IMG-LOGO
Quote Islami

Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?

Jumat 17 Maret 2017 15:30 WIB
Share:
Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بلاَ أَخٍ

“Siapa mencari teman tanpa cela, ia selamanya bakal tanpa teman.” [Maqalah]

Tak ada teman yang sempurna, sebagaimana tidak ada manusia tanpa kesalahan dan kelupaan. Karena itu, pilih-pilih teman demi mendapatkan yang tanpa cela merupakan pekerjaan sia-sia belaka. Teman, siapa pun ia, pasti memiliki cela dan itulah tugas kita sebagai sesama teman untuk mengingatkan, bukan justru menjauhinya. Pesan ini senada kasus orang mencari pasangan (teman hidup). Masing-masing kita memang tidak dituntut untuk menjadi sempurna, melainkan saling menyempurnakan. Wallahu 'alam
Tags:
Share:
Senin 13 Februari 2017 15:0 WIB
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“..dan berbicaralah kepada orang-orang dengan baik..” [QS al-Baqarah: 83]


Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ucapan yang baik itu di antaranya adalah ucapan yang jujur, lembut, dan yang mengandung ajakan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Ayat ini satu rangkaian dengan pembahasan tentang Bani Israil yang sudah bersumpah untuk tidak menyembah selain Allah, serta bebruat baik kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Ayat 83 Surat al-Baqarah ini juga memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Wallâhu a‘lam


Jumat 20 Januari 2017 13:30 WIB
Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir
Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir

مَثَلُ الّذِيْ يَذكُرُ رَبَّهُ وَالّذِيْ لَا يَذكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati. (HR Bukhari)

Dzikir bagi hati selayak air bagi ikan. Dzikir yang merupakan kesadaran ilahiah menjadi energi yang menghidupkan hati. Karena hati adalah elemen paling pokok dari manusia, matinya hati sama dengan matinya seluruh tubuh. Syekh Ibnu 'Athaillah, sebagaimana dikatakan Ibnu 'Ajibah dalam Iqadhul Himam (syarah al-Hkam), menyebut bahwa di antara tanda matinya hati adalah hilangnya rasa sedih dan penyesalan ketika berbuat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ibnu 'Ajibah sendiri mengatakan, matinya hati dilatari oleh tiga faktor, yakni cinta dunia, lalai dari dzikir kepada Allah, membiarkan anggota badan jatuh dalam perbuatan maksiat. Wallâhu a‘lam.

Rabu 18 Januari 2017 16:30 WIB
Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya'
Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya'

لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

Orang riya’ (pamer) memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci. [Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, dikutip dari Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali]

Riya' oleh Rasulullah disebut sebagai syirik kecil. Dikatakan syirik karena ia menyekutukan Allah dengan nafsu diri sendiri atau respon orang lain. Sebuah amal yang dihinggapi riya' seringkali mempertimbangkan bagaimana orang lain memberi tanggapan. Ia lahir bukan dari ketulusan lillahi ta'ala melainkan terdapat campuran keinginan mendapat citra positif di mata manusia. Akibatnya, fluktuasi amal kebaikan berlangsung naik-turun seiring dengan besar-kecilnya potensi "keuntungan" penilaian dari manusia. Wallahu a'lam.