IMG-LOGO
Ubudiyah

Ini Sejarah dan Waktu Kesunahan Itikaf

Rabu 31 Mei 2017 6:5 WIB
Share:
Ini Sejarah dan Waktu Kesunahan Itikaf
Foto: Ilustrasi
Itikaf dalam bahasa berarti “al-lubtsu”, yakni berdiam diri. Al-Bujairimi dalam Hasiyyah ala Syarhil Minhaj-nya mengatakan bahwa itikaf merupakan syar’u man qablana, yakni syariat dari umat-umat terdahulu. Itikaf merupakan bagian dari syariat Nabi Ibrahim sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 125.

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang rukuk, dan yang sujud.’"

Dalam Al-Baqarah ayat 187 juga dijelaskan bahwa Rasul pernah ditegur oleh Allah agar tidak menyentuh istrinya ketika itikaf di masjid.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid.”

Nabi Muhammad SAW pernah menjalankan itikaf dalam beberapa waktu.

Pertama, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah RA dalam Sahih Bukhari:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.”

Kedua, sepuluh hari kedua bulan Ramadhan sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Said Al-Khudri dalam Sahih Bukhari:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعتكف في العشر الأوسط من رمضان

Artinya, “Dari Abu Said Al-Khudri RA. bahwa Rasulullah SAW itikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan.”

Dengan adanya dua hadis di atas bahwa Nabi Muhammad pernah menjalankan itikaf 20 hari selama satu tahun. Hal ini dibuktikan dengan hadits Abu Hurairah.

عن أبي هريرة قال : - كان النبي صلى الله عليه و سلم يعتكف كل عام عشرة أيام . فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad Saw beritikaf dalam satu tahun sepuluh hari. Pada tahun wafatnya, beliau beritikaf selama dua puluh hari.”

Mengenai waktu menjalankan itikaf, Al-Bujairimi mengatakan bahwa kapanpun bisa melaksanakan itikaf bahkan pada waktu-waktu yang dimakruhkan (waktul karahah). Termasuk dalam keadaan puasa atau pada waktu sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.

Hal ini diungkapkan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muin-nya.

يسن اعتكاف كل وقت، وهو لبث فوق قدر طمأنينة الصلاة

Artinya, “Disunahkan i’tikaf setiap waktu. Yakni dengan berdiam lebih dari waktu tuma’ninahnya sholat.” Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi/Alhafiz K)

Tags:
Share:
Jumat 26 Mei 2017 15:1 WIB
Ini Syarat Doa agar Terkabul
Ini Syarat Doa agar Terkabul
Foto: Ilustrasi
Allah telah berfirman dalam Surat Al-Mukmin ayat 60.

و قال ربكم ادعوني استجب لكم...

Artinya, "Tuhanmu berfirman, ‘Doalah kepadaku, niscaya  akan kuperkenankan bagimu.’"

Ayat ini memerintahkan manusia untuk berdoa kepada-Nya. Ketika seorang hamba telah memohon dan meminta dengan berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya. Apapun itu, pasti akan dikabulkan. Allah adalah dzat yang maha mendengar dan kuasa. Allah mendengar segala doa makhluk-Nya baik itu secara lisan maupun dalam batin saja. Apapun permintaan makhluk-Nya, Dia dapat dengan mudah mengabulkannya.

Namun ada juga manusia yang telah berdoa siang dan malam. Bahkan tak jarang ditemui sebagian dari kaum Muslimin berlaku tirakat, rela menahan hawa nafsu untuk melakukan perkara yang sebenarnya mubah atau boleh dilakukan demi terkabulnya doa. Sayang, ternyata doanya tak kunjung terkabul. Lalu, gerangan apakah yang membuat doa tak terkabul? Padahal, ayat di atas dengan tegas menerangkan bahwa Allah akan mengabulkan segala doa. Apakah ayat tersebut bohong? Ataukah Allah mengingkari kalam-Nya sendiri? Jelas  tidak sama sekali!  Mustahil. Lalu mengapa?

Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki dalam kitabnya, Hasyiatus Shawi ala Tafsiril Jalalain menjelaskan:

أجيب: بان  الدعاء له شروط, فإذا تخلف بعضها تخلف الإجابة.

Artinya, “Sungguh, doa itu memiliki beberapa syarat agar terkabul. Maka ketika salah satu syarat tidak terpenuhi, doa pun tak kunjung diijabah.”

Mungkin ada sebagian dari kita belum mengetahui syarat-syarat doa sehingga banyak dari kaum Muslimin merasa bahwa doa mereka tak kunjung dikabulkan. Padahal mereka telah berdoa seumur hidup mereka.

Imam As-Shawi menyebutkan syarat pertama adalah keutuhan seorang hamba menghadap baik lahir, dengan menengadahkan tangan dan merintih memohon kepada Allah maupun batin, yaitu sekiranya tidak terbersit dalam hatinya segala sesuatu apapun kecuali Allah semata.

Ketika seorang hamba telah fokus, memusatkan seluruh jiwa dan raga untuk meminta kepada Allah. Maka tinggallah hamba tersebut mengutarakan seluruh keinginannya, seluruh keperluannya. Kedua, hendaknya doa tidak berisi segala sesuatu dalam rangka keburukan. Misalnya, berdoa agar seseorang mengalami kecelakaan.

Ketiga, doa juga tidak boleh dipanjatkan dalam rangka meminta untuk memutuskan tali persaudaraan, kekerabatan, maupun tali kasih sayang antarsesama manusia. Sungguh, sekali-kali doa seperti itu tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Yang perlu digarisbawahi adalah, seorang hamba yang ingin doanya terkabul, tidak boleh tergesa-gesa dalam meminta dikabulkan. Sungguh, sangat hina kiranya ketika seorang hamba yang lemah tanpa daya, yang tak mampu apa-apa kecuali dengan kuasa-Nya ketika berdoa "menuntut" Allah untuk segera mengabulkannya.

Sungguh doa itu ada kalanya segera diijabah, dikabulkan oleh Allah. Ada juga memang doa tersebut diakhirkan oleh Allah untuk hamba-Nya. Karena Allah lebih mengetahui, kapan doa tersebut tepat dikabulkannya.

Simpulan dalam hal ini terangkum apik dalam hadits yang dijadikan sang imam dalam menjelaskan syarat-syarat doa terkabul sebagai berikut.

و لذا ورد: "ما من رجل يدعو الله تعالى بدعاء إلا إستجيب له, فإما ان يجعل له في الدنيا, و إما انيؤخر له في الأخرة. و إما ان يكفر عنه من ذنوبه بقدر ما دعا, ما لم يدعو بإثم او قطيعة رحم او يستعجل. قالوا: يا رسول الله و كيف يستعجل؟ قال: يقول: دعوت فما ستجب لي."

Artinya, “Oleh karenanya, telah datang (sebuah hadits), ‘Tidak ada seseorang yang berdoa kepada Allah ta'ala dengan serangkaian doa kecuali Allah mengabulkannya. Maka ada kalanya doa tersebut terkabul di dunia. Ada pula doa yang memang diakhirkan terkabulnya di akhirat. Ada juga doa tersebut untuk menghapus dosa-dosa hamba sesuai dengan kadar doanya. Dengan syarat, selagi doa tersebut tidak dipanjatkan dalam rangka meminta sesuatu yang berdosa, memutus tali silaturahmi, atau hamba tersebut tergesa-gesa.’ Para sahabat bertanya, ‘Ya rasulullah, lalu bagaimanakah (gambaran) hamba yang tergesa-gesa?’ Rasul menjawab, ‘Adalah hamba yang berkata, ‘Aku telah berdoa, namun mengapa tak kunjung dikabulkan.’" (Ulin Nuha Karim)

Kamis 25 Mei 2017 7:1 WIB
Amalan untuk Peroleh Keturunan
Amalan untuk Peroleh Keturunan
Keturunan merupakan karunia Allah yang dinanti hampir semua mereka yang berumah tangga. Hanya saja karunia ini kadang segera datang, tetapi tidak jarang juga tertunda. Di sinilah kita harus mengakui keagungan Allah SWT karena Dia penentu segalanya.

Di samping melakukan ikhtiar medis, kita juga dianjurkan untuk bersabar menanti keturunan. Ada baiknya kalau penantian dan ikhtiar ini dibarengi dengan zikir berupa istighfar seperti saran Hasan Bashri RA, ulama besar di masa tabai‘in. Pasalnya, istighfar merupakan anak kunci yang dapat mengantarkan kita pada pelbagai kebaikan.

وشكا رجل إلى الحسن البصري رضي الله عنه الجدب فقال: استغفر الله، وشكا إليه آخر الفقر فقال: استغفر الله، وشكا إليه آخر عدم الولد فقال: استغفر الله، وتلا عليهم جميعهم آيات الاستغفار

Artinya, “Seseorang menemui Hasan Basri RA. Ia mengadu masalah paceklik yang mendera. Hasan menganjurkan, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Satu pergi, yang lain datang. Ia menceritakan kemiskinan yang tengah dialami. Hasan menyarankan, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Datang lagi yang lain. Orang ini mengadu karena belum juga dikaruniai keturunan. Hasan berkata, ‘Mintalah ampun kepada Allah,’” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban, cetakan pertama, tahun 1424 H, halaman 60).

Berikut ini kami kutip ayat Al-Quran yang menerangkan keutamaan amalan istighfar. Istighfar pada ayat berikut ini bisa dipahami sebagai pembuka jalan buntu dan pembebas dari kesulitan.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12

Artinya, “Lalu aku berkata, ‘Mintalah ampun kepada Tuhanmu–Sungguh, Dia maha pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, menolong kamu dengan harta benda dan anak-anak, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan menjadikan bebeapa sungai,’” (Surat Surat Nuh ayat 10-12).

Sementara pada ayat Al-Quran berikut ini, istighfar menjadi semacam pembuka pintu anugerah dan karunia Ilahi.

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Artinya, “Mintalah ampun kepada Tuhanmu dan tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia memberikanmu kesenangan yang baik sampai batas tertentu,” (Surat Hud ayat 3).

Istighfar di sini bisa dipahami sebagai sebuah wasilah kepada Allah untuk hajat tertentu seperti memohon dikaruniai keturunan, ketersediaan cadangan air sebagai sumber pengairan cocok tanam, atau hajat finansial. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Jumat 19 Mei 2017 11:2 WIB
Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran
Ini Pilihan Metode untuk Khatamkan Al-Quran

Tadarus Al-Quran adalah suatu kegiatan yang lazim dilakukan oleh seluruh Muslim, khususnya di bulan Ramadhan. Bagi beberapa orang, Ramadhan adalah bulan tadarus. Mereka berlomba-lomba untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu mengkhatamkan Al-Quran.

Beberapa ulama seperti Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, Abu Bakar bin 'Ayyasy, dan beberapa ulama yang lain telah membuat rumusan jitu untuk segenap umat Islam agar bisa mengkhatamkan Al-Quran sesuai dengan waktu yang ia miliki.

Dengan rumusan-rumusan ini diharapkan semua orang bisa tetap membaca Al-Quran setiap hari khususnya bagi orang-orang yang sangat sibuk. Berikut rumusan-rumusan para ulama yang bisa dipilih sesuai dengan waktu yang dimiliki.

Mengkhatamkan Al-Quran dalam Waktu 7 Hari (Metode Famy Bi Syawqin)
Muslim yang memiliki waktu cukup longgar untuk tadarus Al-Quran di bulan Ramadhan bisa memilih metode ini.

Dengan menggunakan metode ini, setiap orang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu tujuh hari (sepekan).

Caranya dengan menggunakan metode Famy Bi Syawqin.
Fa, untuk hari pertama membaca Surat Al-Fatihah hingga akhir Surat An-Nisa.
Mim, untuk hari kedua membaca Surat Al-Maidah hingga akhir Surat Att-Taubah.
Ya, untuk hari ketiga membaca Surat Yunus hingga akhir Surat An-Nahl.

Ba, untuk hari keempat membaca Surat Al-Isra/Bani Israil hingga akhir Surat Al-Furqan.
Sya, untuk hari kelima membaca Surat Asy-Syu'ara hingga akhir Surat Yasin.
Wawu, untuk hari keenam membaca Surat Ash-Shafat hingga akhir Surat Al-Hujurat.
Qaf, untuk hari ketujuh membaca Surat Qaf hingga akhir Surat An-Nas.
Jika hal ini dilakukan, maka pembaca akan mampu mengkhatamkan Al-Quran selama empat kali dalam sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode 30 Juz
Dengan metode ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu satu hari, yakni dengan membaca 30 juz Al-Quran dalam waktu satu hari, mulai pagi hingga malam atau 30 hari dengan membaca satu juz setiap hari dalam waktu sebulan.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Hizb
Dengan metode hizb ini, seseorang bisa mengkhatamkan Al-Quran selama dua bulan. Karena setiap juz terdapat dua hizb, sehingga jika dihitung maka setiap hari, seseorang bisa membaca satu hizb. Hizb ini biasanya bisa kita temukan dalam Mushaf Madinah atau mushaf-mushaf terbaru Indonesia yang ditulis ala Mushaf Bahriyah dan telah distandardisasi oleh Lajnah Pentashih Mushaf. Hizb biasanya ditandai dengan tulisan hizb berbahasa arab (الحزب) di bagian samping mushaf.

Menghatamkan Al-Quran dengan Metode Tsumun
Para ulama juga membagi setiap hizb menjadi empat bagian. Setiap juz memiliki depalan bagian (tsumun). Pembagian ini diharapkan agar seseorang bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu delapan bulan. Tandanya biasanya menggunakan angka ½,  ¼, dan ¾ di atas tulisan hizb yang artinya ar-Rub’ (seperempat), an-Nisf (seperdua), dan as-Salasah (tiga perempat).

Selain itu, dengan pembagian tsumun ini juga setiap orang bisa menghatamkan Al-Quran selama sebulan melalui rakaat shalat. Caranya, setiap raka‘at pertama dan kedua membaca Al-Quran sebanyak dua tsumun. Jika setiap hari terdapat lima kali waktu shalat, maka secara otomatis orang tersebut telah membaca 10 tsumun setiap harinya atau setara dengan 1 ¼ juz sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan bisa mengkhatamkan Al-Quran.

Mengkhatamkan Al-Quran dengan Metode Ruku’
Metode ini adalah metode paling mudah dan diperuntukkan untuk orang-orang yang sangat sibuk. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membaca Al-Quran. Ruku’ biasanya ditandai dengan huruf ‘ain (ع) di bagian samping mushaf. Dengan metode ini sesibuk apapun seseorang tetap bisa membaca Al-Quran.

Jumlah ruku’ dalam Al-Quran sebanyak 554 ruku’. Surat yang panjang biasanya berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’. Sehingga jika dijumlahkan, maka orang tersebut bisa menghatamkan Al-Quran dalam kurun waktu sekitar 18 bulan setengah. Itupun jika orang tersebut mau istiqamah membaca Al-Quran setiap hari.

Metode-metode di atas adalah usaha para ulama agar semua orang bisa istiqamah membaca Al-Quran di tengah berbagai kesibukan. Siapapun bisa memilih metode mana yang mampu digunakan. Asalkan penggunaan metode tersebut bisa dilaksanakan secara istiqamah.

Dengan metode-metode tersebut tidak ada seorangpun yang masih tidak membaca Al-Quran dengan alasan kesibukan. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)