IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Penjelasan KH Sholeh Darat tentang Thariqah

Senin 13 Februari 2017 7:30 WIB
Share:
Penjelasan KH Sholeh Darat tentang Thariqah
Oleh M. Rikza Chamami

Memahami thariqah (orang umum biasanya menulis tarekat) memang tidak mudah. Selain banyak definisi dan penjelasannya, thariqah merupakan jalan menuju Tuhan.

Dalam agama Islam, tahapan menuju Allah itu dikenal dengan tiga langkah: syariah, thariqah dan haqiqah. Langkah religius ini dijalani dengan tahapan-tahapan spiritual sebagaimana dilukiskan dalam syi'ir teologi-sufistik Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al Malabari (872-928 H) dalam kitab Hidayatul Adzkiya':

ان الطريق شريعة وطريقة * وحقيقة فاسمع لها ما مثلا

Tulisan ini mencoba menjelaskan ulasan KH Muhammad Sholeh bin Umar (Mbah Sholeh Darat) mengenai thariqah. Dalam kitab karnya berjudul Minhajul Atqiya' fi Syarhi Ma'rifatil Adzkiya' ila Thariqatil Auliya' dijelaskan tentang thariqah. Mbah Sholeh Darat menguraikan sya'ir Syaikh Zauniddin Al Malabari berikut:

وطريقة أخذ باحوط كالورع * وعزيمة كرياضة متبتلا

Thariqah itu sebuah pelaksanaan ibadah dengan semangat keseriusan, tidak memilih ibadah yang ringan saja. Ada usaha serius dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya (taqwa). Salah satu usahanya adalah menjaga penuh konsisten menjauhi keharaman, baik tempat tinggal hingga makanan.

Adapun teknis menjaga dari barang haram itu dengan cara riyadlah (njungkung ngibadah marang Allah [Jawa], beribadah dengan penuh khusyu').

Jadi yang dinamakan menjalani ilmu thariqah menurut Mbah Sholeh Darat adalah melaksanakan syari'ah dengan benar secara dhahir dan batin.

Secara dhahir yang dilakukan adalah menghindari hal-hal haram yang ada pada tempat tinggal dan makanan. Adapun secara batin dengan  ‘azimah (mengharap dengan sungguh-sungguh) dengan cara riyadlah.

Riyadlah yang dimaksudkan adalah dengan berani meninggalkan makan, meninggalkan berbicara dan meninggalkan berkumpul dengan orang. Dengan cara itu, maka akan terjadi empat hal:

1. Tahan melek (buka mata)
2. Tahan lapar
3. Tahan membisu
4. Tahan berpisah dengan manusia

Usaha azimah dan riyadlah itu semata-mata karena niat ibadah kepada Allah Swt. Cara lainnya adalah dengan puasa dan shalat sebagai syarat sahnya ibadah 'indallah.

Jadi thariqah itu menurut Mbah Sholeh Darat dimaknai sebagai proses menjalani ibadah dengan penuh kehati-hatian, penuh kesungguhan dan penuh rasa takut jika ibadahnya tidak diterima Allah Swt. Maka dua cara yang dilakukan dalam thariqah: wara' dan riyadlah.

Adapun untuk menjalani sikap wara', Mbah Sholeh Darat menjelaskan ada empat hal:

1. Wara' al-'Adl
2. Wara' al-Shalihin
3. Wara' al-Muttaqin
4. Wara' al-Shiddiqin

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Hamid Al Ghazali dalam Kitab Minhajul Al 'Abidin bahwa tujuan hidup mengenal hukum syara' dan hukum wara'. Niatnya adalah mewujudkan hamba Allah yang muwahhidun mukhallisun.

* Penulis adalah dosen UIN Walisongo & Wakil Ketua Kopisoda (Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat)

Share:
Rabu 8 Februari 2017 3:4 WIB
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khatib Khutbah?
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khatib Khutbah?
Di antara shalat yang disunnahkan ialah tahiyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid sebelum duduk. Menurut Imam al-Nawawi, kesunnahan shalat ini sudah disepakati oleh mayoritas ulama (ijma’) dan makruh meninggalkannya kecuali ada udzhur . Kesunnahan mengerjakan shalat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Qatadah, Rasulullah SAW berkata:

إذا دخل أحدكم المسجد فليصل ركعتين قبل أن يجلس

Artinya:
“Apabila kalian masuk masjid hendaklah shalat dua raka’at sebelum duduk” (HR: Ibnu Majah)
    
Hadis ini menunjukan secara jelas anjuran shalat tahiyatul masjid. Namun persoalannya, pada saat shalat jum’at, khususnya setelah khatib naik mimbar,  sebagian orang seringkali merasa bingung untuk menentukan pilihan: apakah mengerjakan shalat sunnah atau langsung duduk demi mendapatkan kesunnahan menyimak khutbah.

Persoalan ini pernah melanda seorang sahabat pada masa Rasulullah. Kebetulan pada waktu itu Rasulullah SAW bertindak sebagai khatib jum’at. Dikarenakan datang terlambat, demi menyimak khutbah keagamaan, sahabat tadi langsung duduk dan tidak shalat tahiyatul masjid. Rasul pun akhirnya menegurnya. Beliau berkata:
 
صل ركعتين خفيفتين قبل أن تجلس

Artinya:
“Shalatlah kamu dua rakaat dengan ringkas (cepat) sebelum duduk” (HR: Ibn Hibban)
    
Rasulullah SAW tetap memerintahkan shalat dua raka’at sekalipun khutbah jum’at sedang berlangsung. Ini menunjukan saking sunnah dan utamanya shalat tahiyatul masjid. Khusus bagi orang yang terlambat, dianjurkan mempercepat shalatnya agar dapat mendengar khutbah jum’at. Berdasarkan hadis ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mengatakan:     

واما إذا دخل والإمام يخطب يوم الجمعة أو غيره فلا يجلس حتى يصلي التحية ويخففها
    
“Apabila seorang masuk masjid dan khatib sedang khutbah jum’at, hendaklah ia shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu dan mempercepatnya”
    
Dengan demikian, bagi orang yang terlambat datang ke masjid pada hari jum’at, sementara khatib sudah naik mimbar, kesunnahan shalat tahiyatul masjid tetap berlaku. Namun perlu digarisbawahi, kesunnahan ini tidak berlaku pada saat shalat berjemaah, ketika imam sudah takbir ataupun muadzzin sudah iqamah. Pada kondisi ini, dimakruhkan melakukan shalat sunnah dan lebih baik langsung shalat berjemaah bersama imam. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)


Jumat 13 Januari 2017 12:30 WIB
Ini Nasihat Rasulullah kepada Penegak Hukum
Ini Nasihat Rasulullah kepada Penegak Hukum
Hukum bertujuan untuk mengatur dan menata kehidupan masyarakat agar lebih baik. Tanpa hukum kehidupan manusia berantakan dan tidak teratur: orang kuat dan berani akan seenaknya memperbudak yang lemah, seperti halnya hukum rimba, siapa berani dia yang menjadi raja.

Maka dari itu, Islam memberikan rambu-rambu hukum dan kode etik kepada umatnya supaya tidak terjadinya kezaliman dan ketidakadilan. Setiap orang harus diberlakukan adil dan setara di hadapan hukum. Tidak ada perbedaan kaya dan miskin, kuat dan lemah, pintar dan bodoh, pada saat proses pengadilan. Semuanya harus diberlakukan sama.

Hukum harus ditegakkan sesuai dengan aturan yang berlaku di sebuah negara. Tidak boleh ditambahi dan dikurangi sesuai keinginan pribadi ataupun pesanan dari orang lain. Pada zaman Rasulullah, sebagaimana dikisahkan ‘Aisyah, pernah terbesik dalam hati sahabat untuk mengurangi hukuman seorang pencuri yang berasal dari keturunan terhormat. Pencurinya adalah perempuan dari Bani Makhzum.

Sahabat kebingungan menghadapi kasus ini. Mereka berunding untuk mengadu kepada Rasul SAW sembari meminta hukumannya dikurangi. Akan tetapi, di antara mereka tidak ada yang berani mengutarakan hal itu langsung kepada Rasulullah SAW. Sehingga akhirnya, Usamah Ibn Zaid diminta untuk mengadukan kasus ini dikarenakan ia orang terdekat Rasulullah SAW. Mendengar laporan tersebut, Rasulullah SAW marah dan mengatakan di hadapan orang banyak:

 يا أيها الناس، إنما هلك الذين من قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركواه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد. وايم الله، لو أن فاطمة بنت محمد سرقت، لقطعت يده

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan, tetapi bila ada orang lemah dan miskin mencuri, mereka tegakkan hukuman kepadanya. Demi Allah, andaikan Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR: Ibnu Majah)
    
Ini merupakan bentuk ketegasan Rasulullah SAW. Beliau tidak takut menerapkan hukum    kepada siapapun, baik kaya maupun miskin. Sebab tanda kehancuran suatu kaum adalah hukum tidak ditegakkan. Sebagai negara hukum, mestinya hukum di Indonesia harus ditegakkan oleh pemerintah, dalam hal ini kepolisian dan lain-lain, seadil-adilnya. Hukum tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Jangan biarkan lagi masyarakat sipil main hukum dan menindas seenaknya. Memimjam kata Gus Dur, jangan menjadi bangsa penakut, lantaran tidak mau menghukum yang salah. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)
 

Jumat 23 Desember 2016 17:0 WIB
Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali
Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali
Ilustrasi (© islamicity)
Manusia tidak dapat hidup sendiri dan butuh orang lain untuk tetap bertahan hidup. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon, yaitu makluk sosial. Dikatakan makhluk sosial karena tanpa teman dan berinteraksi dengan orang lain mustahil manusia betah hidup di dunia. Oleh sebab itulah, Allah SWT  menciptakan Adam beserta Hawa agar manusia terus berkembang dan hidup bersama-sama.

Untuk mememuhi kebutuhan sosial tersebut, manusia butuh pertemanan atau persahabatan. Imam al-Ghazali mengibaratkan pertemanan ibarat akad nikah. Konsekuensi dari akad tersebut adalah seseorang diharuskan untuk memenuhi hak-hak pasangannya. Al-Ghazali mengatakan:

اعلم أن عقد الأخوة رابطة بين الشخصين كعقد النكاح بين الزوجين وكما يقتضي النكاح حقوقا يجب الوفاء بها قيام بحق النكاح كما سبق ذكره في كتاب النكاح فكذا عقد الأخوة فلأخيك عليك حق في المال والنفس وفي اللسان والقلب بالعفو والدعاء وبالإخلاص والوفاء وبالتخفيف وترك التكلف

“Jalinan tali persahabatan antara dua orang seperti halnya akad nikah suami-istri. Dalam pernikahan terdapat hak yang harus dipenuhi sebagaimana disebutkan sebelumnya pada pembahasan nikah. Demikian pula dalam persahabatan ada kewajibanmu untuk memenuhi hak saudaramu, baik yang berkaitan dengan harta, jiwa, tutur kata, dan hati: dengan memberikan maaf, keikhlasan, pemenuhan janji, dan meringankan beban.”

Dalam persahabatan terdapat etika dan hak yang harus kita jaga. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan banyak hal terkait hal ini. Setidaknya terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam menjaga hubungan persahabatan. Keempat hal itu sebagai berikut:

Pertama, seyogyanya seseorang memberikan sebagian hartanya kepada temannya. Dalam hal ini, imam al-Ghazali membagi persahabatan dalam tiga tingkatan: tingakatan paling rendah adalah orang yang memosisikan sahabatnya seperti seorang pembantu. Dia akan memberikan harta kepada sahabatnya bila terdapat kelebihan; tingkatan menengah adalah orang yang memperlakukan sahabatnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Mereka tidak membedakan sahabat dengan dirinya sendiri; sementara tingkatan paling tinggi adalah orang yang memosisikan sahabatnya di atas dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan hartanya untuk sahabatnya.

Kedua, membantu sahabat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum dia meminta bantuan. Seseorang mesti mengetahui bagaimana kondisi temannya, terutama kondisi ekonomi keluarga  atau dirinya sendiri. Supaya bila terdapat kesusahan kita dapat membantu mereka tanpa harus diminta terlebih dahulu.

Ketiga, tidak melakukan sesuatu yang dibencinya. Tentu tidak semua orang suka dengan perilaku dan karakter kita. Alangkah baiknya pada saat bertemu teman, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai teman. Keempat, bertutur kata sopan dan memujinya. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak suka pujian. Karenanya untuk memperkuat persahabatan, sering-seringlah memujinya.  

Keempat hal di atas hanyalah sebagian dari etika persahabatan yang disebutkan al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin. Semoga keempat etika tersebut dapat diamalkan pada saat bergaul sesama manusia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)