IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Mengangkat Rahim Sebagai Pengganti KB

Senin 17 April 2017 6:2 WIB
Share:
Hukum Mengangkat Rahim Sebagai Pengganti KB
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ustadz/ustadzah, selamat malam. Saya Uswatun dari Jakarta. Maaf saya mau tanya, bagaimana hukumnya seorang wanita yang mengangkat rahimnya? Hal itu dilakukan karena ia merasa cukup dikaruniai tiga anak. Ia memilih mengangkat rahimnya daripada ikut program KB. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Apa yang kami pahami dari deskripsi masalah yang singkat tersebut adalah bahwa motif di balik perempuan mengangkat rahimnya adalah untuk sterilisasi kehamilan atau untuk mencegah kehamilan karena merasa cukup dengan tiga anak.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pengangkatan rahim secara otomatis akan memutuskan kehamilan yang bersifat permanen. Dengan kata lain, mematikan fungsi keturunan secara mutlak. Ini tentunya berbeda dengan kasus KB, di mana pencegahan kehamilan itu hanya bersifat sementara.

Jika demikian, lantas bagaimana hukum pengangkatan rahim sebagaimana ditanyakan di atas? Untuk menjawab persoalan ini, kami akan menghadirkan keterangan yang terdapat dalam kitab Hasyiyatul Baijuri yang ditulis oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri.

Dalam kitab tersebut dijelaskan, dimakruhkan seorang perempuan yang menggunakan sesuatu atau obat yang bisa mencegah kehamilan. Namun akan berubah menjadi haram apabila ternyata memutus kehamilan secara permanen.

وَكَذلِكَ اسْتِعْمَالُ الْمَرْأَةِ الشَّيْءَ الَّذِي يُبْطِىءُ الْحَبْلَ أَوْ يَقْطَعُهُ مِنْ أَصْلِهِ فَيُكْرَهُ فِي الْأُولَى وَيُحْرَمُ فِي الثَّانِي  

Artinya, “Begitu pula menggunakan obat yang menunda atau memutus kehamilan sama sekali (sehingga tidak hamil selamanya), maka dimakruhkan dalam kasus pertama dan diharamkan dalam kasus kedua,” (Lihat Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Fathil Qarib, Beirut, tanpa tahun, juz 2, halaman 59).

Penjelasan Ibrahim Al-Baijuri ini mengandaikan bahwa yang menjadi titik persoalan dalam kasus penjarangan atau pencegahan kehamilan terletak pada apakah pencegahan itu bisa memutus kehamilan secara permanen atau tidak. Jika permanen, maka jelas diharamkan, sedangkan jika tidak permanen atau bisa dikembalikan seperti semula, maka hanya dihukumi makruh.

Berangkat dari sini, kita dapat menarik sebuh simpulan bahwa pengangakatan rahim adalah tidak dibenarkan atau haram. Sebab, pengangakatan tersebut mematikan fungsi keturunan secara mutlak.

Hal ini tentunya berbeda kasus jika seorang perempuan terpaksa rahimnya diangkat, misalnya atas masukan dari seorang dokter ahli bahwa jika rahim tidak diangkat akan membahayakan jiwanya. Maka dalam kasus ini diperbolehkan untuk diangkat rahimnya karena dlarurah.

إِذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

Artinya, “Jika ada dua bahaya saling mengancam, maka diwaspadai yang lebih besar bahayanya dengan melaksanakan yang paling ringan bahayanya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1403 H, halaman 87).

Jadi, alasan kebolehan untuk mengangkat rahim adalah kondisi terpaksa atau dlarurah. Sehingga alasan merasa cukup dengan tiga anak sebagaimana dikemukakan dalam pertanyaan di atas tidak bisa diterima, sebab bukan masuk kategori dlarurah.

Lain soal kalau dokter memutuskan bahwa perempuan itu dilarang hamil kembali karena akan membahayakan nyawanya saat persalinan selanjutnya, maka ia diperbolehkan untuk mengangkat rahimnya untuk mengantisipasi kehamilan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)
Tags:
Share:
Jumat 14 April 2017 10:9 WIB
Hukum Penentuan Keuntungan Investasi Sesuai Besaran Modal
Hukum Penentuan Keuntungan Investasi Sesuai Besaran Modal
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya Azhar dari Yogyakarta mau bertanya bagaimana hukum transaksi investasi yang dijamin keuntungannya tiap bulan dalam prosentasi yang sudah ditentukan dari besaran modal yang diinvestasikan.

Misalnya, jika modal saya sebesar lima juta dan dijanjikan keuntungan 10 % tiap bulan dari modal, maka saya akan mendapatkan Rp. 50.000 per bulan. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Azhar/Yogyakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebelum kami menjawab pertanyaan yang diajukan, maka pertama-tama kami akan menjelaskan sedikit tentang akad mudlarabah. Penjelasan ini sangat penting sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan di atas.

Mudlarabah adalah bentuk kerja sama antara pihak pemilik modal (shahibul mal) atau investor dan pihak pengelolanya (mudlarib) untuk dibisniskan. Pihak pemilik modal menyerahkan modalnya kepada pihak pengelola untuk didayagunakan. Sedangkan persentase atau nisbah keuntungan dari bisnis tersebut dibagi sesuai dengan kesepakatan.

وَأَمَّا ( الْقِرَاضُ وَالْمُضَارَبَةُ ) وَالْمُقَارَضَةُ شَرْعًا فَهُوَ ( أَنْ يَدْفَعَ ) أَيْ الْمَالِكُ ( إلَيْهِ ) أَيْ الْعَامِلِ ( مَالًا لِيَتَّجِرَ ) أَيْ الْعَامِلُ ( فِيهِ ، وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ ) بَيْنَهُمَا

Artinya, “Adapun qiradl, mudlarabah, dan muqaradlah menurut syara’ adalah penyerahan modal oleh investor kepada pengelola untuk dibisniskan, sedangkan keuntungan dari bisnis tersebut dibagi antara kedua belah pihak,” (Lihat Muhammad Khatib Asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 309-310).

Lantas bagaimana jika dalam bisnis tersebut terjadi kerugian? Kerugian tentunya ditanggung oleh pihak pemilik modal sepanjang tidak diakibatkan oleh kelalaian pengelolanya.

فَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ إِلَّا بِالتَّعَدِي لِتَقْصِيرِهِ

Artinya, “...maka ia (pengelola) tidak menanggung kerugian kecuali sebab melampaui batas akibat kelalaiannya,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhthishar, Damsakus, Darul Khair, 1994 M, halaman 290).

Istilah mudlarabah itu sendiri merujuk pada istilah yang digunakan oleh penduduk Irak. Sedangkan qiradl atau muqaradlah merujuk kepada istilah yang digunakan oleh penduduk Hijaz. Namun baik istilah mudlarabah maupun qiradl atau muqaradlah adalah mengandung pengertian yang sama.

وَالْقِرَاضُ وَالْمُقَارَضَةُ لُغَةُ أَهْلِ الْحِجَازِ وَالْمُضَارَبَةُ لُغَةُ أَهْلِ الْعِرَاقِ

Artinya, “Qiradl dan muqaradlah adalah bahasa yang digunakan penduduk Hijaz, sedangkan mudlarabah adalah bahasa yang digunakan penduduk Irak,” (Lihat Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Beirut, Darul Fikr, juz III, halaman 99).

Penjelasan tentang mudlarabah ini setidaknya akan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Sekilas memang transaksi investasi yang dijamin keuntungannya tiap bulan dalam prosentasi yang sudah ditentukan dari besaran modal yang diinvestasikan adalah mirip mudlarabah.

Namun ternyata bertentangan dengan prinsip mudlarabah tersebut. Sebab, dalam mudlarabah, keuntungan pemilik modal itu didapatkan dari keuntungan bisnis yang dijalankan oleh pengelola modal, di mana prosentasenya adalah sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Bukan berdasarkan atau ditetapkan berdasarkan besaran modal.

Bahkan bisa saja pemilik modal tidak mendapatkan keutungan atau mengalami kerugian jika bisnis yang dilakukan pengelola modal tersebut mengalami kerugian. Dan bisa juga mendapatkan keuntungan yang besar sesuai prosentasinya apabila si pengelola dalam menjalankan bisnis mendapatkan keuntangan yang besar pula.

Dari sini kemudian setidaknya dapat dipahami bahwa hukum dari transaksi investasi yang dijamin keuntungannya tiap bulan dalam prosentasi yang sudah ditentukan dari besaran modal yang diinvestasikan adalah haram karena melanggar prinsip mudlarabah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami denngan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)
Senin 10 April 2017 6:4 WIB
Ini Makna Tengadahkan Tangan ke Atas saat Doa
Ini Makna Tengadahkan Tangan ke Atas saat Doa
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Selamat pagi redaksi bahtsul masail NU Online, banyak orang berdoa mengangkat tangan ke atas. Padahal yang kami tahu Allah tidak bertempat. Pertanyaan saya, apakah makna mengangkat tangan saat berdoa? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Fathimah/Jember)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Memang benar bahwa kita dianjurkan untuk mengangkat tangan saat berdoa. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan umatnya dengan menengadahkan tangan ketika memohon kepada Allah SWT.

Adalah benar bahwa Allah tidak bertempat. Karena itu kita tidak mengatakan bahwa Allah ada di atas atau di arah tertentu. Allah SWT maha kaya sehingga Dia tidak membutuhkan tempat, tidak membutuhkan pencipta.

Lalu bagaimana dengan menengadahkan tangan saat berdoa? Pertama, menengadahkan tangan merupakan sunah Rasulullah SAW. Kedua, menengadahkan tangan ke atas hanya merupakan arah doa saja, sebagaimana Ka’bah sebagai arah sembahyang.

Ada baiknya kita melihat pandangan Imam Al-Ghazali perihal angkat tangan ke atas saat doa yang kami kutip dari Ihya Ulumiddin sebagai berikut.

فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء

Artinya, “Adapun perihal menengadahkan tangan kea rah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya qiblat doa. Hal ini juga mengisyaratkan sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai zat yang dimintakan pertolongan, mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya ulumiddin, 1939 M/1358 H, Mesir, Mustafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh, juz 1, halaman 113).

Keterangan Imam Al-Ghazali di atas jelas mengatakan bahwa atas hanya kiblat doa sebagaimana Ka’bah kiblat sembahyang. Arah atas merupakan symbol ketinggian, kemuliaan, keluhuran, dan kebesaran zat Allah SWT.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Rabu 5 April 2017 6:4 WIB
Khotbah Bernada Kampanye di Mimbar Jumat?
Khotbah Bernada Kampanye di Mimbar Jumat?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati. Belakangan ini di masa-masa pemilihan banyak orang memanfaatkan segala media dan momentum untuk menyampaikan aspirasi politiknya, termasuk para khotib di mimbar Jumat. Banyak juga jamaah yang jemu bahkan ada jamaah yang meninggalkan masjid karena tidak terima forum khotbah disalahgunakan untuk kepentingan politik.

Pertanyaan saya, apakah Islam memberikan panduan atau semacam etika bagi seorang khotib ketika menjalankan tugasnya menyampaikan khotbah. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Agus/Jakarta).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Khotbah merupakan salah satu rangkaian yang wajib dilakukan dalam ibadah Jumat.

Seorang khotib di dalam khotbahnya wajib berpesan berupa nasihat kepada jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan ketakwaan ini di samping satu dari lima rukun khotbah, adalah tujuan pokok dari seluruh rangkaian khotbah itu sendiri. Tujuan pokok khotbah ini perlu diingat oleh para khotib. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli dengan kutipan berikut ini.

والوصية بالتقوى ) للاتباع روى مسلم عن جابر أنه صلى الله عليه وسلم كان يواظب على الوصية بالتقوى في خطبته.(ولا يتعين لفظها) أي الوصية بالتقوى (على الصحيح) لأن غرضها الوعظ

Artinya, “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Perihal etika khotbah, ulama telah banyak sekali menulis uraian seperti dalam bentuk perilaku khotib tidak perlu mengangkat tangan atau menunjuk-tunjuk saat berkhotbah, dianjurkan berpegang pada tongkat, dan tidak terlalu lama atau kelewat sebentar dalam berkhotbah. Bahkan ulama memberikan batasan perihal pilihan kata dan penggunaan kalimat yang dipakai dalam khotbah seperti keterangan Syekh Abu Zakariya Al-Anshori berikut ini.

وَ) نُدِبَ أَنْ ( يَخْطُبَ خُطْبَةً بَلِيغَةً ) لَا مُبْتَذَلَةً رَكِيكَةً ؛ لِأَنَّهَا لَا تُؤَثِّرُ فِي الْقُلُوبِ ( قَرِيبَةً مِنْ الْأَفْهَامِ) لَا غَرِيبَةً وَحْشِيَّةً إذْ لَا يَنْتَفِعُ بِهَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ ( مُتَوَسِّطَةً ) بَيْنَ الطَّوِيلَةِ وَالْقَصِيرَةِ

Artinya, “(Seorang khotib) dianjurkan (menyampaikan khotbah dengan bahasa yang efektif) bukan bahasa klise, yaitu kata-kata dan makna yang rendah kualitasnya karena tidak membekas di hati. (bahasa yang mudah dipahami) bukan kata-kata asing yang tidak lazim karena tidak bermanfaat bagi kebanyakan hadirin. Sayyidina Ali RA berkata, ‘Bicaralah kepada orang lain dengan bahasa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan rasul-Nya didustakan (karena salah kalian dalam penyampaian)?’ HR Bukhari. (durasi pertengahan) antara lama dan sebentar,” (Lihat Abu Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhatut Thalib, juz 3, halaman 484).

Rambu-rambu perihal pilihan kata-kata dan penggunaan bahasa ini mesti dipahami dalam kerangka tujuan pokok khotbah (maqashidul khuthbah) seperti disinggung Syekh Jalaluddin Al-Mahalli di atas. Batasan-batasan perihal bahasa dalam khotbah ini menjadi penting agar penyampaian khotbah para khotib justru tidak menjadi kontraproduktif dengan tujuan pokok khotbah.

Adapun materi khotbah yang bernada kampanye atau menyuarakan aspirasi politik praktis sebaiknya dihindari karena mimbar khotbah Jumat bukan forum untuk menyampaikan aspirasi politik praktis. Mimbar khotbah adalah forum sakral di mana para jamaah hadir untuk mendengarkan nasihat-nasihat keagamaan, motivasi ketakwaan, bukan aspirasi politik yang sangat profan, penuh intrik, kepalsuan, dan kebohongan.

Belum lagi kalau khotib tidak bisa mengendalikan hawa nafsu sehingga penyampaian khotbahnya berisi provokasi, kebencian, berita bohong, unsur SARA, kata-kata kasar, kabar-kabar latah (hasil share sana-sini) yang tidak terverifikasi. Khotbah seperti ini dapat menimbulkan keresahan jamaah, bahkan mengakibatkan jamaah meninggalkan forum Jumat (na‘udzu billah).

Khotbah sarat kepentingan seperti ini yang dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali RA karena sebagian jamaah Jumat bisa jadi malah mempertanyakan keluhuran ajaran Islam itu sendiri hanya karena sebagian khotib tidak mematuhi etika khotbah Jumat.

Tidak heran kalau Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa kemunkaran bisa saja terjadi di masjid. Para dai, penceramah, khotib bisa saja terperosok dalam lubang-lubang kemunkaran saat menjalankan tugasnya di masjid. Kemunkaran di dalam masjid ini disinggung Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin berikut syarahnya oleh Sayid Muhammad Az-Zabidi seperti dikutip berikut ini.

ومن منكرات المساجد (كلام القصاص والوعاظ الذين يمزجون بكلامهم البدعة) مما ليس في سيرة السلف (فالقاص إن كان يكذب في أخباره) للحاضرين (فهو فاسق والإنكار عليه واجب) لئلا يعتمد على ما يذكره

Artinya, “Salah satu bentuk kemunkaran di masjid adalah (ucapan shahibul hikayat [tukang cerita/dongeng] dan ceramah para ustadz yang mencampurkan materi bicaranya dengan kebid’ahan) yang tidak dilakukan oleh ulama salaf. (Shahibul hikayat bila berdusta dalam materi yang disampaikan) kepada hadirin (maka ia telah fasik. Pengingkaran terhadapnya adalah sebuah kewajiban) agar materi yang disampaikannya tidak dijadikan pedoman,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 54).

Catatan Imam Al-Ghazali dan Sayid Muhammad Az-Zabidi di atas menarik batas yang pasti dan jelas antara yang ma’ruf dan munkar, antara yang haq dan batil, dan antara yang sakral dan profan.

Hemat kami, bentuk pengingkaran terhadap khotib yang menyampaikan aspirasi politik tidak perlu intrupsi khotbah atau meninggalkan forum khotbah. Bentuk pengingkaran terhadap kemunkaran itu seharusnya dilakukan oleh takmir masjid dengan membuat kode etik materi khotbah di samping pembatasan durasi khotbah. Hal ini dimaksudkan agar para khotib tidak melantur dengan menyinggung masalah politik praktis dan isu-isu sensitif lain di mimbar khotbah Jumat.

Kami menyarankan agar para khatib memerhatikan kembali tujuan utama dari washiat ketakwaan itu sendiri, yakni mengingatkan para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan kata-kata yang bijak dan santun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)