IMG-LOGO
Trending Now:
Puasa

Pentingnya Memperhatikan Niat Puasa

Rabu 24 Mei 2017 15:3 WIB
Share:
Pentingnya Memperhatikan Niat Puasa
Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Begitu pelajaran dari para guru di madrasah, pesantren, majelis ta’lim dan lainnya, mengutip sabda Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ya, niat memang sangat menentukan nilai dari amalan yang dilakukan seseorang. Niat juga menentukan kualitas suatu perbuatan. Dengan niat perbuatan seseorang akan dinilai sebagai ibadah atau hanya kebiasaan belaka. Dengan niat pula akan ditentukan seseorang akan mendapatkan ganjaran atau tidak dan seberapa besar ganjaran yang akan ia terima.

Begitu pula niat dalam ibadah puasa. Ia mengambil peranan yang cukup penting untuk diperhatikan oleh setiap Muslim yang hendak melakukan ibadah pantang makan dan minum ini. Terlebih bila puasa yang akan dilakukan adalah puasa wajib, lebih-lebih puasa wajib bulan Ramadhan, maka niat menjadi sangat vital dalam menentukan sah dan tidaknya puasa yang dijalani. Tidak sampai di sini, akibat kelalaian dalam hal niat juga akan mengakibatkan banyak “kerugian” bagi pelakunya.

Dalam madzhab Imam Syafi’i niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari, yakni waktu setelah terbenamnya matahari (maghrib) sampai dengan sebelum terbitnya fajar shadiq (belum masuk waktu shalat subuh). Berdasarkan sabda Rasulullah SAW (Lihat: Hasan Sulaiman Nuri dan Alwi Abas al-Maliki, Ibanatul Ahkam fii Syarhi Bulughil Maram, juz 2, hal. 376):

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Untuk puasa wajib, termasuk puasa bulan Ramadhan, niat yang demikian itu harus dilakukan setiap malam karena puasa dalam tiap-tiap harinya adalah satu ibadah tersendiri (Nawawi al-Bantani, Kaasyifatus Sajaa [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008],hal. 192). Dengan demikian bila seseorang lupa belum berniat pada malam hari maka puasa pada siang harinya dianggap tidak sah.

Pertanyaannya kemudian adalah bila sudah jelas puasa pada hari tersebut tidak sah karena pada malam harinya lupa belum berniat, maka apakah diperbolehkan bila pada hari itu orang tersebut tidak berpuasa? Toh bila pun ia berpuasa sudah jelas puasanya tidak sah.

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, hukum fiqih tetap mewajibkan orang tersebut berpuasa pada hari itu meskipun sudah jelas puasanya tersebut tidak sah. Tidak berhenti sampai di situ, orang tersebut juga harus mengganti (mengqadla) puasa hari tersebut di hari lain di luar bulan Ramadlan. Barangkali inilah yang dimaksud dengan “kerugian” sebagaimana disebut di atas. Hanya karena teledor dan lalai dalam memperhatikan niat seseorang harus tetap berpuasa, namun puasanya itu dianggap tidak sah dan harus melakukan puasa ulang untuk menggantinya. Terlebih bila melihat dari sisi kemuliaan bulan Ramadhan maka jelas puasa sehari yang dilakukan di bulan Ramadhan jauh lebih bernilai dari pada puasa yang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Ini juga menjadikan orang yang lupa niat semakin mengalami kerugian yang lebih besar.

Imam Qalyubi dalam kitab Hasyiyah¬-nya menyampaikan satu solusi sebagai langkah kehati-hatian. Bahwa agar puasanya orang yang lupa berniat pada malam harinya tetap sah maka dianjurkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk berniat akan berpuasa Ramadhan satu bulan penuh. Bila ini dilakukan maka seandainya seseorang lupa berniat pada malam tertentu puasanya akan tetap dianggap sah dan tidak ada kewajiban untuk menggantinya. Niat yang demikian itu dapat dilakukan dengan merujuk pada apa yang diajarkan oleh Imam Maliki (Syihabuddin al-Qalyubi,Hasyiyataa Qalyubi wa ‘Umairah [Kairo: Darul Hadis, 2014], juz 2, hal. 129). Namun demikian Imam Maliki juga memberi syarat, niat berpuasa untuk satu bulan penuh itu berlaku bila puasanya tidak terputus. Bila puasanya terputus karena sakit, haid atau perjalanan maka wajib berniat kembali untuk hari-hari yang tersisa (Hasan Sulaiman Nuri dan Alwi Abas al-Maliki, hal. 377).

Adalah sebuah kenikmatan yang besar bagi kaum Muslimin di Indonesia di mana para ulamanya membudayakan niat berpuasa bersama-sama pada setiap malam hari seusai shalat tarawih berjama’aah di masjid-masjid dan mushala-mushala. Kiranya perlu dibudayakan pula niat berpuasa sebulan penuh secara bersama-sama pada malam pertama bulan Ramadhan sebagai langkah kehati-hatian sebagaimana diajarkan oleh Imam Maliki di atas. (Yazid Muttaqin)


Tags:
Share:
Sabtu 20 Mei 2017 15:0 WIB
Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini
Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini
Ilustrasi (Ardani Rahman)
Bila Anda hendak pergi bermain ke Jakarta selama dua atau tiga hari lamanya, bagaimanakah Anda menyiapkan segala sesuatunya? Bila Anda hendak pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, bagimanakah Anda akan menyiapkan segala sesuatunya?

Tentunya jawaban atas kedua contoh soal di atas jauh berbeda. Pergi ke Jakarta selama dua tiga hari dengan keperluan sekadar bermain tak perlu bersusah payah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tak harus membawa perbekalan yang banyak, uang yang berlebih, bakaian yang sangat bagus. Cukup biasa saja. Beli tiket bus atau kereta pada hari pemberangkatan, membawa uang yang cukup untuk makan dan keperluan lain selama dua atau tiga hari, dan berpakaian biasa saja yang pantas untuk sekadar bermain.

Tapi pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, tentu persiapan untuk melaksanakannya jauh lebih rumit dari yang pertama. Jauh-jauh hari mesti sudah membeli tiket, jangan sampai kehabisan karena bisa terlambat bertemu dengan rekanan dan jadwal bisnis jadi tak karuan. Pakaian yang dibawa pun mesti pakaian yang bagus yang layak dikenakan untuk pertemuan dengan orang-orang penting. Mesti menyiapkan banyak uang untuk hidup sebulan di sana. Dan persiapan lainnya harus diperhatikan agar keuntungan ratusan juta benar-benar dapat di raih.

Dari gambaran kecil di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa tujuan yang hendak dicapai seseorang akan sangat berpengaruh kepada proses mencapai tujuan tersebut. Seberapa mudah dan sulit, kecil dan besar, ringan dan berat suatu tujuan yang hendak dicapai akan berpengaruh pada proses mencapainya.

Demikian pula dengan puasa di bulan Ramadhan. Bagaimana proses menjalaninya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar tujuan yang hendak dicapai oleh puasa itu. Bila seseorang berpuasa hanya karena merasa tidak enak dengan rekan sekantor yang pada berpuasa, maka ia akan menjalani ibadah puasanya sambil lalu saja. Bila seseorang berpuasa dengan motivasi sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim, maka bisa jadi ia akan menjalani puasanya dengan menahan lapar dan haus saja, sementara perilaku buruk yang bisa menghilangkan keutamaannya tetap ia lakukan. Dan bila seseorang melakukan puasanya dengan tujuan benar-benar ingin mendapat keridloan Tuhannya, maka ia akan menjalaninya sebaik mungkin, tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar tapi juga menjaga diri dari perilaku-perilaku tercela yang tak disukai Tuhannya.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dari ayat di atas tersurat sebuah harapan agar dengan berpuasa seorang mukmin akan selalu bertakwa kepada Allah SWT. Agar dengan berpuasa seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Inilah sebuah tujuan yang hendak dicapai dari diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berpuasa Ramadhan sebulan penuh maka dengan serta merta seseorang berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa? Tentu saja tidak. Seorang yang bertakwa tentunya memiliki kriteria tertentu. Bila seorang yang berpuasa memiliki kriteria tersebut maka bisa jadi tujuan berpuasanya telah tercapai. Bila tidak, ya tidak.

Di dalam al-Qur’an ada banyak ayat yang menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertakwa. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh ayat 134 surat Al-Maidah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang berinfak di saat senang dan susah, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memberi maaf kepada orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat di atas menunjukkan tiga kriteria seorang yang bertakwa kepada Allah, yakni mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Orang yang bertakwa memiliki perilaku mau menginfakkan hartanya pada kondisi apapun, baik saat senang atau susah, saat kaya atau sedang jatuh miskin, bahkan sementara ulama ada yang menafsirkan baik infaknya ia berikan kepada orang yang ia cintai maupun kepada orang yang ia benci (Baca, Abu Hayan al-Andalusi, Tafsir al-Bahrul Muhith [Beirut: Darul Fikr, 2005], jil. 3, hal. 346).

Orang yang bertakwa juga memiliki sikap mampu menahan rasa marah yang menggebu di dalam hati. Semestinya ia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, namun ia lebih memilih untuk menahannya.

Ada yang menarik untuk dicermati dalam ayat itu membahasakan perilaku “menahan amarah”. Untuk menyebut “orang yang menahan amarah” ayat tersebut membahasakannya dengan kalimat al-kâdhimînal ghaidh. Kata al-kâdhimîn adalah bentuk jamak dari kata al-kâdhim yang berarti “yang menahan”. Yang menarik adalah kata ini satu akar kata dengan kata al-kadhîmah yang berarti “termos” (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab – Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1509). Dari sini bisa dipahami bahwa seorang yang bertakwa mesti memiliki perilaku sebagaimana termos. Sepanas apapun air yang ada di dalam termos orang yang ada di dekatnya tak merasakan panasnya air tersebut. Demikian juga orang yang bertakwa. Sepanas apapun amarah yang membara di dalam hatinya ia mesti mampu menahan diri hingga orang yang di dekatnya tak tahu bahwa ia sedang marah.

Apakah orang yang bertakwa tak boleh marah? Tidak begitu. Orang yang bertakwa baru akan menumpahkan kemarahannya bila dirasa akan membawa manfaat yang nyata, sebagaimana termos hanya akan mengeluarkan air panasnya untuk sesuatu yang jelas manfaatnya.

Orang yang bertakwa juga berperilaku mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya’fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1997: 1302). Seorang yang bertakwa member maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Menjadi orang bertakwa dengan perilaku seperti inilah yang hendak dituju dengan ibadah puasa selama Ramadhan. Menjadi hamba berperilaku luhur tersebut yang didamba dengan proses ibadah puasa.

Bila sejak dini seorang muslim telah mengetahui dan menyadari tujuan yang demikian yang hendak diraih dengan puasanya, maka akan sangat berpengaruh pada bagaimana ia akan menjalani ibadah puasanya sebagai proses mencapai tujuan tersebut. Jauh-jauh hari ia telah mempersiapkan diri untuk menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ia rencanakan secara matang kebaikan apa saja yang akan ia lakukan di dalamnya. Sedemikian rupa ia jaga perilaku dan ucapannya.

Katakanlah, bila saya, Anda, kita semua dahulu memulai berpuasa pada saat berumur sepuluh tahun dan kini telah berusia empat puluh, lima puluh atau enam puluh tahun, itu artinya kita telah berpuasa Ramadhan sebanyak tiga puluh, empat puluh atau lima puluh kali. Dengan telah berpuasa berpuluh kali itu sudahkah saya, Anda, kita semua menjadi hamba yang bertakwa? Yang mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan orang lain? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Ahad 14 Mei 2017 3:1 WIB
Bagaimana Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya'ban?
Bagaimana Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya'ban?
Sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis, Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Pada bulan tersebut terdapat banyak keutamaan dan berbagai macam peristiwa penting terjadi pada bulan Sya’ban. Tidak hanya itu, bulan Sya’ban juga memiliki malam yang istimewa dan penuh berkah, yaitu malam nisfu Sya’ban.

Malam nisfu Sya’ban diyakini sebagai malam pengampunan dan penuh keberkahan. Dianjurkan pada malam pertengahan Sya’ban memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar.  Setelah malam nisfu Sya’ban, apakah masih ada kesunnahan yang bisa kita lakukan? Apakah pada tanggal 16 Sya’ban dan seterusnya masih dianjurkan untuk berpuasa?

Terkait persoalan ini, ulama berbeda pendapat karena ada satu hadis yang melarang puasa setelah nisfu Sya’ban, dan dalam riwayat al-Bukhari, Nabi juga melarang puasa dua atau tiga hari sebelum Ramadhan. Syekh Wahbab al-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan:

قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص. ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد

“Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban diharamkan karena termasuk hari syak, kecuali ada sebab tertentu, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa dahar, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Sya’ban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, meskipun satu hari nisfu Sya’ban. Dalil mereka adalah hadis, ‘Apabila telah melewati nisfu Sya’ban janganlah kalian puasa’. Hadis ini tidak digunakan oleh ulama mazhab Hanbali dan selainnya karena menurut Imam Ahmad dhaif.”

Ulama melarang puasa setelah nisfu Sya’ban dikarenakan pada hari itu dianggap hari syak (ragu), karena sebentar lagi bulan Ramadhan tiba. Khawatirnya, orang yang puasa setelah nisfu Sya’ban tidak sadar kalau dia sudah berada di bulan Ramadhan. Ada juga ulama yang mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban dilarang agar kita bisa menyiapkan tenaga dan kekuatan untuk puasa di bulan Ramadhan.

Meskipun dilarang, ulama dari mazhab Syafi’i pun tetap membolehkan puasa sunnah bagi orang yang terbiasa mengerjakannya. Seperti mengerjakan puasa senin dan kamis, puasa ayyamul bidh, puasa nadzar, puasa qadha, ataupun orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa dahar.

Sementara menurut ulama lain, khususnya selain mazhab Syafi’i, hadis di atas dianggap lemah dan termasuk hadis munkar, karena ada perawi hadisnya yang bermasalah. Dengan demikian, sebagian ulama tidak melarang puasa setelah nisfhu Sya’ban selama dia mengetahui kapan masuknya awal Ramadhan. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan:

وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

“Mayoritas ulama membolehkan puasa sunnah setelah nishfu Sya’ban dan mereka melemahkan hadis larangan puasa setelah nishfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar”

Dengan demikian, ulama berbeda pendapat terkait hukum puasa sunnah mutlak setelah nisfu Sya’ban, karena mereka berpeda pendapat dalam memahami dan munghukumi hadis larangan puasa setelah nisfu Sya’ban. Akan tetapi, pada sisi lain, mereka sepakat akan kebolehan puasa sunnah bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, seperti puasa senin kamis, puasa daud, puasa dahar, dan lain-lain. Dibolehkan juga puasa bagi orang yang ingin membayar kafarah, qadha puasa, dan orang yang ingin melanjutkan puasa setelah puasa nisfu Sya’ban. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)


Jumat 28 April 2017 11:20 WIB
Ini Dalil Puasa Sya’ban Beserta Hikmahnya
Ini Dalil Puasa Sya’ban Beserta Hikmahnya
Puasa terbagi dua macam: puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib ialah puasa yang diharuskan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Misalnya, puasa Ramadhan. Sementara puasa sunnah ialah puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dikerjakan dan tidak berdosa orang yang meninggalkannya. Dalam kitab fikih, ada banyak macam puasa sunnah, mulai yang mingguan, bulanan, dan tahunan.

Dari sekian banyak puasa sunnah, puasa Sya’ban termasuk puasa yang paling banyak keutamaan dan sangat dianjurkan untuk mengerjakannya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri sangat senang melakukan puasa Sya’ban dan memperbanyak puasa di bulan tersebut. Oleh sebab itu, Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatul Zein mengatakan:

صوم شعبان لحبه صلى الله عليه وسلم صيامه فمن صامه نال شفاعته صل الله عليه وسلم يوم القيامة

“Puasa Sya’ban (disunnahkan) karena Rasulullah SAW menyukai puasa pada bulan itu. Siapa yang puasa Sya’ban, dia akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW di hari akhirat kelak.”

Penjelasan Syekh Nawawi ini diperkuat oleh banyak hadis dan kesaksian sahabat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menyukai puasa Sya’ban dan memperbanyak puasa pada bulan tersebut. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih Ibnu Khuzaimah menampilkan sebuah riwayat dari ‘Aisyah,  dia berkata:

كان أحب الشهور إلى رسول الله عليه وسلم أن يصومه شعبان، ثم يصله برمضان

“Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW untuk berpuasa ialah Sya’ban, kemudian dilanjutkan dengan puasa Ramadhan”
    
Dalam riwayat al-Bukhari, ‘Aisyah  mengatakan:

وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياما منه في شعبان

“Aku tidak melihat Rasulullah SAW puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak melihat melihat beliau banyak puasa kecuali pada bulan Sya’ban.

Selain dua riwayat di atas, ada banyak hadis shahih lain yang memperkuat kesunnahan puasa Sya’ban. Paling tidak dua hadis di atas sudah menggambarkan kecintaan Rasul pada bulan Sya’ban. Di antara hikmah puasa Sya’ban, menurut Syeikh Nawawi, orang yang memperbanyak puasa pada bulan tersebut akan mendapatkan syafaat Rasul di hari akhirat kelak, sebab sudah melakukan amalan ibadah yang disukai Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)