IMG-LOGO
Doa

Ini Doa Nabi Muhammad Saat Ramadhan Tiba

Sabtu 20 Mei 2017 17:51 WIB
Share:
Ini Doa Nabi Muhammad Saat Ramadhan Tiba
Sebentar lagi bulan Ramadhan akan datang menghampiri kita. Ramadahan merupakan bulan paling mulia dan dianjurkan memperbanyak amal baik. Umat Islam, baik laki-laki ataupun perempuan, diwajibkan puasa di siang harinya dan dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah di malam harinya. Oleh sebab itu, pada malam Ramadhan, umat Islam meramaikan masjid dengan ibadah untuk menghidupkan malam Ramadhan.

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW sangat menunggu kedatangan Ramadhan dan mempersiapkan diri agar bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan. Beliau juga memunajatkan doa-doa tertentu dalam rangka menyambut Ramadhan. Atas dasar itu, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mensunnahkan membaca doa ketika melihat hilal atau mengetahui tanda awal Ramadhan:

يستحب أن يدعو عند رؤية الهلال بما رواه طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان  إذا رأى الهلال قال اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله

Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmani was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh

Artinya, “Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah.”

Doa ini dianjurkan untuk dibaca ketika melihat hilal sebagaimana dikisahkan Thalhah Ibn ‘Ubaidillah bahwa Nabi SAW saat melihat hilal membaca doa di atas.

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan masih banyak hadis lain yang menjelaskan do’a Nabi SAW ketika masuk Ramadhan atau melihat hilal. Berdasarkan hadis tersebut, disunnahkan membaca do’a yang dilafalkan Nabi itu ketika melihat hilal Ramadhan atau setelah diumumkan bulan Ramadhan telah tiba. Dengan membaca do’a tersebut, harapannya umur kita dipanjang oleh Allah SWT, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dalam keadaan beriman dan dikarunia kesehatan. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Selasa 16 Mei 2017 21:3 WIB
Doa saat Terjerat Utang
Doa saat Terjerat Utang
Foto: Ilustrasi
Seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW terkait utang yang dideritanya. “Kenapa tidak amalkan Sayyidul Istighfar?” kata Rasulullah. Rasulullah menganjurkan sahabatnya untuk membaca tasbih berikut antara terbit fajar dan shalat Shubuh.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِئَةَ مَرَّةٍ

Subhânallâhi wa bi hamdih, subhânallâhil ‘azhîm, astaghfirullâh 100 kali.

Artinya, “’Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Mahasuci Allah yang Maha Agung. Aku memohon ampun kepada Allah,’ 100 kali,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban, 1424 H, halaman 63). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 7 April 2017 18:2 WIB
Doa Rasulullah SAW Lihat Kampanye di Masjid
Doa Rasulullah SAW Lihat Kampanye di Masjid
Masjid didirikan sebagai tempat ibadah. Karenanya hal-hal lain yang tidak terkait dengan ibadah bisa dilakukan di tempat lain yang memang diperuntukkan untuk itu. Tidak heran kalau Rasulullah SAW mendoakan mereka yang menyalahgunakan masjid untuk kepentingan pribadinya.

Berikut ini doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kalau kita melihat orang melakukan transaksi jual-beli di dalam masjid.

لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَك

Lâ arbahallâhu tijârataka

Artinya, “Semoga Allah tidak menguntungkan usahamu.”

Bagaimana dengan kampanye di dalam masjid? Hemat kami, doa ini bisa dibaca dalam kondisi tersebut karena transaksi jual-beli memiliki pola serupa dengan aktivitas kampanye dalam rangka mengejar keuntungan.

Doa ini dikutip dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi seperti disebutkan Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Senin 3 April 2017 15:36 WIB
Doa Ibn Mas'ud yang Menggetarkan
Doa Ibn Mas'ud yang Menggetarkan
Saat menyiapkan materi pengajian tafsir QS Maryam ayat 78-87 untuk majelis khataman Al-Qur'an di Melbourne, saya menemukan doa dari sahabat Nabi yang terkenal alim dan cerdas, yaitu Abdullah bin Mas'ud.

Ketika menjelaskan ayat 87: "Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah", Tafsir Ibn Katsir mengutip riwayat di bawah ini:

‎وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الْوَاسِطِيُّ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي فاخِتَةَ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: قَرَأَ عَبْدُ اللهِ -يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ-هَذِهِ الْآيَةَ: {إِلا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا} ثُمَّ قَالَ: اتَّخِذُوا عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا، فَإِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: "مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ فَلْيَقُمْ" قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، فَعلمنا. قَالَ: قُولُوا:

Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman bin Khalid Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan Al-Wasiti, dari Al-Mas'udi, dari Aun bin Abdullah, dari Abi Fakhitah, dari Al-Aswad bin Yazid yang mengatakan bahwa Abdullah bin Mas'ud membaca ayat ini: kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 87)

Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa mereka yang telah mengambil janji di sisi Tuhannya, maka kelak di hari kiamat Allah Swt. akan memanggil mereka, "Barangsiapa yang telah mengambil janji di sisi Allah, hendaklah ia berdiri."

Mereka (para tabi'in) berkata, "Wahai Aba Abdir Rahman (julukan panggilan Ibnu Mas'ud), kalau begitu ajarkanlah doanya kepada kami." Ibnu Mas'ud menjawab, "Kalau demikian, ucapkanlah oleh kalian doa berikut:

اللَّهُمَّ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَإِنِّي أَعْهَدُ إِلَيْكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَنَّكَ إِنْ تَكِلْنِي إِلَى عَمَلٍ تُقَرِّبُنِي مِنَ الشَّرِّ وَتُبَاعِدُنِى مِنَ الْخَيْرِ، وَإِنِّي لَا أَثِقُ إِلَّا بِرَحْمَتِكَ، فَاجْعَلْ لِي عِنْدَكَ عَهْدًا تُؤَدِّيهِ إِلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ.

"Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui semua yang gaib dan yang lahir, sesungguhnya saya berjanji kepada Engkau dalam kehidupan dunia ini, bahwa jikalau Engkau membiarkan diriku kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada keburukan dan menjauhkan diriku dari kebaikan, sedangkan aku tidak percaya kepada siapa pun kecuali hanya kepada rahmat-Mu, maka jadikanlah bagiku di sisi Engkau suatu perjanjian yang Engkau akan tunaikan kepadaku kelak di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji'."

Dikisahkan sahabat Nabi Ibnu Mas'ud selalu mengiringi doanya ini yang diucapkan dengan penuh rasa takut, memohon perlindungan dan memohon ampunan dengan penuh harap dan cemas kepada Allah SWT. Ibn Syaibah dalam al-Mushannaf mengatakan sanad riwayat di atas shahih.

Apa maksud Ibn Mas'ud dalam doanya di atas?

Mereka yang terikat perjanjian dengan Allah akan diberi syafaat kelak di hari akhir. Para ulama tafsir mengatakan perjanjian yang dimaksud ini adalah ungkapan syahadat. Para ulama sufi menafsirkan perjanjian dalam kalimat syahadat itu adalah perjanjian umum, di luar itu juga ada perjanjian semacam ikatan khusus antara hamba dengan Allah SWT --disesuaikan dengan tugas dan amanah yang diterima masing-masing hambaNya.

Dalam konteks ini Ibnu Mas'ud berbaik hati mengajarkan kita perjanjian antara dia dengan Allah SWT: jikalau ternyata hidupnya lebih banyak bergelimang keburukan dan jauh dari kebaikan, Ibn Mas'ud berjanji untuk tetap kukuh percaya kepada kasih sayang Allah. Inilah ikatan kontrak seorang Ibn Mas'ud. Dia berjanji akan memegang teguh hal ini dan memohon agar kelak dimasukkan ke dalam golongan mereka yang berdiri di saat Allah memanggil mereka yang memiliki perjanjian dengan Allah. Ibn Mas'ud juga tersirat dalam doanya memohon syafaat sesuai perjanjian ini.

Kita mungkin bukan orang-orang khusus yang memiliki perjanjian dengan Allah SWT. Yang kita miliki adalah perjanjian umum saat Allah dulu bertanya "Alastu birabbikum? Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" (QS al-A'raf:172). Namun tidak salah kita turut mengucapkan do'a di atas yang telah diajarkan Ibn Mas'ud karena ada kata kunci di sana: kita tidak mengandalkan amal ibadah kita, yang tidak seberapa dan belum tentu pula diterima Allah. Yang kita harapkan adalah rahmat Allah. Maka sejatinya doa Ibn Mas'ud adalah harapan kita semua: kita berharap kasih sayang Allah meliputi kita semua baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sudah kusampaikan, Ya Arhamar Rahimin....


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School