IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali

Jumat 23 Desember 2016 17:0 WIB
Share:
Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali
Ilustrasi (© islamicity)
Manusia tidak dapat hidup sendiri dan butuh orang lain untuk tetap bertahan hidup. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon, yaitu makluk sosial. Dikatakan makhluk sosial karena tanpa teman dan berinteraksi dengan orang lain mustahil manusia betah hidup di dunia. Oleh sebab itulah, Allah SWT  menciptakan Adam beserta Hawa agar manusia terus berkembang dan hidup bersama-sama.

Untuk mememuhi kebutuhan sosial tersebut, manusia butuh pertemanan atau persahabatan. Imam al-Ghazali mengibaratkan pertemanan ibarat akad nikah. Konsekuensi dari akad tersebut adalah seseorang diharuskan untuk memenuhi hak-hak pasangannya. Al-Ghazali mengatakan:

اعلم أن عقد الأخوة رابطة بين الشخصين كعقد النكاح بين الزوجين وكما يقتضي النكاح حقوقا يجب الوفاء بها قيام بحق النكاح كما سبق ذكره في كتاب النكاح فكذا عقد الأخوة فلأخيك عليك حق في المال والنفس وفي اللسان والقلب بالعفو والدعاء وبالإخلاص والوفاء وبالتخفيف وترك التكلف

“Jalinan tali persahabatan antara dua orang seperti halnya akad nikah suami-istri. Dalam pernikahan terdapat hak yang harus dipenuhi sebagaimana disebutkan sebelumnya pada pembahasan nikah. Demikian pula dalam persahabatan ada kewajibanmu untuk memenuhi hak saudaramu, baik yang berkaitan dengan harta, jiwa, tutur kata, dan hati: dengan memberikan maaf, keikhlasan, pemenuhan janji, dan meringankan beban.”

Dalam persahabatan terdapat etika dan hak yang harus kita jaga. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan banyak hal terkait hal ini. Setidaknya terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam menjaga hubungan persahabatan. Keempat hal itu sebagai berikut:

Pertama, seyogyanya seseorang memberikan sebagian hartanya kepada temannya. Dalam hal ini, imam al-Ghazali membagi persahabatan dalam tiga tingkatan: tingakatan paling rendah adalah orang yang memosisikan sahabatnya seperti seorang pembantu. Dia akan memberikan harta kepada sahabatnya bila terdapat kelebihan; tingkatan menengah adalah orang yang memperlakukan sahabatnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Mereka tidak membedakan sahabat dengan dirinya sendiri; sementara tingkatan paling tinggi adalah orang yang memosisikan sahabatnya di atas dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan hartanya untuk sahabatnya.

Kedua, membantu sahabat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum dia meminta bantuan. Seseorang mesti mengetahui bagaimana kondisi temannya, terutama kondisi ekonomi keluarga  atau dirinya sendiri. Supaya bila terdapat kesusahan kita dapat membantu mereka tanpa harus diminta terlebih dahulu.

Ketiga, tidak melakukan sesuatu yang dibencinya. Tentu tidak semua orang suka dengan perilaku dan karakter kita. Alangkah baiknya pada saat bertemu teman, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai teman. Keempat, bertutur kata sopan dan memujinya. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak suka pujian. Karenanya untuk memperkuat persahabatan, sering-seringlah memujinya.  

Keempat hal di atas hanyalah sebagian dari etika persahabatan yang disebutkan al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin. Semoga keempat etika tersebut dapat diamalkan pada saat bergaul sesama manusia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
 


Tags:
Share:
Kamis 15 Desember 2016 9:0 WIB
Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar 'Share' Info di Medsos
Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar 'Share' Info di Medsos
Anda pengguna media sosial? Jika iya tentu Anda merasakan betul berbagai kemudahan yang disediakan perangkat dunia maya ini, mulai dari saling mengirim pesan jarak jauh, mempublikasikan tulisan dan foto secara kilat, hingga bertatap wajah dengan orang-orang di lintas negara.

Kemudahan-kemudahan tersebut di satu sisi menggambarkan betapa gampangnya manusia masa kini belajar dan menjalin silaturahim tanpa kendala jarak. Namun di sisi lain bisa menjadi jebakan bagi para penggunanya untuk semakin ringan berbuat mubazir bahkan merusak. Dengan bahasa lain, medsos membuka kemudahan bagi berbuat baik tapi sekaligus juga berbuat buruk.

Salah satu pemandangan yang dihasilkan media sosial adalah banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong. Celakanya bila kabar itu ternyata salah/bohong dan ada pihak yang dirugikan.

Fenomena copy-paste atau pendistribusian berita seperti ini pernah disinggung oleh Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih dalam ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). Sebagaimana tertuang dalam kitab Ar-Risâlah:

أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي، وذلك الحديث عمن لا يُعرفُ صدقُه

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.”

Dalam Iryadul 'Ibad ila Sabilir Rasyad, Abdul 'Aziz al-Malibari yang juga mengutip perkataan Imam Syafi'i memaparkan redaksi kalimat secara lebih terang:

وَمِنْ الْكَذِبِ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ ، وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ الْإِنْسَانُ خَبَرًا عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ مِنْ كَذِبِهِ

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.”

Imam Syafi’i menjelaskan hal itu saat mengomentari hadits hadditsû ‘annî walâ takdzibû ‘alayya (ceritakanlah dariku dan jangan berbohong atasku). Periwayatan hadits bagi Imam Syafi’i tak boleh main-main. Bisa kita analogikan, begitu pula dengan periwayatan atau penyebaran informasi di media sosial. Tak selayaknya seseorang asal copy-paste, retweet, regram, atau share informasi dari orang lain tanpa melakukan terlebih dahulu verifikasi dan klarifikasi (tabayyun).

Disebut “kebohongan samar” karena aktivitas tersebut dilakukan seperti tanpa kesalahan. Karena bukan produsen informasi, melainkan sekadar penyebar, seseorang merasa enjoy saja melakukan copy-paste, apalagi informasi tersebut belum tentu salah atau bohong. Padahal, justru di sinilah tantangan terberatnya. Karena belum jelas bohong atau salah, informasi tersebut juga sekaligus belum jelas kebenaran dan kejujurannya.

Di tengah keraguan semacam itu, pengguna media sosial wajib melakukan cek kebenaran. Jika tidak, pilihan terbaik adalah menyimpan informasi itu untuk diri sendiri, bila tidak ingin jatuh dalam tindakan haram al-kadzib al-khafiy. Kita juga mesti ingat bahwa dunia maya tidak sama dengan dunia imajiner atau khayalan. Media sosial sebagai salah satu unsur dari dunia maya memiliki dampak nyata bagi kehidupan manusia, entah merugikan atau menguntungkan.

Alhasil, jika penyebaran informasi yang meragukan saja bagi Imam Syafi’i masuk katergori bohong (samar), penyebaran informasi palsu (hoax) tentu lebih parah. Orang mesti memikirkan dengan cermat dan memeriksanya secara pasti setiap informasi yang ia peroleh sebelum buru-buru menyebarkannya. Itulah bentuk ikhtiar positif manusia sebelum kelak mempertanggungjawabkan apa pun yang muncul dari anggota badannya, termasuk jari-jarinya. Wallâhu a’lam. (Mahbib)

Ahad 11 Desember 2016 22:1 WIB
Amalan untuk Dapat Suguhan Air Kautsar dari Tangan Rasulullah SAW
Amalan untuk Dapat Suguhan Air Kautsar dari Tangan Rasulullah SAW
Foto: Ilustrasi
Hanya orang-orang beruntung yang kelak meminum air telaga Al-Kautsar, telaga yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW seperti tertera dalam Surat Al-Kautsar. Bagaimana tidak, air telaga ini sangat berkhasiat sesuai kebutuhan semua manusia pertama hingga manusia terakhir dalam menjalani huru-hara hari Kiamat.

Tetapi hanya orang istimewa yang meminum air telaga Al-Kautsar langsung dari tangan pemiliknya, Nabi Muhammad SAW. Belum lagi suguhan langsung dari tangan Rasulullah SAW yang tentu akan memberikan pengalaman rohani dan kepuasan batin yang berbeda.

Keistimewaan ini sesungguhnya dapat diupayakan. Para ulama menganjurkan kita untuk membaca doa setelah adzan seperti yang diajarkan Rasulullah SAW berikut ini.

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الْدَّعَوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ القَائِمَةِ، آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وابْعَثْهُ مَقَاْمًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَّهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ

Allâhumma rabba hâdzihid da‘watit tâmmah, was shalâtil qâ’imah, âti sayyidanâ muhammadanil wasîlata wal fadhîlah, wab‘atshu maqâmam mahmûdanil ladzî wa‘adtah, innaka lâ tukhliful mî‘âd.

Artinya, “Ya Allah, wahai Tuhan pemilik dakwah yang sempurna, Tuhan pemelihara ibadah shalat yang terlaksana, berikanlah Nabi Muhammad SAW kehormatan status wasilah dan fadhilah. Bangkitlah dia di tempat terpuji yang Kau janjikan. Sungguh Engkau tidak mengingkari janji.”

Setelah membaca doa itu, sebagian ulama menganjurkan kita untuk menambahkannya dengan doa berikut ini.

وَأَوْرِدْنَا حَوْضَهُ وَاسْقِنَا مِنْ يَدِهِ الشَّرِيْفَةِ شُرْبَةً هَنِيْئَةً مَرِيْئَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Wa awridnâ haudhahû, wasqinâ min yadihis syarîfah syurbatan hanî’atan marî’ah, lâ nazhma’u ba‘dahâ abadâ, ya arhamar râhimîn.

Artinya, “Ya Allah, antarkan kami melewati telaga Kautsar milik Rasulullah SAW. Berikanlah kesempatan bagi kami meminum langsung dari tangan pemiliknya yang mulia seteguk air telaga yang lezat dan nikmat itu di mana kami selamanya takkan mengalami haus setelah meminumnya. Hai Tuhan yang maha pengasih.”

Doa ini sengaja dibaca di waktu antara adzan dan iqamah karena waktu ini merupakan salah satu waktu mustajabah. Doa ini dapat ditemukan di kitab Hasyiyatul Baijuri ala Syarhi Ibni Qasim Al-Ghazzi. Semoga Allah deretkan kita dalam barisan orang beruntung yang meminum air Al-Kautsar langsung dari suguhan Rasulullah SAW. Amin. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Selasa 6 Desember 2016 20:4 WIB
Tawasul di Masa Rasulullah SAW saat Sahabat Punya Hajat
Tawasul di Masa Rasulullah SAW saat Sahabat Punya Hajat
Foto: Ilustrasi
Kita secara lahir harus berusaha keras agar suatu hajat terwujud. Di samping itu kita secara batin perlu menyerahkan segala upaya kita kepada Allah SWT. Ibadah-ibadah tambahan seperti shalat hajat terutama dan mendawamkan suci juga sangat dianjurkan.

Shalat hajat ini sangat membantu agar batin tetap tenteram dalam menggapai suatu tujuan. Shalat hajat ini juga diharapkan dapat meredam upaya-upaya menghalalkan segala cara yang terlintas dalam pikiran.

Selain shalat hajat, kita juga perlu berdoa kepada Allah SWT. Hanya saja kita memerlukan suplemen untuk mendorong doa ini dengan tawasul melalui Rasulullah SAW. Tawasul ini juga yang diamalkan para sahabat sejak masa Rasulullah SAW hidup.

Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar mengutip lafal tawassul yang digunakan sejumlah sahabat Rasulullah SAW ketika memiliki hajat tertentu sebagai berikut.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِيْ هَذِهِ لِتُقْضَى لِي ، اَللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ

Allâhumma innî as’aluka  wa atawajjahu ilaika bi nabiyyika muhammadin shallallâhu alaihi wa sallama nabiyyir rahmah. Yâ muhammadu, innî tawajjahtu bika ilâ rabbi fî hâjatî hâdzihî lituqdhâ lî. Allâhumma fa syaffi‘hu fiyya.

Artinya, “Wahai Tuhanku, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan bersandar pada kedudukan mulia nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW, nabi penuh kasih. Wahai Nabi Mahummad SAW, melaluimu aku menghadap kepada Allah agar segala hajatku terpenuhi. Ya Allah, terimalah syafa’atnya untuk pemenuhan hajatku.”

Hadits ini memuat riwayat sahabat Utsman bin Hunaif. Ia menceritakan bahwa salah seorang dengan cacat penglihatan datang kepada Rasulullah SAW dan memintanya berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penyakitnya. Setelah itu Rasulullah SAW meminta sahabat yang sakit ini untuk bersuci dengan wudhu yang sempurna, lalu Rasulullah SAW memintanya untuk membaca lafal tawasul seperti di atas.

Imam An-Nawawi mengutip hadits riwayat sahabat Utsman bin Hunaif ini dari Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibni Majah. Karenanya kita yang punya hajat ada baiknya mengikuti sunah Rasulullah SAW yang diajarkan kepada para sahabatnya yang mulia. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)