar diampuni segala kesalahan, dan memohon kepada Allah untuk meluaskan pintu maaf mereka. Tentu saja, sebelum itu, kita harus memaafkan mereka terlebih dahulu, baik orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal. Dengan begitu, kita tidak terlalu malu untuk berdoa: “Ya Allah, luaskanlah pintu maaf bagi orang-orang yang pernah kusalahi, kusinggingi, dan kusakiti, terkhusus untuk orang-orang yang tak kukenali dan tak mengenalku. Karena aku tak berdaya memikirkan cara lain selain memohon kepada-Mu.”

Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf atas segala salah, baik kesalahan yang tersengaja maupun tidak, dan kesalahan yang tertampak maupun tersembunyi. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Sabtu 8 Juni 2019 20:30 WIB
Mendapat Berkah al-Fatihah yang Multiguna
Mendapat Berkah al-Fatihah yang Multiguna
Al-Fâtihah itu multiguna, multifungsi. Setidaknya bisa diibaratkan kunci Inggris, simpel dan praktis. Dikatakan multiguna, karena al-Fâtihah adalah umm al-qur'ân dan umm al-kitâb (induk kitab suci Al-Qur’an), juga asâs al-qur'ân (fondasi Al-Qur’an), al-sab‘ al-matsânî (tujuh ayat yang dibaca berulang kali dalam setiap shalat), al-qur'ân al-'adhîm (surat yang mencakup tujuan Al-Qur’an, tauhid, nubuwwah, hari akhir, dan ibadah), al-syifâ' (obat), serta al-shalâh (shalat/doa). 

Terkait keluhuran al-Fâtihah ini, Syekh al-Shâwî al-Mâlikî dalam Hâsyiyât al-Shâwi ‘alâ Tafsir al-Jalâlain menyebutkan nama (sebutan) surat al-Fâtihah sebanyak 20 nama, bahkan Syekh Abu Dhiyâ’ Nūr al-Dîn Ibn ‘Alî al-Syibrâmilisî al-Qâhirî (w. 1087 H) dalam Hâsyiyat atas kitab Nihâyat al-Muhtâj karya Syihâb al-Dîn al-Ramlî, menyebutkan 30 nama. Nama-nama inilah yang menunjukkan betapa al-Fâtihah itu multiguna dan multifungsi.  

Al-Fâtihah itu terbagi kepada dua bagian besar: bagian Allah Ta’ala dan bagian manusia. Ayat al-Rahmân al-Rahîm hingga Mâliki Yaum al-Dîn adalah bagian Allah Ta’ala. Ayat iyyâka na'budu waiyyâka nasta'în, bagian awal ayat ini (iyyâka na'budu) adalah bagian/hak Allah Ta’ala—yang menjadi kewajiban atas manusia untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya, dan sebagian ayatnya yang akhir (waiyyâka nasta'în) menjadi bagian/hak hamba (manusia), dan baginya apa saja kebaikan yang ia mohonkan.

Bagian ayat ihdinash shirâtha-l-mustaqîm dan seterusnya, khusus bagian manusia, terserah apa saja kebaikan dan kemanfaatan yang ia mohonkan kepada Allah Ta’ala. Poin penting ini berdasarkan hadits qudsi dalam riwayat Muslim, Ahmad, dan Ashâb al-Sunan al-Arba'ah dari Abu Hurairah r.a.

Jadi, al-Fâtihah itu multiguna, multi fungsi. Sungguhpun demikian, apakah kita sudah memahaminya dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya?

Sebagai bentuk tahadduts bin-ni'mah (menyampaikan anugerah nikmat Allah SWT) berkaitan dengan al-Fâtihah, yang saya rasakan berkahnya, saya ingin menyampaikannya, dengan harapan ada manfaatnya. Khusus mengaji surat al-Fâtihah saya telah menulis buku. Buku ini mulanya adalah naskah-naskah ngaji tafsir surat-surat pendek, tahun 2009-an di Mushalla Darussalam Kampung Pabuaran Sibang Kelurahan Pabuaran Kecamatan Karawaci Kota Tangerang Provinsi Banten. Saat menyampaikan materi ini, biasanya materi dibatasi satu atau dua halaman kertas A4 satu spasi, yang saya print out, terkadang difotokopi atau diprint untuk jamaah pengajian sekitar 15 hingga 20-an orang. Lantas sekitar tahun 2010 materi khusus tafsir surat al-Fâtihah saya buat draf buku, dilengkapi dengan penjelasan, disertai catatan kaki (foot note), yang akhirnya dapat dibukukan tahun 2015, dengan judul Mutiara Al-Fâtihah. 

Dan berkahnya al-Fâtihah tampak: mengantarkan saya bisa lanjut studi doktoral (S3) tahun 2012, bisa keliling Negeri Kinanah Egypt (Mesir) tahun 2015 selama satu bulan full, ziarah Kota Suci Madinah al-Munawarah dan Makkah al-Mukarramah dalam rangka umrah (Sya’ban 1439/2018), berlanjut dakwah sebulan Ramadhan dan Syawal (2018) di Hong Kong, dan saat ini di Uni Eropa (2019), safari dakwah Ramadhan di Netherlands (Belanda), Bremen Germany dan Brussels Belgium, serta mendapatkan pengalaman dan wawasan tentang budaya dan peradaban Eropa yang kaya, seperti Ghent, sebuah kota tua di Belgia. Ini tentu menjadi berkesan bagi saya, karena disadari bahwa saya hanyalah seorang anak kampung, dari keluarga kiai kampung, ayah saya bernama Kiai Muhammad Muslim Daroini, di pelosok kampung Nusantara nun jauh dari kota metropolitan, tepatnya di Pekon (Desa) Datarajan Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus Lampung.

Di Negeri Para Nabi ini, saya bisa mengikuti daurah (pelatihan) dan bimbingan dengan para Syekh Al-Azhar Al-Syarîf. Antara lain, Syekh Shauqî 'Allâm Mufti Agung Dâr al-Iftâ' Mesir, Almarhum Prof. Dr. Taha Jabir Al-'Alwanî pakar Ushul Fiqh, dan Prof. Dr. Hasan Hanafi, mufakkir kontemporer.

Selain itu, tentu berwisata religi, dan menikmati budaya dan peradaban Mesir Kuno. Wisata religi (ziarah) di beberapa tempat di Cairo, berziarah antara lain, di maqbarah Imam As-Syâfi'î dan guru beliau Imam Al-Wakî', yang namanya begitu fenomenal dalam bait syair gubahannya, yang biasa dijadikan puji-pujian di Nusantara khususnya di pesantren-pesantren salafiyah. Bunyi syairnya:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعِ سُوْءَ حِفْظِيْ ~ فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ ~ وَنُوْرُ اللّٰهِ لَا يُهْدَى لِلْعَاصِيْ

“Aku mengadu kepada Wakî' perihal buruknya hafalanku ~ Lantas ia membimbingku agar meninggalkan kemaksiatan.

Ia memberitahukan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya ~ Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

Tentu ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Sayyidina 'Alî bin Abî Thâlib ra., yang terletak di dalam masjid Sayyidina Husain ini di area pasar Khan Khalili. Juga makam Sidi Ibn 'Athâ'illâh al-Sakandarî, Shâhib al-Hikam, pengarang kitab tasawuf al-Hikam yang sangat fenomenal.

Juga ziarah ke makam Imam al-Bushîrî Shâhib al-Burdah di Alexandria. Beliau yang mengarang Shalawat Burdah yang sangat masyhur. Saya mulai mengenal dan mengafal beberapa baitnya saat usia 13 tahun, tahun 1992, dan mengaji kitab Shalawat Burdah ini sekitar tahun 1994 di Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Liraf Dusun Sumberagung Desa Margodadi Kecamatan Perwakilan Semberjo Kabupaten Tanggamus (pemekaran Lampung Selatan). Pondok ini didirikan oleh Buyut kami dari jalur Ibu, yaitu Almaghfurlah Kiai Abdullah Hasan.

Di antara baitnya yang sangat masyhur itu:

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ~ لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ
دَعَا إِلَى اللّٰهِ فَالْمُسْتَمْسِكُوْنَ بِهِ ~ مُسْتَمْسِكُوْنَ بِحَبْلِ اللّٰهِ مُنْفَصِمِ
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ~ وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Dialah (Nabi Muhammad SAW) sang kekasih yang diharapkan syafaat (pertolongan)nya ~ untuk melepaskan semua derita dan kesulitan yang menerpa.

“Dia mengajak kepada Allah, maka orang-orang yang berpegang teguh kepadaNya~ mereka itulah orang-orang yang berpegang kepada tali (agama Islam) yang tak terputus.

Ya Tuhanku, dengan berwasilah kepada seorang Nabi pilihan (al-Mushthafâ) sampaikanlah pada tercapainya tujuan-tujuan kami ~ Dan berikanlah ampunan kepada kami terhadap dosa yang telah berlalu, duhai Yang Maha Luas Kemuliaan-Nya.”

Mengenai wisata budaya yang saya nikmati tentu saja satu dari sekian banyak keajaiban dunia, yaitu Piramida di Giza, dan patung Sphinx (badan singa berkepala manusia) yang tidak jauh dari piramida ini. Beberapa tempat bersejarah lainnya yang saya kunjungi, ada Masjid Ibn Thulūn, Masjid Al-Jâmi' al-Azhar, Masjid 'Amr bin al-'Âsh al-Shahabî (awal dibangun tahun 641 M), dan Greek Orthodox Church of St. George dalam term Arab, Kanîsah Mârjarjîs (Gereja Ortodok Yunani Mari Girgis) di kawasan Fushthâth Cairo. Tentu tak terlewatkan mengunjungi benteng terkenal, Benteng Shalâhuddîn al-Ayyūbî (didirikan antara tahun 1176 dan 1183 M) dan Masjid Ali Pasha yang indah yang berada di dalam benteng ini. Selain itu, juga mengunjungi Bibliotheca Alexandria atau Perpustakaan Iskandariyah, didirikan tahun 323 SM. Juga menikmati makan kurma langsung dari kebun kurma di Matruh perbatasan Libya, dan wisata safari (off road) di padang pasir Sahara di Siwa.

Dengan menggunakan kapal pesiar Nile Cruisse, saya bersama rombongan mengarungi Sungai Nail untuk menuju ke tempat-tempat peradaban dan pusat ibukota Mesir kuno zaman Firaun, yaitu Luxor, sekitar 500 km sebelah selatan Cairo ibukota Mesir. Di tempat ini hingga Aswan, di tepi Sungai Nil, saya menerawang dan membayangkan peradaban 3000 an tahun silam bahkan lebih. Banyak ma‘bad atau temple atau kuil (tempat peribadatan zaman Firaun) yang dikunjungi, antara lain Luxor Temple, Hatshepsut Temple, Kharnak Temple, Horus Temple, Kom Ombo Temple, dan Abu Simble Temple, di bagian depannya ada monumen raksasa Ramses (Firaun) II abad ke-13 SM., merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, dan Wâdî al-Muluk (Lembah Raja-raja Firaun).

Tentu tak terlewatkan, saya bersama rombongan, menemui Firaun (Ramses II), sang raja Mesir yang sangat masyhur nan legendaris itu, yang matinya tenggelam di lautan saat mengejak Nabi Musa As. Tapi tentu yang kami temui adalah muminya, yang berada di Lantai 2 di Mathaf al-Qâhirah (Museum Cairo) Egypt.

Pengalaman keliling wisata peradaban Mesir Kuno ini pun kembali terasa takkala, pada 24 Ramadhan 1440 bertepatan dengan 29 Mei 2019, saya mengunjungi Rijksmuseum van Oudhehen (RMO) Rapenburg 28, 2311 EW Leiden, yang berdekatan dengan Universiteit Leiden Netherlands, sekitar 24 km dari Heeswijkplein Den Haag. Di salah satu lantai dasar dari tiga lantai museum ini terdapat khusus barang-barang bersejarah tinggi peradaban Mesir Kuno.

Di tahun 2019 ini, dalam momen Ramadhan, topik-topik yang sering saya sampaikan dalam pengajian dan dakwah tentu tentang Al-Fâtihah. Topik ini didasarkan pada buku Fikih al-Fâtihah: Panduan Lengkap Memahami Induk al-Qur'an, semula judulnya Mutiara al-Fâtihah.

Materi buku Fikih al-Fâtihah ini, saya sampaikan di berbagai kesempatan safari dakwah di Uni Eropa: di Wageningen Gerderlands NL, KBRI Den Haag NL, Masjid Al-Hikmah PS Indonesia Den Haag, Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME) di Waalwijk NL, Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB) Bremen Germany, dan Keluarga Pengajian Muslim Indonesia (KPMI) di Aula KBRI Brussels Belgia. 

Sebagai catatan, berdasarkan berbagai sumber melalui penelusuran Google, jumlah Muslim di Uni Eropa, ditambah Swiss dan Norwegia (baik yang tergabung dalam Schengen Area Countries yang berjumlah 26 negara, maupun selainnya --seperti Inggris), sekitar 5 persen (26 juta jiwa) dari total populasi sekitar 742 juta jiwa. Tentu dari jumlah ini, Muslim di Eropa masih minoritas. Muslim terbanyak di Perancis (sekitar 6 juta atau 6% dari total populasi penduduknya 67 juta), Jerman (sekitar 5 juta jiwa, atau 5% dari total penduduknya 83 juta jiwa), Inggris (lebih dari 4 juta, lebih dari 6% total populasi 56 juta), Italia (sekitar 3 juta, 5% dari populasi penduduknya 61 juta), dan Belanda (lebih dari 1,2 juta atau sekitar 7% populasi penduduknya 17 juta), dan Spanyol (sekitar 1 juta, atau kurang dari 3% dari total populasinya 47 juta). Adapun Muslim di Belgia, di mana saya melakukan dakwah Ramadhan dan wisata budaya di negara ini, berjumlah sekitar 629 ribu atau sekitar 6% dari total populasi 10 juta jiwa. Jumlah Muslim di Eropa diprediksi akan melonjak tajam pada 2050. 

Tentu ini menjadi perhatian penting bagi kita, terutama umat Islam di Indonesia, sebagai warga mayoritas. Hal ini jelas, karena berkaitan dengan bagaimana ketentuan menerapkan ajaran Islam mengenai kewajiban mengonsumsi dan menggunakan produk makanan dan minuman serta barang-barang yang halal, dan menerapkan syariat ajaran Islam secara maksimal. Selain itu tentu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan memperoleh pengetahuan dan pemahaman Islam yang baik, Islam yang moderat (Islam wasathî/Islam rahmatan lil ‘alamin) di Eropa. Mari senyum dan optimis bersama al-Fâtihah. Mari berwasilah al-Fâtihah mengayunkan langkah meraih berkah. Hadânallâh waiyyâkum ajma'în.


Ustadz Ahmad Ali MD, Pendakwah dan Kabid Kurikulum dan Akademik Pendidikan Dai Penggerak NU [PDPNU] Lembaga Dakwah PBNU