IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Peringatan bagi Orang yang Suka Bercanda Berlebihan

Jumat 10 Maret 2017 15:1 WIB
Share:
Peringatan bagi Orang yang Suka Bercanda Berlebihan
Foto: ilustrasi
Hidup, memang butuh sebuah guyonan, sebuah canda agar manusia tak terlalu sengsara akibat beban dunia. Dari obrolan ringan, gurauan bersama, atau pun hanya canda tawa memang dibutuhkan guna me-refresh otak yang lelah. 

Dari canda tersebut, diharapkan dapat meringankan sedikit akan beban otak. Dengan tertawa, masalah akan terlupakan sejenak. Sehingga, terjadi sedikit peregangan saraf yang berpengaruh pada kondisi fisik maupun mental seseorang. Akibat canda, orang tidak mudah marah. Jika terhindar dari marah, maka resiko darah tinggi akan berkurang.

Namun canda dan tawa harus tetap pada porsinya. Jika tidak, maka yang terjadi adalah hal yang buruk. Menyebabkan lupa akan karunia Allah. Bahkan, membuat hati menjadi keras. Benarkah? 

Simak kajian tafsir berikut ini: 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَ مَا نَزَّلَ مِنَ الْحَقِّ وَ لَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ (16) اِعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ (17)

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.

Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran kami) agar kamu mengerti. (QS Al Hadid:16-17)

Dalam Kitab Tafsir Jalalain diterangkan:

نزلت في شأن الصحابة لما أكثروا المزاح

Bahwa ayat ini diturunkan ketika para sahabat itu banyak bercanda, bergurau, dan saling melempar tawa. Mereka sebegitu banyaknya bercanda, hingga lalai akan Allah Ta’ala. Kemudian Allah memperingatinya dengan menurunkan ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَ مَا نَزَّلَ مِنَ الْحَقِّ

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka).

Allah mengingatkan dengan bertanya pada sahabat tentang waktu untuk mengingatNya. Tidakkah mereka sadar, bahwa waktu yang mereka habiskan hanyalah tersia-sia untuk bercanda. Padahal ciri orang beriman adalah selalu mengingat Allah dan menaati  segala perintahNya yang telah diwahyukan, yaitu Al-Qur'an.

وَ لَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ 

dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu

Lebih lanjut, Allah memerintah untuk tidak meniru keadaan orang-orang sebelum mereka. Orang-orang yang selalu bercanda, tertawa, dan menganggap semuanya hanyalah lelucon belaka. Bahkan, terhadap kebesaran Allah pun mereka menertawakannya, menganggap itu hanyalah sihir semata. Siapakah orang-orang tersebut?

هم اليهود و النصارى

Imam Jalaluddin Al Mahalli menjelaskan bahwa mereka adalah kaum yahudi dan nasrani. Dan memang telah maklum, bahwa mereka adalah kaum-kaum yang mendustakan rasulnya. Tak hanya kaum semasa rasulnya itu, melainkan anak cucu setelahnya pun mengikuti tabiat buruk pendahulunya, hal ini tersirat dalam firman Allah:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ (16)

Kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.

Saking lamanya, saking mereka terus menerus bergurau dan bercanda tawa. Hati mereka pun menjadi keras, bebal, dan bahkan sulit untuk menerima kebenaran.

Dalm Tafsir Jalalain dijelaskan maksud hati keras tersebut adalah:

لم تلن لذكر الله

Hati mereka tidak dilemaskan dengan mengingat Allah, bertadabbur akan ciptaaNya, dan menyadari betapa agungnya karunia Allah. Sehingga, hati mereka bak batu, keras, dan stagnan. Dalam arti kata lain, terhadap tanda-tanda kebesaran Allah pun, baik besar maupun kecil. Dzahir maupun bathin. Tetap, mereka tetap lalai. Hal itu semua terjadi, karena mereka banyak bercanda. 

Syahdan, setelah trurunnya ayat tersebut para sahabat pun murung, mereka seakan putus asa, menganggap bahwa semua telah terlanjur, hati mereka sudah terlampau keras hingga turunklah peringatan keras melalui ayat tersebut. Allah lalu menyemangati mereka dengan memberikan perumpamaan dalam ayat berikutnya:

اِعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering).

Lebih lanjut dalam Tafsir Jalalain:

بالنبات فكذالك يفعل بقلوبكم بردها إلي الخشوع  

Jika Allah saja mampu menghidupkan bumi setelah kematiannya dengan menumbuhkan tanaman. Maka begitu pula dengan memgembalikan hati manusia laiknya keadaan sebelum kelalainnya, yaitu keadaan khusyuk. Sungguh hal itu sangat mudah bagi Allah.

Kesimpulannya, kadang hidup memang butuh akan sisipan canda tawa. Namun harus sesuai dengan porsi jatahnya. Jikalau tidak maka akan mengakibatkan lalai terhadap Allah, sehingga hati akan menjadi keras, sulit berubah. Namun, yang peru digaris bawahi adalah, bahwa kita tidak boleh berputus asa. Adalah manusiawi jika manusia pernah lalai, namun bukan mustahil bagi Allah untuk kambali membuat hati menjadi khusyuk kembali selama manusia mau berusaha. 

(Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari kajian Tafsir Jalalain oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin KH Muhammad Shofi Al Mubarok.

Tags:
Share:
Sabtu 4 Maret 2017 5:0 WIB
Sejumlah Jalan Amal yang Dipilih Para Sufi
Sejumlah Jalan Amal yang Dipilih Para Sufi
Gambar ilustrasi.
Amal ibadah seorang hamba terutama para sufi sebagai salah satu pengejawantahan dalam usahanya mendekatkan diri pada Allah dan sebagai bentuk manifestasi rasa syukurnya kepada Allah,  jalan dan caranya tidaklah satu macam. Mereka memilih jalur amal yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Syekh Zainudin bin Ali dalam kitab Hidayah Al-Adzkiyaa setidaknya memberikan empat contoh dari bentuk amal-amal kebaikan tersebut sebagai pilihan tariqoh yang sesuai makom dan posisi masing masing orangnya. Hal itu sebagaimana keterangan dalam nadham yang tertulis di bawah ini: 

لكل واحدهم طريق من طر ق # يختاره فيكون من ذا واصلا

كجلوسه بين الانام مربيا # و ككثرة الاوراد كا لصوم الصلا

و كخدمة لناس والحمل الحطب # لتصدق بمحصل متمولا

"Tiap-tiap dari kelompok manusia (para sufi) itu memiliki jalan ibadah dari beberapa macam amal ibadah yang dipilihnya yang dapat menghantarkannya Wusul kehadhratillah".

"Seperti duduk mengajar sesama manusia, memperbanyak wirid-wirid misalnya puasa dan shalat".

"Dan seperti berkhidmah demi kepentingan umum, dan mencari kayu bakar yang kemudiah hasil dari penjualan kayu bakar tersebut disedekahkan".

Atas nadham dalam kitab Hidayah Al Adzkiyaa di atas Syekh Nawawi Albantani memberikan beberapa anotasi (catatan) dalam syarahnya Salalim al-Fudhola bahwa masing-masing hamba yang berjalan menempuh tariqoh supaya dpt wusul kepada Allah itu mempunyai banyak pilihan amal. Di antaranya: 

Pertama, terdapat para penempuh jalan sufi yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Dengan pengajaran ini bertujuan supaya umat yang masih awam mau beribadah kepada Allah serta memiliki akhlak yang mulia.

Kedua, ada sebagian orang yang menjalani toriqoh dengan cara memperbanyak wirid, seperti mengerjakan shalat-shalat sunah dan puasa-puasa sunah, membaca al-qur'an, bertasbih, dan lain sebagainya. Toriqoh macam ini menurut Syeh Nawawi merupakan toriqohnya kaum sholihin  yang telah memiliki maqom tajrid. Yaitu suatu makom yang melulu digunakan untuk beribadah dan menghiraukan faktor asbab seperti bekerja misalnya.

Ketiga, sebagian lain terdapat pula orang-orang shufi yang menjalani toriqoh dengan cara mengabdi melayani para ulama fikih dan kaum sufi. Toriqoh semacam ini menurut pendapat Syeh Nawawi lebih utama daripada amalan sunah, karena selain beribadah juga ada unsur menolong kepada kaum muslimin.

Argumen ini dikuatkan oleh salah satu pernyataan Sayyid Abdul Qodir Aljailani: 

"Aku bisa Wusul kepada Allah bukan karena shalat di malam hari dan bukan karena puasa di siang hari, tapi lantaran sifat dermawan, rendah hati, dan kelapangan hati".

Keempat, lanjut Imam Nawai, ada juga segolongan sufi yang setiap harinya mencari kayu bakar di hutan dan kemudian kayu tersebut dijual di pasar. Uang hasil penjualan kayu tersebut lalu disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Ibadah semacam ini adalah suatu amal yang sangat berguna bagi sesama manusia dan akan menghasilkan berkah karena orang tersebut akan didoakan oleh orang-orang yang disedekahi. 

(M. Haromain)

Disarikan dari Salalim Alfudhola karya Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi.
Jumat 3 Maret 2017 7:30 WIB
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan
Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki. Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan. Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam, dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Pada dasarnya mayoran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Mayoran oleh para santri adalah momen spesial yang sengaja diadakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Seperti ketika khatam dari satu pengajian kitab tertentu, atau hatam Al-Qur'an, atau lulus ujian kitab, atau sekedar bersyukur atas nikmat sehat dan berkumpul bersama sahabat dan teman-teman. Tentang menu masakan sangatlah fariatif, tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus mewah, tetapi tidak boleh meninggalkan sambel yang pedas dan harus disajikan dalam keadaan panas.

Konsep makan bersama dalam satu piring besar ini tidak hanya ada di pesantren saja, tetapi juga hidup dilingkungan masyarakat Arab. Bahkan di beberapa restoran Arab menyediakan model hidangan nampanan seperti ini. Tentunya dengan menu yang juga khas arab dengan nasi kebuli kambing atau nasi mandhi, nasi kabsah dan lain sebagainya.

Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang datang dari sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan:

عن وحشي بن حرب رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع ؟ قال: فلعلكم تفترقون قالوا: نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه رواه أبو داود

Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah anjuran Rasulullah dipegang teguh oleh para sahabat dan keluarganya. Hingga kini para habaib dan kiai di pesantren yang tidak mau makan sehingga datang satu teman untuk makan bersama. Karena makan sendirian  bagi mereka adalah sebuah aib yang harus dihindarkan sebagaimana Rasulullah tidak pernah melakukannya.

وقال أنس رضى الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأكل وحده وقال صلى الله عليه وسلم خير الطعام ماكثرت عليه الأيدى

Sahabat Anas radliyallahu 'anh berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.

Artinya keberkahan sebuah makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang yang ikut menikmatinya, semakin banyak tangan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri dijadikan sebagai pedoman selalu makan dengan konsep mayoran.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku. Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.

Untuk mengenang kembali masa-masa di pesantren, dan untuk memperoleh banyak berkah tradisi makan bersama dalam satu nampan masih dipertahankan. Di beberapa daerah mayoran selalu dilaksanakan ketika memperingati hari-hari besar Islam, terutama setelah acara membaca maulid atau setelah shalat id. (Ulil Hadrawi)

Kamis 2 Maret 2017 21:30 WIB
Amalan dari Rasulullah agar Hafalan Kuat
Amalan dari Rasulullah agar Hafalan Kuat
Abdullah Ibn Abbas RA pernah bercerita, "Suatu ketika, kita berada di satu majelis bersama Rasulullah Muhammad SAW, tiba-tiba Ali ibn Abi Thalib datang, kemudian bertanya pada Rasul "Demi ayah, engkau dan ibuku, Al-Qur'anku ini sering lepas dari dadaku. Aku tidak kuat mengatasinya."

Rasulullah SAW menjawab, "Wahai ayahnya Hasan, belumkah aku pernah mengajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang Allah memberikan manfaat dengan kalimat itu kepadamu dan bisa bermanfaat bagi siapa saja yang berlajar kepadamu serta bisa menempelkan apa saja supaya menetap kuat di hatimu?"

Ali kemudian menjawab, "Belum, Ya Rasul. Kuharap engkau berkenan mengajariku."

Kemudian Nabi Muhammad menjelaskan, "Jika malam Jum'at, jika kamu mampu beribadahlah di dalam sepertiga malam yang akhir. Waktu itu adalah saat yang disaksikan oleh Allah SWT secara langsung. Berdoa di waktu itu pula pasti akan dikabulkan. Di saat itu pula, dahulu saudaraku Ya'qub pernah menjanjikan akan mendoakan anak-anaknya di waktu itu dengan redaksi Al-Qur'an سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku (nanti pada waktu sahur ).

Nabi lalu melanjutkan, “Andai saja kamu tidak mampu menjalankan di waktu itu, lakukan di pertengahan malam. Jika masih tidak mampu, laksanakan pada awal malam saja.”

1. Lakukan shalat empat rakaat.
2. Pada rakaat pertama setelah membaca fatihah kemudian membaca Yasin
3. Rakaat kedua, setelah fatihah membaca surat Hamim Ad Dukhan
4. Rakaat ketiga, setelah fatihah membaca surat As Sajdah
5. Rakaat keempat, setelah fatihah membaca surat Tabarak (Al Mulk)
6. Usai tasyahud (tahiyyat):

a. Pujilah Allah (membaca hamdalah), sangjunglah Ia dengan sebaik mungkin
b. Bacalah shalawat untuk aku dan buatlah sebaik mungkin serta untuk semua para Nabi
c. Mintakan ampun untuk semua orang mukmin lelaki maupun perempuan yang telah mendahului kamu dengan mati membawa iman.
d. Setelah itu selesai, berdoalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ  
(سنن الترمذي - (ج 11 / ص 486 المكتبة الشاملة)

Dan benar, menurut riwayat Abdullah ibn Abbas, setelah Sayyidina Ali melewati lima atau tujuh kali  majelis serupa, Ali datang dan beliau mengaku kepada Rasul "Ya Rasulallah, dalam sehari aku tidak bisa menghafal kecuali sekitar empat ayat saja lalu lepas,  namun hari ini, dalam sehari aku bisa menghafal sekitar 40 ayat, saat aku baca, seolah Al-Qur'an tampak di depan mataku. Begitu pula hadits, saat aku mendengar, ketika mau aku ulangi, lepas lagi. Tapi hari ini, saat aku mendengar hadis, saat aku ingin menyampaikannya kembali, tidak ada satu lobang pun yang terlewatkan. Kemudian Rasul menanggapi hal itu dengan kalimat:

مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ يَا أَبَا الْحَسَنِ

(Mundzir)


Dikutip dan disarikan dari Kitab Khashaish al-Ummah al-Muhammadiyyah susunan As Sayyid Muhammad ibn Alawy Al-Maliki halaman 138-140 dengan juga disebutkan lengkap dalam kitab Al Sunan Al Tirmidzi.