IMG-LOGO
Hikmah

Pesan Hikmah Mbah Maimoen soal Ilmu dan Kondisi Bangsa

Ahad 29 Januari 2017 16:0 WIB
Share:
Pesan Hikmah Mbah Maimoen soal Ilmu dan Kondisi Bangsa
KH Maimoen Zubair.
Siang menjelang sore sekitar pukul 14.31 WIB, Rabu (15/1/2017) rombongan tim Anjangsana Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta sowan ke kediaman sesepuh NU KH Maimoen Zubair di komplek Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Tim Anjangsana sebelumnya tetap khidmat menunggu salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu karena terlebih dahulu harus mengimami shalat dzuhur berjamaah bersama santri Sarang. Usia Mbah Maimoen yang hampir menginjak angka 90 tahun itu masih tegar setiap hari memimpin shalat berjamaah.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat. 

Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakai sandal ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Tak lama setelah itu, romobongan Anjangsana diterima Mbah Maimoen di ruang tamu. Selain rombongan dari Jakarta, ada  juga tamu yang datang dari Tuban. Sebelum Mbah Maimoen berujar, para tamu tidak ada yang berani mendahului untuk membuka pembicaraan.

Sampai tibalah Mbah Maimoen menyapa para tamu. Tim Anjangsana dipimpin oleh Zastrouw Ngatawi menyampaikan maksud kedatangan rombongan yang berjumlah 17 orang. Mantan Ketua Lesbumi PBNU itu merendahkan badannya di hadapan Mbah Maimoen yang tercatat salah seorang santri Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut.

Sekilas Mbah Maimoen langsung paham apa yang dimaksud Zastrouw dan rombongan dalam upaya memperkokoh sanad keilmuan dan wawasan kebangsaan. Setelah sekian menit dalam keheningan, Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam beberapa penuturannya. Para tamu yang tadinya agak sedikit kikuk seketika itu langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, kedatangan rombongan Tim Anjangsana dengan maksud memperkokoh keilmuan merupakan langkah yang tepat. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

“al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. 

Kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 silam itu mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait dengan esensi ilmu yang manusia harus terus menerus menimba dan belajar, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Seperti persoalan politik di Ibu Kota Negara, menurutnya hal itu fardhu kifayah saja, bukan fardhu’ain yang seolah seluruh masyarakat di Indonesia ikut larut dalam hiruk-pikuk sehingga melupakan tugas penting yang melekat pada dirinya.

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturrahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi. 

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh NU, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas dan arif.

(Fathoni Ahmad)

Tags:
Share:
Sabtu 28 Januari 2017 15:0 WIB
Kisah Nabi Tegakkan Keadilan bagi Orang Nasrani
Kisah Nabi Tegakkan Keadilan bagi Orang Nasrani
Suatu ketika Bilal radliyallahu ‘anh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bertamu di kediaman Sayyidina Abu Bakar, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Lantas Bilal membukakan pintu tersebut. Ternyata orang tersebut beragama Nasrani yang tengah mencari Rasulullah.

"Apakah di sini ada Muhammad bin Abdullah," tanya orang Nasrani yang masih di depan pintu kepada Bilal.

Bilal tidak menjawab, tapi mempersilakan tamu tersebut masuk ke dalam rumah Abu Bakar untuk berdialog langsung dengan Rasulullah.

"Hai Muhammad, jika engkau mengaku dan benar sebagai utusan Allah, maka tolonglah aku, karena sekarang sedang terzalimi," pintanya kepada Rasulullah

Nabi Muhammad pun bertanya, "Siapa yang telah menzalimimu?"

"Abu Jahal bin Hisyam, dia telah mengambil hartaku," jawab Nasrani.

Lantas Rasullah beranjak berdiri dan bergegas menuju ke rumah Abu Jahal. Namun Bilal merasa keberatan dan ia berkata, "Sekarang waktu qailulah (sekitar pukul 11.00) sebagaimana kebiasaan Abu Jahal sedang beristirahat dan aku khawatir jika engkau menemuinya, ia merasa terganggu dan marah bahkan melukai engkau wahai Rasulullah, sehingga dia tidak mendengarkan perkataan orang."

Tetapi Rasulullah tidak menggubris perkataan sahabatnya tersebut dan langsung menuju ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintunya. Akhirnya Abu Jahal membuka pintu dengan raut muka marah dan berkata, "Silakan masuk, kenapa tidak mengutus teman-temanmu, Muhammad?”

"Oh itu tujuanmu ke sini, andaikan mengutus seseorang ke sini untuk mengambil harta tersebut, tentunya saya akan dengan suka rela mengembalikannya," ucapnya.

"Sudahlah jangan terlalu lama, kembalikan harta orang Nasrani tersebut," tegas Rasullah.

Akhirnya Abu Jahal menyuruh pembantunya untuk mengeluarkan dan mengembalikan seluruh harta yang ia ambil dari orang Nasrani.

Kemudian Rasulullah berkata kepada orang yang terzalimi oleh Abu Jahal tersebut, "Apakah seluruh hartamu sudah kau terima."

“Ya Rasulullah, namun masih ada yang tersisa satu, yaitu kulit kambing. Akhirnya Rasulullah menyuruh Abu Jahal untuk mengembalikannya.”

Abu Jahal pun mencari kulit kambing tersebut di dalam rumahnya. Proses pencarian tak membuahkan hasil dan Abu Jahal pun menggantinya dengan kulit kambing yang bagus.

Ketika Orang Nasrani tersebut menyaksikan peristiwa ketegasan dan kerelaan Rasulullah dalam membantu disaat ia terzalimi, lantas ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan berkata, Wahai Muhammad saya menyakini bahwa engkau adalah utusan Allah dan agama yang engkau ajarkan adalah haq (benar)." (Ahmad Rosyidi)

Disarikan dari kitab Duratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asyakir al Khubawi, halaman 99, Penerbit Toha Putra Semarang

Rabu 25 Januari 2017 7:3 WIB
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Saat Putra Sayyidina Umar Diejek Teman-temannya
Keluarga Khalifah Umar bin Khattab memiliki pola hidup sederhana. Saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Mekah, pakaian yang dikenakannya memiliki empat belas tambalan. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.

Suatu ketika usai pulang sekolah, Abdullah bin Umar menangis di hadapan ayahnya, Umar bin Khattab. Umar pun bertanya, “Kenapa engkau menangis, anakku?”

"Teman-teman di sekolah mengejek dan mengolok-olokku karena bajuku penuh dengan tambalan. Di antara mereka mengatakan, ‘Hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan putra Amirul Mukminin itu’," ungkap Ibnu Umar dengan nada sedih.

Setelah mendengar curhatan putranya, Amirul Mukminin langsung bergegas menuju baitul mal (kas negara) dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Karena tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia pun menitipkan surat kepada penjaga kas negara tersebut yang isinya sebagai berikut:

"Dengan surat ini, perkenankanlah aku meminjam uang kas negara sebanyak 4 dinar sampai akhir bulan, pada awal bulan nanti, gajiku langsung dibayarkan untuk melunasi utangku.”

(Baca juga: Gaya Hidup Putri Rasulullah)

Setelah pejabat kas negara membaca surat pengajuan utang itu, dikirimlah surat balasan:

”Dengan segala hormat, surat balasan kepada junjungan khalifah Umar Bin Khatab. Wahai Amirul Mukminin mantapkah keyakinanmu untuk hidup sebulan lagi, untuk melunasi utangmu, agar kamu tidak ragu meminjamkan uang kepadamu. Apa yang Khalifah lakukan terhadap uang kas negara, seandainya meninggal sebelum melunasinya?

Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah pun langsung menangis, dan berseru kepada anaknya:

“Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya. (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari Kitab Durrtun Nashihin fil Wa'dhi wal Irsyad karya Utsman bin Hasan al-Khubawi)

Senin 23 Januari 2017 15:0 WIB
Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah
Ketika Tiga Ulama Besar Melamar Rabi’ah al-‘Adawiyah
Ilustrasi (© aquila-style.com)
Nama Rabi’ah al-’Adawiyah harum di mata banyak orang. Kealimannya, kerendahhatiannya, dan hidup zuhudnya seolah memunculkan magnet yang menarik banyak kalangan untuk mengaguminya sebagai perempuan sufi yang tak biasa. Tak hanya masyarakat awam, kekaguman tersebut ternyata juga dimiliki para ulama besar yang sezaman.

Tak heran, ketika ulama perempuan ini berstatus janda lantaran sang suami wafat, banyak ulama yang berusaha melamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Dalam kitab Durratun Nashihin diuangkapkan, para ulama ternama yang terpikat hatinya itu antara lain Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit al-Banani.

Ketika para ulama tersebut suatu hari datang ke kediaman Rabi’ah al-’Adawiyah dan mengutarakan maksud tulus mereka untuk meminang, dari balik hijab Rabi’ah berujar, “Baiklah, tapi aku ingin tahu, siapakah di antara kalian yang paling alim, maka aku akan bersedia menjadi istrinya.”

“Dialah Hasan al-Bashri,” sahut Malik bin Dinar dan Tsabit al-Banani. Suasana “persaingan” merebut hati Rabi’ah ternyata tak menghalangi mereka untuk tetap tawadhu’ satu sama lain.

Rabi’ah pun mulai mengajukan persyaratan kepada Hasan al-Bashri. “Jika Tuan mampu menjawab empat masalah yang aku ajukan maka aku bersedia menjadi istri Tuan.”

“Silakan, wahai Rabi’ah. Semoga Allah memberi taufiq kepada aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” balas Hasan al-Bashri.

“Menurut Tuan, kalau aku meninggal dunia, apakah kematianku dengan membawa ketetapan iman atau tidak?”

“Maaf, hal ini termasuk hal yang ghaib, dan tiada yang tahu pasti kecuali Allah,” jawab Hasan al-Bashri.

Rabi’ah melanjutkan, “Ketika aku bersemayam dalam kubur, lalu malaikat Munkar dan Nakir bertanya, menurut Tuan, mampukah aku menjawabnya?”

“Maaf, itu juga termasuk masalah ghaib. Yang tahu hanyalah Allah.”

“Menurut Tuan, ketika manusia dihimpun di hari Kiamat kelak, aku termasuk orang yang menerima kitab amal dengan tangan kanan ataukah kiri?”

Hasan al-Bashri masih mengutarakan jawaban yang sama. Ia tak dapat menjawab masalah yang ia nilai ghaib itu.

“Menurut Tuan, ketika manusia dipanggil, aku termasuk golongan orang yang masuk surge atau neraka?”

Lagi-lagi Hasan al-Bashri meminta maaf dan mengembalikan kepastian atas jawaban tersebut kepada Allah. Ia tahu, Rabi’ah adalah tokoh dengan ketaatan dan prestasi ruhani yang luar biasa. Tapi untuk urusan nasib kehidupannya kelak, Hasan tak mau memberi penilaian. Hasan menghindar dari apa yang menjadi hak prerogatif Allah.

“Bagi orang yang sedang kalut memikirkan empat masalah ini, mana ada kesempatan untuk berumah tangga?” kata Rabi’ah.

Para ulama itu pun meneteskan air mata dan keluar dari rumah Rabi’ah al-’Adawiyah dengan penuh penyesalan. (Mahbib)