IMG-LOGO
Hikmah

Ayat Al-Qur'an yang Membuat Rasulullah Menangis

Sabtu 18 Februari 2017 15:0 WIB
Share:
Ayat Al-Qur'an yang Membuat Rasulullah Menangis
Abdullah bin Mas’ud termasuk orang dari generasi sahabat yang memiliki kedekatan cukup intim dengan Rasulullah. Ia menjadi khadim (pelayan) yang loyal dan sering mengikuti ke mana Nabi pergi, membawakan keperluan beliau, bahkan dalam kesempatan tertentu ia diizinkan masuk ke kamar pribadi Nabi. Di antara berkah dari hubungan dekat ini, Abdullah bin Mas’ud menyerap banyak ilmu dan keteladanan dari manusia suci itu, yang di kemudian hari melambungkan namanya sebagai sahabat yang sangat mengerti Al-Qur’an.

Contoh dari kedekatan hubungan tersebut adalah kisah Rasulullah yang pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan untuknya ayat-ayat Al-Qur’an. Terang saja Abdullah merasa heran.

“Wahai Rasulullah! Apakah (layak) saya membacakan Al-Qur’an untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” timpal Baginda Nabi.

Abdullah pun mengabulkan permintaan Rasulullah dengan membacakan Surat an-Nisa’ dengan fasih. Namun, Baginda Nabi tiba-tiba memintanya berhenti ketika Abdullah sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS an-Nisa’: 41)

Jleb! Abdullah bin Mas’ud berhenti membaca. Ia menoleh ke wajah Rasulullah dan menyaksikan air mata meleleh dari kedua pelupuk mata utusan Allah itu. Demikian cerita yang bisa kita baca dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits tersebut menunjukkan betapa rendah hatinya Rasulullah, sebagai penerima wahyu mau mendengarkan untaian bacaan dari lisan pelayannya. Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an tak lebih buruk dari orang yang membacanya. Bahkan, karena fokus menghayati isi bacaan, si pendengar bisa lebih meresapi dan menangkap pesan inti Al-Qur’an.

Ayat 41 dari Surat an-Nisa’ itu menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang kelak di akhirat menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Tangisan Rasulullah menjadi penanda akan lembutnya hati beliau yang tak sampai hati umatnya bakal menerima penderitaan—meski akibat ulah mereka sendiri. Di ayat berikutnya diungkapkan bahwa mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya meminta agar ditenggelamkan ke dalam bumi.

Menurut Tafsir al-Baidlâwi, mereka ingin diratakan dengan tanah selayaknya orang mati. Atau diciptakan saja seperti tanah yang tak memiliki tanggung jawab perbuatan. Mungkin maksudnya untuk menghindari siksaan. Padahal, walâ yaktumûnaLlâha hadîtsân (mereka tidak dapat menyembunyikan kejadian apa pun dari Allah). (Mahbib)

Share:
Kamis 16 Februari 2017 16:35 WIB
Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik
Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik
Gambar ilustrasi.
Setiap manusia tentu ingin menjadi orang yang baik. Karena sejatinya kehidupan akan membaik ketika manusia pun juga memulai kebaikan dari dirinya sendiri terlebih dahulu. 

Kebaikan yang selalu mereka dambakan, bukanlah tak berarti. Melainkan kebaikan itulah yang akan membantu mereka meraih ridho Allah Ta'ala. Karena Allah adalah dzat Yang Maha Baik, maka Allah juga mencintai hamba yang baik. 

Dalam kitab Nashoihul Ibad, Karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan syarah atas kitab Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqolani (Ibnu Hajar Al-Asqolani) dijelaskan, terdapat 3 kriteria seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik. Syekh Nawawi berkata:

اذا أراد الله بعبد خيرا فقهه في الدين 

Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk menjadi orang baik, maka Allah menguatkan agamanya. 

Ciri yang pertama adalah agama seorang hamba tersebut dikuatkan oleh Allah. Dikuatkanlah keimanannya. Sehingga hamba tersebut tetap teguh menapaki jalan kebaikan, meskipun godaan malang melintang. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

من يرد الله به خيرا يوفقه في الدين

Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik maka dikuatkanlah ia dalam perkara agama.

Lebih lanjut dalam kitab Nashoihul Ibad dikatakan:

و زهده في الدنيا

Dizuhudkanlah hamba tersebut didalam perkara dunia.

Hamba yang baik, adalah hamba yang tidak tergiur sedikitpun akan gemerlap dunia. Ia berpikir bahwa dunia hanyalah tempat singgah semata. Hanya perkara yang fana. Hamba yang baik hanya mengingat satu perkara, yaitu janji Allah akan kehidupan akhirat yang kekal adanya. Ia ingat betul akan peringatan Rasulullah tentang perkara dunia, bahwa:

حب الدنيا رئس كل خطيأت

Cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.

Imam Nawawi menjelaskan ciri ke tiga dengan kalamnya:

و بصره بعيوب نفسه

Dan diperlihatkanlah aib-aib dalam dirinya sendiri.

Hamba yang baik tidak sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna. Mencari-cari aib sesamanya. Membicarakan keburukan orang lain. Terlebih, merasa dirinya lebih baik dan memandang orang lain terlalu buruk. Sungguh, hal tersebut jauh dari diri seorang hamba yang baik. Hamba yang baik adalah hamba yang tidak pernah membicarakan keburukan orang lain. 

Ia oleh Allah disibukkan dengan aib-aib pribadinya. Ia disibukkan dengan berintrospeksi diri, Muhasabatun Nafsi. Mencari-cari kekurangan diri sendiri untuk kemudian ia perbaiki agar kelak ia benar-benar menjadi hamba yang baik. Hal ini senada dengan perkataan ulama ahli hikmah:

طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس

Beruntunglah bagi orang yang disibukkan dengan aib pribadinya dari pada aib-aib manusia.

Terlepas dari itu semua, Ba'dul Hukama', sebagian ulama ahli hikmah juga menerangkan bahwa sesungguhnya manusia sudah bisa meraba-raba nasibnya apakah ia ditakdirkan manjadi orang baik atau sebaliknya yaitu dengan melihat aktifitas sehari-harinya. Apakah ia dimudahkan dalam kebaikkan ataukah tidak. Jika iya, maka ia benar-benar ditakdirkan menjadi orang baik. Karena mereka (ulama ahli hikmah) berkata:

كل ميسر لما خلق له

Tiap-tiap manusia itu dimudahkan untuk apa ia diciptakan.

Jadi, ketika seorang hamba selalu diliputi dengan kebaikan-kebaikan, maka beruntunglah manusia itu. Ia ditakdirkan menjadi orang baik. Jika sebaliknya, na’udzubillah min dzalik.

(Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari pengajian yang diampu oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al-Mubarok.


 

Rabu 15 Februari 2017 15:0 WIB
Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar
Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar
Ilustrasi (© isqw.us)
Semalam saya terinspirasi waktu diskusi ke-NKRI-an dengan budayawan Purbalingga, Agus Sukoco. Dia menyampaikan di dalam hidup ini memang terdapat wilayah-wilayah radikal yang memang harus dilakukan, khitan sangat radikal, kuncup penis dipotong. Menikah juga radikal sekali, dalam nikah dua warna yang sangat tajam dalam perbedaan; pria dan wanita digesekkan di malam pertama. Shalat juga sangat radikal, ketika Anda shalat sekalipun ada orang lewat di samping Anda, Anda tidak boleh menyapanya. Ini contoh wilayah-wilayah radikal hidup.

Namun ada juga wilayah yang harus toleran, misal Anda menyuguh tamu di rumah Anda, lalu Anda menawarkan, "Silakan nikmati, jangan sungkan-sungkan, anggap saja di rumah sendiri." Coba saja andai si tamu menerima tawaran Anda dengan menganggap rumah Anda sebagai rumahnya sendiri tentu Anda merasa risi. Majikan sering ngedumel dengan kelakuan pembantu, ibu tiri sering memarahi anak tirinya, mertua sering tidak sreg dengan menantunya, itu karena pembantu di rumah majikan, anak tiri di rumah ibu tiri, menantu di rumah mertua, hakikatnya mereka tidak hidup di rumah sendiri. Mereka sedikit saja bertingkah neko-neko, si pemilik rumah merespons tidak berkenan. Nah kalau si tamu menganggap rumah Anda sebagai rumahnya, dijamin Anda stres. Artinya tawaran Anda pada tamu itu sekedar rasa toleran, bukan tawaran yang sesungguhnya.

Nahī munkar sering diidentikan dengan wilayah radikal hidup. Profesi dokter sebenarnya profesi nahī munkar, wilayah dokter adalah wilayah radikal, tetapi para dokter itu radikal kepada penyakit, bukan kepada pasiennya. Para dokter mencegah flu dengan anti flu, mereka sangat radikal sikapnya, bahkan kalau perlu amputasi ya dipotong saja bagian tubuh pasien. Sikap dokter yang mencegah penyakit inilah yang disebut nahī munkar. Penyakitnya ditindas habis oleh si dokter, tetapi pasiennya dikasihi setinggi-tingginya. Dokter tidak pernah membenci pasien, dia hanya membenci penyakit yang diderita pasien.

Dokter tidak membenci pribadi pasien, karena ini tindakan nahī munkar dokter berakhir ma'rūf.

Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan Djito El Fateh, "Desaku, Gus, di kawasan pinggir hutan. Budaya berburu sejak nenek moyang sudah ada, sebab dekatnya dengan hutan. Hingga kini budaya ini turun temurun lestari. Namanya berburu, perolehannya juga tidak pasti. Kadang kijang, ayam hutan, dan sering juga celeng," ungkap Djito.

"Sehingga makan daging celeng sudah biasa dilakukan masyarakat kami sejak dulu pula. Kadang saya--baca, yang sedikit banyak mengenal agama--merasa risi dan kadang merinding dengar tetangga ada yang baru dapat buruan celeng. Jelas 3 hari dagingnya belum habis dikonsumsi satu keluarga walau sudah dibagi tetangga kanan-kiri. Namun kami tetap pura-pura tidak tahu urusan daging celeng tersebut. Mau bagaimana, kami tahu dalam agama kami itu terlarang, tetapi kami mikir-mikir, 'Apa pantas kami teriak-teriak haram, teriak-teriak najis mughalazhah kepada mereka, berdalih nahī munkar, kami beraksi mencegah mereka? Padahal yang ada di hati kami adalah rasa benci pada mereka? Bagaimana jadinya bila kami ingin mencegah kemunkaran tetapi modal kami kebencian? Apa benci bisa mengubah suatu hal ke dalam kema'rufan?'" tandas Djito lagi.

"Karena itulah kami memilih sikap toleran, sikap senyum, tanpa ada rasa sedikitpun mengusik mereka. Kami mengurusi masjid dengan suka hati kami, kami jamaah shalat dengan suka hati kami, kami berupaya tidak ada zona debat dan mengolok-olok pihak lain, khususnya dengan masyarakat adat. Dan alhamdu li-llāh, tanpa kami berbicara ketus, bersikap sok mencegah kemunkaran, sekarang mushala sudah berdiri hampir di setiap RT. Satu-satu masyarakat adat yang waktu saya kecil masih begitu liar dengan daging celeng, perlahan mereka berubah. Dan sekarang ini, shalat, zakat, haji, tadarus, dan masjid sudah ramai syiarnya," singgungnya.

Djito melanjutkan, "Mereka berjalan memperbaiki diri dengan sukarela. Tanpa merasa tersinggung mereka mengubah diri. Tanpa dikeruhkan airnya, ikan tertangkap. Jadi mereka yang mengajak orang ke dalam kebaikan dengan sikap antipati hingga sikap antagonis, mendebat, melabrak, menuduh sesat, menyerang, itu sebenarnya mereka ingin nahi munkar tetapi modalnya kebencian."

Sehingga segala tindakan pencegahan (nahī) lalu berefek ribut-ribut tentu itu kebencian, tindakan tersebut sama sadisnya seorang dokter yang bertindak bukan bertindak mencegah penyakit pasiennya, tetapi dia dokter yang menganiaya pasiennya.

Setiap nahī munkar tentu harus berakhir ma'ruf, karena tidak ada ma'ruf diperoleh dengan rasa benci.

Jikalau tindakan kita mencegah munkar masih saja berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, sebaiknya cegahlah kemunkaran dengan rasa toleran seperti sikap rekan saya Djito El Fateh di atas. Karena jika berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, itu pasti tindakan kebencian kita pada orang lain.


Muhammad Nurul Banan, aktivis muda NU Purbalingga; Pendidik di Ponpes Darul Abror, Bukateja, Purbalingga. Tulisan ini pernah dipublikasikan di akun Facebook pribadi pada 12 Februari 2017.

Selasa 14 Februari 2017 12:30 WIB
Cerdasnya Abu Yazid al-Busthami saat Masih Kanak-kanak
Cerdasnya Abu Yazid al-Busthami saat Masih Kanak-kanak
Ilustrasi (© pinterest)
Ada yang istimewa kala kita menengok cerita masa kecil sufi agung Abu Yazid al-Busthami (wafat 874 M). Ia yang masih kanak-kanak suatu kali bertanya kepada sang ayah tentang surat al-Muzammil yang dibacanya. Bocah bernama Tayfur bin Isa bin Syurusan ini menyinggung ayat-ayat awal yang secara eksplisit mengandung sapaan “hai orang yang berselimut” dilanjutkan dengan perintah untuk shalat malam.

“Siapakah yang Allah perintah untuk sembahyang malam?” tanya Tayfur.

“Wahai anakku, itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dengan lugu, si bocah kecil itu bertanya, “Kenapa Ayah tidak shalat malam sebagaimana Nabi Muhammad?”

“Perintah itu merupakan cara Allah memuliakan Nabi Muhammad,” jawab sang ayah.

Abu Yazid kecil meneruskan membaca surat tersebut. Hingga sampai pada kalimat wa thâifatum minal ladzîna ma‘aka (dan orang-orang yang bersamamu) yang tercantum dalam ayat terakhir, ia bertanya kembali. “Siapa ‘orang-orang’ yang bersama Nabi itu?”

“Para sahabat Nabi Muhammad.” Ayat itu menunjukkan bahwa selain Rasulullah, shalat malam juga dilakukan para sahabat beliau.

Pertanyaan penasaran pun kembali meluncur, “Kenapa Ayah tak shalat malam sebagaimana mereka lakukan?”

“Allah memberi kekuatan kepada mereka untuk menunaikan ibadah itu,” sahut sang ayah.

“Wahai ayahku, tak ada kebaikan selain meneladani Nabi Muhammad dan para sahabatnya,” kata Tayfur.

Setelah mendengar “nasihat” dari anaknya itu, ia lantas menunaikan shalat malam.

“Wahai ayah, ajarkan aku shalat malam,” pinta Tayfur.

“Anakku, kamu masih kecil!” kata sang ayah yang tak ingin anaknya repot-repot begadang tengah malam.

Bukannya surut, Abu Yazid kecil malah menunjukkan tanda-tanda kecerdasannya. “Baiklah, jika kelak Allah mengumpulkan makhluk-makhluknya di hari kiamat lalu memerintahkan para ahli surga untuk masuk surga, aku akan katakan bahwa aku pernah hendak shalat malam tapi ayahku melarangnya.”

“Baiklah, berdiri dan shalat malamlah!”

Demikian diceritakan dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’ karya Sayyid Bakri al-Makki. Abu Yazid al-Busthami beberapa puluh tahun kemudian menjadi orang yang sangat zahid dan dihormati banyak ulama di zamannya. Ia mendapat julukan sebagai sulthânul 'ârifîn yang berarti rajanya orang-orang yang 'ârif. Wallâhu a‘lam bish shawâb. (Mahbib)

(Baca juga: Ketika Abu Yazid al-Busthami Tak Merasakan Manisnya Ibadah)